"Mom kemana saja ? Ponsel Momy juga kenapa baru di aktifkan ? Kami khawatir Mom."
Keluh David, anak bungsu Iren yang langsung menghujaminya dengan berbagai pertanyaan.
"Hustt, Momy lagi cari angin. Momy mau istirahat dulu, Momy capek."
Iren tidak menggubris pertanyaan putranya dan malah berlenggak masuk kedalam Mansion.
"Sayang kamu dari mana saja ?"
Tanya sang suami yang juga baru datang karena sedari tadi sibuk mencari keberadaan istrinya.
"Jalan-jalan"
Jawab Iren dengan nada ketus.
Rupanya hubungan mereka tengah terjadi masalah kecil. David bisa mengamati itu.
"Aku mau istirahat, dan stop bertanya."
Ujar Iren kemudian bergegas meninggalkan kedua pria itu.
"Dad"
Panggil David seraya meminta jawaban terkait hal ini.
"Dady sedikit keliru tadi saat berbicara padanya. Nanti dady akan membujuk momymu, tenang saja."
Ungkap dadynya kemudian ikut pergi menyusul istrinya meninggalkan David sendiri.
"Ada apa David ?"
Suara bariton itu berhasil mengusik kebisuan David.
"Momy kak, seperti biasa."
Ungkapnya yang di balas dengan anggukan kecil pria itu.
Di lain tempat, gadis itu tak henti-hentinya memandang kagum pada dirinya sendiri saat melihat pada pantulan cermin yang menampakan sosok anggun dan elegan dalam dirinya.
"Aku merasa tidak pantas memakai pakaian seperti ini. Ini terlalu berlebihan."
Ujarnya sambil membolak balikan badanya di depan cermin karena merasa specles saat memandang keadaannya saat ini.
"Istirahat Sweet, besok hari pertama kamu mulai bekerja."
Akhirnya Sweet menghentikan kegiatannya itu dan memilih merebahkan tubuhnya guna melelapkan matanya malam ini.
Waktu berlalu dengan begitu cepat. Pagi kembali datang menyapa, membuat Sweet semakin bersemangat untuk bangun.
Setelah membersihkan diri, dan mengenakan pakaiannya. Sweet memilih mengisi perutnya dengan bubur sederhana yang ia buat.
Setelah memastikan dengan baik keadaan kostnya yang sudah bersih. Akhirnya ia berlalu menuju tempat kerjanya.
Senyum itu lagi-lagi tak pernah terlihat pudar dari bibir manisnya.
Setelah sampai dan telah selesai mengatur semuanya.
Kini Sweet telah berhasil berada di ruangan tempat bekerjanya.
Tergabung di Divisi pemasaran, membuatnya tambah bersyukur karena telah di berikan posisi terbaik di perusahaan ini.
Setelah usai menata barangnya yang ia perlukan di tempat itu nanti. Ia pun memulai pekerjaannya dengan nyaman, karena ini sangat mudah baginya.
"Hai, perkenalkan namaku Hera. Kamu bisa bertanya padaku, jika nanti ada yang tidak kamu pahami. Semoga kamu betah dan siap bekerja sama bersama kami untuk memberikan kontribusi terbaik kedepannya pada perusahaan ini."
Ucap seorang gadis cantik yang begitu ramah pada Sweet.
"Namaku Sweet. Dan Terimakasih atas tawaranmu tadi. Semoga kehadiranku di sini bisa sedikit ikut membantu untuk memberikan kontribusi pada Divisi juga perusahaan ini."
Balas Sweet dengan ucapan yang tak kalah ramahnya.
Karyawan yang berada di ruangan itu pun mendatangi tempatnya hanya untuk bertukar sapa dan memperkenalkan diri.
Sweet menjadi tambah semangat, saat mengetahui teman-teman kerjanya ternyata sangat baik dan juga ramah.
Saat makan siang tiba, Meja Sweet kembali di datangi Hera dan juga Karin untuk mengajaknya makan siang bersama di kantin. Sweet dengan senang hati menyetujui itu.
"Sepertinya kita akan menjadi bestie"
Ujar Hera begitu semangat.
Sweet dan Karin membalas itu dengan anggukan setuju dan senyum manis mereka.
Selain fokus untuk makan siang, mereka juga menghabiskan waktu istirahat mereka dengan bercengkrama layaknya ibu-ibu rumpi.
"Kamu tahu nggak Sweet kalau CEO kita itu seorang pria tampan dan juga masih muda."
Ujar Hera kembali memulai pembicaraan seriusnya.
"Yap betul sekali. Tapi, baru-baru ini ada yang memberitakan kalau dia berhasil menciduk kekasihnya sedang berselingkuh."
Timpal Karin lagi menambahkan.
Sedang Sweet yang tak tahu apa-apa hanya sekedar ikut menyimak saja pembahasan menarik itu.
"Katanya hari ini dia akan mendatangi perusahaan. Dan ingin mengadakan Rapat sebentar lagi dengan semua Divisi."
Ujar Hera kembali memberi informasi.
Sweet langsung terdiam.
"Tenang Sweet. Ini hanya untuk pengecekan biasa saja. Lagian laporan kita juga sudah selesai. Jadi, tenang saja."
Hera kembali menyuarakan informasi yang akhirnya berhasil mengusir kekhawatiran Sweet berusan.
"Jika hanya untuk pengecekan saja kenapa harus dia yang turun langsung ?"
Tanya Sweet penasaran.
"Dia terlalu perfectsionis Sweet. Jadi, hal itu wajar saja terjadi."
Ungkap Karin lagi yang ikut di benarkan Hera dengan anggukan.
"Btw, Kalau aku perhatiin wajah kamu lama-lama, beneran berasa unreal Sweet."
Ucap Hera tiba-tiba yang terdengar seperti sebuah pujian untuk Sweet.
"Padahal aku juga baru mau ngomong gitu"
Karin pun ikut menyetujui ucapan Hera.
"Apaan. Di kira kartun apa di kata Unreal."
Sweet tak habis pikir dengan setiap ucapan orang-orang yang selalu memandang kagum pada wajah dan tubuhnya yang selalu mengatakan dia seperti Barbie nyata.
"Sudahlah, sebentar lagi jam istirahat akan berakhir."
Setelah membayar makanan mereka masing-masing. Akhirnya ketiga gadis itu beranjak pergi kembali ke ruangan mereka.
***