Sweet menapaki jalan dengan sedikit menggigil kedinginan malam ini. Jacket bulunya yang tebal ternyata tidak cukup membuatnya merasa hangat.
Koper yang sedari tadi ikut menemaninya pun tak henti-hentinya terseret dengan kasar karena jalan rusak yang Sweet lalui sekarang.
Sweet mencoba mencari penginapan untuk malam ini, dan akhirnya pencariannya pun berhasil.
Setelah menemui pemilik penginapan dan mengatur bayarannya. Sweet langsung memasuki kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang begitu lelah malam ini.
Setelah membersihkan diri, ia pun berniat mengecek beberapa pesan yang masuk di ponselnya.
Karena merasa sangat lelah, Sweet akhirnya terlelap dengan keadaan mendengkur kecil.
Saat pagi kembali menyapa, Sweet bergegas bangun dan membersihkan dirinya. Karena hari ini ia akan memutuskan mencari kost-kost san yang akan ia tempati selama sebulan kedepan.
Sweet kembali tersenyum saat melihat notifikasi masuk di ponselnya.
"Aman"
Ujarnya dengan senyum syukur.
Sweet melanjutkan lagi mengakses Gmailnya untuk melihat hasil yang ia nantikan sedari kemarin.
Antara kaget dan bahagia saat melihat hasilnya.
"Selamat Kepada...,dst..."
Sweet melompat-lompat seperti anak kecil. Karena merasa begitu bahagia setelah melihat hasilnya.
Akhirnya ia memutuskan untuk mencari Kost di sekitar kantornya saja karena tak ingin datang terlambat ke kantornya besok.
"Semangat Sweety"
Ucapnya pada diri sendiri dengan senyum bangga.
Setelah memutuskan pergi dari penginapan itu dan mencoba mencari kost di sekitar kantornya.
Akhirnya takdir begitu mempermudahnya, Kostnya begitu dekat dari kantor bahkan lokasinya berada di belakang gedung kantornya.
"Terimakasih tuhan. Kau selalu mempermudahku."
Ucap Syukurnya.
Ia memutuskan untuk membayar biaya kost hingga Dua bulan kedepan. Dan bergegas untuk mengatur semua barangnya di dalam.
Usai membersihkan dan mengatur kamarnya. Sweet memilih istirahat sejenak, dan membaca-baca lagi informasi tadi.
Senyum tak henti-hentinya ia terbitkan, karena merasa begitu bersyukur.
Sweet memperhatikan dengan jelas setiap sudut kamar tempat tinggalnya saat ini. Ia memilih kost yang sudah cukup lengkap menurutnya. Kamar mandi kecil juga dapur kecil yang membuatnya patut harus bersyukur masih di berikan keadaan ini.
Air mata yang tak mampu ia bendung akhirnya luruh begitu saja.
"Bu, Yah. Sweet sudah dewasa sekarang. Sweet bahagia di sini Jadi, kalian harus bahagia juga di sana."
Ujarnya dengan tersenyum getir.
"Sudah Sweet. Besok kamu harus bekerja."
Ucapnya lagi seraya menghibur diri sendiri.
Sweet memutuskan untuk keluar membeli beberapa kebutuhannya dan beberapa pakaian sederhana untuk ia kenakan bekerja nanti. Karena ia membutuhkan itu saat ini.
Namun, saat di jalanan sepi. Ia mendapati beberapa perampok yang baru saja ingin merampok seorang wanita paruh baya.
Dengan ide cemerlangnya. Ia menyalakan sound sirene polisi dengan volume yang begitu full dari ponselnya lalu berjalan mendekati perampok itu.
Dengan keberaniannya ia mencoba berlari ke arah perampok untuk mengagalkan mereka mengambil barang wanita paruhbaya itu.
"Hey, letakan barang itu. Polisi sudah menuju kemari, bersiaplah kalian. Aku sudah melaporkan kalian pada polisi."
Ancam Sweet dengan ancang-ancangnya.
Karena tak ingin tertangkap mereka pun bergegas pergi dengan berlari kencang tampa membawa apapun, karena mereka gagal menggeledah barang di dalam mobil juga tak sempat mengambil barang wanita itu.
Sweet berbalik mengambil ponselnya, lalu kembali mendekati wanita itu.
"Ibu tidak apa-apa kan ?"
Wanita itu membalas dengan gelengan kecil seraya tersenyum manis menatap Sweet.
"Terimakasih Nak karena sudah menolong saya."
Ucap wanita itu begitu tulus.
"Perkenalkan nama saya Iren"
Wanita paruh baya itu menjulurkan tangannya di depan Sweet.
"Sweet"
Balas Sweet dengan senyum manisnya.
"Namamu semanis dirimu sayang."
Lagi-lagi Sweet hanya tersenyum mendengar penuturan itu.
"Kenapa ibu tidak meminta bantuan tadi ?"
Tanya Sweet dengan ragu.
"Aku sudah di ancam nak. Tapi, aku begitu terkejut saat kedatanganmu mengancam mereka, mereka malah langsung kabur terbirit-b***t seperti itu. Padahal kalau yang lain, mereka akan melawanmu. Kamu cukup menakutkan bagi laki-laki ternyata."
Ujar Iren dengan tawanya.
Sweet pun ikut tertawa geli dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu ingin kemana sayang ?"
Tanya Iren mengalihkan rasa lucunya.
"Aku mau ke Toko Baju yang ada di sebelah jalan sana bu."
"Kamu ingin membeli baju untuk apa ?"
Selidik Iren lagi.
"Aku ingin membeli beberapa setelan baju kerja sederhana untuk aku pakai bekerja nanti. Soalnya hari ini aku baru di terima bekerja di perusahaan sana."
Ujar Sweet menunjuk ke arah pucuk gedung yang memperlihatkan tulisan besar DF Group.
Iren yang menyaksikan itu hanya tersenyum.
Dan langsung menarik tangan Sweet untuk ikut memasuki mobilnya.
"Tidak boleh menolak. Karena kamu telah menolong saya, jadi kamu harus menerima permintaan saya."
Pintah Iren dan langsung memacu mobilnya meninggalkan tempat itu tanpa menunggu persetujuan Sweet lagi.
Sweet memilih diam dan pasrah pada Iren yang ingin membawanya pergi entah kemana.
Hingga Mobil itu berhenti tepat di sebuah butik ternama di kota itu.
Sweet yang baru saja ingin bertanya, malah tak sempat karena Iren yang langsung mengajaknya memasuki butik itu.
Sweet memperhatikan dengan seksama obrolan Iren dan pegawai butik itu.
Dan akhirnya tubuhnya kembali terseret menuju tempat pakaian yang di maksud oleh Iren.
Sweet cukup kagum dengan pakaian-pakaian itu, namun lagi-lagi dia hanya bisa tertegun saat melihat harga yang terpampang jelas di pakaian itu yang bahkan nominalnya tidak mencukupi tabungannya saat ini.
"Pilih saja yang kau suka Sweet."
Ujar Iren ikut mengamati setiap pakaian itu.
Hingga ia terpana dengan setelan panjang berompi berwarna putih gading yang begitu cocok pada Sweet.
"Ini sangat cocok untukmu Sweet"
Sweet pun ikut terpana melihat itu.
"Bu tidak perlu..."
"Sttt... Sudah saya bilang tadi kan tidak ada kata penolakan."
Lagi-lagi Sweet hanya bisa menegak ludahnya dengan kasar.
Akhirnya setelah lama berkompromi dengan pakaian-pakaian itu, Iren membelikan beberapa setelan kantor mahal untuk Sweet. Juga ikut mengajak Sweet mengunjungi toko sepatu dan perlengkapan wanita lainnya.
Sweet yang tak tahu harus berbuat apa lagi hanya pasrah dengan perlakuan Iren saat ini padanya.
Jujur ia merasa begitu bersyukur, namun di lain sisi juga menurutnya ini sangat berlebihan. Hingga ia merasa tak enak hati lagi untuk bersuara.
"Bu saya rasa ini sudah sangat berlebihan."
Ucap Sweet dengan hati-hati.
Iren yang mengerti perasaan Sweet pun akhirnya memilih menyudahi kegiatannya itu.
"Ini pintah terakhir saya untuk hari ini. Saya ingin mengajakmu makan malam di restorant yang ada di seberang sana, lalu saya akan mengantarkanmu pulang. Saya mohon."
Pintah Iren lagi dengan tampang memohonya.
Sweet mengangguk dengan senyum tulusnya.
Setelah itu mereka memilih mengisi perut mereka malam ini dengan menu yang telah mereka pesan masing-masing, lalu beranjak pergi menuju tempat Sweet tinggal saat ini.
Setelah sampai, Iren memutuskan untuk meminta nomor handphone Sweet. Sweet pun menyetujui itu, dan pamit dengan mengucapkan banyak terimakasih pada Iren.
***