Setelah sampai di rumah ia tak menemukan siapa-siapa. Rumah nampak sunyi tak seperti biasanya.
Dia tak peduli dengan hal itu dan memilih langsung ke kamarnya saja untuk merebahkan tubuh di kasur guna mengusir rasa penatnya.
Tak perlu menunggu lama, kedua matanya pun akhirnya terlelap dengan nyenyak.
'Tringg'
Alarm yang ia jauhkan dari tempat tidur mulai berbunyi nyaring mengusik tidurnya.
Setelah bangkit mematikan Alarm, dan melihat pukul berapa sekarang. Sweet pun bergegas membersihkan dirinya, dan berniat akan pergi menemui Vely sahabatnya sebelum nantinya akan bekerja.
Setelah siap, Sweet pun memutuskan untuk pergi.
Paman dan Bibinya ternyata sudah berada di rumah.
"Kau tidak bekerja ?"
Tanya wanita parubayah itu dengan suara tinggi.
"Aku baru mau pergi bekerja Bi"
Balasnya dengan tenang.
"Ingat yah Sweet. Dalam hidup ini tidak ada yang gratis. Jadi, jika kau ingin bertahan di rumah ini dan makan di rumah ini maka kau harus bekerja dan mengumpulkan uang untuk kami."
Ungkapnya lagi dengan tampang tak berperasaannya.
Sedang sang Paman yang menjadi adik dari mendiang Ayahnya hanya diam menyaksikan itu.
"Iya Bi aku akan selalu ingat hal itu, kalau begitu aku permisi dulu."
Pamitnya pada kedua orang itu.
"Cihh, dia sama saja seperti ibunya. Sama-sama bersikap sombong."
Sindir Bibi Ana saat menyaksikan punggung Sweet yang kini telah hilang dari pandangannya.
Sedang Pamannya Geo lagi-lagi hanya memilih diam usai mendengarkan segala u*****n Istrinya pada Sweet.
*
*
*
"Ini kunci lokerku, nomor 12 yah. Jangan lupa. Aku juga sudah menghubungi managernya, jadi tenang saja."
Ujar Vely mengingatkan Sweet.
"Iya Vel, kalau begitu aku pamit dulu."
Pamitnya pada Vely menuju Hotel tempat bekerjanya malam ini.
Setelah sampai di hotel, Sweet langsung mengunjungi loker Vely untuk mengambil pakaian kerjanya.
"Hah, ini terlalu pendek."
Keluhnya saat mengamati dengan teliti bentuk dan panjang baju itu.
Di tambah lagi, Sweet memiliki tubuh yang lebih tinggi di banding Vely. Jadi, pakaian itu akan terlihat lebih pendek saat ia kenakan.
"Huftt, hanya untuk malam ini Sweet." Ujarnya lagi menolak keraguannya.
Dan benar saja. Pakaian itu melekat sangat pas di tubuhnya dan berhasil mengekspos kaki jenjangnya yang mulus.
Sweet berniat akan menjalankan pekerjaannya dengan baik malam ini.
Dengan seulas senyum penyemangat yang membantunya kembali menaklukan keraguan dan rasa takut.
"Namamu Sweet ?"
Tanya sang manager kepadanya.
"Iya Bu"
"Baiklah. Kamu boleh mulai bekerja sekarang, Dan saya akan langsung mengirimkan upahmu besok setelah kamu berhasil mengerjakan semua pekerjaanmu malam ini."
Tutur sang manager lagi dengan tegas.
"Siap bu"
Sweet pun memilih pamit untuk memulai pekerjaannya.
Waktu semakin berlalu, Sweet mengerjakan semuanya dengan teliti. Hingga pekerjaan terakhir pun telah berhasil ia selesaikan.
"Akhirnya..."
Gumamnya dengan seulas senyum syukur.
Sedangkan di lain tempat ada seorang pria yang sedang menghabiskan waktunya dengan menegak banyak alkohol di sebuah Club malam yang cukup bergengsi di kota itu.
Hari ini adalah hari paling menyedihkan baginya, karena dia telah berhasil menciduk kekasihnya yang tengah memadu kasih dengan seorang pria asing. Menjijikan, itu yang terlintas di pikirannya sekarang.
Di tambah lagi dengan pembahasan mereka yang tengah menyindirnya karena terlalu sibuk dan sulit mengatur waktu untuk sang kekasih.
Padahal mereka juga akan merencanakan pernikahan beberapa bulan lagi. Namun, apa boleh buat Nasi telah menjadi bubur. Pria itu juga malah bersyukur karena telah di perlihatkan mengenai sifat asli sang kekasih yang seperti itu selama ini.
"Kak Daren sudahlah. Kamu tidak pantas berlarut-larut memikirkan orang menjijikan seperti itu."
Ujar sang adik David yang baru tiba usai menerima telefon dari asisten Daren terkait keadaan kakaknya.
Daren hanya diam dan tersenyum pada sang adik.
"I'm fine David"
"Jack aku ingin tidur di Hotel malam ini. Pesankan kamar biasa saja."
Perintah Daren pada asistennya.
"No, kakak pulang bersamaku ke mansion malam ini."
David tidak menuetujui pintah kakaknya.
"Biarkan aku menghabiskan waktuku sendiri malam ini David. Aku akan kembali besok pagi ke mansion, tenang saja."
Ujar Daren lagi menepuk pelan pundak sang adik.
Jack memberi intruksi kepada David untuk mempercayakan Daren padanya.
David akhirnya mengalah dan memilih menyetujui saja pinta Daren.
Daren kini terlihat sedikit berantakan. Wajah dingin dan tegasnya tak ada lagi dan malah tergantikan dengan tampang lelahnya.
Ia pun beranjak pergi meninggalkan Club itu, untuk mengistirahatkan tubuh lelahnya malam ini di hotel.
*
*
*
Setelah selesai mengganti pakaiannya, Sweet langsung ingin berniat pulang.
Lorong itu terlihat begitu sepi.
"Jam dua belas lewat, pantas saja."
Gumamnya dengan langkah kecil agar tidak mengusik siapapun yang ada di dalam kamar sana. Padahal setiap kamar itu memiliki kedap suara.
Dari jauh Sweet dapat melihat pasti seorang pria paru bayah yang tengah berjalan sempoyongan ke arahnya.
"Kok perasaan aku nggak enak yah."
Bisiknya dalam hati.
"Kalau aku pakai bela diri yang ada gajiku nggak akan cair besok."
Pikirnya lagi.
Dan benar saja, lelaki itu mempercepat langkahnya menuju ke arah Sweet berdiri saat ini.
"Nggak ada pilihan lain."
Sweet yang begitu takut, akhirnya memberanikan diri memasuki kamar yang ada di sampingnya itu.
"Nggak ada orang, mungkin kamar ini belum ada yang pesan."
Pikirnya saat mengedarkan pandangan mengamati isi kamar yang terlihat masih rapi dan bersih.
"Sampai kapan aku di sini. Orang itu sudah pergi apa belum yah ? Menyusahkan saja."
Keluhnya yang ingin berbalik mengintip keadaan di luar kamar.
"Huft, aman."
Sweet mendengus halus karena lega.
Namun, saat ia ingin keluar dari pintu sebuah tangan kekar menariknya masuk kembali ke dalam.
***