“Aku melihat Ayah.”
Pernyataan Winter barusan membuat semua kepala sontak menoleh ke belakang memandang Billy. Pasang mata mereka menelisik penuh selidik, seolah mencari secercah kegelisahan yang biasanya akan terpancar di wajah para pelaku saat dirinya terancam tertangkap basah.
Sialnya kebetulan Billy sedang tidak bisa mengendalikan ekspresinya. Kegelisahan serta keterkejutannya terpampang jelas di wajahnya sesaat setelah Winter mengatakan kalimat yang berpotensi menggiringnya ke dalam jeruji besi. Habis sudah, sekarang polisi pasti akan menetapkannya ke dalam daftar tersangka.
“Kau melihat ayahmu?” tanya salah seorang detektif sambil tidak melepaskan tatapan curiganya dari Billy. “Aku tidak mengerti. Bukankah harusnya ayahmu ....”
“Aku melihat Ayah ....” Winter tiba-tiba memotong pertanyaan sang detektif yang belum selesai. Ada apa lagi ini?
“... di dalam mimpiku,” sambungnya yang langsung membuat bingung semua orang yang mendengarnya. Termasuk Billy.
“Maksudmu?” Detektif yang satu lagi mulai ikut bertanya mewakili rekan-rekannya yang dilanda kebingungan.
Sebelum menjawab, sekali lagi Winter memandang takut pada Billy. Billy menggunakan kesempatan itu untuk memberinya tatapan ancaman secara diam-diam mumpung para polisi sedang tidak melihat ke arahnya. Merasa takut lantaran ayahnya tampak semakin menyeramkan, Winter kembali tertunduk ciut.
“Aku melihat Ayah hadir dalam mimpiku saat aku pingsan di dalam mobil para penculik itu.” Winter mulai beralibi. “Ayah berteriak menyuruhku supaya bangun dan kabur. Berkat suara lantangnya, akhirnya aku berhasil terbangun dan segera loncat dari mobil. Aku berlari kabur secepat mungkin dan tidak sadar telah memasuki kawasan pabrik terbengkalai itu. Aku tidak sempat melihat atau mendengar apa pun karena aku sangat takut. Apalagi badai salju juga semakin menambah rasa takutku. Lalu entah bagaimana aku jatuh di tumpukan salju dan bangun-bangun sudah di sini.”
Billy sukses dibuat melongo selama beberapa detik berkat pernyataan putranya tersebut. Bagaimana tidak, ia hanya menyuruhnya untuk diam tetapi yang Winter lakukan justru improvisasi. Jelas Billy senang sekaligus lega bukan main mendengarnya. Winter memang putranya yang sangat berbakti dan bisa diandalkan. Harusnya ia mempercayainya sedari awal supaya tidak usah repot-repot merasakan gelisah tak nyaman sejak para polisi masuk ke ruangan ini.
Kebalikan dengan Billy, para polisi tampak kecewa mendengar keterangan Winter barusan. Karena itu berarti dugaan mereka mengenai Winter kemungkinan telah menjadi saksi atas peristiwa naas yang menimpa Antony dan Michelle salah besar. Padahal mereka sudah mengharapkan banyak petunjuk soal kasus itu dari menginterogasi Winter. Rupanya lagi-lagi mereka hanya menemukan jalan buntu, tidak ada petunjuk yang mengarahkan mereka pada para pelaku kejahatan keji itu.
“Kau yakin benar-benar tidak melihat atau mendengar apa pun di sana? Coba kau ingat-ingat lagi. Kau tahu, Winter, pernyataanmu sangat penting bagi seorang gadis kecil yang kini sedang menderita karena sesuatu yang terjadi di sana kemarin malam.,” Sang detektif masih tidak menyerah mencoba mengorek informasi dari Winter. Barangkali anak itu melupakan sesuatu, pikirnya.
Diingatkan lagi soal gadis kecil malang itu, Winter mulai gelisah. Ia jadi terbayang kembali akan betapa mengerikannya sosok yang selama ini ia anggap sebagai superhero dalam hidupnya, ayahnya. Mengingat bagaimana dia menyiksa gadis kecil itu serta menembak kepala ayah gadis kecil itu dengan sadisnya, kegelisahan Winter berubah menjadi rasa takut. Terlebih setelah sempat bertemu tatap dengan manik ayahnya. Ia langsung menyembunyikan kepalanya di balik lutut.
“Tidak tahu, aku tidak tahu!” serunya sambil menggeleng berulang kali. “Berhenti menanyaiku soal apa yang terjadi malam itu. Aku takut, sangat-sangat takut.”
Para polisi sedikit merasa bersalah karena terlalu menekan Winter. Namun mereka jelas merasakan adanya kejanggalan dalam seruan Winter barusan. Dia seperti benar-benar ketakutan mengingat apa yang dilaluinya kemarin malam. Apa jangan-jangan ada yang dia sembunyikan? Tapi apa, dan kenapa dia memilih untuk menyembunyikannya.
Sementara itu Billy, ia sudah berdiri dari duduk santainya. Kali ini ia bergerak menghampiri Winter. Putranya sudah mulai hilang kendali, polisi pasti akan mencurigai hal itu. Ia harus turun tangan sesegera mungkin sebelum Winter menunjukan gerak-gerik yang semakin mencurigakan.
“Hei, sudah kubilang untuk tidak terlalu menekannya.” Billy memprotes. Namun para polisi mengabaikannya. Mereka sedang terlalu fokus menelisik gelagat Winter yang tampak tidak wajar.
Salah satu detektif mencoba kembali mendekatkan diri pada Winter. Ditepuknya lembut bahu anak itu, lantas berkata, “Kau baik-baik saja? Maaf jika pertanyaan-pertanyaan kami membuatmu teringat kembali soal apa yang menimpamu kemarin malam. Ketahui lah, kami hanya ingin menangkap para penjahat itu. Demi keamanan anak-anak seperti kau dan gadis kecil itu. Informasi sekecil apa pun akan sangat berarti bagi kami, Winter. Kau anak yang cerdas. Aku yakin kau pasti akan membantu kami para polisi untuk menangkap pelaku. Benar begitu bukan?”
Sekali lagi Winter kembali menggeleng. Ia bahkan semakin meringkuk takut dan mencoba menghindari sentuhan siapa pun. Hal itu membuat para polisi mulai frustasi.
“Winter, kami hanya butuh kejujuranmu. Apakah benar kau tidak melihat atau mendengar sesuatu terjadi saat kau terdampar di tempat itu?” Kali ini sang inspektur polisi yang ikutan bertanya.
Namun jawabannya masih sama. Winter menggeleng kuat-kuat sambil masih meringkuk menyembunyikan wajahnya di balik kedua lututnya.
“Tidak, aku tidak melihat atau mendengar apa pun selain badai salju yang menyeramkan di sekelilingku,” tukas Winter. “Aku sudah menjawabnya, kumohon berhenti membuatku teringat akan malam kelam itu. Aku takut ....”
Terdengar Winter mulai menangis. Tapi para polisi tampak belum menyerah.
“Winter, kumohon bantu kami. Coba kau ingat-ingat lagi dengan betul, apakah ada sesua—”
“Hei! Putraku sudah bilang tidak berulang kali. Apa kalian tuli?!” Billy yang tidak terima putranya didesak sampai menangis langsung memarahi para polisi. Ia juga mendekap Winter, melindunginya dari polisi-polisi tak berhati nurani.
“Sekarang kuminta kalian pergi. Ini sudah berakhir, berhenti mendesak putraku!” tukas Billy lagi. “Dia masih trauma pasca bertahan hidup sendirian di tengah badai salju dan gelapnya malam. Tidakkah kalian mengerti?! Dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan kasus yang sedang kalian selidiki! Jadi kumohon pergilah. Cari saja saksi lain, jangan putraku. Dia hanya anak sepuluh tahun yang belum mengerti soal masalah serumit itu.”
Para polisi terlihat mendengus kecewa. Namun mereka tetap menghargai kehendak Billy selaku orang tua Winter.
“Baiklah, Tuan Auxton, terima kasih atas ketersediaan Anda dalam membantu penyelidikan kami. Sekarang kami permisi.” Calvin sang inspektur mewakilkan dua rekan detektifnya untuk berpamitan. Tidak lama mereka pun menghilang dari pandangan Billy.
Setelah memastikan situasi sudah aman, Billy meraih kedua bahu Winter dan menatapnya serius. Wajahnya begitu sumringah, senyum lebar terukir di bibirnya kala memandang putranya yang telah menyelamatkannya dari jeruji besi.
“Terima kasih sudah berpihak pada Ayah. Kau benar-benar kebanggaan Ayah, Winter,” ujarnya seraya membawa Winter ke dalam pelukannya.
Winter hanya tertunduk diam. Ia masih takut menatap wajah ayahnya.
Billy pun mengangkat dagunya supaya putranya mau menatapnya. Ia berkata lagi, “Hei, tadi itu keren sekali. Padahal Ayah hanya memintamu untuk diam. Tapi yang kau lakukan malah improvisasi. Kau tahu, kau telah menyelamatkan nyawa Ayah, Winter. Terima kasih.”
Winter hanya menatap Billy sendu. Ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana di depan ayahnya. Sejak ia menyaksikan sisi lain sosok ayahnya yang mengerikan malam itu, ia sudah punya firasat bahwa hubungan mereka tidak akan sama lagi seperti sebelumnya. Semuanya telah berubah drastis dan tidak bisa dikembalikan seperti sedia kala.
Bagi Winter, hubungan ayah dan anak di antara mereka telah berakhir sejak malam itu.
•••
Malam ke dua di rumah sakit, Billy pergi menemui dokter yang menangani Winter. Ia berniat untuk membawanya pulang malam ini juga. Ia tidak mau memberi kesempatan kepada para polisi untuk menginterogasi putranya lagi. Sudah cukup, ini sudah berakhir.
“Apakah ada kondisi genting yang mengharuskan putraku berlama-lama di sini?” Billy bertanya langsung. Air mukanya tampak datar namun terkesan menyeramkan.
“Sebetulnya tidak ada, selain epilepsi yang menyerangnya setiap kali dia melihat salju,” jawab sang dokter.
“Bagus kalau begitu. Aku ingin membawanya pulang malam ini juga. Aku sudah muak dengan para polisi itu.”
Mendengar itu, sang dokter terlihat agak terkejut. “Apa? Tapi kami baru saja menjadwalkan Winter untuk berkonsultasi dengan psikolog besok pagi.”
“Tidak perlu. Aku punya psikiatri bersertifikat resmi yang kuperkerjakan sebagai perawat putraku. Biar dia dirawat jalan saja. Setidaknya di rumah kami tidak ada polisi yang akan membuat trauma putraku semakin menjadi.” Billy menyahut ketus.
Mendengar keputusan tersebut sang dokter hanya bisa mendengus pasrah. Biar bagaimanapun Billy adalah ayah Winter. Dia berhak untuk mengatur bagaimana putranya akan mendapatkan penanganan medis mengenai traumanya.
Sang dokter pun segera mengurus dokumen kepulangan Winter. Setelahnya ia langsung memberikannya pada Billy dan diterima dengan senyuman penuh terima kasih olehnya.
Kini Billy berjalan santai menyusuri koridor rumah sakit sambil membawa selembar kertas di tangannya. Di balik bayangan topi fedoranya senyumnya tambak merekah penuh kemenangan. Ya, akhirnya semua benar-benar sudah berakhir sekarang.
Sekali lagi, ia mampu meloloskan diri dari ancaman jerat hukum atas perbuatan kejinya yang ke sekian kali.
•••