Dua minggu telah berlalu sejak peristiwa naas itu. Hipnoterapi sudah dilakukan kepada Michelle dan sejauh ini efeknya bekerja dengan baik. Walaupun keceriaannya belum sepenuhnya kembali, tetapi yang terpenting dia tidak lagi mengalami mimpi buruk yang membuatnya mengkhayal bahwa kejadian malam itu masih dirasakannya. Dokter juga sudah mengizinkannya pulang seminggu yang lalu. Karena sebenarnya selain dari trauma mentalnya dia tidak punya luka fisik yang cukup serius sampai harus dirawat berlama-lama.
Jika dibandingkan dengan sebelumnya, kepribadian Michelle mengalami sedikit perubahan sejak prosedur hipnoterapi itu dilangsungkan. Dia menjadi lebih pendiam dan tertutup, dia juga sering bengong. Michelle memang berhenti mengungkit soal ayahnya. Tapi dia menjadi seperti orang linglung yang kehilangan sebagian jati dirinya.
Awalnya Sarah khawatir dengan perubahan putrinya yang begitu drastis. Tapi setelah berkonsultasi dengan psikolog yang menanganinya ditambah beberapa ahli jiwa lain, rupanya itu cukup biasa terjadi pada pasien yang mengalami trauma berat seperti Michelle. Kata mereka, kondisi Michelle saat ini seperti seorang anak yang terlahir kembali setelah sempat menjalani hidup sesuai urutan yang seharusnya selama enam tahun. Maksudnya, dia terlahir kembali bukan dengan otak bayi melainkan otak anak usia enam tahun yang tentunya akan mengkaji dunia dengan cara berpikir yang berada beberapa tingkat di atas bayi. Dia hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Lambat laun kepribadiannya yang sudah tercipta sejak dia masih dalam kandungan pasti akan kembali mengisi ruang kosong dalam dirinya.
Syukurlah Michelle tidak sendirian selama proses penyesuaian diri ini. Dia selalu ditemani oleh Kai, putra Ellisa yang juga merupakan teman dekatnya di taman kanak-kanak. Kai adalah anak yang ceria dan sedikit cerewet untuk ukuran anak laki-laki. Tapi justru kecerewetannya itu lah yang membantu Michelle menyesuaikan diri lebih cepat. Walaupun komunikasinya dengan Sarah masih belum begitu luwes, setidaknya dengan Kai dia tidak begitu. Michelle lumayan sering tertawa lepas kalau sedang bermain bersama Kai. Sarah begitu bersyukur bisa melihat senyum putrinya lagi.
Sekarang urusan putrinya sudah beres, tinggal Sarah mengurus masalah inti yang kemarin-kemarin sempat terabaikan karena ia harus fokus mengatasi masalah mental Michelle yang rusak berkat tragedi di malam itu. Ya, apalagi kalau bukan soal hukum? Ini sudah saatnya Sarah menuntut para polisi untuk bergerak lebih cepat dalam membongkar jati diri para pelaku. Lihat saja, kalau oknum-oknum itu sudah tertangkap, Sarah akan langsung membunuh mereka dengan tangannya sendiri. Itu untuk Antony, juga untuk putrinya yang terpaksa dihapus ingatan soal ayahnya hanya gara-gara peristiwa satu malam tragis yang diciptakan oleh para manusia keji itu.
Pagi ini Sarah diundang ke kantor polisi untuk membicarakan perkembangan kasus. Seperti biasa, ia akan menitipkan Michelle di kediaman Ellisa kalau ia harus pergi keluar. Habis mau ke siapa lagi? Ia tidak punya kerabat dekat di negeri orang ini selain Ellisa sahabatnya. Orang tua dan keluarga besarnya ada di negeri kelahirannya, Indonesia. Sementara kalau orang tua Antony, ayahnya sudah meninggal empat tahun lalu karena penyakit kronis, ibunya menyusul setahun setelahnya karena komplikasi.
Setibanya di kediaman Ellisa, Kai langsung menyambut Michelle dengan sumringah. Membuat Michelle tersenyum senang dan segera mengikuti ajakannya untuk bermain bersama di kamar Kai. Katanya anak itu punya mainan baru super keren yang dia dapat dari kado natal yang tiba-tiba muncul di kamarnya pagi ini. Dia berspekulasi heboh kalau hadiah itu kiriman dari Sinterklas. Katanya sebelumnya Sinterklas sudah meninggalkan pesan kepadanya yang mengatakan bahwa kakek tua fiksi itu akan terlambat mengirim hadiahnya karena ada terlalu banyak hadiah yang harus dia kirim ke sepenjuru negeri.
Lucunya Kai mempercayai hal itu. Kai bahkan membalas pesan tersebut dengan menulis sepucuk surat yang berisi suruhan kepada Tuan Sinterklas untuk menjaga kesehatan. Padahal dia tidak tahu saja kalau ibunya lah si Sinterklas itu.
Ah, Sarah jadi merasa bersalah pada bocah polos itu. Saat natal kemarin Kai sempat kecewa karena tidak ada satu hadiah pun di bawah pohon natal di rumahnya. Tentu saja itu karena Ellisa sibuk membantu Sarah mengurus prosedur hipnoterapi yang akan dijalankan kepada Michelle. Sialnya jadwal pelangsungan hipnoterapi itu ternyata jatuh tepat di hari natal. Berkatnya Ellisa jadi lupa mengurus segala keperluan perayaan yang harusnya sudah dia persiapkan sebelum pagi natal tiba. Beruntung sahabatnya itu cukup kreatif dengan berlakon menjadi Sinterklas yang mengirim sepucuk surat kepada putranya. Kai jadi tidak terlalu kecewa dan masih mau menunggu momen kado natal spesialnya tiba.
“Kau pasti akan sibuk bolak-balik ke kantor polisi belakangan ini.” Ellisa memulai pembicaraan serius, memecah renungan Sarah akan kepolosan putra sahabatnya itu. “Tinggalkanlah Michelle bersamaku sementara waktu. Kupikir akan lebih baik jika kita mencegah dia mengetahui sekecil apa pun masalah yang menyangkut soal peristiwa itu. Termasuk urusanmu dengan para polisi.”
Sarah merenung. Benar kata Ellisa, dalam situasi ini ia memang harus menutupi rapat-rapat soal tragedi itu dari Michelle. Ia tidak mau putrinya akan kembali teringat akan peristiwa kelam yang menimpanya malam itu hanya karena menangkap basah dirinya sedang berurusan dengan polisi. Bisa-bisa kondisi mentalnya memburuk lagi, Sarah tidak mau itu terjadi. Tapi kalau membiarkannya tinggal sementara waktu dengan Ellisa, bukankah itu akan merepotkan sahabatnya? Sarah sudah terlalu banyak menyusahkannya selama dua minggu terakhir ini. Ia tidak mau menambah hutang budinya.
Sarah pun mendengus pelan. Ia menatap Ellisa teduh lantas menggeleng pelan.
“Tidak usah. Aku tidak mau merepotkanmu lebih dari ini. Kau sudah terlalu banyak membantuku, Ellisa.”
“Apa yang kau katakan? Aku sama sekali tidak keberatan melakukannya,” bantah Ellisa. “Aku sudah menganggap Michelle seperti putriku sendiri, Sarah. Jadi berhentilah sungkan padaku. Tidak apa, tinggalkan saja Michelle bersama kami selama beberapa hari selagi kau mengurus ini-itu dengan pihak kepolisian. Ini demi kebaikan Michelle.”
Sarah mengernyit tidak enak hati, “Benarkah tidak apa? Kau tidak akan kerepotan mengurus dua bocah?”
Ellisa tertawa kecil, “Tentu saja tidak. Kai dan Michelle anak-anak yang baik dan penurut. Aku tentu tidak akan kerepotan. Justru aku senang karena rumahku menjadi ramai oleh canda tawa mereka.”
Sarah tersenyum haru. Ia lantas memeluk sahabatnya penuh terima kasih.
“Terima kasih, Ellisa. Lagi-lagi kau menjadi penyelamat hidupku.”
“Sama-sama. Aku senang kok menjadi superhero untuk sahabatku.”
Setelah Ellisa mengucapkan itu mereka sama-sama tertawa lepas bercampur haru. Ya, Ellisa memang penghibur sejati. Dia tidak pernah gagal dalam usahanya meredakan kegundahan yang menyerang batin Sarah.
•••
“Jadi, siapa pembunuh biadab itu? Kalian sudah berhasil mengetahui identitasnya bukan? Katakan padaku!” Sarah langsung mendesak Calvin sesaat setelah mendudukkan bokongnya di ruang pertemuan yang berisi dua orang detektif, seorang inspektur serta dirinya.
Para polisi terlihat saling pandang cemas. Membuat Sarah mulai meragukan kemampuan mereka.
“Kenapa kalian diam saja? Kalian sudah menemukan petunjuk soal keberadaan para pelaku bukan?” Sarah bertanya lagi, kali ini dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Entah kenapa ia merasa tidak yakin dengan para polisi di hadapannya.
Setelah sempat saling pandang sekali lagi seolah saling melempar satu sama lain mengenai jawaban yang mereka pegang atas pertanyaan Sarah, Calvin akhirnya angkat bicara.
“Begini, Nyonya Brume. Dengan berat hati kami harus mengatakan bahwa kami mengalami sedikit kesulitan dalam mengungkap identitas pelaku. Kami mohon maaf atas kelambanan kinerja kami. Tapi ketahui lah, orang yang sedang kita hadapi saat ini sepertinya bukan orang sembarangan.”
“Apa?” Sarah sedikit marah mendengar jawaban yang dilontarkan Calvin barusan. “Memangnya dia sehebat apa sampai berhasil membuat kalian pihak berwenang memujinya seperti itu?”
“Kami bukan bermaksud memujinya, kami hanya menyampaikan alasan mengapa kami masih belum menemukan jejak pelaku sampai detik ini. Mohon mengerti lah, Nyonya Brume. Kami juga sedang berusaha semampu kami.” Calvin berusaha tenang menjelaskan.
Kini Sarah memandang kosong ke sembarang arah. Namun walau begitu tatapannya kentara sekali penuh akan dendam. Dia seperti tidak sabar ingin segera diberi tau soal identitas pelaku.
“Sehebat apa pun dia menyembunyikan identitasnya, dia hanya manusia biasa yang punya cela. Maka dari itu aku memohon dengan sangat kepada kalian untuk segera menemukan cela tersebut. Rasanya sungguh tidak adil bagiku harus membiarkannya berlama-lama menghirup udara segar sementara aku di sini kesulitan bernapas karena terlalu sesak menahan rasa sakit,” gumam Sarah seraya memukul-mukul dadanya lumayan keras.
“Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Nyonya Brume,” sahut Calvin. “Kumohon bersabarlah. Kami pasti akan segera mendapatkannya.”
Sarah menatap tajam Calvin. Dalam sorot matanya tersirat suatu ancaman yang menegaskan Calvin untuk memegang teguh setiap perkataannya barusan. Calvin yang mengerti pun membalasnya dengan tatapan keyakinan. Karena ia sendiri juga sangat menginginkan para pelaku kejahatan keji itu secepatnya tertangkap.
•••