"Baiklah, aku akan memaafkanmu. Tapi, dengan satu syarat. Dan kau harus melakukan hal ini untuku."
Tawarnya lagi dengan ide jahatnya.
"Aku rasa ini justru sangat menguntungkanmu. Aku akan mengangkatmu sebagai sekretarisku. Dan tugasmu bukan hanya untuk mengatur jadwalku tapi juga seluruh keseharianku. Kau mengerti maksudku ?"
Tanya Daren yang menunggu reaksi dari Sweet.
"Menguntungkan apanya ? Aku tahu kau ingin mengerjaiku habis-habisan setelah ini."
Pikir Sweet seakan tahu dengan rencana jahat pria itu.
"Keseharian bagaimana maksud Tuan ?"
"Entah itu untuk mengatur pakaianku sebelum aku ke kantor, atau sarapanku. Intinya di saat aku menghubungimu, kau harus siaga dimanapun kapanpun itu."
'Glek'
Sweet menelan salivanya dengan susah payah setelah mendengarkan penuturan pria itu.
"Bagaimana ?"
Sweet berpikir dengan begitu keras.
"Sulit mencari pekerjaan saat ini."
Pikirnya lagi seolah menimbang-nimbang dengan pasti keputusannya.
"Baiklah, Saya setuju Tuan."
Balasnya dengan pasti yang berhasil membuat Daren menerbitkan senyum devilnya.
"Mulai saat ini juga kau resmi menjadi Sekretarisku. Cepat pindahkan semua barangmu di sana."
Tunjuk pria itu pada Meja yang tak jauh dari tempat duduknya.
"Baik Tuan, saya izin pamit untuk mengambil barang saya Tuan."
Sweet memilih pamit kembali keruangannya untuk mengambil barang yang ada di ruangannya.
Hera, Karin, dan juga karyawan lain begitu menanti kedatangannya sedari tadi.
"Sweet maafkan kami yang tidak mengingatkanmu tadi."
Hera langsung mendatangi Sweet, karyawan lain pun ikut mendatanginya.
"Sweet kamu tidak di pecat kan ?"
Tanya Karin memastikan.
Sweet diam sejenak, bagaimana bisa dia meninggalkan tempat dengan orang-orang seperhatian ini, padahal belum sehari dia di tempat itu tapi rasanya berat sekali untuk beranjak dari tempat itu.
"Aku tidak di pecat"
Ujarnya sejenak menjeda ucapannya.
"Syukurlah, tapi kok muka kamu kayak nggak bersahabat gitu ?"
Selidik Hera merasa heran.
"Itu, aku di pindahkan."
Ujar Sweet malas membahasnya lebih lanjut.
"Di pindahkan kemana Sweet ?"
Kali ini Karin lagi yang bertanya pada Sweet.
"Menjadi Sekretaris Pak Daren"
Jawabnya dengan nada santai.
Semua yang berada di ruangan mendadak specles. Mencoba mencerna dengan baik ucapan Sweet barusan.
"Hoki banget kamu Sweet"
Ucap salah satu karyawan.
Hera dan Karin langsung memeluk Sweet dengan bahagia.
Walau belum cukup sehari bersahabat, tapi Hera dan Karin sempat menanyakan mengenai asal usul Sweet tadi. Yang mendadak membuat mereka merasa bersyukur dengan hidup mereka karena masih mempunyai fasilitas hidup yang melebihi Sweet juga kedua orang tua yang masih ada bersama mereka.
"Kami senang sekali Sweet. Tapi, sayangnya kita akan jarang bertemu kamu setelah ini."
Ujar Karin yang di angguki setuju dari Hera.
Sweet mendadak ingin bersedih karena tak tega meninggalkan kedua gadis itu.
"Tenang saja, kita akan mengatur waktu untuk bertemu nanti."
Jawab Sweet yang ikut membalas pelukan mereka.
"Tiap hari bareng Pak Daren dong"
Goda Hera, menoel dagu runcing Sweet.
"Apaan astaga."
Setelah puas berpamitan pada sahabat dan karyawan lainnya, akhirnya Sweet beranjak dengan langkah malasnya ke ruangan pria menyebalkan itu.
Dan ternyata pria itu tidak ada di ruangannya.
'Ting'
Namun, perhatian Sweet langsung teralihkan pada notifikasi pesan di ponselnya.
'Barangmu bukan untuk di atur di sana. persiapkan dirimu, supir sudah di perjalanan menjemputmu.'
Pesan singkat itu lagi-lagi berhasil membuat Sweet frustasi.
Dengan seulas senyum yang di paksakan ia kembali membawa barangnya keluar dari ruangan pria itu.
Setelah lama menunggu, akhirnya supir yang di tugaskan untuk menjemputnya sudah tiba.
Tanpa basa-basi Sweet langsung bergegas menaiki mobil itu.
Satu jam lebih menghabiskan waktu di perjalanan, akhirnya Sweet tiba di perusahaan yang begitu besar.
"MR CROP"
Gumam Sweet membaca nama perusahaan itu.
"Mari ikuti saya Nona."
Suara pria itu mendadak menyadarkan Sweet. Itu pria yang memanggilnya tadi untuk menghadap pria menyebalkan itu.
Sweet di buat takjub dengan perusahaan ini.
Banyak mata yang menilisik bertanya-tanya asal usul Sweet sebenarnya.
Mereka fikir bahwa Sweet pasti adalah salah satu anak kalangan atas juga lulusan terbaik dari luar negeri. Itu di buktikan dengan pakaiannya dan tampangnya yang bak seorang model.
"Wajahnya Unreal sekali yah. Dia pantas sih jadi sekretaris Pak Daren."
Ujar salah satu karyawan pada temannya yang menatap kagum pada kemolekan Sweet.
Temannya mengangguk menyetujui hal itu.
Sweet sampai di ruangannya yang ternyata bersebelahan dengan ruangan Daren karena ruangan mereka hanya di pagari dengan sekat yang tidak terlalu menutupi seluruhnya.
"Aku tidak bisa leluasa jika seperti ini. Katanya, tadi tempatku tetap di perusahaan itu. Dasar pria pembohong."
Gumam Sweet sambil mengatur barang-barangnya.
"15 Menit untuk mengatur barangmu. Setelah itu temui aku."
'Deg'
Lagi-lagi jantung Sweet hampir copot di buatnya. Karena pria itu tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.
Tanpa menjawabnya, Sweet mempercepat geraknya untuk menata barang-barangnya.
Setelah selesai Sweet pun akhirnya pergi menghadap pada Boss besarnya itu.
"Terlambat 5 detik"
Ucapnya yang membuat Sweet hanya melongo tak percaya dengan sikap menyebalkan Bossnya ini.
"Aku maafkan. Jack berikan jadwal itu padanya, dan jelaskan dengan baik tentang semua tugas-tugasnya. Waktu memahami semuanya 30 menit, aku rasa itu cukup."
Perintah Daren pada Asistennya.
"Baik Tuan."
Asisten Jack pun melakukan tugasnya. Sedang Sweet ingin sekali berteriak di depan Pria menyebalkan itu.
"Huft, sabar Sweet."
Ucapnya dalam hati.
Daren yang menyaksikan wajah Sweet malah ingin sekali mengeluarkan tawa kemenangannya.
***