"Maira kemarin Pak Arya sudah menjelaskan semua job desk kamu hari ini kan?" tanya pak Kasim.
"Sudah Pak," jawabku.
"Bagus, sebelumnya akan saya infokan kalau dalam penyaluran dana korban bencana nanti, kita akan bekerjasa sama dengan salah satu perusahaan swasta. Setelah job desk kamu hari ini selesai, segera temui pemilik perusahaan untuk menandatangani sejumlah berita acara," jelas pak Kasim atasanku itu.
"Baik Pak," jawabku.
Sebenarnya tugas dari Pak Kasim kali ini sangat sepele, hanya meminta tanda tangan pemilik perusahaan yang biasanya bisa dititipkan ke bawahan saya sudah beres.
Tetapi Pak Kasim meminta saya turun tangan sendiri, karena pemilik perusahaan kali ini sangatlah penting bagi banyak pihak, perusahaan ini adalah donatur dengan nominal terbanyak dan terkonsisten dalam membantu. Pak Kasim tidak mau ada kegagalan maupun citra buruk sedikitpun tentang instansi pemerintah dimata donatur.
Beruntung sekali saya bisa bekerja dalam satu divisi dengan Pak Kasim, karena orangnya sangat jujur, baik, dan tegas.
*******
Tak terasa hari ini sudah waktunya untuk pulang. Walaupun jobdisk dari Pak Arya belum sepenuhnya selesai, tetapi aku sudah merasa melakukannya dengan maksimal.
Tinggal dilanjutkan esok hari, masih ada waktu sekitar satu minggu ditambah tugas-tugas dari Pak Kasim dan tugas wajib rutin dari kantor.
Sore ini mendung, sepertinya akan turun hujan. Segera ku pacu motor be*t yang ku beli dari hasil jerih payahku.
Sejak aku ketrima PNS 5 tahun yang lalu, aku lebih memilih untuk menabung sebagian besar gajiku, sesekali untuk aku belikan barang kesukaan mama papa.
Walaupun mama papa tidak membutuhkannya, karena gaji mereka sudah sangat cukup bahkan lebih, tetap saja aku ingin memberi sesuatu kepada mereka.
Ketika di tengah jalan menuju kost ku.
"Loh loh kenapa ini motorku tiba-tiba berhenti?" gerutuku.
Apa ini waktunya servis? Ah aku pun lupa kapan terakhir kali aku menyerviskan motorku.
Cuaca sangat mendung, tak lama pasti akan hujan. Ku menepi berusaha menghubungi seseorang untuk mencari pertolongan.
"Halo Fin, motorku mogok nih, lagi dimana? Tau nomor telepon bengkel gak?" tanyaku pada Fina.
"Aduh Ra aku gak tau, kamu dimana?" tanya Fina.
Tiba-tiba HP ku mati.
"Halo halo fin ...."
Ternyata batreinya habis. Lengkap sudah penderitaanku hari ini.
Hujan deras kini turun. Hanya sedikit kendaraan lewat, hari sudah mulai petang. Untung saja hari ini aku sedang haid, jadi tidak perlu khawatir sholat magrib.
Berharap hujan cepat reda, jadi aku bisa berjalan ke rumah warga minta bantuan penduduk untuk mengcharge hp.
Tapi kini aku hanya bisa menunggu dan pasrah sambil melihat hujan yang sebenarnya mendamaikan ini.
Duduk di bangku depan rumah kosong tempat ku menepi, sesekali ku usap lenganku yang mulai kedinginan.
Jalan kaki di tengah hujan tidak mungkin, walau naik motor hanya butuh 5 menit untuk sampai ke kost ku, tapi kalau jalan kaki bisa-bisa aku sakit jadi tak bisa kerja. Besok aku harus bertemu banyak orang.
Tak lama kemudian datang sebuah mobil berwarna hitam mendekat ke arahku.
Tiin tiin..
Pengemudi menekan klakson kemudian membuka kaca mobilnya.
'Siapa itu?' batinku.
"Kenapa di situ? Ayo masuk ikut aku, sudah malam jarang kendaraan lewat. Kamu Maira kan?" Dia berbicara sambil berteriak ditengah hujan deras.
"Kamu siapa?" tanyaku.
"Masuk dulu nanti aku jelaskan," jawabnya.
'Siapa dia? Jangan-jangan penjahat, tapi kenapa tahu namaku?' batinku.
"Sudah ayo, bahaya perempuan sendirian di sini. Lagi pula sepertinya hujannya lama. Tinggalkan saja motornya disini, nanti ku bantu urus," kata laki-laki itu.
Pikirku benar sekali, mengharapkan hujan reda seperti mengharapkan jodoh datang. Hanya Allah yang tahu.
"Tenang saja, aku gak sendiri, ada anak kecil sedang tidur di belakang. Jadi kita tidak sedang berduaan di mobil. Kamu duduk belakang aja," terangnya.
Baik sekali dia, apa dia mengenalku?
Laki-laki itu turun mobil dan memberiku payung. Kemudian membukakan pintu mobilnya bagian belakang.
"Tenang saja aku tidak akan menyentuhmu, kamu bawa sendiri payungnya dan cepat masuk mobilku, keburu air hujan masuk ke mobilku ini cepatlah," katanya.
Terlihat laki-laki itu memakai sweater dan celana panjang, rambut lurus berkacamata.
Sepertinya seumuranku dan dia good looking tapi punya anak, awalnya aku sedikit terpesona, tapi setelah tau dia bawa anak kecil yang mungkin saja anaknya, aku ga jadi berandai-andai lebih jauh.
Eh sepertinya aku pernah tahu sweater yang dia pakai, tapi dimana ya.
Entah kenapa aku menurut saja dan mempercayai laki-laki itu.
Aku pakai payung pemberiannya, langsung bergegas masuk mobil.
Terlihat anak laki-laki usia TK sedang tertidur pulas di kursi, sedikit ku geser kaki anak ini dengan pelan, karena takut mengganggu tidurnya.
"Rumah kamu mana Maira? Biar langsung aku antar pulang," katanya.
"Aku kost di perkampungan depan, belok kanan terus lurus, rumah sebelah kiri nomor 3 cat warna putih pagar hitam," ucapku dengan lengkap, semoga jelas.
"Oh iya apa kamu butuh sesuatu? Makanan mungkin?" tanya laki-lak itu.
"Oh tidak usah makasih, aku bisa beli sendiri di dekat kost ku. Kamu sebenarnya siapa? Kenapa tahu namaku?" Aku penasaran.
"Suatu saat nanti juga kamu akan tahu," katanya sambil tersenyum terlihat dari kaca di dalam mobil.
Aku jadi semakin penasaran tetapi kuurungkan untuk bertanya lagi karena aku semakin kedinginan.
Untung saja tak lama sampai di kost ku. Aku segera turun dari mobil.
"Bawa saja payungnya, aku masih ada lagi. Oh iya motornya nanti aku suruh orang untuk antar kesini, kamu tunggu aja di rumah," katanya.
"Gak usah, aku bisa manggil tukang bengkel sendiri," kataku.
"Udah, tadi aku udah pesen tukang bengkel, nanti diantar kesini habis isya," katanya.
Emang kapan dia pesan bengkelnya? Kayaknya dia bohong, tapi aku iya in aja, aku tunggu sampe isya' sambil charge hapeku.
"Baiklah terimakasih, berapa aku harus membayar?" tanyaku.
"Gak usah, cukup kamu cek ulang email kamu aja. Aku pulang dulu ya. Assalammu'alaikum," katanya.
"Wa'alaikumsalam. Terimakasih banyak," jawabku.
*******
Setelah membersihkan diri dan menemui tukang bengkel yang ternyata memang benar mengantar motorku, kembali aku melihat gawaiku untuk mengabari Fina kalau aku sudah di kost.
"Halo Fin, aku udah di kost. Tadi hp ku mati, terus ada yang datang menolong. Aku diantar sampai ke kost dan motorku dibawakan tukang bengkel ke kost," kataku.
"Oh ya? aku tadi udah panik banget, kamu ga bisa dihubungi, ga tau posisi kamu dimana lagi hujan deres banget. Untung aja kamu selamat gak di gondol orang lewat," kata Fina dari balik telepon yang tampak lega.
"Alhamdulillah gak di gondol, cuma dianter pulang," kataku.
"Eh tadi laki-laki yang nolong?" tanya Fina.
"Iya, dia tau namaku entah dari mana. Aku ga banyak tanya soalnya aku lagi kedingingan jilbabku basah," kataku.
"Oh iya? Terus?" tanya Fina.
"Dia ga mau dibayar, malah aku suruh ngecek email. Apa maksudnya coba? Aneh kan?" kataku.
"Liat email? Jangan-jangan dia admin ta'aruf Ra? Atau dia yang sedang mengirimi kamu CV ta'aruf?" Fina mengatakan dugaannya.
"Hah...??" ucapku sedikit terkejut.
Tak ku jawab pertanyaan Fina, segera ku tutup teleponnya dan mengecek emailku.
********
Ku jalani rutinitasku sehari-hari dari pagi sampai petang. Bertemu dengan pendamping PKH, mengurus donasi, mengatur semua keperluan sumbangan, mengatur administrasi kantor, dan masih banyak lagi. Begitu kompleksnya pekerjaanku.
Begitu melelahkan, sehingga tidak cukup sehari - dua hari. Walau sudah dibantu oleh dua asistenku, tetap saja seperti tidak ada habisnya.
Ketika waktunya istirahat.
"Maira, apa kamu sudah ketemu pemilik perusahaan yang kemarin saya bicarakan? Orangnya kemarin menanyakan kepada saya, kenapa belum ada yang datang dari instansi pemerintah?" tanya pak Kasim.
"Maaf Pak Kasim, rencananya hari Jumat karena saya harus menyelesaikan tugas dari Pak Arya," kataku.
"Baiklah, kalau gitu saya akan bicara kepada CEO perusahaan," kata pak Kasim yang ternyata sangat mengerti keadaanku.
"Terimakasih Pak atas pengertiannnya," kataku.
Pak Kasim sangat baik kepadaku, beliau tau bahwa pekerjaanku lumayan kompleks. Beliau percaya bahwa semuanya akan beres ditanganku, tanpa ada selisih dana, tanpa ada miss pada berbagai aspek, dan beliau akan tetap mempercayai perkataanku.
******
Malam hari di kost.
Ini masih hari Selasa.
Ku ambil kalender meja di kamarku.
Ku tandai hari jumat agar aku tak lupa pesan Pak Kasim untuk pergi ke perusahaan donatur.
Teringat waktu semalam aku membuka email.
Benar saja ternyata orang yang menolongku kemarin memakai sweater berwarna cream yang sama dengan di foto CV itu.
Ku scroll pesan email bagian bawah tanpa membaca semua isi CV nya, di situ tertera tulisan.
{Jika ingin melanjutkan proses ta'aruf, silakan kirimkan pesan w******p ke admin ta'aruf online dengan klik link berikut}
Di situ juga tertera batas waktu pemberian keputusan lanjut atau tidak.
Jika tidak ada respon sampai batas waktu tertentu, maka proses ta'aruf dianggap batal.
Entah apa yang aku pikirkan saat itu, hatiku tergerak untuk mengirim pesan ke admin TO.
Aku begitu penasaran dengan laki-laki itu.
Benarkah dia yang menolongku waktu itu?
Apakah aku tertarik dengannya?
Bukankah dia punya anak?
Tapi di CV sepertinya tidak di sebutkan, mungkinkah dia berbohong di CV nya ini?
Aku klik link yang tertera di email langsung terhubung dengan admin Ta'aruf Online.
[Assalammu'alaikum, saya Humaira Azzahra ingin melanjutkan proses ta'aruf dengan Muhammad Ilham Malik]
[Assalammu'alaikum. Terimakasih atas pesan Anda. Ini adalah pesan otomatis. Admin akan membalas pada jam kerja.]
Kemudian ku cek profil whatsappnya, terlihat bahwa ini akun bisnis, tertera jam kerja pukul 9.00-16.00 hari Senin sampai dengan Sabtu.
Baiklah, akan ku tunggu besok.
Langsung saja ku w******p ke Fina.
[Fina ampun Fin ya Allah.
Sepertinya bener katamu, yang menolongku kemarin adalah orang yang CV nya dikirim ke email ku sama admin TO.]
[Benarkah? Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Jodoh sudah di depan mata. Gak ada yang kebetulan Ra, semua udah ada yang ngatur.]
[Eh tapi dia kok langsung hafal sama wajahku, emang kamu kirim fotoku yang mana buat di CV?]
Fina mengirimi fotoku saat ke pengajian, saat itu aku memang sedang bantu acara, cuma bantu terima tamu.
Tugasnya menyambut dengan senyuman ke tamu akhwat, mengarahkan untuk presensi, memberi konsumsi, dan mengarahkan ke tempat duduk akhwat.
Nah di foto itu aku dengan noraknya pas sadar kamera dengan senyum sambil tangan mengacungkan 2 jari, pisss.
[Astaghfirullah Fina memalukan. Beneran itu foto yang kamu kirimkan? Aduh, mending foto KTP ku aja Fiin. Aku maluuuuuu tau.]
[Ah gak memalukan, tapi cantik, buktinya dia tertarik dengan CVmu. Siapa tau karena fotomu itu. hihihi.]
Aku benar-benar kesal dengan Fina. Tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur.