Rabu sore, hujan turun tanpa permisi. Bukan gerimis Jumat kemarin — ini deras, mengguyur jalanan Jakarta, membuat motor matic terasa seperti kapal kecil di lautan knalpot.
Ratu terjebak macet di Sudirman, jas hujan tebal milik Nek Miftah menetes air di siku. Helm berkabut. Ponsel getar: `Desy: Lo basah?` Ratu: `Basah keringat + hujan.` Desy: `Pulang cepet. Jangan sakit.`
Di firma, rapat dibatalkan karena klien tidak bisa join — sinyal buruk. Faris bilang: 'Pulang aja kalau berkas aman.' Ratu cek folder — footnote selesai, email terkirim — lalu pamit lebih awal. Lift lobby penuh payung basah; satpam mengangguk seperti biasa, tapi Ratu tetap buru-buru ke parkiran motor.
Perjalanan pulang setengah jam lebih lama. Rok span basah di bagian bawah; kemeja aman di balik jas. Ratu berharap bisa ganti baju sebelum ketemu siapapun di rumah.
Rumah Belanda gelap di luar — lampu dalam belum nyala dari jalan. Ratu kira Raja belum pulang. Kunci, pintu samping, aroma something — bawang, mentega, sedikit gosong.
Raja di dapur. Kaos lengan panjang, apron cokelat milik Nek Miftah — terlalu kecil di tubuh lelaki itu, lucu kalau Ratu mau jujur. Wajan berisi pasta, panci kecil mendidih. Fortuner di garasi — basah, artinya pulang lebih dulu.
'Lo basah,' kata Raja, tidak heran — hanya fakta.
'Saya kira Bapak belum pulang.'
'Macet. Gue iseng masak. Ada pasta. Lo mau? nggak ada janji. nggak ada date. cuma… kebetulan.'
Ratu melepas jas hujan, gantung di hook dekat pintu. Air menetes ke lantai keramik. 'Kebetulan dapur,' sahutnya. 'Saya ganti baju dulu. Lima menit.'
'Enam menit. Pasta nggak suka telat.'
Ratu naik ke kamar, ganti ke kaos longgar dan celana training — aturan rumah: tidak handuk minim, tidak pamer. Turun dengan rambut diikat asal-asalan. Raja sudah duduk di meja dengan dua piring — jarak dua kursi, selalu dua kursi.
'Hujan deras,' kata Raja, alami seperti obrolan cuaca netral. 'Lo servis motor minggu lalu?'
'Belum. Masih jalan.'
'Jangan nunggu ban aus. Lo andalan di kantor, bukan andalan jatuh di tol.'
'Itu concern HR lagi, Pak?'
'Concern tetangga rumah yang nggak mau dengerin tangisan tengah malam.'
Ratu menyendok pasta — aglio e olio sederhana, agak gosong di pinggir, enak karena lapar. 'Enak. Jangan bilang Bapak chef profesional.'
'Amateur. YouTube. Channel Italia yang subtitle-nya ngaco.'
Mereka makan. Hujan memukul atap — ritme constant yang mengisi keheningan tanpa memaksa bicara. Petir jauh sekali; Ratu menegang, lalu lega karena listrik tidak padam.
Ratu: 'Nek Miftah dulu suka masak pasta kalau hujan. Beliau bilang rumah Belanda harus punya aroma Italia supaya nggak terlalu seram.'
Raja terdiam sebentar. 'Nenek suka drama romantis culinary.'
'Lebih baik drama culinary daripada drama cium sembarangan.'
'Low blow.'
'Saya belajar dari atasan.'
Raja tidak balas menusuk. Ia minum air. 'Nenek telepon minggu lalu. Tanya lo. Bilang jangan pergi diam-diam.'
'Saya sudah balas. Masih di rumah. Tunda kos.'
'Lo nyesel?'
Ratu memutar pasta di garpu. 'Nyesel nggak survei kos? Tidak. Nyesel masih pusing? Iya. Di kantor Bapak andalan saya. Di rumah… awkward. Di dompet cicilan bulan depan. Di hati Bian masih…' Ia berhenti. 'Sudah. Nggak usah panjang.'
'Cukup,' kata Raja. 'Gue nggak minta curhat Bian. Gue nggak compete sama ghosting.'
'Kerja?' tanya Ratu, mengalihkan dengan sengaja. 'Briefing besok jam delapan. Kasus yang sama atau baru?'
'Lanjutan. Lo siapkan bullet point call klien — yang Kemarin Pak Hendro protes.' Raja menatap piring, bukan Ratu. 'Gue sudah bilang ke Faris: lo tetap PIC. Hendro bisa ikut dengar, nggak usur.'
'Terima kasih.' Ratu pelan. 'Profesional.'
'Profesional,' ulang Raja. 'Bukan roti.'
Ratu hampir tertawa — tertahan lagi. Hujan lebih keras. Listrik kedip sekali — Ratu menegang; ingat malam listrik padam minggu lalu, teh di meja makan, ketukan pintu. Kali ini stabil.
Raja hampir buka mulut — Ratu lihat dari sudut mata — seperti mau joke. Bibirnya bergerak, lalu berhenti.
'Apa?' tanya Ratu waspada.
'Nothing.'
'Ada.'
Raja mengusap wajah. 'Almost joke. First meeting. Handuk. Lo tendang. Lo nggak perlu denger ulang.'
Ratu membulatkan mata, pipi panas. 'Jangan. Itu bukan anecdote dapur.'
'Iya. Makanya gue stop. Gue belajar boundary — versi dapur.'
Keheningan lagi — tapi lembut, bukan canggung Selasa. Hujan, pasta, Nek Miftah, Bian yang tidak disebut sampai habis. Ratu: 'Kerja besok jam delapan briefing.' Raja: 'Gue juga. Lo tidur cukup. Jangan buka berkas.'
'Lo juga,' balas Ratu — hampir lupa Pak, lalu tidak diperbaiki.
Setelah makan, Ratu cuci piring; Raja mengeringkan — ritual. Tidak ada ciuman. Tidak ada gandeng. Tidak ada tepuk pundak. Hanya hujan dan pasta dan joke yang tidak jadi — yang somehow justru terasa lebih aman daripada joke yang terlontar.
Malam, Ratu di kamar, jendela bergetar karena angin. Chat Nek Miftah: `Hujan ya? masak apa?` Ratu: `Pasta. Raja masak — kebetulan.` Nenek: `Kebetulan bagus. Jangan sakit.` Ratu: `Iya Nek.`
Ia tidak sebut handuk. Privasi.
Di catatan: *makan malam tak sengaja. hujan. no kiss. joke handuk di-stop.* Tension soft — kata yang tidak ia tulis, tapi ia rasakan di dada: bukan api, bukan es. Hangat yang belum punya nama.
Raja di kamar tamu, chat Yasa: `Hujan. Pasta. Almost joke handuk. Gue stop.` Yasa: `Lo upgrade.` Raja: `Shut up.` Yasa: `Traktir sate nanti.` Raja: `Dream on.`