Sabtu sore, Ratu Ananda Sahara pura-pura sibuk.
Di kantor — hari libur, tapi ia datang setengah sepuluh pagi dengan alasan footnote deadline Senin. Security Hendro angguk: 'Rajin, Mbak.' Ratu senyum tipis — lebih mudah berada di ruang kerja kosong daripada di rumah Belanda saat Raja bersiap untuk dinner besok.
Raja sendiri di rumah. Ratu tinggalkan catatan di meja dapur jam delapan pagi: *Gue ke kantor. Makan siang sendiri. Balik sore.*
Tidak mention Laras. Tidak perlu — nama itu sudah mengambang sejak Rabu.
Di firma, Ratu print ulang dossier, highlight clause, minum kopi vending machine. Otak kerja — functional — tapi setiap kali ponsel vibrate, dada naik setengah beat sebelum ia cek: bukan Mami. bukan Raja. Desy kirim meme. Faris forward artikel hukum. Normal.
Jam sebelas, Ratu duduk di meja magangnya sendirian — ruangan kosong, AC terlalu dingin. Ia buka footnote yang sebenarnya sudah ninety percent done, lalu tutup lagi. Jari mengetuk meja — ritme tidak stabil. Bayangan Raja memakai kemeja putih di kamar tamu muncul tanpa undangan; ia usir, balik ke clause liability page empat.
Siang, ia makan nasi kotek dari minimarket dekat gedung — duduk di tangga darurat, angin kipas exhaust. Chat Nek Miftah masuk: *Rajasa sopan di rumah?* Ratu jawab: *Civil, Nek. House rules.* Nenek balas emoji thumbs up. Ratu simpan ponsel — nenek tidak tahu Laras, dan Ratu tidak akan jadi messenger Mami.
Jam tiga sore, chat Desy:
`Lo beneran di kantor?`
`Iya. Footnote.`
`Cowoknya?`
`Rumah. Dinner besok.`
`… Lo OK?`
Ratu stare layar. Jari hover keyboard. Typing, delete, typing lagi.
`Define OK.'`
Desy:
`Lo cemburu?`
Ratu freeze. Satu kalimat — tepat sasaran.
`Nggak.'`
Desy:
`Ra.'`
`… Bukan cemburu.'` Ratu ketik pelan. `Weird feeling aja. Lo tau gue bilang bukan pacar. Tapi serumah. Mami push. Laras proper. Gue nggak punya hak. Tetap… weird.'`
Desy:
`Weird = valid. Cemburu = juga valid. Lo nggak harus pick label buat feelings.'`
Ratu:
`Vault.'`
Desy:
`Vault lunch Senin. Sekarang — makan. Pulang sebelum lo collapse di meja.'`
Ratu tutup chat. Weird feeling — soft admit — sudah cukup untuk hari ini.
* * *
Sabtu malam, Ratu pulang jam setengah delapan. Rumah Belanda lampu teras nyala — warm, old wood smell, kipas pelan.
Raja di kamar tamu — pintu setengah buka. Ratu lihat sekilas: kemeja putih setrika rapi di ranjang, celana chino gelap di hanger, jam tangan silver di nakas. Formal. Prepared.
Ratu langsung ke dapur — tidak mampir lihat lebih lama.
Ia masak sendiri: tumis kangkung, telur ceplok, nasi dari rice cooker pagi. Simple. Satu porsi — tidak tanya Raja mau tidak. Boundary kecil, childish maybe, tapi ia perlu sesuatu yang bisa dikontrol.
Raja turun jam setengah sembilan — sudah rapi. Kemeja putih, chino, rambut rapi — bukan untuk Ratu, untuk dinner besok. Tatapan singkat ke dapur: Ratu punggung ke arahnya, fokus wok.
'Lo makan?' tanya Raja.
'Sudah.' Ratu tidak menoleh. 'Lo?'
'Belum.' Raja buka kulkas — kosong dari effort Ratu. 'Gue order later.'
'OK.'
Hening. Wok desis. Kangkung layu. Telur mateng.
Raja berdiri di ambang dapur — tidak masuk fully. 'Besok jam tujuh malam. Kemang. Mami + Laras + gue.'
'Lo bilang already.' Ratu matikan kompor. 'Good luck.'
'Lo…' Raja pause. 'Lo plans besok?'
'Kantor lagi. Footnote.' Ratu bohong setengah — footnote sudah hampir selesai. Alasan stay away.
'Libur.'
'Deadline internal.' Ratu taruh telur ke piring. 'Lo fokus dinner. Jangan worry rumah.'
Raja angguk — tidak push. 'House rules. Noted.'
Ia naik kamar tamu. Ratu makan di meja makan — sendiri — kangkung agak overcook karena telat matikan api. Rasa hambar. Bukan karena masakan — karena weird feeling Desy sebut tadi masih duduk di dada, tidak mau dinamai.
Malam Sabtu, Ratu mandi lama. Raja di bawah — Ratu dengar TV low volume. Tidak cium parfum berlebihan. Raja tidak parade — hanya prepared, quiet.
Ratu tidur jam sebelas — tidur miring, ponsel face down. Besok Raja pergi dinner dengan Laras proper. Bukan pacar — mantra lemah di kepalanya. Weird feeling — valid, kata Desy — tetap menggigit.
Sekali, ia turun ambil air jam dua belas — dapur gelap, ruang tamu gelap. Kamar tamu pintu rapat. Raja tidur. Atau pura. Ratu balik cepat — tidak knock, tidak lihat. Coward atau boundary — ia tidak bedakan malam ini.
* * *
Minggu pagi. Raja sudah pergi jog pagi — Ratu bangun jam delapan, dapur kosong kecuali thermos kopi penuh dan note: *Minum. Jangan skip sarapan.*
Tidak ada love letter. Tidak ada drama. Pelindung diam — pattern — malah menusuk malam ini karena contrast dengan dinner Laras nanti.
Ratu minum kopi. Toast selai. Chat Nek Miftah singkat — civil check-in. Nenek tidak mention Laras; Ratu grateful.
Siang, Ratu benar-benar ke kantor — bawa pulang file, tidak perlu, tapi lebih baik daripada melihat Raja berdandan jam lima sore.
Jam lima, Ratu pulang. Rumah sepi. Raja belum keluar — Ratu dengar shower di kamar tamu. Pukul lima lewat tiga puluh, langkah ke garasi. Mesin mobil Fortuner hidup. Pintu utama tutup.
Ratu di dapur — lampu nyala — duduk di kursi, teh hangat, tidak minum. Mobil pergi jam lima lewat empat puluh.
Weird feeling — finally named by absence — duduk di sebelahnya tanpa izin.