Suara piano mengalun indah. Begitu syahdu, mengisi setiap sudut ruangan kedap suara di sekitarnya. Menciptakan gema memabukkan bagi siapa saja yang mendengarnya.
Sayang sungguh sayang, tidak ada makhluk hidup lain yang turut menikmati permainan indah tersebut, selain si pemilik jari-jemari yang begitu pandai memadukan rangkaian tuts piano menjadi melodi sempurna. Siapa lagi kalau bukan Michelle Olivia Brume, alias putri dari Antony James Brume, sang pianis terkenal di sepenjuru teater Amerika. Dia benar-benar mewarisi kepiawaian sang ayah dalam memainkan piano.
Sore ini seperti biasa, Michelle mengisi waktu kosongnya dengan mengunjungi ruangan berisi segala kenangan indah masa kecilnya yang baru saja ia temukan sekitar sebulan yang lalu. Ia tidak tahu ini baik atau buruk, tetapi mengunjungi ruangan ini dan bermain piano di tengah kesendirian membuat suasana hatinya lebih tenang dibanding biasanya. Berkatnya ia jadi melupakan sejenak segala sesuatu yang membuatnya gelisah. Lantas lama-kelamaan kegiatan ini menjadi candu baginya.
Sebenarnya menurut dokternya, tidak baik jika Michelle terus terpaku pada masa lalu. Meskipun yang ia kenang hanya bagian yang indah-indah saja, suatu saat itu dapat mengantarkannya pada ingatan soal tragedi kelam itu. Mangkanya dokter menyarankan padanya untuk membuat kenangan-kenangan indah baru yang mampu menggantikan segala kenangan di masa lalu.
Sayangnya bagi Michelle, kenangan terindah dalam hidupnya akan selalu jatuh pada momen-momen di mana ayahnya masih ada di sisinya. Walau ia sudah menciptakan banyak sekali momen indah nan membahagiakan di masa-masa sekarang, tetap saja pemenangnya adalah sosok sang ayah dari masa lalunya. Dan sampai kapan pun akan selalu begitu, tidak akan ada seorang pun yang dapat menggantikan posisinya di hati Michelle.
Michelle menghentikan permainannya saat mendengar ponselnya berdenting kecil tanda notifikasi akun media sosialnya. Ada apa lagi kali ini? Ia bertanya-tanya dalam hati sambil memandang tajam ponselnya yang tergeletak di atas papan piano.
Bukan tanpa alasan ia memperlakukan benda canggih kesayangannya itu dengan buruk. Pasalnya seminggu terakhir ini, tepatnya sejak ia mengunggah foto bersama sang ibu, ia mendapat teror dari seorang pemilik akun bernama Abel K.
Seluruh postingan yang pernah diunggahnya dilike seluruhnya oleh orang asing tersebut. Tidak hanya itu, dia juga meninggalkan komentar di setiap postingan Michelle. Isi komentarnya pun memiliki makna yang relatif sama. Seperti, “Inikah kau?”, “Garis wajahmu persis sepertinya.”, atau, “Iya. Rupanya ini benar-benar kau.”
Sangat mengerikan. Dia seperti mengenal Michelle, padahal gadis itu sama sekali tidak mengetahui siapa dia walaupun sudah melihat fotonya lamat-lamat.
Sejak saat itu Michelle jadi takut membuka akun media sosialnya. Terlebih ketika si pemilik akun Abel K itu mengunggah komentar di postingan terbaru Michelle yang berbunyi, “Sekarang aku yakin ini sungguh kau. Syukurlah kalian baik-baik saja.”
Komentar itu betul-betul membuat Michelle penasaran. Siapa dia sebenarnya? Dalam seumur hidup Michelle, tidak pernah sekalipun terbayangkan ia akan mendapat penguntit dunia maya seperti ini. Itu membuatnya takut, tetapi ia tidak punya cukup keberanian untuk menceritakan soal ini kepada ibunya. Pasalnya si penguntit itu selalu menggunakan bahasa inggris di setiap komentarnya, juga postingan pribadinya. Membuat Michelle sempat berpikir bahwa jangan-jangan orang itu adalah seseorang dari masa lalunya di New York? Tapi siapa?
Kini, Michelle memberanikan diri meraih ponselnya. Dengan perasaan gugup dan gelisah, ia membuka notifikasi tersebut. Ternyata itu adalah sebuah pesan dari Abel K. ‘Apa lagi kali ini?’ batinnya.
Abel K: Kabarmu baik hari ini?
Michelle gigit jari. Ia mulai berpikir keras-keras sambil mencoba mengingat setiap orang yang ia kenal di New York. Namun ia tidak berhasil mengingat satu pun nama. Mungkin karena ia terlalu gelisah serta merasa keberatan untuk mengingat kota asal pencipta mimpi buruk seumur hidupnya itu.
‘Apa aku harus menanyainya langsung mengenai siapa dia sebenarnya?’ tanya Michelle dalam hati.
Namun ia menggeleng tegas, lantas membuang ponselnya ke sofa kecil yang ada di ruangan ini.
Saat sedang memperhatikan benda itu sambil sibuk menggigiti kuku jarinya, sekali lagi denting notifikasi yang sama terdengar. Dengan setengah takut, Michelle meraih ponselnya kembali untuk melihat notifikasi apa yang didapatnya kali ini.
Abel K: Kau membacanya?! Demi Tuhan aku senang sekali!
Michelle semakin gemetar gugup bercampur takut. Ia ingin berhenti memerhatikan layar ponselnya, tetapi rasa penasaran membuatnya tetap bertahan walau harus mendapati serangan panik. Ia mulai sesak napas.
Satu pesan lagi muncul.
Abel K: Kenapa kau tidak membalas? Apa kau sedang sibuk?
Michelle berusaha menenangkan diri. Ia mengatur napas berulang kali. Sampai ketika ia sudah merasa lebih baik, ia memegang ponselnya dengan kedua tangan. Ya, kali ini ia memutuskan untuk membalas. Ia harus mencari tahu siapa Abel K ini.
Michelle Brume: Siapa kau sebenarnya? Aku tidak merasa mengenalmu.
Satu detik, dua detik, Michelle menunggu balasan darinya dengan berdebar. Sampai satu menit kemudian, getaran kecil di ponselnya membuat jantungnya hampir berhenti berdetak.
Abel K: Kau ... tidak mengingatku?
Michelle terpaku. Ia tidak tahu harus menanggapinya bagaimana. Mangkanya ia hanya menunggu.
Lima detik berikutnya, ia kedapatan satu pesan lagi yang membuatnya terbelalak mematung seketika.
Abel K: Kau sungguh jahat, Michy.
“Michy? Dia memanggilku ... Michy?” gumam Michelle. Kini ia jatuh terduduk di sofa. “Hanya ada satu orang yang memanggilku seperti itu.”
Michelle mulai meneteskan air mata. Tangannya terkepal erat seraya menekan d**a kirinya yang mendadak terasa sesak dihantam oleh suatu rasa yang mendadak menyerangnya secara bertubi-tubi. Rindu.
Michelle pun kembali tertunduk memandang ponselnya. Dengan tangan gemetar ia membuka profil Abel K, lantas membuka salah satu fotonya. Setetes air mata kembali jatuh menetes. Membuat basah gambar sosok pria berwajah Asia yang kini tengah terpajang besar-besar di layar ponselnya.
“Inikah kau ... Kai?”
***
Sudah sekitar satu jam berlalu sejak Sarah menemukan Michelle tengah meringkuk gemetaran di sofa ruang tamu apartemen mereka. Ia yang baru saja pulang dari pemotretan langsung berlari menghampiri putrinya dan memangku kepalanya. Sarah juga bertanya apa yang sebenarnya telah terjadi sampai Michelle seperti ini. Namun dia tidak mau menjawab. Alih-alih dia malah menangis dan memeluk Sarah erat. Mangkanya Sarah memutuskan untuk berhenti menanyainya dan mengelus-elus rambut putrinya sampai dia tenang.
Kini Michelle sudah tenang. Dia tidak lagi menangis ataupun gemetaran. Namun dia terus terbengong, pandangannya juga kosong. Sejujurnya itu membuat Sarah khawatir. Tapi ia tidak berani berbicara karena takut akan mengganggu ketenangan putrinya.
Di saat tengah bingung harus melakukan apa, tiba-tiba Michelle melontarkan pertanyaan yang membuat Sarah terkejut.
“Mom, apa kau tidak merindukan Ellisa?”
Mendengar itu, jelas saja Sarah kebingungan harus merespon bagaimana. Pasalnya ini terlalu mendadak. Ia saja baru terpikirkan soal itu saat ini, setelah Michelle bertanya padanya.
“Ke-kenapa kau mendadak bertanya soal itu?” Alih-alih Sarah malah balik bertanya.
“Aku ingin tahu saja. Mom tidak pernah membahas tentangnya sejak kita pindah ke sini,” jawab Michelle.
Sarah terdiam. Benar, ia baru menyadari bahwa ia benar-benar telah melupakan sahabat terbaiknya itu sejak menginjakkan kaki di negeri kelahirannya ini. Sekarang ia jadi ingin menangis. Ia merasa telah menjadi seseorang yang sangat jahat. Padahal ia banyak hutang budi pada Ellisa. Tapi dengan tidak tahu dirinya ia melupakannya semudah itu.
“Aku ... aku tidak tahu.” Jahatnya lagi, kalimat seperti inilah yang ia lontarkan sebagai jawaban atas pertanyaan putrinya.
Michelle yang melihat ibunya tampak terguncang, ia memutuskan untuk diam. Bagaimanapun ibunya rela mengubur rapat-rapat segala kenangan masa lalu berharganya, itu demi dirinya. Andai saja kondisinya tidak seburuk itu, ibunya pasti tidak akan menderita dihantam rasa rindu sampai seperti ini.
“Mom, sebenarnya kau tidak sampai harus seperti ini,” ujar Michelle kemudian. “Kau tidak harus mengubur segala kenangan indahmu hanya demi aku. Aku jadi merasa buruk.”
Sarah tertunduk memandang putrinya.
“Apa yang kau bicarakan?” Sarah membelai rambut putrinya lembut. “Mom melakukannya untuk kepentingan kita bersama. Kita memang sudah sepantasnya mengubur seluruh masa lalu kelam itu supaya kita bisa memulai hidup baru ini.”
“Tapi, tidak semuanya berisi kenangan buruk, Mom. Kenapa kita harus melupakan seluruhnya alih-alih memilah antara yang mana yang ingin kita pertahankan, yang mana yang ingin kita singkirkan.”
“Tidak bisa.” Sarah menjawab dengan nada sendu. “Satu kenangan buruk adalah racun yang perlahan akan menyebar lantas merampas sejuta kenangan terindah. Kita harus benar-benar mengubur seluruhnya jika ingin bertahan di tengah keterpurukan yang melanda.”
Kini Michelle mendudukkan tubuhnya. Ia menatap Sarah lamat-lamat.
“Tapi itu menyakitimu, Mom. Harusnya aku saja yang melakukan itu, kau jangan. Hanya aku yang bermasalah di sini, sementara kau tidak. Kenapa kau memilih ikut terjun ke dalam lubang kehancuran bersamaku?”
Sarah balas memandang putrinya dalam-dalam. “Karena aku ibumu, Michelle. Aku tidak mungkin membiarkanmu berjuang seorang diri di antara keterpurukan dan rasa sakit. Lebih baik aku mati dari pada bersikap egois seperti itu.”
Manik coklat Michelle berkaca-kaca mendengar itu. Ia lantas memeluk ibunya penuh kasih.
“Sial, aku memiliki ibu yang terlalu baik,” gerutunya setengah bergetar.
Sarah tertawa kecil di balik tangis harunya. “Kalau begitu kau seharusnya bersyukur, bukan malah memaki. Dasar bodoh.”
Mereka kini berakhir tertawa lepas. Masih dibalik tangisan tentu saja. Namun situasinya mulai membaik setelah mereka saling menyeka air mata satu sama lain.
Setelah cukup lama berpelukan, Michelle teringat sesuatu yang membuatnya dihantui rasa bersalah. Sepertinya sudah saatnya ia mengatakan apa yang disembunyikannya selama satu bulan ini.
“Mom?” Michelle memandang wajah ibunya sambil memberi tatapan rasa bersalah.
“Ya?” Sarah menyahut.
“Eum, aku ingin mengakui sesuatu tetapi kau jangan marah ya,” ujar Michelle takut-takut.
Mendengar itu, kening Sarah berkerut. Apa lagi kali ini? Entah kenapa perasaannya tidak enak.
***