Namun, saat ia ingin keluar dari pintu sebuah tangan kekar menariknya masuk kembali ke dalam.
Sweet langsung berteriak, namun tak ada gunanya karena ruangan itu kedap suara.
"Kau merusak gendang telingaku Nona."
Ujar pria itu kepada Sweet. Dan sekarang Sweet malah terfokus dengan keadaan pria itu yang hanya memakai handuk putih menutupi pinggangnya hingga atas lutut.
"Si-siapa kamu ?"
Tanya Sweet dengan rasa takut.
"Hey, are you kidding ? Ini kamarku Nona, seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu."
Balas pria itu dengan tatapan tajamnya.
"Maafkan saya Tuan karena saya telah lancang memasuki kamar Tuan. Jadi, apakah saya boleh pergi dari sini ? Saya terdesak melakukan ini, maafkan saya Tuan."
Ungkap Sweet dengan menunduk.
Pria itu tak lain dan tak bukan adalah seorang Daren, yang sedari tadi telah menyelesaikan mandinya. Ia membawa ponselnya ke kamar mandi, dan baru saja ingin mengirim pesan pada seseorang namun, ia terusik dengan suara pintu kamarnya, seperti ada yang membukanya. Dan benar saja, ia kaget saat melihat seorang gadis yang sedang berniat mengintip keluar kamar dan baru saja ingin keluar dari kamar itu. Namun, dengan cepat ia hentikan.
"Kau terdesak melakukan ini ? Katakan dengan jelas alasanmu."
Selidik Daren yang tak ingin membiarkan gadis itu pergi begitu saja.
Sweet akhirnya menjelaskan dengan jelas alasannya kenapa ia sampai terdesak ingin memasuki kamar itu.
"Apakah aku bisa mempercayai alasanmu Nona ? Bagaimana jika sebenarnya kau telah menaruh sesuatu di kamar ini ?"
Ujar Daren yang menyelidik lebih jauh.
Sweet tidak tahu harus mengatakannya bagaimana lagi.
"Aku mohon plis. Lepaskan aku, aku benar-benar tidak mempunyai niat jahat padamu. Kamu bisa menemuiku nanti untuk menanyai ini. Namun, untuk sekarang biarkan aku pergi. Karena malam semakin larut dan aku harus pulang ke rumah ."
Sweet memohon pada Daren yang sama sekali tak bergeming untuk merasa iba padanya.
"Kau harus tanggung jawab dan membuktikan dengan benar kalau kau tidak seperti yang ada di pikiranku."
Lagi-lagi Daren tetap gigih tak ingin melepaskan Sweet begitu saja.
"Aneh, apa benar dia tidak mengenaliku ? Atau ini akal-akalannya saja. Cihh..."
Pikir Daren yang kini tengah memperhatikan wajah Sweet dengan seksama yang membuat Sweet begitu gugup.
"Apa harus pakai jurus itu ? Tapi, kasihan juga itu kan masadepannya."
Pikir Sweet yang kini langsung menemukan ide jahatnya sambil sesekali melirik pada area berharga pria itu.
"Tidak ada pilihan. Salah sendiri kenapa harus menahanku."
Sweet sudah bulat dengan rencananya.
"Tuan, ii--tu apa ?" Tunjuk Sweet pada tembok yang ada di samping kanan mereka.
Daren berhasil menoleh pada objek yang kini sedang di tunjuk gadis itu.
Dengan ancang-ancang pasti.
'Bukk'
"Owh s**t"
Daren memekik menahan sakit pada benda berharganya itu. Handuknya pun hampir melorot kebawah karena tak tahan dengan rasa sakit itu.
Sweet yang mempunyai kesempatan penuh langsung bergegas pergi dengan berlari sekuat tenaganya meninggalkan tempat itu.
"Huftt, selamat"
Sweet akhirnya berhasil keluar dari hotel itu.
Untung lokasi hotel itu tidak jauh dari kediaman pamannya, sehingga ia memilih pulang dengan berjalan kaki saja.
Setelah sampai di ruang utama rumah, Sweet memutuskan berjalan dengan hati-hati agar tak menimbulkan suara.
Suasana yang begitu gelap membuatnya kesusahan mengatur langkahnya berjalan.
Akhirnya ia memilih menyalakan Flash pada ponselnya untuk membantu menerangi jalannya.
'Plakkk'
Namun, naas Vas bunga yang berada di atas meja tak jauh dari tempatnya berdiri kini harus pecah karena tak sengaja mengenai sikunya.
"Astaga, mati aku."
Gerutunya pada diri sendiri yang memukul kesal sikunya.
"Sweetttt... Apa yang kau lakukan"
Teriak sang Bibi yang berhasil terbangun karena suara pecahan Vas itu.
"Vas kesayanganku."
Bibi Ana mendatangi Sweet dengan langkah cepat.
"Astaga Sweettttt..."
Bibi Ana terlihat begitu marah saat tahu vas bunga yang berhasil di pecahkan gadis itu.
"Dasar tidak tahu diri, ganti rugi vas ini."
Teriak bibinya lagi yang tak tahan untuk segera menghardik Sweet.
"Ma-mafkan aku Bi. Aku tidak sengaja."
Ujarnya dengan terbata.
"Tidak sengaja katamu. Jam berapa ini ? Jam dua dini hari. Cihh, lihatlah ponakanmu Geo dia sudah berani menjadi wanita nakal seperti ibunya."
Bibi ana berhasil memarahi dan mengatai Sweet habis-habisan.
"Jaga ucapanmu Bibi. Ibuku sama sekali tidak seperti pemikiranmu itu."
Balas Sweet dengan tampang kesal, tak terima karena bibinya telah mengatai mendiang ibunya seperti itu.
"Berani kau padaku hah ? HAH ?"
Bibi Ana semakin kesetanan dan menarik rambut panjang Sweet dengan begitu kuat sehingga Sweet merasa sangat kesakitan.
"Ana lepaskan dia."
Teriak Geo pada istrinya.
"Ma, Pa ada apa ini ? Menganggu tidurku saja."
Keluh Hani dan Jeje yang juga ikut terusik karena pertikaian ini.
"Lihat ini, dia sudah menjadi wanita nakal. Dan beraninya dia memecahkan Vas kesayangan Mama."
Jawab Ana yang belum melepaskan rambut Sweet dari genggamannya.
"Lepaskan dia Ana"
Teriak Geo lagi yang sama sekali belum di indahkan istrinya.
"Kau membelanya ?"
Tanya Ana yang semakin tak tahan untuk terus menyakiti Sweet.
"Hentikan sayang. Biar aku yang mengganti Vas bunga kesayanganmu itu. Biarkan Sweet turun dari rumah ini, aku pun tak ingin tinggal bersama perempuan nakal seperti dia."
Ucap Geo dengan sedikit tertunduk saat Sweet menatapnya dengan tatapan kecewa.
"Kau mengusirnya sayang ? Baiklah, itu yang aku inginkan dari dulu. Kau bisa mendengarnya kan b***h ? Jadi, segeralah menyingkir dari rumah ini. Aku pun masih baik memafkanmu terkait Vas itu."
Teriak Ana lagi yang kini sudah melepaskan Sweet dari hardikannya.
Kedua anaknya yang malas melihat hal itu memilih memasuki kamar mereka kembali untuk melanjutkan tidur mereka yang telah terusik tadi.
Sweet melangkah dengan tatapan kosong dan Air mata yang tak henti-hentinya luruh begitu saja.
"Kamu gadis mandiri Sweet. Kamu pasti bisa."
Bisiknya pada diri sendiri.
Sweet memutuskan untuk mengatur barangnya dan akan segera pergi meninggalkan rumah ini malam ini juga.
***