Rabu malam, Ratu Ananda Sahara duduk di meja makan — mie instan, hoodie abu, footnote cetak untuk baca ulang besok. Raja di ruang tamu, suara rendah — telepon, bukan meeting online. Ratu tidak sengaja dengar; dinding rumah tua tipis, dan pintu ruang tamu tidak full close.
'… Mami, gue bilang belum siap.' Suara Raja tegang pelan.
Ratu freeze — sendok setengah jalan.
'Laras baik, Mami tahu. Tapi gue lagi…' Pause. 'Bukan soal Laras jelek. Soal timing. Gue kerja. Gue serumah situasi complicated.'
Ibu Raja — Mami — terdengar jelas meski speaker: 'Complicated kenapa? Lo sudah dewasa. Teman Ibu sudah setuju dinner Minggu depan. Laras lulus S2, keluarga baik, sopan. Lo cuma meet — tidak usah langsung nikah.'
'Meet pressure tetap pressure.'
'Rajasa!' Nada Mami naik — familiar, authoritative. 'Lo pikir Ibu tidak tahu lo dekat dengan yang tinggal di rumah Nek? Gosip juga sampai ke Ibu. Tapi Laras lebih… proper. Dinner dulu. Kenalan. Lo tidak akan rugi.'
Ratu menarik napas pelan. Bukan pacar — ia sudah clarify berkali-kali. Tapi denger nama Laras + proper + dibanding implicitly dengan dirinya tetap menusuk, unexpected.
'… Mami, gue akan consider dinner,' Raja jawab — reluctant, jelas. 'Tapi jangan push matchmaking di telepon. Gue adult.'
'Good. Ibu kirim alamat. Laras tunggu. Jangan malu-malu — Ibu sudah bilang ke Laras soal cucu Ibu yang successful.'
Call ended. Hening. Ratu pura-pura fokus mie — sendok bergerak slow.
Langkah Raja ke dapur. Ratu tidak look up.
'Lo dengar?' tanya Raja flat.
'… Sebagian.' Ratu taruh sendok. 'House tipis.'
'Not intentional.' Raja ambil air. 'Mami — Ibu gue — arrange dinner. Teman ibu, anak perempuan: Laras.'
'Proper.' Ratu echo kata Mami tanpa bisa stop — bitter kecil, immediately regret tone.
Raja menatap cangkir. 'Bukan compare. Mami memang begitu.'
'Lo going?'
'Consider.' Raja jawab jujur — reluctant. 'Dinner. Meet. Bukan commit. Mami pressure — routine.'
Ratu angguk. Conflicted again — tidak punya hak cemburu, sudah bilang bukan pacar. Tapi dada tetap sesak. 'Lo belum bilang ke gue full.'
'Baru selesai telepon.' Raja pause. 'Gue tidak hide — tapi juga tidak announce. Lo bukan…' Ia stop. 'Lo bukan audience wajib. Tapi lo serumah. Fair lo tahu.'
'Fair.' Ratu standing. 'House rules still. Lo dinner Laras — urusan lo dan Mami. Gue tidak ticket.'
'Noted.' Raja tidak argue.
Ratu naik kamar — knock own door habit, tutup, duduk di tepi tempat tidur. Bian memory masih ada — kakak yang menikah, bukan pelabuhan. Laras baru masuk — nama proper, S2, keluarga baik. Mami insist meeting. Raja reluctant tapi consider.
Chat Mami mungkin masih jalan di ponsel Raja — Ratu tidak lihat, tapi bayang: alamat restaurant, waktu, dress code. Dinner Minggu depan. Laras tunggu.
Di bawah, Raja diam di dapur. Nek Miftah belum tahu malam ini — atau tahu dari Mami channel lain, Ratu tidak yakin. Yang jelas: tension baru untuk batch berikutnya, bukan solved malam ini.
Ratu buka laptop — footnote — otak blur. Flash ballroom replaced by bayangan meja dinner: Raja di seberang, Laras sopan, Mami pleased. Bukan pacar — ia ulang mantra. Gratitude bukan romance. Standby bukan ownership.
Tapi malam Rabu ini, mantra tidak cukup menutupi sesak di dada.
Ponsel vibrate — chat Desy:
`Lo alive?`
Ratu ketik:
`Alive. Laras. Dinner. Mami push.'`
Desy:
`Who Laras?`
`Calon proper. Mami version.'`
`… Lo OK?`
`Define OK. Bukan pacar jadi nggak punya hak. Tetap sakit anyway.'`
Desy:
`Vault lunch. Sleep.'`
Ratu taruh ponsel. Tidak turun. Tidak knock ruang tamu. Quiet coexistence broken sebentak oleh nama asing — Laras — dan insistence Mami yang belum selesai.
Raja belum fully tell Ratu detail dinner — alamat, waktu, dress code — dan Ratu baru learn enough to imagine. Tidak teriak. Tidak packing kos. Hanya duduk di kamar, hoodie, mie dingin, hati functional siang tadi sekarang kembali raw di pinggir.
Mami insist meeting Laras.
Raja belum bilang semua.
Dan Ratu — bukan pacar, tapi serumah — sudah tahu cukup untuk tidak tidur nyenyak malam ini.
* * *
Kamis pagi, dapur. Raja sudah pergi early — note di meja, tulisan tangan: *Meeting 0700. Kopi di thermos.* Tidak mention Laras. Ratu minum kopi, baca note, taruh di laci — tidak screenshot, tidak forward ke Desy yet. Vault until lunch.
Kantor normal — intercom, footnote, review Faris. Raja formal. Ratu formal. Laras tidak terlihat di kantor, tapi berat di dada.
Nindy lewat — masih dingin. Ratu tidak peduli hari ini. Beban lain.
Sore, Ratu pulang. Raja belum balik. Chat jam enam:
`Lo makan?`
`Belum.`
`OK.`
Tidak ada detail Laras. Ratu tidak tanya. Batas: bukan pacar, bukan audience wajib. Tapi hening terasa seperti cerita setengah — dan itu ketegangan yang Mami tanam tanpa sengaja.
Malam Kamis, Ratu tidur setengah — bangun jam dua, stare langit-langit, bayang Laras proper S2. Tutup mata. Napas. House rules. Bukan tiket. Tetap sakit.
Besok akan menuntut jawaban yang Raja belum sampaikan sepenuhnya.
* * *
Raja pulang jam sembilan — Ratu masih di kamar, belum tidur. Suara pintu utama, langkah dapur, microwave. Ratu turun — need water, or need see face, ia tidak analyze.
Raja di meja makan, bihun hangat. 'Lo belum tidur?'
'Footnote.' Ratu isi gelas. 'Lo dinner Laras kapan?'
Raja pause — fork setengah jalan. 'Minggu depan. Detail Mami kirim ke gue — belum gue forward.'
'Restaurant?'
'Kemang area. Mami pilih.' Raja jawab reluctant. 'Lo nanya kenapa?'
'Serumah.' Ratu datar. 'Fair know. Bukan hak veto.'
'OK.' Raja angguk. 'Gue meet. Sopan. No commit. Mami… routine pressure.'
'Laras tau lo serumah sama magang?' Ratu tanya — edge kecil.
'Nggak detail.' Raja geleng. 'Mami filter.'
Of course Mami filter — proper narrative for proper girl. Ratu taruh gelas. 'Good luck dinner.'
'… Thanks?' Raja confused half-second.
'Bukan tiket.' Ratu naik kamar. 'Just… words.'
Pintu tutup. Raja di bawah tidak knock — respect. Ratu denger microwave off, langkah ruang tamu, TV low again. Quiet coexistence restored setengah — nama Laras still hangs.
Ratu tidur jam sebelas — tidak nyenyak, tapi tidur. Ketegangan masih mengganjal di dada: Mami insist. Raja consider. Detail belum full. Bukan pacar — tapi serumah berarti tetap harus tahu.