“Jadi, Winter, bagaimana kondisimu belakangan ini?”
“Masih terkendali.”
“Apakah tidurmu nyenyak?”
“Lumayan.”
“Bagaimana dengan penurunan suhu cuaca belakangan ini? Apakah kau mulai merasa terganggu dengan itu?”
“Sedikit.”
“Kau sudah meminum obatmu dengan rutin?”
“Ya.”
Selama beberapa saat, suasana hening menyelimuti sesi kontrol rutin harian Winter bersama Dokter Anna Laurel. Winter tebak, wanita perawan tua yang menjadi penanggung jawab masalah mentalnya itu pasti sedang berusaha menahan emosi saat ini. Winter cukup puas melihat senyum palsu yang biasa terukir di bibirnya terlihat agak tidak terkontrol dengan baik hari ini.
“Apa perasaanku saja, atau memang kau tidak menyukai pertemuan kita hari ini? Kau mau kita akhiri ini sekarang saja?” Dokter Laurel bertanya lagi, tidak lupa menyertakan senyum manisnya yang dia pikir sangat ampuh dalam menghipnotis setiap lawan bicaranya. Sayangnya itu tidak berlaku bagi Winter.
Mendengar tawaran itu, jelas Winter amat tergiur. Tapi ia tahu betul itu hanya salah satu trik Dokter Laurel untuk menarik minatnya supaya ia mau fokus berbincang luwes dengannya. Yang akhirnya berujung memancingnya pada pertanyaan inti yang hampir selalu wanita itu lontarkan di setiap sesi pertemuan mereka. Cih, dasar licik.
Maka dari itu Winter hanya merespon dengan membuang wajah seraya memutar bola mata tak acuh. Ia tidak mau repot-repot menjawab, toh ia sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini tertuju.
“Tidak mau?” ucap Dokter Laurel lagi. Kali ini ekspresinya sudah berubah menjadi sok ramah dan lembut. “Terima kasih untuk menghargai waktuku, Winter. Kau memang anak yang baik.”
Lagi-lagi Winter tidak meladeni.
“Kalau begitu, untuk mengisi waktu kita yang masih ada sekitar lima belas menit, aku akan sedikit bercerita kepadamu. Kau mau mendengarnya?” Dokter Laurel melempar kembali tali pancingnya.
“Terserah,” jawab Winter singkat. ‘Asal itu bisa mengulur waktu supaya kau tidak sempat mengungkit soal peristiwa itu lagi,’ lanjutnya dalam hati.
Dokter Laurel pun mulai berceloteh.
“Dulu sewaktu aku remaja, tepatnya setelah orang tuaku bercerai, aku menjadi sosok yang dingin dan tertutup sepertimu. Aku terlibat cukup banyak masalah kenakalan remaja. Aku merokok di sekolah, sering bolos dan tidak pernah mengerjakan PR, mencuri benda-benda berharga milik temanku, bahkan aku juga pernah kebut-kebutan di jalan menggunakan mobil ayahku sampai harus terlibat dengan polisi. Semua itu kulakukan untuk mencari perhatian.”
Winter masih tak acuh.
“Saat itu aku merasa semua orang tidak peduli padaku. Tidak ada satu pun di antara orang-orang terdekatku yang mengerti kalau aku sedang membutuhkan dukungan mereka untuk melewati segala konflik batin yang menyerangku bertubi-tubi. Mereka hanya peduli pada diri mereka sendiri yang dalam pandanganku, itu tidak penting.”
Dokter Laurel berhenti sejenak. Ia memerhatikan Winter lamat-lamat. Walaupun masih membuang wajah, tetapi diam-diam anak itu tampak mendengarkan dengan serius. Ia cukup puas dengan respon tersebut.
“Sampai suatu hari, kelasku kedatangan murid baru, seorang anak laki-laki. Sialnya karena hanya aku yang duduk sendiri kala itu, terpaksa harus dipasangkan dengannya padahal aku tidak ingin duduk dengan siapa pun. Selama beberapa hari aku memantaunya, dia anak yang sangat ceria dan berisik. Aku tidak menyukainya, awalnya.”
Berkat kalimat terakhir yang terdengar ambigu itu, Winter berhasil tertarik. Kini ia menatap Dokter Laurel dengan raut bertanya-tanya.
Dokter Lauren pun melanjutkan, “Kubilang demikian, karena belakangan aku justru kagum dengannya. Asal kau tahu, Winter, rupanya dia punya masalah yang jauh lebih rumit dariku. Keluarganya hancur berantakan akibat satu tragedi di mana ayahnya membunuh ibunya yang terpergok selingkuh dengan pria lain. Mirisnya lagi, neneknya, satu-satunya keluarga yang dia punya saat itu karena ayahnya harus dikirim ke penjara, malah mengirimnya ke panti asuhan dengan alasan bahwa dia tidak sudi mengurus anak yang terlahir dari rahim seorang pelacur.”
“Saat aku mendengar cerita itu, aku tertegun. Aku bingung, kenapa dia masih bisa tampil ceria setelah mendapatkan segala hal menyakitkan itu? Dan kau tahu apa jawaban yang dia berikan ketika aku bertanya soal itu?”
“Apa?” Rupanya Winter betul-betul terpancing kali ini.
“Dia bilang, ‘Hidupku belum berakhir, Anna. Aku masih punya kesempatan untuk mengubahnya menjadi jauh lebih baik bahkan sempurna. Dan untuk mendapatkan kesempurnaan itu, aku harus menjalani hidup sepositif mungkin. Mangkanya aku mencoba untuk selalu tersenyum. Karena menurutku senyum adalah obat paling mujarab untuk mengobati luka hati, separah apa pun itu.’”
“Aku lumayan tertampar mendengar kata-kata itu. Ditambah lagi saat dia memberi pesan padaku seperti ini. ‘Sebaiknya kau juga jangan berlarut-larut dalam masalah sampai seperti ini. Terbukalah sesekali pada seseorang. Percayalah, itu akan membuat hatimu jauh lebih tenang.’ Dan perkataannya memang benar, Winter. Aku merasa jauh lebih baik setelah melakukan konsultasi dengan psikolog. Psikolog itu berkata padaku bahwa sebaik-baiknya obat dari luka hati adalah membagi kesedihanmu dengan orang lain. Karena sesungguhnya kita hanya butuh didengar, bukan diberi pesan semangat ataupun bersabar atas segala rasa sakit yang menimpa. Kau setuju denganku, Winter?”
Winter tertunduk. Ia sadar cerita ini bisa saja hanya karangan Dokter Laurel untuk memancingnya supaya mau terbuka dengannya. Tapi jujur ia sedikit tertampar dengan kalimat terakhirnya.
Memang benar bahwa yang paling Winter butuhkan saat ini adalah seseorang untuk mendengar segala beban yang hanya bisa ia pendam seorang diri selama empat belas tahun terakhir. Tapi masalahnya ia tidak punya seorang pun yang bisa ia percaya. Boro-boro, bahkan ia kesulitan memercayai dirinya sendiri. Ia takut kalau ia membeberkan kesaksiannya kepada seseorang, itu akan menghancurkan kehidupan pihak lain di luar sana yang bisa saja sudah melupakan kejadian itu. Atau sedang berusaha. Winter tidak mau menambah bebannya. Sudah cukup gadis itu menderita seumur hidup akibat ulah keji ayahnya.
“Nah, Winter, bagaimana kalau kau juga bertindak sepertiku juga temanku? Terbukalah padaku. Katakan apa yang sebenarnya kau lalui hari itu, sampai membuatmu menanggung rasa sakit tak berkesudahan selama empat belas tahun lamanya. Barangkali kau akan merasa jauh lebih lega setelah membagi hal itu. Tidakkah kau mempercayaiku?” Dokter Laurel kembali berusaha membujuk.
Namun Winter menggeleng pelan, walau masih tertunduk dalam seperti sedang merenungkan sesuatu.
“Sudah kubilang berulang kali, aku tidak melihat apa pun hari itu, Dokter Laurel. Aku hanya ketakutan akibat badai salju yang beradu dengan kesunyian malam mencekam.” Entah sudah yang ke berapa ratus kalinya Winter memberikan jawaban tersebut. Ia betul-betul tidak ingin mengatakan yang sebenarnya, terlebih pada orang-orang yang bersekutu dengan ayahnya. Termasuk Dokter Laurel.
“Dan hal seperti itu sanggup membuat kondisimu sampai separah ini?” Dokter Laurel tidak percaya. “Aku tahu kau berbohong, Winter. Kenapa kau tidak pernah mau mengatakan yang sejujurnya padaku?”
Tepat ketika Dokter Laurel menyelesaikan pertanyaan itu, denting alarm yang disetelnya sejak tiga puluh menit lalu berbunyi. Pertanda kalau sesi harian mereka telah berakhir. Winter pun berdiri dari duduknya. Ini kesempatan baginya untuk lari dari segala kalimat jebakan Dokter Laurel yang hampir berhasil membuatnya buka mulut akan apa yang sebenarnya disaksikannya malam itu.
“Sayangnya waktu mengobrol kita sudah berakhir untuk hari ini, Dokter Laurel. Sampai jumpa besok.”
Tanpa menunggu persetujuan Dokter Laurel, Winter segera berjalan keluar dari ruangan konsultasi yang memang sengaja disediakan ayahnya sejak dia memperkerjakan Dokter Laurel. Sementara sang dokter itu sendiri, dia hanya bisa menghela napas seraya mengepalkan tangan gemas.
‘Padahal tinggal sedikit lagi aku berhasil membuatnya buka mulut,’ batinnya seraya memukul pelan meja kerjanya.
***