Pria berperawakan dingin dan tegas itu nampak memasuki sebuah Lobi perusahaan bersama Asisten setianya.
Semua pandangan para pekerja di perusahaan itu kini berada dalam posisi tunduk seraya memberi hormat pada Boss besar mereka.
Daren akhirnya tiba di ruangannya. Untuk mengecek beberapa dokumen penting yang telah di selesaikan sang asistennya Jack.
Ia belum terpikir untuk mencari seorang sekretaris, baginya Jack sudah lebih dari cukup.
"Tuan semua Divisi telah berkumpul di ruangan."
Jack memberi informasi mengenai keadaan para hadirin Rapat yang telah sukses terkumpul.
"Baiklah, lakukan seperti biasanya."
Balas Daren dengan langkah cepat menuju ruang Rapat saat ini.
Sweet begitu gugup. Bagaimana tidak, di hari pertamanya bekerja dia harus sudah di pertemukan dengan Boss besarnya.
Saat Daren telah memasuki ruangan itu. Atmosphere di dalam ruangan itu terasa begitu dingin bagi Sweet.
Saking tenangnya, ia bisa mendengarkan sendiri detak jantungnya yang kini berdegup tak beraturan lagi.
Sweet mencoba mengangkat kepalanya karena ingin mengetahui tampang Boss tampan yang teman-temannya maksud.
'Deg'
"Itu kan pria yang..."
Ucapan Sweet di dalam hati terhenti seketika, karena pria yang tengah di pandangnya kini berhasil menangkap balik manik matanya.
"Bodoh"
Gerutu Sweet dalam hatinya. Dan memilih menundukan dengan lebih rendah pandangannya lagi.
Pria itu tetap berbicara secara professional tanpa menghiraukan objek yang kini telah berhasil mengusik dirinya sedari kemarin.
"Berulang kali saya mengatakan hal ini. Jangan ada yang berani menundukan pandangannya saat saya tengah berbicara di depan seperti ini ."
Sindir Daren dengan nada tinggi yang berhasil mengusik kembali ketenangan Sweet.
Sweet akhirnya memilih mengangkat kepala karena tak ingin memperoleh surat pemecatannya hanya karena hal kecil ini.
Setelah panjang lebar mendengarkan isi dalam Rapat itu, akhirnya Sweet dapat bernafas lega saat Rapat itu telah di nyatakan selesai. Di tambah lagi dengan Boss besarnya yang telah meninggalkan ruangan.
"Hufttt, akhirnya..."
Sweet bersama teman-temannya kembali ke ruangan mereka.
Namun, belum lama Sweet mendudukan bokongnya di kursi empuk itu. Suara bariton Asisten Jack dari pintu ruangan kembali mengharuskannya untuk berdiri.
"Nona Sweet Aurelio ?"
Tanya Jack mengedarkan pandangannya pada mereka semua seraya mencari pemilik nama itu.
"Saya Pak"
Sweet mengangkat tangannya dengan sopan.
"Tuan Daren memanggil anda keruangannya sekarang."
Ujar Jack dan memilih pamit pada semua orang yang ada di dalam itu.
Kini semua mata karyawan termasuk kedua temannya malah memandang kasihan pada Sweet.
Mereka menduga, bahwa yang di sindir oleh Boss besar tadi adalah dirinya.
Sweet pun memberanikan diri dengan langkah pastinya menemui pria itu.
"Hera, apa kau tidak mengingatkannya tadi ?"
Tanya salah satu karyawan yang merasa begitu iba pada Sweet yang faktanya baru memulai pekerjaannya hari ini.
"Aku lupa hal itu, Maafkan aku."
Hera merasa sangat bersalah karena hal itu, namun dia terus berdoa dan berharap agar Sweet tidak di pecat dari pekerjaannya.
'Tok,tok,tok'
"Masuk"
Suara bariton milik pria itu kembali menakuti Sweet.
Sweet masuk dengan langkah pelannya ke dalam ruangan itu, dan merasakan hawa mencekam kembali mendatanginya.
Sweet dengan tenang tetap memilih mengangkat kepalanya.
"Sweet Aurelio Casillas. Nama yang begitu manis semanis dirimu."
Ujar Daren yang malah mengingatkan Sweet dengan perkataan Iren kemarin yang terdengar sama persis seperti ucapan Daren barusan.
Daren yang kini tengah fokus memandang Sweet, memilih berdiri dari tempat duduknya.
Sweet semakin gugup di buatnya.
"Jurusmu begitu ampuh mengalahkanku malam itu."
Daren berjalan semakin dekat ke arah Sweet, hingga tubuh mereka hanya berjarak beberapa centi saja.
"Tapi, kali ini aku tak akan melepaskanmu."
Bisiknya pada gadis itu dengan deru Nafas yang terdengar begitu jelas di telinga Sweet.
"A-aku mohon maafkan aku Tuan."
Bibir Sweet terasa begitu kelu saat ingin berbicara jelas pada Daren. Karena posisi Daren yang kini berhasil membuatnya tak bisa berkutik sama sekali.
"Sejak kapan kau bekerja di tempat ini ?"
Tanya Daren dengan melonggarkan sedikit gerak Sweet.
"Sejak hari ini"
"Sayang sekali, hari pertamamu bekerja ternyata harus menjadi hari terakhirmu bekerja juga"
Ujar Daren dengan senyum smirknya.
"Jangan pecat saya Tuan, saya mohon. Maafkan atas segala kesalahan saya. Saya akan menjalani hukuman dari Tuan asal jangan memecat saya. Saya sangat butuh pekerjaan ini."
Sweet kini benar-benar telah memohon dengan segala upayanya untuk mempertahankan posisinya.
"Memohonlah dengan cara yang benar"
Daren malah memerintahkan Sweet untuk memohon kembali padanya.
Sweet yang tak punya pilihan lain akhirnya memilih berlutut di hadapan Daren dengan kembali memohonkan maafnya dengan benar.
"Baiklah, aku akan memaafkanmu. Tapi, dengan satu syarat. Dan kau harus melakukan hal ini untuku."
Tawarnya lagi dengan ide jahatnya.
***