Jumat siang, Rajasa Atma Gunadhya menutup laptop di ruang ketua divisi — meeting selesai lima menit lebih cepat, tapi otaknya belum. Di layar ponsel, chat Mami masih terbaca: *Dress code smart casual. Laras sudah konfirmasi. Jangan telat, Rajasa.*
Dinner Minggu depan bukan lagi abstrak. Sudah jadi tanggal, alamat, dan nama perempuan yang Mami sebut proper.
Raja menarik napas, lalu menelepon.
'Rajasa?' Suara Ibu Raja langsung ceria — terlalu cepat untuk seseorang yang baru diangkat.
'Mami.' Raja berdiri, memandang gedung di luar jendela. 'Gue mau ngomong soal dinner Laras.'
'Bagus. Akhirnya lo serius.'
'Belum serius. Gue mau clarity.' Raja jaga nada datar — bukan marah, bukan manja. 'Gue akan datang. Sekali. Sopan. Tapi Mami harus stop frame ini sebagai langkah ke arah lamaran.'
Di ujung line, Mami terdengar menarik napas — tanda familiar sebelum counterattack.
'Lo overdramatis. Ibu cuma minta lo kenalan. Laras anak baik-baik. S2, kerja di perusahaan multinasional, keluarga teman Ibu sejak SMA. Lo nggak akan rugi sekali ketemu.'
'Sekali ketemu.' Raja ulang. 'Itu yang gue minta Mami pegang. Bukan follow-up. Bukan "lo harus lanjut karena Ibu sudah janji ke Tante Laras."'
'Rajasa Atma Gunadhya.' Nada Mami turun setengah oktaf — authoritative, bukan hysterical. 'Lo sudah tiga puluh. Lo successful. Lo single. Teman Ibu khawatir anak perempuannya kehabisan waktu. Lo pikir Ibu senang nego-nnego? Ibu capek juga.'
Raja menutup mata sebentar. Empati ke ibu ada — tapi boundary harus tetap.
'Gue ngerti Mami capek. Tapi gue juga lagi…' Ia stop. Tidak akan sebut Ratu di telepon ini. '… lagi fase yang belum siap dijodohkan paksa. Kerjaan berat. Rumah situasi rumit. Gue belum bisa commit mental ke siapapun.'
'Complicated kenapa?' Mami tajam. 'Lo serumah sama magang di rumah nenek? Ibu sudah dengar versi ringkas. Makanya Ibu tawarkan Laras — proper, setara, keluarga jelas.'
Raja jaw clench. Gosip memang cepat — dari channel yang tidak ia kontrol.
'Bukan soal setara atau nggak.' Raja pilih kata hati-hati. 'Soal timing. Gue minta delay kalau bisa — atau minimal Mami nggak push beyond dinner.'
'Delay sampai kapan? Sampai lo tiga puluh lima? Sampai nenek lo menang dengan cewek magang itu?'
'Nek Miftah urusan berbeda.' Raja tegas pelan. 'Mami, please. Sekali ketemu. Gue datang. Lo terima jawaban jujur gue setelah itu — yes or no — tanpa guilt trip.'
Hening tiga detik. AC ruangan berdengung. Faris lewat koridor di balik kaca — Raja angguk absen, fokus ke telepon.
'… Fine.' Mami akhirnya. 'Sekali ketemu. Lo datang Minggu. Sopan. Bersih. Jangan malu-malu. Tapi Rajasa — Ibu expect lo jujur ke Laras juga. Jangan ghosting setelah makan.'
'Fair.' Raja lega setengah — bukan victory, tapi napas. 'Gue akan jujur kalau memang belum ada arah.'
'Good.' Mami pause. 'Oh ya — mobil lo sudah bagus lagi? Ibu dengar ada goresan bulan lalu.'
'Udah beres.' Raja jawab singkat. Utang mobil ke Ratu sudah lunas bertahap — bab lain, tidak untuk telepon ini. 'Gue permisi, Mami. Meeting lanjut.'
'Iya. Jangan lupa Minggu.'
Call ended. Raja duduk kembali — telapak tangan sedikit basah. Stress bukan karena Laras jahat; stress karena Mami selalu menang sebagian, dan karena ada rumah yang menunggu di ujung hari.
* * *
Malam Jumat, dapur rumah Belanda. Ratu Ananda Sahara cuci piring — hoodie navy, rambut dikuncir longgar. Raja baru masuk, setelan kerja lepas setengah, dasi di tangan.
Mereka tidak bertemu mata lebih dari dua detik sejak pagi.
'Lo telpon Mami?' tanya Ratu — datar, tidak casual.
Raja freeze di ambang dapur. 'Lo dengar lagi?'
'Dinding tipis.' Ratu taruh sponge. 'Bukan sengaja. Cuma… sebagian.'
'… Iya. Gue tegur. Minta clarity. Bukan commit.' Raja ambil air dari kulkas — ritual delay. 'Mami insist sekali ketemu. Gue akan datang. Sopan. No follow-up kalau memang nggak ada arah.'
Ratu keringkan tangan di lap. 'Laras tau detail serumah?'
'Nggak detail.' Raja echo jawaban Kamis — konsisten. 'Mami filter narrative.'
'Of course.' Ratu almost smile bitter — stop. 'Lo bilang belum siap?'
'Lo dengar itu juga?'
'… Sebagian.'
Raja angguk. Partial truth sudah terlanjur bocor — fair tidak menambah lapisan bohong. 'Gue bilang timing belum siap. Kerja. Rumah complicated. Gue minta Mami nggak push beyond dinner.'
'Complicated.' Ratu ulang — satu kata, banyak lapisan.
'General.' Raja tatap cangkir, bukan mata Ratu. 'Bukan…' Ia stop lagi. 'Lo bukan audience wajib detail telepon. Tapi lo serumah. Lo dengar. Fair gue nggak pretend nothing.'
Ratu diam. Bian memory sudah reda — tidak hilang, tapi tidak dominan malam ini. Yang dominan: Laras proper, Mami insist, Raja reluctant tapi akan datang.
'Gue bukan pacar lo.' Ratu ucap mantra — lebih lelah dari biasanya. 'Jadi gue nggak punya hak veto. Cuma… FYI. Lo pergi dinner — urusan lo. House rules still.'
'Noted.' Raja tidak argue. 'Knock. Vault. No claim.'
'No claim.' Ratu angguk. 'Good luck tegur Mami part two kalau Minggu habis masih push.'
Raja corner lip — hampir joke, ditahan. 'Thanks. Maybe.'
Ratu naik kamar — tidak slam door. Raja di bawah denger langkah anak tangga, pintu kamar tutup pelan. Quiet coexistence — retak tipis, belum pecah.
Raja microwav nasi goreng takeout, makan sendiri. Stress Mami masih di dada. Stress lain — unnamed — menunggu di lantai atas, tidak didialogkan.
Malam Jumat: sekali ketemu sudah fixed. Partial truth sudah di meja. Belum ada yang tidur tenang — tapi belum ada yang berteriak juga.