O3: Mas-mas dan Mie Cup
–/–
Efek samping usai menelfon Tifhana ternyata masih sama dengan yang sudah-sudah.
Rei berguling-guling ke kasur dan berakhir dengan posisi terlentang. Cowok itu senyum-senyum sendiri menatap langit-langit kamar kosnya. Entah kenapa membayangkan wajah Tif yang nyaris tidak pernah memakai make up terbayang di otaknya. Dua bulan belakangan mengenal Tif sejak insiden lift macet di rumah sakit, Rei mengasumsikan Tif adalah cewek yang menolak ribet. Tif senang memakai pakaian yang menurutnya nyaman, memakai bedak dan lipbalm secukupnya lalu seringnya menguncir satu rambutnya atau sekedar dicepol asal. Gadis itu sederhana. Walau sederhana begitu, Tif punya kecantikan alami tersendiri.
Rei yakin pemuda yang menyadari kecantikan Tif bukan dirinya seorang. Mungkin bila Tif mau, dia bisa menggaet superstar kampus untuk dijadikan gandengan atau sekedar jadi ojekzone. Tapi agaknya Tif terbiasa biasa-biasa saja ketika dia bisa berpenampilan luar biasa. Dan hal sederhana dari Tif itu yang membuat Rei tertarik.
Terakhir mereka bertemu sekitar dua minggu yang lalu ketika Rei mengajaknya nonton bareng di ruang teater FISIP. Tiap Jum'at, angkatan Rei diberi tugas meresensi film. Kejadian itu diluar rencana. Rei sengaja mampir ke kantin teknik karena di sana ada ketoprak enak. Rei ingin makan siang dengan ketoprak. Tanpa menyangka dirinya akan bertemu Tif yang juga tengah mengantri untuk mendapatkan makan siang. Alhasil, keduanya makan siang bareng. Karena Tif tengah longgar, gadis itu tidak memiliki jadwal kelas lagi setelah itu, Rei mengajaknya nonton ke ruang musikal.
Sebab kegiatan itu hanya diperuntukkan untuk anak IlKom saja, Rei sempat menggunakan jaketnya untuk menutupi Tif agar tidak terdeteksi ketua jurusannya yang hari itu berjaga di muka pintu teater. Entah Rei yang kelewat pintar atau si ketua jurusan ini tengah meleng sedikit, penyelundupan itu berhasil. Rei mengajak Tif duduk di deretan belakang. Sengaja karena kursi disana dekat dengan jendela besar ruang teater. Tif tidak bisa duduk tenang di ruangan tertutup terlalu lama tanpa adanya jendela besar yang membuatnya bisa melihat kearah luar.
Claustrophobia. Pengidapnya bisa mengalamai mual dan pusing, bahkan pingsan bila berada di dalam ruangan sempit. Dalam kondisi Tif, tanpa ada ventilisasi memadai (baca: jendela kaca lebar), dia akan mengalami gejala tersebut. Apa yang Tif alami sudah Rei ketahui sejak mereka terjebak dalam lift yang macet di rumah sakit lalu. Sampai sekarang Rei masih ingat wajah ketakutan Tif dan bagaimana pernafasan gadis itu terganggu ketika mereka harus menunggu untuk di keluarkan oleh petugas. Padahal lift itu transparan karena terbuat dari kaca tebal.
(Alasan kenapa Tif menaiki lift itu sebab Tif merasa akan menaiki lift dalam kurun waktu tidak lama. Namun siapa yang tahu ada gangguan pada kabel lift lalu terjadi kejadian yang tidak terduga).
Rei ke rumah sakit untuk check up setelah sebelumnya dia mengalami tifus. semua orang di dalam lift biasa-biasa ketika menaiki itu awalnya. Namun ketika lift mengalami malfungsi hingga berhenti bergerak dan orang-orang di dalam lift terjebak (termasuk Rei dan Tif). Dimenit-menit awal semua masih baik-baik saja. Namun ketika waktu menginjak delapan menit, seorang gadis yang kemudian Rei kenal dengan Tifhana mulai menunjukkan tanda-tanda seperti yang sudah Rei sebut tadi.
Karena semua orang panik, Rei berusaha tenang. Fisiknya lemah karena masih sakit. Tapi jelas keadaannya lebih baik ketimbang Tifhana yang merikuk ketakutan, berkeringat dingin, dan mulai kesusahan bernafas. Rei mencoba menenangkan gadis itu walau tidak tahu Tifhana kenapa. Untung saja keadaan yang mengejutkan itu tidak berlangsung lama karena pertolongan segera datang.
Karena sikunya mengalami luka-luka akibat benturan ketika kecelakaan lift, Rei dan orang-orang di dalam lift mendapatkan penanganan medis segera setelah berhasil dikeluarkan. Ketika tengah diplester oleh petugas, tahu-tahu gadis yang dia bantu tadi mendatangi Rei. Mereka berkenalan dan menyebutkan nama masing-masing. Kemudian, Tif bertanya apa Rei adalah mahasiswa Atma Digdaya. Respon Rei langsung heboh.
"Kok lo tahu????"
"Karena itu," arah pandang Tif ke gantungan kunci di tas ransel yang Rei bawa. Gantungan yang berbandul emblem kampus. "Gue kenal bandul itu. Karena gue juga bagian dari Atma Digdaya."
"Wah, pas banget." Ujar Rei tanpa sadar.
"Apa?"
"Nggak apa-apa. Jadi lo anak fakultas mana?"
"Gue anak Teknik. Semester empat."
"Sama dong, gue juga semester empat. Gue anak FISIP."
Dari obrolan itulah Rei mendapatkan id Instakilo Tif. Mereka saling follow. Saling menyapa lewat DM (Sebenarnya Rei yang menyapa dulu, sekedar bertanya apa Tif sudah lebih baik). Lalu bertukar nomor ponsel karena berkirim chat lebih nyaman ketimbang DM.
Bila diberi kesempatan bereinkarnasi, Rei akan memilih kembali menjalani peristiwa itu dari sekian banyak peristiwa yang ingin Rei ulang dalam hidupnya. Sebab bila bukan karena kejadian tidak terduga itu, Rei tidak akan mengenal Tif.
"Soto?" Rei mengusak rambutnya. "It's just a form of attention between friend, Rei. No need to feel special." monolognya sambil menyambar handuk. Tapi dimasakin soto sebanyak itu dan seenak itu sama cewek macam Tifhana gimana hati ini nggak kebawa perasaan.... COBA TOLONG MASA BAPERNYA BENERAN RASANYA BOHONGAN????
Rei masuk ke level meleyot sodara-sodara.
Selepas mandi, cowok itu merasa segar kembali dan merasa meriangnya hilang.
Apa imun tubuh gue naik karena soto Tif? Bisa jadi. Apa enaknya gue ganti traktir Tif itung-itung buat kata terima kasih?kayaknya itu bisa jadi kesempatan kita ketemu dan ngobrol.
Merasa gagasan mentraktir Tif nggak buruk-buruk amat direalisasikan (Rei sama sekali nggak keberatan buang duit buat mbak gebetan). Pemuda itu lanjut berpindah posisi ke pinggir kasur tempat ponselnya berada. Dengan tangan kiri mengeringkan rambut, jari-jemari kanan Rei bergerak di atas layar ponsel.
Reiki Han, hari ini lo kelas apa
Reiki kalau kelas siang, bisa nanti mampir bentar ke kubikel?
**
Cahaya matahari siang menyusup masuk melalui jendela ke bangsal tempat para anak panti dirawat. Melihat mereka bisa tersenyum dan tertawa ditengah keadaan tubuh yang sakit membuat Tsani bersyukur hari ini dia masih diberi kesehatan. Anak-anak panti berjumlah dua belas orang di ruangan ini diasuh dan dirawat oleh yayasan milik kakek Tsani. Papa sendiri penanggung jawab mereka semua, sekaligus menjadi wali. Karena sudah dekat dengan kedubelasnya seperti kakak dengan adik. Tsani sedih ketika mendengar berita kecelakaan bus yang membawa mereka sehari yang lalu.
Awalnya cukup membuat gembira. Anak-anak panti akan pergi berlibur ke pantai dan kebun binatang ke kota terdekat. Liburan perdana setelah anak-anak panti pindah ke rumah panti yang baru. Tsani sendiri yang ikut mengantarkan mereka berduabelas berikut dua pengasuh dan seorang pengawal yang dimintai menjaga secara khusus oleh papa. Tsani juga sempat mengambil beberapa foto sebagai dokumentasi. Sebelum kemudian rombongan berangkat, dan Tsani melambai dari tempatnya berdiri pada bus yang membawa mereka. Tanpa menyangka bahwa delapan belas jam setelahnya, Tsani mendapatkan telefon bahwa bus yang membawa rombongan panti asuhan Gemintang mengalami insiden kecelakaan dengan sebuah truk pengangkut.
Hal pertama yang Tsani pikirkan jelas bagaimana keadaan mereka semua. Tsani masih ingat kemarin dia sempat keteteran sebab mengurus segalanya sendiri. Mami tidak di rumah karena perempuan itu harus menghadiri pernikahan sepupu Tsani di Spore. Lalu papa tengah dinas ke Makassar. Bang Alan, kakak Tsani yang kedua juga tidak di rumah karena tengah syuting di NTB. Di rumah Tsani sendiri berteman hanya dengan Bi Ria. Melalui arahan Bang Saif, kakak pertama Tsani yang sudah berkeluarga dan memiliki rumah sendiri, akhirnya Tsani menyabotase satu ruangan di rumah sakit milik kakek. Sebelum itu Tsani lebih dulu meminta izin agar kakek memperbolehkan dirinya memanfaatkan apa yang dia bisa dan dia punya untuk kebutuhan rombongan panti Gemintang yang mengalami kecelakaan. Tentu saja kakek setuju. Lalu, disinilah anak-anak panti berada. Di satu ruangan yang sama. Dengan begini, Tsani mudah mengawasi dan menjaga mereka.
Sedangkan dua pengasuh, satu pengawal, dan sopir bus berada di ruang lain yang memiliki fasilitas kesehatan lebih mumpuni ketimbang bangsal biasa sebab luka-luka yang mereka derita lebih parah ketimbang anak-anak.
Papan puzzle dan buku bacaan yang Tsani bawa untuk mereka mulai ditumpuk di nakas. Mereka akan makan siang. Sebuah ketertiban sederhana bahwa kalau makan jangan sambil bermain.. Tsani membagikan makanan satu-persatu pada mereka. Sembilan porsi nasi dan tiga porsi bubur. Makanan bubur hanya untuk mereka yang mengalami benturan di area rahang dan mulut ketika kecelakaan. Mereka kesulitan makan makanan kasar.
"Nanti sampahnya dibuang. Kalau udah selesai taruh ke troli. Baru habis itu kakak kasih buah." Tsani menatap satu persatu wajah anak-anak itu. "Kakak mau ke bawah cuci muka sebentar. Nanti kakak balik lagi." Beberapa mereka mengatakan 'iya'. Yang lain mengangguk dan mulai makan.
Tsani keluar ruangan rawat setelah memastikan sekali lagi semua anak di dalam tengah makan. Alih-alih ke kamar mandi untuk cuci muka seperti yang dia katakan, gadis itu memilih duduk di kursi tunggu di depan ruangan.
Tadi, polisi yang menyelidiki penyebab kecelakaan menghubungi Bang Saif yang diteruskan ke Tsani terkait hasil penyelidikan mereka. Dari penjelasan polisi, Tsani bisa menarik kesimpulan bahwa kecelakaan disebabkan oleh sopir truk yang berada dalam pengaruh alkohol dan sopir bus yang harusnya bisa menghindar, sebab mengantuk, malah banting stir kearah yang salah sehingga terjadi kecelakaan. Kedua pihak bersalah dalam kejadian itu. Untuk urusan dengan polisi, Tsani menyerahkan sepenuhnya pada Saif.
Ponsel di saku Tsani bergetar. Sebetulnya ponselnya sudah bergetar sejak tadi, tapi Tsani abaikan sebab dia harus menemui dokter untuk bicara mengenai kondisi semua korban dari Gemintang. Kemudian mengunjungi para korban dewasa dan memastikan mereka mendapatkan perawatan yang seharusnya. Lalu ke apotik RS mengambil obat, belum lagi membasuh anak-anak panti satu-persatu dengan waslap untuk mengganti kegiatan mandi. Tsani betulan sibuk hari ini.
Banyak sekali chat masuk. Tsani sengaja mengabaikan semua chat masuk dan langsung membuka grup chat kelas. Tsani merasa lega ketika hari ini hanya ada satu kelas. Dengan kata lain hari ini Tsani hanya bolos satu mapel saja. Seenggaknya dia nggak banyak ketinggalan.
Setelah mendownload tugas yang dikirim ketua kelasnya. Tsani baru berpindah ke grup chat teman-temannya yang ramai. Jika ramai begini, biasanya membahas dosen muda FIB yang mengajar mapel listening Inggris. Sebagai mahasiswa sastra Inggris yang up to date, teman-teman Tsani dan Tsani sendiri biasanya juga menjadikan grup itu serupa grup admin congor turah. Membahas gosip kampus dari yang paling penting sampai ke yang nggak penting-penting amat seperti populasi cicak di kantin FBS semakin hari kian banyak. Kadang juga bahas fashion item macam cluth, skirt, denim. Kadang juga bahas.... cowok ganteng. Ya gimana ya, namanya juga cewek. Kadang-kadang bahas cowok mana yang berpotensi become a prince di hidupnya seorang upik abu. Hari ini grup circle Tsani itu membahas dosen yang nyebelin abis. Tsani hanya scrolling kebawah dan menjawab pertanyaan tentang dimana dirinya berada. Beberapa teman ingin datang ke RS. Tsani mempersilahkan mereka.
Berhubung tengah memegang ponsel, Tsani tergerak untuk menelfon balik papa yang sejam lalu sempat miscall nomornya. Hendak mengabari kalau semua anak-anak panti sudah membaik. Namun gerakannya tertahan ketika mendengar namanya dipanggil dari kejauhan. Tsani spontan berdiri menyambut.
"Mami?"
Dari ujung koridor, Mami berjalan dengan tergesa. Wanita itu menjinjing sebuah tas. Pakaiannya menunjukkan kalau Mami adalah wanita karir berintegritas tinggi. Dengan make up tipis dan wajah yang dirawat sebulan sekali, Mami terlihat seperti wanita akhir 30-an jika tidak tahu kalau Mama sudah memiliki tiga orang anak dan dua cucu. Wanita itu segera merengkuh Tsani dalam pelukan ketika keduanya sudah dalam jarak dekat.
"Maafin Mami lama."
"Mami datang dari Bandara?''
"Iya, Mami khawatir sama kamu makanya langsung kesini." Mami melongok ke dalam bangsal rawat. "Mereka lagi apa?"
"Lagi makan. Makanya pada anteng."
"Kamu beneran nggak ngampus?"
Tsani menggeleng.
"Sukanya bolos. Nggak lulus tahu rasa."
"Kan aku bolos buat bantuin orang sakit, Mam." Jawab Tsani dengan muka bijak.
"Iya deh. Kamu udah makan?"
"Udah."
"Sama apa?"
"Aku tadi makan mie cup. Masih kenyang."
"Makan yang bener, Tsan. Katanya ngurus orang sakit. Harus makan banyak biar nggak lemes. Mami mau masuk kedalam."
"Yurika sama Anya mau datang, Mi. Aku mau cari minum buat mereka."
"Sekalian beli makan siang yang yang proper. Asam lambung kumat nanti nangis."
Tsani mengacungkan jempolnya. Mami berlalu masuk ke dalam. Sedangkan di tempatnya, Tsani masih berdiri melihat pintu bangsal yang tertutup.
Kembali bersyukur lagi pada Tuhan, keadaannya lebih baik dari anak-anak kurang beruntung di balik pintu itu.
**
Kubikel dalam KBBI mempunyai arti kamar atau ruangan kecil bersekat.
Tempat dimana Rei bekerja part time selepas kuliah. Makna yang ingin disampaikan sang pemilik restoran dengan memberikan nama Kubikel pada restoran yang dia bangun, adalah memberi ruang pada setiap pengunjung untuk memasuki dunia yang mereka senangi tanpa ada gangguan apapun. Karenanya interior Kubikel di buat bersekat non-permanen dengan jarak tertentu yang masih nyaman dan tidak terlihat sempit. Dan sekat itu sendiri bisa dibuka tutup secara mudah. Sehingga ruangan bisa lebih luas lagi apabila dibutuhkan dengan tinggal membuka sekat-sekat yang ada. Seperti kali ini sekat-sekat itu dibuka untuk acara ulang tahun.
Kubikel ramai. Wajar, jam menunjukkan pukul dua belas dan ini saatnya orang-orang makan siang. Rei sibuk melayani tamu acara ulang tahun. Mengantarkan minum, dan memastikan menu yang dipesan tidak kurang. Pekerjaan yang cukup mudah bagi pemuda berbadan bugar seperti Rei. Rei banyak tersenyum pada anak-anak yang dia temui. Salah satu service pada pengunjung terutama anak-anak agar mereka tidak takut dan merasa nyaman.
Acara usai menjelang pukul 1 siang. Begitu tamu-tamu pergi, Rei bergegas membersihkan sisa acara. Di tangan kirinya ada cairan pembersih dan tangan kanannya ada kanebo. Cowok itu cekatan menaruh piring-piring kertas yang sudah kosong ke troli yang difungsikan untuk tempat wadah kotor. Setelah piring, sendok, lalu gelas masuk ke troli, Rei baru membersihkan meja. Rei juga sengaja lewat di titik yang terlihat CCTV. Gunanya agar dia terlihat rajin. Tentunya Rei tidak bekerja sendiri. Ada dua orang yang lain yang satu membersihkan atribut acara dan yang lain melakukan pekerjaan sama dengan Rei.
Rei kemudian beralih menuju meja yang lain. Hanya beberapa sekat yang di buka untuk acara dan sisanya untuk pengunjung lain yang datang. Rei masuk ke satu kubikel dan mendapati seorang pemuda meringkuk dengan kepala tertelungkup ke meja.
"Mas? Mas?" Rei menepu punda pemuda itu. Berusaha membangunkan. "Mas keringatan, apa Mas sakit?"
Pemuda itu menggeleng. Masih dengan posisinya.
"Mas mau saya ambilin minum?"
Pemuda itu menggeleng lagi. Sekitar lima detik setelahnya, pemuda itu mengangkat kepala.
"Mas, apa badutnya udah pergi?" Tanyanya parau.
"Hah? Iya, badutnya udah pergi karena acaranya udah selesai."
Pemuda itu perlahan bangkit dari posisinya. Seolah dia tengah mabuk laut, pemuda itu sedikit terhuyung ke samping dan pemuda itu betulan akan jatuh bila Rei tidak menahan badannya.
"Mas kena darah rendah, ya? Duduk di sini aja dulu, saya pesenin Ojolin."
"Nggak usah." Pemuda itu menepis tangan Rei lalu mengambil ranselnya di meja. Pemuda itu berjalan pelan sekali sambil memegangi perutnya. Takut-takut pemuda ini pingsan dan jatuh ke lantai, Rei mengikuti langkahnya dari belakang. Benar saja, baru tujuh langkah, pemuda itu kehilangan keseimbangan dan nyaris terjatuh. Rei dibantu Jio, pegawai lain yang datang mendekat setelah melihat sesuatu terjadi. Mereka berdua mencoba mendudukkan pemuda itu kembali ke kursi terdekat.
"Mas duduk di sini dulu, kayaknya Mas kurang sehat. Kami antar ke rumah sakit--"
"Enggak," pemuda itu menggeleng. "Gue bisa jalan."
Dengan gerak pelan dan pasti, pemuda itu bangkit dan keluar dari Kubikel. Takut-takut akan terjadi sesuatu, Rei dan Jio berinisiatif mengikuti dari belakang lagi.
Pemuda itu nampak benar-benar lemas dan keringat dingin. Berjalan saja sempoyongan. Memang terlihat seperti orang mabuk laut, terlihat lemas dan tidak kuat berjalan. Karena itu Rei membantu untuk memapah pemuda itu dan menyuruh Jio memberhentikan taksi.
"Makasih banyak." pemuda itu melihat ke arah Jio dan Rei sejenak sebelum masuk taksi dan mengatakan alamat mana yang harus taksi tuju untuk bisa mengantarkannya pulang.
[/].