Bagaimana keadaan Jav setelah dapat bonus dua ratus ribu di pagi hari?
Jawabnya biasa saja. Harus biasa saja karena bila Jav tiba-tiba selebrasi karena dapat cuan dengan percuma di depan Taria, itu sungguh tidak lucu.
Baru mau putar badan balik ke tempat Jaya parkir di pelataran rumah sakit. Tiba-tiba aja anak yang menempati ranjang paling dekat dengan pintu (yang berarti dekat dengan Jav karena Jav berdiri di dekat pintu) menangis begitu melihat Taria. Bukan jenis tangisan ketakutan, tapi tangisan mirip bayi yang ingin digendong emaknya. Jav cengoh sebentar. Sebelum akhirnya mendekati anak yang kira-kira berumur 10 tahun itu dan mengusap punggungnya untuk menenangkan.
Tangisan anak itu membuat anak-anak lain di sebelahnya terganggu dan bangun dari tidur.
Taria tengah mengeluarkan barang-barang dari tas jinjing langsung merapat ke sumber suara paling bising satu ruangan. Jav minggir ke samping ketika Taria datang ingin duduk di sisi kasur. Jav ingin pergi ketika Taria memanggilnya.
"Elo!"
Jav berbalik. "Aku?"
"Iya, elo. Gue boleh minta tolong nggak, nanti bakal gue bayar kok. Tolong lo keluarin isi semua isi tas itu, bisa? Terus, lo tuang air jeruk dari tremos ke masing-masing gelas, bisa?"
"Lo... Beneran bakal bayar gue kan?"
Taria mengangguk. "Iya, tenang aja," gadis itu masih sibuk memeluk anak yang menangis.
Dengan gerak kikuk, Jav mendekati tempat tergeletaknya tas dan ransel. Jav meraih salah satu ransel yang berstrip biru, mengeluarkan tremos yang nampaknya terisi penuh, 12 gelas, dan 12 tutup, beberapa bungkus biskuit dan ada satu tas kecil mirip tas bekal yang entah isinya apa, tiga untung kaos yang masih berplastik, satu pouch bening ukuran sedang yang menampakkan isinya adalah alat mandi yang bila Jav tidak salah kira, pouch ini memuat alat mandi untuk enam orang. Jav menata barang-barang itu salah satu dari dua nakas yang di tata saling berdempetan menempel di tembok, menghadap ke pintu. Entah siapa yang menatanya seperti itu.
Sebelum Jav meraih ransel yang satunya, matanya memindai ke ruangan tempatnya berada sekali lagi. Ruang rawat inap ini cukup luas dihuni anak-anak yang sakit sebanyak 12 orang. Ranjang mereka agaknya diatur sesuai request-----Jav tidak tahu ternyata rumah sakit menuruti request semacam membiarkan dua ranjang yang masing-masing dihuni pasien di tata berdempetan. Lalu ditambah nakas di masing-masing sisi tempat tidur mereka. Berarti dua nakas yang jadi persinggahan barang bawaan dari tas dan ransel adalah nakas yang diambil dari luar. Tidak ada korden yang biasanya Jav lihat sebagai penyekat antar pasien. Lalu dua kamar mandi dalam ruangan. Lantai yang alih-alih berbau antiseptik, Jav malah mencium bau super pel anggur. Seumur hidupnya, Jav tidak pernah tahu ada bangsal rumah sakit senyaman ini.
Ransel kedua memiliki strip merah memanjang. Isinya nyaris sama dengan ransel pertama, ditambah dua pasang sandal jepit, dan satu ikat gantungan baju. Isi tas jinjing lain lagi. Jav kira ketika dia menyebut isi tas jinjing dan ransel adalah batako atau kayu bukan sesuatu yang hiperbola mengingat memang banyak barang bawaan di dalam sana. Ada tiga tumpuk buku dongeng, tujuh tumpuk puzzle spongebob dan power puff girl ukuran sedang, dan monopoli di dalam tas jinjing. Lalu Jav kembali menemukan kaos dan celana berbeda ukuran, sampai bedak, kuncir rambut, dan sisir. Lalu dua tumpuk buku cara menanam sayur dan buah, alat tulis, tas P3K yang cukup berat ketika Jav keluarkan dari tas itu, dan masih banyak lagi. Jav capek sendiri mengabsen mereka satu-satu.
Setelah menata barang-barang di dua nakas itu, Jav segera menata 12 gelas dan menuang air jeruk dari tremos. Pemuda itu faham, jadi usai mengisi gelas dengan air jeruk, Jav memberikan gelas ke masing-masing nakas milik pasien berikut tutupnya.
"Iya, sama-sama." Jav balas senyum.
"Oit! Nama lo siapa?"
"Aku? Aku Javero."
Melihat barang-barang yang Jav susun, Taria mendengus kecil. "Ternyata begini cara cowok nata barang, ya. Ngga apa-apa deh, bisa dimaklumi. Makasih ya Javero."
"Iya. Aku boleh pergi?"
Taria melambaikan tangan. "Jangan dulu, nih, minuman buat lo." Taria menyodorkan gelas plastik berisi air jeruk padanya. "Minum,"
Karena haus, Jav menerima jeruk hangat itu. Lumayan buat Jav yang belum makan apa-apa sejak pagi. Cowok itu lebih dulu melepas masker yang masih saja dia pakai. Mengusap wajahnya sebentar dengan lengan jaket Ojolin, lantas baru minum. Rasa asam dan hangat dari minuman itu membuat Jav mengernyit pelan namun setelahnya merasa tenggorokannya menghangat. Jav hendak mengembalikan tutup tremos ketika dia melihat Taria memandangnya dengan ekspresi kesal.
"Kenapa?"
"Kenapa lo bilang?"
Jav mengernyit lagi. "Apa?"
"Jadi wajah lo nggak b***k? Wajah lo cakep gini dan kenapa nggak marah waktu gue ngatain wajah lo b***k? Lo juga nggak kelihatan tersinggung waktu gue ngasih Lo duit rada banyakan dan gue bilang itu buat beli skincare, kenapa????" Taria mangap, dia kaget. "Lo bohongin gue ya!? Lo mau morotin gue karena gue kelihatan anak orang kaya??? Iya?!"
Berkat omelan Taria, pasien anak-anak di bangsal ini terbangun untuk kali kedua.
Baru kali ini Jav diomeli karena dia tampan. Ini baru tidak biasa.
Memang watak Jav yang lempeng. Terbukti dari cowok itu tidak mudah tersinggung dan jujur dengan isi hatinya. Walau tidak terang-terangan, Jav tidak menolak bila diberi uang. Dikatain punya wajah b***k, sampai dituduh morotin cewek, reaksi Jav lurus saja, tidak ada riak marah atau kejengkelan dari ekspresinya. Hal ini mendorong gadis di depan Jav memutuskan bahwa asumsinya jika Jav memang memanfaatkannya adalah benar.
"Oke, jadi, lo pakai masker, pura-pura punya wajah jelek, iya-iya aja waktu gue suruh, itu semua buat bikin gue kasihan sama lo, gitu?" Taria menyilangkan kedua tangannya kedepan. ekspresinya tidak bersahabat.
"Pertama, aku mau kita ngobrol di luar bukan di dalam kamar ini. Kamu bikin semua pasien di sini keganggu."
Gadis yang dinamai Taria oleh Jav itu menoleh kesamping kanan dan kirinya. Semua pasang mata di bangsal luas dan nyaman itu melihat mereka dengan pandangan bertanya. Tahu kalau sudah membuat sedikit keributan, Taria berjalan mendekati salah seorang dari anak-anak sakit itu. Terlihat cukup jelas kalau anak yang Taria datangi adalah anak tertua dari yang lain. Terlihat dari postur tubuh dan sikapnya. Taria agaknya berpesan sesuatu pada anak itu. Setelahnya Taria keluar bangsal, disusul Jav.
Keduanya berhenti di taman rumah sakit yang letaknya di samping bangsal tempat adik-adiknya Taria dirawat---Jav memilih menganggap mereka adik-adik Taria karena dia tidak punya ide lain menganggap anak-anak itu siapnya Taria hingga Taria mau membawa barang bawaan segitu banyak untuk mereka. Taman itu masih lengang. Karena letaknya di lantai empat, taman yang cukup hijau itu tidak terlalu luas. Walau begitu ada beberapa pasien beserta pendamping mereka tengah duduk di kursi taman untuk menjemur badan. Jav merogoh saku jaket biru dongkernya. Mengangsurkan dua ratus rupiah pada gadis yang bersungut-sungut marah di depannya.
"Aku balikin uang kamu."
Taria balik mendorong tangan Jav. "Nggak. Gue pantang ngambil sesuatu yang udah gue kasih."
"Aku nggak bisa nerima uang ini kalau kamu nggak ikhlas."
"Oke, gue masih ngerasa dibodohi oke?"
"Sebelumnya kamu nggak ngasih aku waktu buat jelasin. Waktu di depan rumah kamu tadi, kamu langsung ambil kesimpulan kalau wajah aku b***k hanya dengan aku terus nutup wajah aku pakai masker. Lalu, kamu ngasih aku bonus segini banyaknya untuk aku gunain beli skincare." Jav menjelaskan dengan ekspresi datar. Datar karena memang itu ekspresi yang dia bisa. "Aku cowok. Aku juga manusia. Nggak ada manusia yang nolak dikasih duit."
"Jadi lo bantuin gue angkat tas segitu berat.. lo mau bonus gue doang?"
"Iya."
Taria menatap mata Jav. Tidak ada keraguan dari wajah cowok itu. Taria mengusak rambut sendiri. Merasa kalau Jav adalah spesies cowok unik yang belum dia jumpai seumur hidupnya.
"Oke," Taria mengangkat tangan. "Lo ambil duit itu. Satu lagi," Taria merogoh kantung Jeansnya dan mengeluarkan selembar uang. "Ah, adanya ini," cewek itu meraih tangan kiri Jav yang bebas dan menepuk uang yang dia bawa kesana. "Adanya 35 ribu, itu bonus yang gue janjiin karena lo bantuin nata barang-barang tadi dan nyiapin minum."
"Terima kasih, Taria."
"Bentar, siapa tadi, Taria?"
"Iya, itu nama yang ada di display name penumpang di aplikasi Ojolin. Nama kamu 'kan?"
"Bukan! Taria itu nama Bi Ria. Perempuan yang tadi pagi bukain pintu rumah buat lo. Gue pakai akun Ojolin dia buat pesen ojol."
Jav menggaruk tengkuknya. Dia salah paham. "Maaf, aku ngira nama kamu Taria."
"Nope."
"Terus, nama kamu siapa?"
"Nama gue Ghaisani. Panggil aja Tsani."
"Terima kasih, Tsani."
"Sama-sama. Tapi gue masih nggak ngerti kenapa lo nutupin wajah cakep lo? Bukannya pakai masker panas? Lo sampe keringetan gitu, lo betah?"
"Justru karena wajah aku cakep. Aku harus nutupin biar ngga diliat orang lain---terutama cewek."
Taria tertawa mendengarnya. "Kok lucu ya di telinga gue. Emang ada sejarah tertentu yang bikin lo milih lebih mending kepanasan daripada nunjukin muka?"
"Ada." Jav memilih menjawab begitu saja. Dia tidak mau cerita tentang penumpang perempuan yang terus-terusan mengejarnya sampai rela memberikan seluruh uangnya, atau membujuk agar Jav mau stay cation di salah satu hotel bersamanya, dan cerita-cerita lain tentang kelakuan penumpang wanita padanya, diketahui orang lain.
"Oke," cewek itu, Tsani, memahami maksud Jav. Lagipula apa yang disembunyikan Jav tidak penting untuknya. "Lo beneran boleh pergi sekarang. Makasih udah bantuin gue, Javero."
Javero berlalu. Punggungnya sudah hilang di balik tembok. Tapi pandangan Tsani masih ke arahannya.
Lucu juga itu cowok.
*
Rei terbangun karena mendengar gelak tawa. Cowok itu mencoba mengambil posisi lain untuk lanjut tertidur. Miring ke kiri, miring ke kanan, tengkurap. Merasa memang rasa kantuknya sudah hilang dan kini saatnya bangun, Rei membuka mata. Pemuda itu mengerjap, menyesuaikan cahaya matahari yang masuk lewat jendela yang sudah terbuka. Itu pasti kerjaan Jav. Walau sering dijahili, seperti pagi tadi tiba-tiba menendang pantatnya, Rei kadang suka malu sendiri dengan tingkah Jav ketika anak itu mode rajin. Rei turun dari kasur sambil mengusap tengkuknya. Semalam dia kehujanan ketika pulang dari restoran cepat saji tempatnya bekerja part time. Rei sudah bawa jaket dan jas hujan. Tapi dua benda itu tidak bisa menyelamatkan Rei dari dinginnya air hujan. Kelihatannya saja badannya kuat, nyatanya Rei hanyalah remaja tingkat akhir yang bermusuhan dengan rasa dingin. Kena es kebanyakan sedikit saja, Rei pilek. Dan kini sebab hujan, Rei merasa meriang.
Suara gelak tawa semakin jelas ketika Rei keluar kamar. Sumbernya dari ruang tengah yang dekat dengan tangga menuju jemuran. Rei melihat jam, pukul 6 lewat 35. Cowok itu mengambil minum di dispenser di dekat sana lalu duduk di sofa bergabung anak kost yang lain yang tengah menonton berita pagi. Biasanya anak-anak kostan yang tengah main game atau nonton tv ini punya kelas siang dan meluangkan waktu untuk me-time.
Rumah indekos ini adalah sebuah bangunan berisi 8 kamar yang masing-masing kamar ditempati 2 orang. Kini ditempati 13 orang saja. Fasilitasnya tidak lengkap memang, tapi cukup untuk menunjang kehidupan di tanah rantau para penghuninya yang kebanyakan anak kuliahan. Hari ini dosen yang mengajar Rei tengah cuti. Makanya Rei bertahan di kasur lebih siang dari biasanya. Walau tidak ada KBM, Rei tetap ke kampus untuk rapat UKM* nanti siang.
"Woy!"
Rei tersentak. Cowok itu mendongak menatap Evan yang barusan menoel pundaknya. "Kenapa, Bang?"
"Lo pesen soto ya buat sarapan? Kok kagak ngajak-ngajak, sih?"
"Soto? Gue kagak pesen soto tuh, gue baru bangun malah,"
"Itu, ada bungkusan di atas pantry. Katanya anak-anak punya lo."
Rei berdiri mengikuti evan ke dapur, mendekati bungkusan berplastik bening yang diwadahi mangkuk dalam keadaan setengah panas. Sembari mengingat-ingat siapa yang berpotensi mengirimi soto padanya, Rei bergerak ke wastafel untuk cuci muka dan berkumur. Mami berada terlalu jauh untuk bisa mengiriminya soto dalam keadaan masih hangat. Rei sangsi Jav membelikannya soto karena anak itu bilang sendiri padanya kalau dia tengah butuh banyak uang. Apalagi pas banget, Rei tengah merasa demam dan tiba-tiba ada yang mengirim makanan kesukaannya. Otak Rei mendadak ngadat macam mesinnya Jaya di musim hujan. Jadi, siapa?
"Sarapan, Bang," tawar Rei pada Saki yang masuk ke dapur. Kaka tingkat itu bergabung dengan Evan untuk membuat sarapan.
"Lo beli soto?"
"Kagak. Kayaknya ada yang ngirim."
"Siapa?"
"Reiki! Lo dapat kiriman sot-- ah, lo udah tahu." Tobing ikut masuk dapur. "Itu tadi ada kurir Ojolin."
"Duit ongkirnya gimana, bang?" tanya Rei sambil menuang soto ke panci kecil. Kuah sotonya terlalu banyak bila hanya diwadahi mangkuk.
"Dari yang ngirim, lah."
"Oh iya, siapa yang ngirim, bang?" tanya Rei penasaran.
Evan dan Saki ikutan berhenti dari acara menceplok telurnya. Ikut penasaran siapa gerangan yang mengirimi Rei soto.
Tiba-tiba jadi pusat perhatian, Tobing jadi kebingungan. "Lah... gue lupa nanya tadi karena keburu air buat kopi gue mendidih.."
"Yahhhh...."
"Kalau mau ambil aja nih, masih ada banyak." Rei menuang nasi di bakul yang disediakan Ibu Kos. Lalu menuang kuah soto hingga nasi yang dia ambil tertutup kuah. "Sarapan, bang." setelah menawari semua orang yang ada di dapur, Rei berlalu menuju kamar.
Sampai di kamar, Rei segera menaruh mangkuk sotonya di meja makan dan duduk di kursi karena tiba-tiba kepalanya pening. Rei rasa dia harus mengambil istirahat lagi setelah minum obat. Di tengah upayanya menandaskan soto, sebab mulutnya terasa pahit dan tenggorokannya sakit untuk menelan, Rei berfikir dia akan bolos UKM dan kerja saja hari ini. Usai menghabiskan sotonya, Rei ke dapur untu mencuci mangkuk dan sendok yang dia gunakan. Setelahnya duduk kembali di kursi pantry dengan segelas air hangat dan Paracetamol di tangan. Cowok itu menekuri bungkus obat di tangannya. Pikiran Rei mendadak kosong, dan setelahnya, secara tiba-tiba, muncul sebuah nama di kepala Rei.
Parama Tifhana.
Tanpa kata lagi, Rei berlari dengan membawa gelas dan obat ke kamar. Karena gerakan impulsif Rei yang mendadak, Saki yang tengah berdiri di tengah antara lorong kamar dan ruang tengah sampai termundur untuk memberi jalan. Tobing yang ingin lewat berteriak kaget karena nyaris terpeleset oleh air tumpahan dari gelas Rei. Dengan berteriak pula, Rei bilang minta maaf. Nggak ada sopan-sopannya. Saki dan Tobing melongo melihat Rei seperti orang yang tengah mendapatkan undian yang dalam lima menit akan hangus jadi dia harus segera melakukan klaim.
Di kamar, cowok itu menaruh obat dan gelas air ke nakas lalu mulai grasak-grusuk lagi mencari ponsel. Rei mengusap titik keringat di keningnya. Pasti karena soto hangat yang ikut membuat tubuhnya menghangat. Memikirkan soto, Rei mendadak gugup. Benda yang bisa menghubungkannya dengan banyak orang di tangannya tiba-tiba jadi benda yang mampu membuat Rei mengalami perubahan hidup drastis.
Rei lantas mengerjap. Merasakan kalau dirinya drama abis!
"Nggak,deh, jangan chat. Telefon aja. Syukur kalau dia angkat. Kalau nggak, baru chat. Oke," Rei menarik oksigen dan melepaskan karbondioksida dalam gerakan pelan. Entah kenapa ritme jantungnya bertambah cepat. Rei menunggu panggilan tersambung dengan harap-harap cemas.
"... Rei?"
Astaga, dia nyebut nama gue. Batin Rei heboh sendiri. "Halo, hai Han..."
Rei yakin. Kalau ada Jav disini dan memergokinya. Anak itu pasti akan mengatakan, "lemes banget kayak rempeyek kena sambal pecel!"
Tapi Jav tidak ada disini. Jadi Rei bebas salah tingkah tanpa harus menanggung ejekan.
"Gue nelfon karena mau nanya... lo ngirim soto ke kosan gue, ya?"
"Iya, gue mau chat lo tadi tapi lo udah telfon duluan."
Rei mengusap tengkuknya. "Dalam rangka apa?"
"Kemarin gue nggak sengaja liat lo di lampu merah dekat kampus. Gue... lo kan nggak bisa kena hujan dan biasanya langsung demam, jadi gue kira bukan sesuatu yang berlebihan kalau gue ngirimin lo soto."
Otak sama hati gue yang nanggepinnya berlebihan, Han. "Oooh, gitu, makasih Han, soto ayamnya enak, kuahnya gurih. Lo beli di mana?"
"Eung... Itu, sebenarnya sotonya gue yang masak, Rei. Syukur deh kalau enak."
Rei nge-bug. Perasaan bersalah menyusup ke hatinya.
"Gue wadahin kantong plastik karena gue nggak punya wadah tertutup yang bisa bikin sotonya aman sampai kosan lo."
"..."
"Gue sengaja bungkus di plastik besar biar bisa lo bagi-bagi, atau bisa lo panasin lagi buat makan siang nanti."
"..."
"Halo?"
"..."
"Rei?"
Bisa ditebak dan dibayangkan kalau Rei lagi speechless...
[/].