Satu minggu, dua minggu, satu bulan bahkan sampai tiga bulan, hari-hari berlalu begitu saja tanpa adanya perkembangan mengenai kasus yang menimpa keluarga Sarah. Jangan tanya bagaimana keadaan Sarah saat ini, tentu ia terpukul berat. Rasanya dunia begitu tidak adil memperlakukannya. Ia di sini menderita atas kepergian Antony tetapi dipaksa untuk terlihat baik-baik saja di hadapan putrinya, itu jelas sangat menyiksa batinnya. Sementara para pelaku di luar sana begitu damainya menertawai dirinya serta para polisi yang tidak bisa menemukan keberadaan mereka.
Padahal Sarah hanya menginginkan keadilan. Ia ingin menuntut balas atas apa yang telah menimpa mendiang suami serta putrinya hingga meninggalkan bekas luka yang tidak bisa disembuhkan. Tapi kenapa dunia seolah tidak mengizinkannya melakukan itu? Kenapa dunia terus-terusan memihak sisi jahat ketimbang dirinya sisi yang sedang terluka? Tidak kah dunia memiliki belas kasihan kepadanya barang sedikit saja dengan membantunya menemukan titik terang mengenai identitas para pelaku? Boro-boro, yang ada semakin hari jejak mereka semakin terkubur rapat. Ini benar-benar tidak adil.
Belum habis penderitaan yang harus Sarah pikul berkat hal itu, kini tiba-tiba muncul sebuah pernyataan dari Calvin yang membuat sisa retakan di hatinya seketika hancur lebur sepenuhnya.
“Nyonya Brume, ada yang harus aku sampaikan kepada Anda. Karena tidak adanya perkembangan sedikit pun mengenai kasus ini, dengan berat hati kusampaikan, kemungkinan besar kasus ini akan segera ditutup tidak lama lagi.”
Bayangkan, betapa hancurnya Sarah saat mendengar berita tersebut. Ia di sini setiap hari menunggu sambil berdoa dengan segenap sisa tenaganya yang mulai terkuras habis, berharap akan adanya kabar baik dari pihak kepolisian. Namun dengan entengnya mereka malah mengatakan akan menutup kasus ini. Yang benar saja! Hukum macam apa sebenarnya yang mereka terapkan?! Mengapa mereka begitu gampangnya melepas pelaku pembunuhan serta p*******a yang katanya tidak hanya dilakukan sekali dua kali?! Sebenarnya para polisi memihak siapa? Apa jangan-jangan selama ini mereka memang tidak pernah memihaknya?
“Keterlaluan!” Sarah menggebrak meja sang inspektur yang menjadi alas dari sebuah papan nama bertuliskan Calvin Imanuel Reagan. Sorot matanya memerah penuh amarah. Genangan yang sudah membanjir di sana memberi efek kilatan seolah menegaskan kekecewaannya.
“Bagaimana bisa kalian menutup kasus sebesar ini begitu saja?!” Sarah berseru tidak terima. “Tidak kah kalian punya hati?! Bagaimana aku kelak akan menjelaskan kepada putriku hukuman macam apa yang diterima oleh pelaku yang telah membunuh ayahnya serta melecehkannya sampai membuatnya mengalami trauma seumur hidup?!”
Calvin tertunduk sedih, sepertinya dia juga merasa ini tidak adil bagi Sarah.
“Maafkan aku atas kegagalanku dalam menangani kasus ini,” ujarnya penuh kekecewaan. “Jika saja aku bisa menemukan satu saja bukti yang mengarah pada identitas pelaku, aku pasti bisa tetap memperjuangkan kasus ini sampai tuntas. Kini aku tidak berdaya, Nyonya Brume. Pihak atas sudah memutuskan untuk penutupan kasus dalam waktu dekat.”
Sarah menyeka air matanya kasar. “Tapi kenapa, Inspektur Reagan?! Bukankah ini kasus yang cukup serius untuk semudah itu ditutup hanya karena tidak adanya perkembangan? Kenapa hukum di negara ini terkesan tidak adil bagiku?!”
Sekali lagi Calvin mendengus tertunduk di hadapan Sarah. Entahlah, perasaannya sudah campur aduk saat ini. Ia betul-betul merasa malu di hadapan Sarah. Ia juga sebetulnya sedang mempertanyakan hal yang sama, kenapa tiba-tiba hukum menjadi selonggar ini? Sangat aneh, seperti ada orang dalam yang sengaja mengendurkan kasus ini.
Namun tentu saja Calvin tidak bisa menyampaikan pendapat pribadinya di hadapan Sarah. Alih-alih ia menjawab, “Di negara ini ada beberapa kasus serupa yang juga harus ditutup begitu saja setelah tiga bulan tak kunjung mendapat perkembangan. Ada begitu banyak kasus yang harus kami tangani dalam satu harinya, kami tidak bisa terus-terusan terpaku pada satu kasus yang tidak menunjukkan adanya penyelesaian. Aku mohon pengertian Anda, Nyonya Brume. Ditutupnya kasus ini bukan berarti penyelidikan benar-benar berakhir. Jika kami menemukan bukti, sekalipun itu ada di sepuluh atau dua puluh tahun mendatang, pelaku akan tetap kami adili sesuai dengan hukum yang berlaku.”
“Cih, pernyataanmu itu sama sekali tidak menghiburku, inspektur,” tukas Sarah sarkas. “Justru sebaliknya, kau membuat pandanganku terhadap pihak kepolisian memburuk. Tidak, lebih tepatnya, aku tidak akan mempercayai kalian lagi.”
Setelah mengucapkan itu, Sarah berdiri dari hadapan Calvin dan pergi begitu saja. Dengan dendam serta kekecewaan terpancar jelas dalam sorot matanya.
•••
Seolah bencana yang menghunjam Sarah merasa terhibur dengan keterpurukannya, sekali lagi ia mendapatkan masalah lain yang membuatnya semakin terpuruk bukan main. Tiga hari setelah berita penutupan kasus itu, tepatnya saat Sarah sedang melakukan aksi demo di depan kantor kepolisian yang menangani kasus Antony dan Michelle, tiba-tiba Sarah mendapat telepon dari Ellisa.
“Sarah, putrimu!” Ellisa terdengar panik di seberang sana. Dia seperti kehilangan kemampuan untuk bicara lantaran situasi darurat yang tengah menimpa Michelle cukup membuatnya kalang kabut.
Mendengar nada suara Ellisa seperti itu, terlebih dia juga mengungkit soal Michelle, Sarah jadi ikutan panik. Ia takut sekali suatu hal buruk telah menimpa putrinya.
“Putriku? Ada apa dengan putriku?!” serunya menuntut penjelasan.
“Pu-putrimu ... dia kumat lagi setelah melihat mainan tembakan milik Kai. Hipnoterapinya sia-sia, Sarah. Michelle kembali mengingat semuanya, termasuk peristiwa di malam itu.”
Deg! Mendengar berita itu tangan Sarah yang menggenggam telepon langsung lemas dan menjatuhkannya. Setetes air mata juga lagi-lagi jatuh membasahi pipinya. Lalu dengan segenap tenaga yang tersisa ia segera berlari menuju mobilnya untuk bergegas menemui putrinya di kediaman Ellisa.
Sarah mengemudi dengan brutal, tak peduli akan nyawanya sendiri yang bisa saja melayang di tengah ramainya jalan siang hari ini. Yang ia pikirkan hanya satu, yaitu Michelle. Ia ingin segera hadir untuk putrinya yang sedang sangat membutuhkan kehadirannya.
Setelah lima belas menit Sarah akhirnya tiba di kediaman Ellisa. Tidak berlama-lama ia segera masuk ke dalam rumah dan mencari kamar Michelle. Rupanya benar kata Ellisa, Michelle sedang berteriak mengamuk tak karuan. Kata-kata yang dilontarkannya sama persis seperti yang selalu dia ucapkan saat masih di rawat di rumah sakit. Hal itu sungguh membuat hati Sarah teriris. Kenapa lagi dan lagi putrinya harus terjebak pada masa-masa terburuk dalam hidupnya? Padahal baru saja Sarah melihatnya bisa kembali tertawa lepas. Kenapa dunia seakan tidak membiarkannya merasakan setitik saja kebahagiaan pasca tragedi itu? Sungguh kejam dan tidak adil.
Sarah segera berlari menghampiri Michelle. Ia membawa putrinya ke dalam pelukan, berharap itu dapat sedikit menenangkan jiwanya yang tengah terguncang.
“Michelle putriku, ini Mommy, Sayang. Kumohon tenanglah, Mommy ada di sini bersamamu. Kau tidak sendirian, Nak.” Sarah berusaha mati-matian untuk menahan tangis kala mengucapkan kalimat itu.
Itu sedikit berhasil. Michelle berhenti mengamuk dan memandang ibunya dalam. Namun pada detik berikutnya, lagi-lagi setiap kata yang keluar dari mulutnya membuat hati Sarah remuk berkeping-keping.
“Mommy, kenapa aku selalu melihat orang jahat itu? Orang jahat yang menembak Ayah sampai kepalanya mengeluarkan banyak sekali darah. Aku takut, Mommy. Sepertinya orang itu juga akan melukaiku. Selamatkan aku, kumohon. Aku benar-benar ketakutan.”
Sarah jelas tak kuasa menahan tangisnya lagi mendengar putrinya ketakutan sampai seperti ini. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa selain memeluknya lebih erat.
“Tenanglah, Nak, Mommy sudah menyelamatkanmu. Sekarang kau sudah aman.” Sarah berusaha meredakan ketakutan Michelle.
“Tapi Daddy ... Daddy sudah.”
Belum sempat Michelle menyelesaikan kalimatnya, dia sudah kembali mengamuk dan menangis kejar. Membuat Sarah, Ellisa serta Kai yang menyaksikannya turut merasakan rasa sakit yang dirasakannya.
Sampai akhirnya Sarah sampai pada titik di mana ia sudah benar-benar muak dengan segala penderitaan yang bertubi-tubi menghunjamnya. Kini matanya memandang kosong entah kemana, sorotnya begitu penuh akan amarah serta dendam.
“Sudah cukup!” Ia berseru pelan nan menusuk. “Aku ingin menyudahi segala penderitaan ini.”
Ellisa yang tertegun akan pernyataannya, ia bertanya, “Maksudmu?”
Sarah memandang Ellisa dalam. Ia lantas menjawab, “Aku sudah muak dengan kota ini, Ellisa. Kota tempat di mana tragedi kelam ini bertubi-tubi menerjang keluargaku.”
Ellisa semakin terkejut mendengar itu. Ia sampai tidak sanggup berkata-kata.
“Aku sudah membuat keputusan,” lanjut Sarah. “Aku akan membawa putriku pulang ke negara kelahiranku, Indonesia. Tempat di mana kejahatan seperti ini tak akan terjadi pada putriku.”
Genap sudah keterkejutan Ellisa setelah mendengar pernyataan Sarah barusan yang tampak tidak main-main. Sekarang Ellisa benar-benar tidak tahu harus berkomentar apa.
“Sarah ....” Hanya gumaman itu yang sanggup terlontar dari mulut Ellisa.
“Maafkan aku, Ellisa. Aku harus meninggalkanmu, demi putriku. Terima kasih atas segala bantuanmu selama ini. Aku akan selalu mengingatnya sampai akhir hayatku.”
Rupanya kalimat itu benar-benar menjadi kalimat perpisahan mereka. Dan bodohnya sampai Sarah melangkah keluar bersama putrinya, Ellisa tetap tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Hingga akhirnya mereka dipisahkan oleh jarak dan waktu, tanpa adanya kabar selama bertahun-tahun lamanya.
•••