Ballroom hotel Sudirman sudah penuh suara manusia dan musik yang sengaja dibuat lembut agar tamu bisa berbicara tanpa berteriak. Ratu Ananda Sahara duduk di meja keluarga, gaun navy mengalir di kursi berlapis kain putih, heels pinjaman Desy menekan tumit dengan sopan. Di sebelahnya Bunda Della mengenakan kebaya ivory dengan selendang sutra; Ayah Firman kemeja putih, dasi gelap, senyum hangat untuk setiap tamu yang mendekat.
Nek Miftah duduk di ujung meja, gaun batik tua yang elegan, tongkat kecil di samping kursi. Nenek itu sesekali menepuk punggung tangan Ratu — sentuhan pendek, tanpa drama. 'Nafas,' bisik Nek. Ratu mengangguk. Practice smile Desy masih menempel di otot wajah, tapi di balik waterproof mascara, mata mulai panas.
MC di panggung memperkenalkan susunan acara. Sambutan keluarga mempelai pria — Ayah Firman bangkit sebentar, kata-kata singkat, suara sedikit bergetar. Ratu bertepuk tangan tepat waktu. Bukan karena ia terharu pada pidato; karena ritme acara menuntut tepuk tangan, dan ia ingin tampak normal.
Bian dan Raisa masuk ke area utama setelah sesi foto formal. Jas putih mempelai pria masih rapi; gaun pengantin Raisa berkilau di bawah lampu chandelier. Mereka berjalan berdampingan, bahu hampir bersentuhan, tangan Bian kadang menuntun punggung Raisa — gerakan kecil yang dulu pernah Ratu impikan untuk dirinya sendiri. Tenggorokannya mengecil.
'Cantik ya, Sa?' Bunda Della mencondongkan kepala. 'Alhamdulillah lancar akad tadi.'
'Iya, Bunda.' Ratu minum air putih — tidak champagne. 'Alhamdulillah.'
Ayah Firman menoleh. 'Kamu nggak usah tegang. Ini keluarga. Kamu di sini sebagai adik — Bunda sudah bilang ke semua pihak.'
'Iya, Ayah. Makasih.'
Ratu percaya Bunda. Percaya juga bahwa hati tidak selalu nurut pada label yang manusia tempelkan. Di panggung, Bian tersenyum lebar saat MC mengumumkan potong kue. Raisa tertawa kecil, jari menutup bibir — gestur feminin yang terlihat alami. Kamera flash berkedip. Tamu bersorak. Ratu ikut bertepuk, dagu tegak.
Nek Miftah berbisik lagi: 'Lihat nenek kalau mau nangis. Jangan lihat panggung terus.'
Ratu mematuhi. Mata sempat bertemu Bian — setengah detik. Lelaki itu mengangguk halus, senyum sopan kakak. Bukan senyum kekasih. Bukan senyum milik. Ratu membalas dengan senyum practice — tipis, matanya hidup sedikit, seperti yang Desy ajarkan di fitting room mall.
Raisa tidak mendekat dulu. Sibuk di meja VIP, menerima selamat, foto dengan kerabat. Ratu merasa lega sekaligus hina — lega karena jarak, hina karena ia sadar dirinya berharap jarak itu.
Potong kue dimulai. Bian dan Raisa berdiri berdampingan, pisau perak menembus sponge putih. Mereka saling menyuapkan sepotong kecil — ritual yang selalu ada di resepsi, dan selalu terasa seperti jarum bagi yang duduk di barisan belakang perasaan. Ratu menelan ludah. Bunda Della tidak comment; Ayah Firman tersenyum bangga.
Setelah kue, tamu undangan maju ke meja prasmanan. Ratu ikut berdiri — kaki sedikit lemas — mengambil nasi timbel dan lauk secukupnya. Raja tidak ada di sini. Raja menunggu di basement, sesuai deal. Safety, bukan date. Ratu hafal.
Di meja prasmanan, sepasang tamu muda berbisik sambil melirik gaun navy Ratu. 'Adiknya, ya?' 'Cantik juga. Sayang ya.' Ratu pura-pura tidak dengar. Nafas masuk, nafas keluar.
Ponsel bergetar di clutch kecil. Chat Raja:
`Lo OK?`
Ratu lihat sekilas, ketik cepat di balik meja:
`Masih di meja keluarga. OK enough.`
`Call kalau perlu. Gue di parkir B2.`
`Hafal.`
Balas singkat — tidak ingin Bunda melihat layar terlalu lama. Block still block untuk Bian; chat Raja sudah jadi jalur darurat yang ia terima tanpa label romantis.
Acara kembali ke kursi. Speech mempelai wanita — Raisa berdiri dengan mic wireless, suara jernih, ucapan terima kasih panjang pada keluarga, teman, rekan kerja. Ratu mendengarkan setiap kata. Tidak ada nama Ratu di dalamnya. Wajar. Ia bukan sahabat pengantin. Bukan ipar resmi — belum, dan mungkin tidak pernah dengan cara yang ia dulu bayangkan.
Bian mengambil mic setelah Raisa. Ucapan singkat, humor ringan, tamu tertawa. 'Maaf ya adik-adik kalau akhir-akhir ini jarang main ke rumah.' Mata Bian sweep ruangan — berhenti sepersekian detik di meja keluarga. Di Ratu. 'Terima kasih yang sudah datang. Terutama keluarga yang selalu jadi rumah.'
Kata 'adik' menusuk lebih tajam dari pisau kue. Ratu tersenyum. Tepuk tangan. Hati berdetak kencang di balik tulang dada.
Nek Miftah menggenggam jari Ratu. 'Sudah cukup belum, sayang?'
Belum. Tapi Ratu belum bisa pergi. Bunda masih duduk. Foto keluarga belum selesai. Adik mode bukan adik kabur.
'Belum, Nek. Bentar lagi,' jawab Ratu pelan.
Di basement, Raja mematikan radio, membaca notifikasi chat, lalu menatap langit-langit mobil. Fortuner sunyi. AC hidup rendah. Ia tidak masuk reception — deal. Tapi jari tetap di ponsel, siap angkat.
Resepsi terus bergulir. Musik live mengganti track instrumental. Tamu mulai berdansa di lantai terbuka. Bian memeluk Raisa di tengah — gerakan standar pengantin. Ratu melihat dari kejauhan, tenggorokan kering, mata berkaca-kaca. Ditahan. Vault. Breath. Adik.
Bunda Della menyelipkan tisu lipat ke tangan Ratu tanpa kata. Ratu mengangguk. 'Maaf,' bisiknya.
'Nggak perlu maaf,' sahut Bunda lembut. 'Kamu manusia.'
Ratu minum air lagi. Practice smile retak sedikit di sudut bibir — diperbaiki sebelum ada yang notice. Jam menunjukkan sore menjelang petang. Satu jam pertama sudah lewat. Promise Nek: execution. Ratu masih di kursi, gaun navy di antara lautan ivory dan gold, dan hati yang belum sepenuhnya healed masih berusaha taat pada label yang ia pilih sendiri.