“Kau sedang mengerjakan apa?”
Setelah sekitar satu jam hanya terpaku memandang Winter yang tengah berkutat dengan buku catatan dan penanya, Sam yang tidak tahan lagi akan kesunyian mencekam akhirnya mengeluarkan suara. Namun sudah bisa ditebak, si pria setengah manusia salju di hadapannya ini mengabaikannya. Boro-boro menyahut, menoleh saja tidak sama sekali. Dasar Winter, dia persis seperti namanya. Begitu dingin, tetapi amat menarik untuk terus dipandang.
Walau sudah cukup lama berada dalam posisi tak nyaman—duduk menghadap Winter dengan tangan bertumpu di atas meja sambil memangku wajah—Sam tidak pernah bosan apalagi merasa terganggu memandang rupa elok berhiaskan permata hazel di hadapannya. Bahkan meskipun sikutnya sudah teramat kram dan lumayan ngilu akibat terus dipakai untuk menopang berat kepalanya, ia sama sekali tidak keberatan. Apa pun akan ia korbankan demi bisa terus memandang sang musim dingin terindah dalam hidupnya, Winter Jeff Auxton.
Sam tidak tahu sejak kapan tepatnya ia memiliki obsesi sebesar ini terhadap teman kecilnya itu. Padahal sewaktu awal mereka bertemu dulu, Sam selalu mencemoohnya. Dalam pandangannya kala itu, Winter adalah sosok anak laki-laki yang aneh. Dia pengecut dan anti sosial, benar-benar jauh dari kriteria seseorang yang layak untuk dijadikan teman atau sekedar kenalan. Malahan Sam malu kalau ketahuan oleh teman-temannya ia berkenalan dengan seorang anak seperti Winter.
Tapi entah kenapa lama-kelamaan ia malah jadi penasaran dengannya. Gara-gara ayahnya selalu membawanya tiap kali dia mengunjungi kediaman Billy dan Winter, pada akhirnya mereka berteman. Winter tidak banyak bicara, itu yang membuat Sam gemas lantaran terus merasa diabaikan. Padahal di sekolah ia adalah anak yang paling populer dan selalu menjadi pusat perhatian. Masa oleh seorang anak seperti Winter ia malah diabaikan? Rasanya memalukan juga menjengkelkan.
Mungkin berawal dari rasa tidak terima karena diabaikan, Sam tergerak untuk menarik perhatiannya. Tapi sepertinya menjadi seorang yang anti sosial adalah sifat yang sudah melekat dalam darah seorang Winter sejak sebelum dia dilahirkan. Mangkanya sampai detik ini dia tidak pernah berubah. Selalu saja acuh terhadap orang-orang di sekitarnya. Termasuk Sam.
Tapi tidak apa. Bagi Sam, itu adalah pesona Winter yang tidak akan pernah bisa ia temukan pada orang lain. Sikap dinginnya akan selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa saja lawan bicaranya.
“Sampai kapan kau mau terus memandangku seperti itu, Sam?” Mungkin karena merasa tidak nyaman, Winter akhirnya menegur Sam. Namun fokusnya tidak berubah, masih setia pada buku catatan yang sedari tadi ia pakai sebagai alas dari tinta penanya.
Merasa penantiannya membuahkan hasil, Sam girang bukan main. Namun ia berhasil menyembunyikan itu di balik senyum kecil yang tersungging di bibirnya.
“Sampai kau berhenti mengabaikanku, mungkin?” balasnya seraya mempertajam tatapannya pada manik hazel Winter.
Rupanya jawaban itu berhasil membuat perhatian Winter teralihkan. Kini pria itu menghentikan kegiatannya, ia memandang Sam sambil mengembuskan napas pelan. Kemudian tangannya terangkat meraih tangan mungil Sam yang sedari tadi gadis itu gunakan untuk membenamkan wajahnya. Ah, ternyata sudah kebas sampai ke lengan atas. Ia jadi tidak dapat merasakan sentuhan Winter, sayang sekali.
“Hentikan, Sam,” ujar Winter. Sorot matanya menunjukkan rasa prihatin kala memandang gadis di hadapannya. “Tanganmu bisa lumpuh kalau terus dibiarkan seperti tadi.”
Sam semakin senang. Ia nyaris tidak bisa menahannya lagi. Rasanya ia ingin berlari melompati setiap atap rumah di kompleks ini untuk melepaskan segala atmosfer gembira yang sedari tadi menumpuk dalam dadanya.
“Wah, wah, kau perhatian sekali. Seperti bukan dirimu saja.”
Alih-alih bertingkah manja seperti perilaku gadis-gadis kebanyakan kalau sedang diperhatikan oleh pria yang disukai, Sam justru menanggapinya dengan meledek. Ya, bukan Sam namanya kalau tidak mampu menutupi perasaan berbunga-bunganya. Ia memang karismatik. Ia tahu kapan harus bersikap biasa, kapan harus bersikap manja untuk mencairkan suasana. Hal itulah yang membuat dirinya populer di kalangan pria sebayanya. Selain cantik dengan kulit eksotisnya yang sempurna, ia juga menarik.
Sayangnya itu tidak berlaku bagi Winter. Hati pria itu seolah sudah membeku dihantam musim dingin abadi yang selalu dia bawa kemana-mana. Sam harus bekerja ekstra dalam membuatnya jatuh hati padanya.
Winter memutar bola mata setengah jengkel. Setelahnya ia kembali berkutat pada buku catatan beserta penanya.
“Yah, dia sudah kembali lagi menjadi manusia salju,” keluh Sam masih setia menggodanya. Kali ini ia memasang posisi bersandar di ranjang besar Winter sambil membuka salah satu koleksi komik milik Winter.
“Mana ada manusia salju yang bisa membaca dan menulis?” Winter menyahut jengkel.
“Ada. Ambil saja kaca kalau mau melihat buktinya.”
Winter mendelik semakin jengkel memandang Sam. Terlebih ketika mendapati gadis itu dengan tidak sopannya sedang berleha-leha di atas ranjangnya, sambil mengacak-acak koleksi komiknya pula.
“Berhenti menyebutku seperti itu, Sam. Aku sama sekali tidak mirip dengan manusia salju.” Ia merutuk. “Dan berhenti juga mengacak-acak koleksi komikku.”
Sam menoleh memandang temannya itu. Dengan entengnya ia tertawa meledek seraya menaruh kembali komik yang baru dibacanya sebentar ke tempat semula. Kini ia memasang posisi duduk tegak, matanya menatap tajam Winter yang tengah berada di meja belajarnya yang terletak di seberang ranjang.
“Kau mirip kok seperti manusia salju.” Sam masih belum mau menyerah menguji kesabaran Winter. “Kau terlalu dingin, Winter. Bahkan kepada temanmu sendiri. Jadi jangan salahkan aku kalau aku menyebutmu begitu.”
Kali ini Winter menghela napas kasar. Lantas memutuskan untuk mengabaikan Sam, lagi.
“Terserah kau saja,” tukasnya seraya membelakangi Sam dan kembali berkutat dengan pekerjaannya yang entah apa itu.
Mendapati sikap acuh itu, Sam tentu gemas. Winter ini memang sulit sekali untuk ditaklukkan. Sekarang ia harus bagaimana lagi supaya pria itu mau fokus kepadanya?
Karena sudah buntu, Sam bersama wajah masamnya kembali menghampiri Winter. Ia kembali memasang duduk di kursi yang tadi didudukinya selama satu jam lebih hanya untuk memandang Winter.
“Kau mulai membuatku kesal, Winter. Sebenarnya kau sedang apa sih?!” serunya tidak sabar.
“Aku sedang sibuk. Tidak kah kau melihatnya?” sahut Winter acuh.
Sam memandang isi dari buku catatan Winter. Dia kelihatan sedang mencatat macam-macam jenis makanan cepat saji, terlihat juga beberapa sketsa gambar pendukungnya. Ada apa ini? Dia seperti sedang merencanakan sebuah bisnis kedai makanan cepat saji? Untuk apa? Keluarga mereka ‘kan sudah menjalani bisnis tersebut dengan sangat sukses. Apa Winter akan mengajukan pembukaan cabang?
“Kau mau bersaing dengan ayahmu dalam menjalani bisnis restoran cepat saji ya?” Sam iseng menanyakannya langsung. Yang ternyata mendapat respon galak dari Winter.
Pria itu segera menutup buku catatannya yang diintip oleh Sam. Kini ia mendelik tidak senang kepada gadis itu.
“Hei, tidak sopan mengintip buku harian seseorang,” protesnya.
“Oh, jadi itu buku harianmu? Selera yang unik.”
Sam memandang mencemooh pada bentuk buku di tangan Winter. Ukurannya lumayan besar untuk dapat disebut sebagai buku harian. Warnanya juga merah maroon, pilihan warna yang agak tidak biasa untuk kalangan pria. Ternyata Winter ini bukan hanya aneh, tetapi super aneh. Sam sampai tidak bisa heran lagi dengannya.
Sementara Winter sibuk membenahi barang-barangnya dan menyimpannya rapat-rapat di dalam laci berkunci, Sam melirik pada jam dinding. Sekarang sudah pukul lima kurang sepuluh menit. Artinya sebentar lagi jadwal kunjungan harian Winter dengan Dokter Laurel. Sam pun kepikiran suatu ide untuk membuat Winter mau menghabiskan waktu dengannya.
“Hei, Winter, sebentar lagi jadwal kunjungan rutinmu dengan Dokter Laurel tuh.”
Sam mengatakan itu sambil memberikan ekspresi mengejek. Membuat Winter mendelik sebal ke arahnya.
“Tidak perlu diingatkan pun aku sudah hafal, Sam. Bilang saja kalau kau ingin mengejekku."
Sam menahan tawa. “Memang. Hahaha ....”
“Cih, tidak berguna,” rutuk Winter seraya bangkit berdiri lantas berjalan keluar dari kamarnya. “Kau pergi saja sana. Percuma kau selalu datang setiap hari kalau tidak bisa membantuku terbebas dari dokter obsesif itu.”
Pada detik ini, diam-diam Sam tersenyum penuh maksud. Ia pun mempercepat langkah lalu menghadang jalan Winter.
“Kata siapa aku tidak berguna?” ucapnya dengan senyum miring serta tatapan penuh arti. “Kalau kau mau terbebas dari rutinitas itu, aku bisa melakukannya. Asalkan kau mau mengikuti permainanku.”
Winter balas menatapnya tertarik. “Permainan? Apa itu?”
Winter sadar tidak seharusnya ia menanggapi apa pun ide yang ada dalam kepala Sam saat ini. Karena apa pun itu, pasti akan sama gilanya seperti dirinya. Tapi Winter juga mau terbebas dari rutinitas melelahkan ini. Kemarin Dokter Laurel hampir saja berhasil membuatnya buka mulut soal kesaksiannya atas peristiwa empat belas tahun silam. Ia jadi takut berhadapan dengannya lagi. Setidaknya ia butuh waktu untuk menetralkan terlebih dahulu kegugupan yang mengguncangnya. Barulah setelah itu ia bisa kembali menghadapi Dokter Laurel dengan tenang.
“Soal permainannya serahkan saja padaku. Aku hanya butuh persetujuan darimu untuk melakukannya. Nanti kau lihat sendiri hasilnya, bagaimana?” Sam kembali memberi penawaran menarik yang terdengar sangat menjanjikan bagi Winter.
Mungkin karena sudah terlalu tergiur dengan kebebasan, Winter akhirnya mengangguk setuju.
“Baiklah, kupercayakan ini padamu. Awas ya kalau permainanmu malah membuatku terjebak dalam situasi yang menyusahkanku.” Winter mewanti-wanti.
Sam tersenyum puas. “Tidak akan. Kau justru akan berterima kasih padaku. Lihat saja nanti.”
***