Sore resepsi sudah masuk fase foto-foto. MC mengumumkan sesi dokumentasi untuk keluarga besar mempelai pria. Bunda Della bangkit, merapikan selendang. 'Ratu, ikut Bunda sebentar. Meja keluarga di depan banner.'
Ratu mengikuti. Heels click di lantai marmer. Di area foto, Bian dan Raisa sudah berdiri dengan backdrop bunga putih-gold. Kerabat berbaris. Nek Miftah maju dengan tongkat, duduk di kursi yang disediakan. Ayah Firman di barisan belakang. Ratu disisipkan di sisi Bunda — bukan di samping Bian. Posisi aman.
'Satu, dua, tiga!' Kamera shutter berbunyi berulang. Bian tersenyum profesional. Raisa perfect. Ratu practice smile — hold, hold, lepas napas saat fotografer ganti lensa.
Setelah foto keluarga, Raisa mendekat. Gaun pengantin mengalir, makeup flawless, parfum lembut menyentuh hidung Ratu sebelum kata-kata sampai.
'Mbak Ratu, ya?' suara Raisa manis, formal. 'Bunda bilang kamu adik angkat Bian. Senang akhirnya ketemu langsung.'
'Iya. Selamat ya, Kak.' Ratu memilih panggilan aman — bukan ipar, bukan sahabat. 'Semoga bahagia selalu.'
Raisa tersenyum lebar. 'Makasih. Kita kan keluarga ya sekarang — ipar soon.' Energi 'ipar' jatuh seperti selimut hangat yang terlalu sempit. Ratu merasa sesak.
'Iya.' Practice smile naik lagi. 'Senang bisa hadir.'
Bian melangkah mendekat, tangan masih memegang mic di sisi lain. 'Rat, makasih udah datang.' Panggilan kecil itu — dulu manis, sekarang seperti sisa luka basah. 'Maaf akhir-akhir ini jarang komunikasi. Sibuk persiapan.'
Block still block, Ratu ingat. Bian tidak perlu tahu ia memblokir nomor; cukup senyum di depan tamu.
'Nggak apa-apa, Kak.' Nada sopan, datar. 'Selamat ya. Bahagia selalu.'
Bian menepuk bahu Ratu sekali — ringan, kakak adik. 'Kalau butuh apa-apa, kabarin Bunda dulu aja, ya?'
'Siap, Kak.'
Raisa menautkan lengan Bian. 'Sayang, tamu tante dari Surabaya nyari.' Bian mengangguk, pamit singkat, pergi.
Ratu kembali ke meja dengan kaki yang terasa lebih berat. Nek Miftah menatap — tidak tanya, hanya angguk kecil. Understanding tanpa interogasi.
Tekanan foto belum selesai. Sepupu-sepupu Bian datang bergantian minta selfie. 'Mbak Ratu ikut dong!' Ratu tidak bisa menolak tanpa terlihat kasar. Practice smile on. Flash. Flash. Flash. Setiap kali layar ponsel menampilkan preview, ia melihat dirinya — navy, senyum, mata yang sedikit terlalu gelap.
Desy chat masuk di sela-sela:
`How's war zone?`
Ratu ketik cepat di bawah meja:
`Raisa ipar energy. Foto terus. Smile crack.`
Desy: `Bathroom. Splash water. Count 10. Vault.`
Ratu: `Soon.`
MC mengumumkan toast bersama. Gelas diangkat. Ratu angkat air putih — tidak wine. Bian di panggung lagi, kata-kata singkat soal cinta dan keluarga. Tamu minum. Ratu menempelkan gelas ke bibir tanpa benar-benar minum banyak.
Raisa kembali ke meja keluarga setelah muter salam. Kali ini duduk sebentar di sebelah Bunda, bertanya kabar Ratu dengan ramah berlebihan. 'Kerja di mana sekarang? Masih di firma hukum? Wah pintar banget. Bian cerita Mbak Ratu kuliahnya hebat.'
Ratu jawab singkat, sopan. 'Masih magang, Kak. Divisi pidana-perdata.'
'Keren. Nanti kalau ada acara keluarga, jangan sungkan ya.'
Practice smile. 'Siap, Kak.'
Ipar energy lagi — hangat, tapi menusuk. Ratu ingin bilang ia bukan bagian dari rencana pernikahan ini, bukan rival, bukan hope. Tapi yang keluar hanya senyum dan anggukan.
Tekanan hampir pecah saat sepupu minta foto berdua dengan Ratu dan Bian — 'kayak dulu pas masih kecil!' Bian setuju dengan senyum canggung. Ratu berdiri di samping Bian, jarak selebar lengan, practice smile maximum. Shutter klik. Bian bisik tanpa lihat kamera: 'Kamu OK?'
'OK, Kak.' Bohong halus.
Setelah foto, Ratu minta izin ke Bunda. 'Permisi, mau ke toilet sebentar.'
'Iya sayang.'
Koridor menuju kamar kecil lebih sepi. Ratu masuk booth, kunci pintu, baru napas pecah. Tangannya gemetar. Mascara aman — waterproof — tapi mata merah. Ia menatap cermin, ingat chat Desy: splash water, count ten, vault.
Air dingin ke wajah. Satu. Dua. Tiga. Napas dalam. Practice smile di cermin — retak, diperbaiki. Tidak menangis keras. Hanya isak pendek yang ditelan. Self-control, bukan karena Raja pernah mengejek nangis tanpa suara — karena Ratu tidak mau jadi bahan tamu di toilet hotel mewah.
Ponsel bergetar. Desy lagi:
`Still alive?`
Ratu: `Bathroom. Almost break. Fixed.`
Desy: `Proud. Exit plan ready when u need.`
Ratu: `Hafal.`
Ia rapikan makeup, keluar booth, kembali ke ballroom. Meja keluarga. Bian sudah duduk sebentar di dekat Ayah Firman — jarang, tapi terjadi. Ratu hampiri. Bian menoleh, suara lembut kakak: 'Rat, makasih ya udah datang. Bunda bilang kamu sempat sesak tadi. Minum air.' Ia dorong gelas mineral ke arah Ratu.
Kebaikan kakak — bukan cinta, bukan milik — justru lebih sakit. Ratu merasa seperti anak kecil yang dikasih permen setelah dijauhi.
' Makasih, Kak.' Ia minum. 'Selamat lagi.'
Bian tersenyum. 'Iya. Kamu… jaga diri.'
Ayah Firman singgah sebentar ke meja, menepuk punggung Ratu ringan. 'Anak Bunda kuat. Besok istirahat ya — jangan langsung kerja keras.' Ratu mengangguk. 'Iya, Ayah.' Lelaki itu pergi lagi ke tamu lama; tidak ada pelukan panjang, tidak ada tanya 'masih cinta Bian?' — Bunda sudah jaga narrative keluarga dengan baik.
Di sudut ballroom, band live mengganti lagu menjadi ballad lambat. Beberapa pasangan berdansa. Bian memimpin Raisa — tangan di pinggang, dahi hampir bersentuhan. Ratu melihat sekilas lalu buru-buru alihkan pandangan ke centerpiece meja: bunga putih, lilin kecil, kartu nama tamu. Detail kecil menjadi pelindung mata.
Practice smile di wajah Ratu mulai terasa seperti otot yang kelelahan latihan. Desy pernah bilang: fake OK untuk foto keluarga, real untuk diri sendiri. Real saat ini: dada sesak, tangan dingin, senyum tipis yang menipu semua orang kecuali Nek Miftah — dan nenek sudah pulang lebih dulu ke hotel.
Ratu kembali duduk di samping kursi kosong Nek. Practice smile on. Raisa di panggung lagi dengan tamu wanita. Bian kembali ke Raisa. Momen mesra pasangan pengantin terus berulang — tangan, tatapan, tawa kecil yang dulu pernah Ratu kira miliknya. Ia menahan tenggorokan yang sesak. Senyum palsu tetap terpasang, dan hati yang belum healed menabung luka baru dengan rapi, seperti arsip yang tidak pernah ia minta.