Kamis pagi, langit masih mendung tapi hujan reda. Genangan di gang rumah Belanda belum surut. Ratu di dapur lebih awal — kopi sachet, roti tawar, selai nanas tipis. Raja sudah duduk di ujung meja dengan jas setengah rapi, rambut masih sedikit basah.
'Lo mau bicara sebelum kantor,' tebak Ratu. 'Muka Bapak seperti briefing.'
'Iya.' Raja meletakkan sendok — tidak makan roti. 'Maaf ciuman Jumat itu… gue rasa belum cukup. Bukan reset. Lanjutan.'
Ratu duduk di kursinya — jarak dua kursi, tapi kali ini ia hadap Raja. 'Saya dengar.'
'Di Jumat, gue bilang minta maaf. Benar. Tapi singkat. Seperti checklist.' Raja napas dalam. 'Gue mau jelas: ciuman pertama lo di dapur rumah nenek — gue ambil tanpa izin. Lo punya hak marah. Lo punya hak tendang. Lo punya hak lapor, meski lo nggak lapor. Gue nggak akan bilang lo menikmati. Gue nggak akan bilang impas gara-gara mobil. Itu two wrongs.'
Ratu memegang cangkir kopi — hangat di tangan dingin AC pagi.
'Maaf gue bukan karena takut lo pindah kos. Bukan karena cicilan. Bukan karena nenek. Karena lo manusia, bukan plot.' Raja menatap meja, bukan Ratu — seolah menatap langsung terlalu berat. 'Gue belajar di luar negeri banyak hal, tapi gue belajar telat soal izin. Lo set boundary: ketuk, jangan buka. No kiss. No zebra. Gue hafal. Lo belum bilang mau apa-apa selain deal rumah dan kerja. Gue nggak akan paksa. Maaf — yang benar — untuk mencuri momen lo.'
Ratu meletakkan cangkir. 'Diterima. Pelan. Saya belum lupa. Saya juga belum selesai sama Bian — bukan mau balik, tapi luka belum ditutup rapat. Maaf Bapak tidak jadi tiket dekat-dekat. Maaf saya tidak jadi tiket Bapak dekat-dekat juga.'
'Fair,' kata Raja. 'Deal tetap deal. Cicilan satu juta bulan depan — gue nggak ubah. Lo nggak usir diri sendiri demi impresi kantor.'
Mereka sarapan cepat — roti, kopi, tidak romantis. Di garasi, Ratu coba starter motor — dengung lemah, mati.
'Sial.'
Raja cek dari luar — bukan mekanik, tapi tahu dasar. 'Aki, maybe. Lo telat servis.'
'Pak Kardi bilang masih oke minggu lalu.'
'Hujan kemarin. Macet. Lo jangan nekat push ke tol.' Raja ambil kunci Fortuner. 'Ada site visit ke klien di BSD jam sepuluh — Faris minta lo ikut bawa berkas hard copy. Sudah di jadwal seminggu lalu. Motor lo tinggal. Gue antar. Satu mobil. Perlu. Bukan date.'
Ratu gigit bibir. 'Saya takut gosip.'
'Takut valid. Alternatif: lo telat, klien marah, firma rugi. Pilih.'
'Fine. Satu mobil. Site visit. Hujan again, saya pakai jas nenek di mobil Bapak.'
'Deal.'
Di kantor, lobby basah oleh payung karyawan. Nindy di meja resepsionis dekat lift — kebetulan — saat Ratu turun dari Fortuner parkiran basement bersama Raja. Timing buruk. Ratu lurus ke lift tanpa menoleh. Raja ke ruangan. Faris sudah tunggu dengan map tebal.
'Motor mogok?' tanya Faris singkat.
'Iya, Mas. Site visit jam sepuluh.'
'OK. Berkas lengkap?'
'Lengkap.'
Perjalanan ke BSD: hujan ringan lagi. AC mobil dingin. Radio off. Tol macet singkat. Ratu: 'Bullet point call kemarin sudah saya kirim ke Faris.' Raja: 'Good.' Ratu: 'Maaf tadi pagi… panjang.' Raja: 'Harus panjang. Supaya nggak perlu diulang salah.'
Site visit: gedung perkantoran basah, lobby marble, klien lebih ramah dari Zoom. Faris jelaskan progress; Raja tandatangani penerimaan berkas; Ratu serahkan map hard copy dengan cap stempel. Petugas administrasi klien — wanita baju korporat — foto dokumentasi standar: Faris dan Raja di depan pintu, map di tangan, background carport dengan Fortuner hitam terparkir. Ratu di sisi, setengah frame.
'Foto buat arsip internal kami,' jelas petugas. 'Biasa, Pak.'
Ratu angguk profesional. Fokus ke stempel dan tanda tangan — bukan ke sudut foto.
Makan siang singkat di food court dekat gedung — tiga orang, meja panjang, bukan berdua. Faris cerita klien lama yang pernah kabur invoice. Raja ketawa sekali — jarang. Ratu minum es teh, tenang.
Pulang, hujan deras lagi. Faris turun di kantor dulu; Ratu dan Raja lanjut ke arah Selatan. Ratu: 'Bisa turun di gang dekat warung? Biar nggak satu lobby lagi.'
'Lo basah jalan?'
'Lo basah jalan juga kalau lo ikut argue.'
Raja berhenti di gang — bukan depan rumah, kompromi. 'Lo jalan lima meter. Hati-hati genangan.'
'Baik, Pak. Terima kasih maaf yang… panjang tadi pagi.'
'Panjang karena benar,' kata Raja. 'Bukan karena eloquent.'
Ratu lari kecil ke pagar rumah Belanda, jas hujan basah, jantung campur lega dan was-was. Satu mobil. Perlu. Dokumentasi foto di site. Gosip — bahan besok, mungkin.
Malam, chat Faris: `Dokumentasi site OK. Good job.` Ratu: `Terima kasih Mas.` Faris: `Lo antar bareng Pak Raja? motor mogok?` Ratu: `Iya. Perlu.` Faris: `OK. Profesional.`
Desy: `Lo naik Fortuner?` Ratu: `Motor mogok. Site visit BSD.` Desy: `Nindy bakal seneng.` Ratu: `Tai.` Desy: `Lo siapin fakta.` Ratu: `Hafal.`
Di catatan: *maaf benar = diterima. boundary tetap. one car ride = perlu. foto site?*
Raja di ruangan, laptop masih terbuka, map site visit di meja. Ia tidak tahu screenshot basement dan foto arsip klien akan jadi amunisi gosip. Belum. Besok pagi, mulut kantor lebih cepat dari log resmi — tapi malam Kamis, Ratu tidur dengan fakta di tangan, bukan foto di layar.