[Fina, pokoknya kamu harus temenin aku.]
[Kemana emang?]
[Bertemu dengan laki-laki kemarin.
Aku udah kirim respon ke wa admin TO.
Kemudian janjian ketemuan, terus aku disaranin bawa wali, aku gak mungkin ngajak ortuku, kamu tau kan mereka jauh.
Aku cuma punya kamuuuuu.]
[Serius Ra? Kamu udah cocok liat CV nya?]
[Entahlah Fin, aku gak baca semua isi CV nya sih, cuma aku penasaran aja.]
[Oh gitu, mending kamu tuntasin deh baca CV nya, nanti kalo ada yang kamu kurang jelas, bisa kamu tanyakan waktu ketemu.
Oh iya nanti datang dari pihak TO juga kan?]
[Iya ku usahakan deh baca CV full dan iya bener ada dari pihak TO juga datang katanya.
Jadi gimana kamu bisa kan nemenin aku? Bagaimanapun juga, kamu harus bertanggung jawab atas CV ku yang kamu kirim ke TO, aku kan sama sekali gak tau isinya.]
[Iyaa iyaa bisa deeh kalo gitu, kapan?]
[Insyallah Jumat ba'da isya'. Tempatnya menyusul.]
[Siap Bu Boss.]
Ku tutup aplikasi hijauku. Senang sekali Fina bisa mengantarku, kalo ada apa-apa sama CV ku, dia yang harus mengatasinya. Hahaha.
***********
Sepertinya tidak mungkin bisa ke perusahaan donatur hari ini.
Ada pekerjaan tambahan dari Pak Arya yang tidak bisa ditunda.
Pesan Pak Kasim jika berhalangan menemui CEO perusahaan donatur, aku harus mengabari langsung ke CEO nya.
Ku putuskan mengirimkan pesan w******p ke nomor asisten CEO yang telah diberikan Pak Kasim sebelumnya.
Ku sampaikan kalau hari ini tidak bisa datang. Dan akan ku agendakan ulang kunjungan ke perusahaan itu.
Hari sudah sore, saatnya bersiap pulang.
*********
Malam ini aku mengenakan gamis berwarna hitam dan jilbab syar'i warna cream yang biasa aku kenakan saat mengikuti kajian.
Ya Allah kenapa aku merasa deg-degan?
Gak biasanya aku kayak gini.
Apa karena aku akan bertemu laki-laki itu?
Aku merasa gelisah, entah karena apa aku tak mengerti.
Fina janji mau jemput ba'da isya' pakai mobilnya, karena gak mungkin perempuan malam-malam naik motor berdua, bisa bahaya.
Sebenarnya bisa saja waktu bertemunya pagi atau sore. Tetapi aku hanya bisa weekend dan pihak laki-laki sedang ada acara penting weekend ini jadi akhirnya terpilih jadwal jumat malam.
Tiin tiiin..
Sepertinya itu klakson mobil Fina.
Ku bergegas mengunci kamar kostku dan berjalan menuju mobil Fina.
"Assalammu'alaikum cantik. Ceileh cakep banget nih si gadis yang mau ketemu jodoh," godanya.
"Wa'alaikumsalam. Udah jangan ngegoda gitu," ketusku sebal.
"Ih mukanya merah, masyaAllah. Hahahaha."
Akupun tersipu malu.
Fina sudah kuanggap seperti kakakku.
Dia selalu baik dan menyenangkan.
Finalah yang mengajakku mengikuti kajian tiap pekan.
Mengajakku berhijrah seperti dirinya.
Dulu kami kenal tidak sengaja saat kajian di masjid, Fina kebetulan adalah salah satu panitia kajian saat itu.
Awalnya aku iseng ikut kajian hanya ingin menghabiskan masa weekendku dan ingin sejenak mendapatkan kesejukan dalam hatiku yang kosong ditengah keruwetan kerjaku.
Tetapi akhirnya aku jadi rutin ikut dan mendapatkan sahabat-sahabat sholehah di sana yang membuat hariku selalu bersemangat.
Kemudian kami bertukar nomor w******p, intens berhubungan, sesekali dia mengajakku terlibat dalam kepanitiaan kajian dan sekarang kami sangat dekat bagai saudara.
Aku senang bertemu dengan Fina, karena merasa punya keluarga di tempat perantauan, sehingga aku tidak merasa sendiri lagi.
"Eh kamu udah pamit suamimu kan?" tanyaku pada sahabatku itu.
"Udah, beres tenang aja. Nanti dia nyusul kesana," kata Fina.
"Oya? Emang suamimu gak sibuk?" tanyaku.
"Enggak, udah selese kerjaannya hari ini," kata Fina.
"Oke lah. Eh tapi aku gugup Fin. Gimana nih?" ucapku. Kurasakan tanganku dingin.
"Ceilah, seorang Maira gugup? Kamu kan biasa menghadapi orang banyak. Masak iya sekarang nerveous?" tanya Fina.
"Iya sih, tapi kan ini beda," jawabku.
"Jangan-jangan kamu udah jatuh hati sama laki-laki itu karena udah pernah nolongin kamu? Hahahahaha," kata Fina.
"Gak tau aku Fin, entahlah," kataku.
Perjalanan menuju Cafe tempat kami janjian sekitar 15 menit dari kost ku.
Tak terasa sudah sampai, kenapa perjalanan terasa seperti cuma lima menit, hatiku semakin gelisah.
Aku dan Fina masuk ke Cafe yang saat itu lumayan rame, kami berhenti di dekat pintu masuk Cafe.
Ku buka aplikasi berwarna hijau berusaha mengabari pihak TO kalau kami sudah sampai.
Ternyata mereka sudah tiba duluan.
"Fin kamu kesana dulu ya, aku gugup nih. Aku mau ke toilet sebentar," kataku sambil menggigit bibir bawahku.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama," kata Fina.
"Iya, pihak TO yang datang laki-laki dan perempuan suami istri. Kamu kesana dulu aja ya," kataku.
Aku bergegas ke toilet, menenangkan diri sejenak.
Ya Allah belum pernah aku seperti ini, bahkan dulu saat akan tes CPNS pun aku gak segugup ini.
Selesai kutunaikan hajatku di toilet, aku langsung kembali ke restoran, berusaha mencari meja mereka.
Fina melambaikan tangannya ke arahku.
Aku menarik nafas dalam-dalam berusaha bersikap senormal mungkin walaupun sebenarnya sangat deg-deg an.
Terlihat seorang laki-laki dan perempuan yang sepertinya dari pihak TO yang merupakan suami istri. Fina duduk bersebelahan dengan perempuan itu, di samping suami perempuan itu ada laki-laki memakai kemeja polos berwarna cream dan celana hitam, kali ini dia tidak berkacamata.
Serasa dunia ini berhenti, apakah aku terpesona melihat laki-laki itu?
Astaghfirullah, tundukkan pandangan Maira. Aku langsung tertunduk.
Aku duduk di samping Fina, ku pegangi lengan Fina seperti anak kecil yang takut bertemu orang asing.
"Maira kamu mau pesan apa?" tanya Fina.
"Apa aja, aku masih kenyang sih, tadi sore udah makan di kost," jawabku dengan sedikit gugup.
"Oke aku pesenin makanan ringan aja ya," kata Fina.
Aku hanya mengangguk. Mereka semua juga hanya memesan makanan ringan. Karena memang tujuan utama kita disini bukanlah untuk makan bareng, tetapi untuk melanjutkan proses ta'aruf.
"Baiklah karena hari semakin malam, langsung saja ya, assalammu'alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh, perkenalkan saya Roni dari Ta'aruf Online, ini istri saya Nafisa dan ini mas Ilham," kata Mas Roni membuka percakapan.
Dilanjutkan dengan sedikit basa basi sampai akhirnya menuju ke topik utama.
*********
Senin ini sudah ku agendakan untuk bertemu dengan CEO perusahaan donatur.
Info dari Pak Kasim, nama pimpinannnya adalah Pak Malik.
Kemarin aku sudah membuat janji dengan asisten CEO akan datang hari Senin sebelum jam makan siang.
Aku datang ke perusahaan tersebut dengan diantar mobil kantor.
Setelah sampai, ternyata perusahaan itu adalah salah satu produsen fashion muslim.
Memproduksi baju muslim untuk laki-laki dan perempuan dewasa maupun anak-anak. Terlihat dari baliho yang di pasang di gedung itu.
Aku dipersilakan menunggu di ruang tamu di bagian selatan. Lima menit berlalu, aku menunggu duduk di sofa dengan membawa beberapa dokumen.
Akhirnya datang seorang laki-laki memakai kemeja yang sepertinya seragam kantor terlihat sama dengan yang dipakai oleh karyawan di bagian resepsionist.
Sepertinya dia adalah asisten CEO yang kemarin aku w******p. Laki-laki itu bersama seseorang yang sepertinya aku kenal.
What???
"Silakan Pak, ini orang yang dari pemerintahan." Laki-laki berseragam itu dengan sopan mempersilakan seseorang yang tak asing bagiku.
Aku melenggangkan senyum tipis, walau hati sedang terkejut, tetapi berusaha bersikap normal.
Dia duduk di sofa. Memakai jas berwarna hitam tanpa dikancingkan, terlihat kemeja polos berwarna biru muda dan celana hitam, kali ini dia tidak berkacamata sama seperti saat bertemu Jumat lalu, terlihat berbeda.
Aku mulai gugup, tak sadar aku terus memandanginya, memperhatikan setiap gerakannya. Membuatku tidak fokus.
Teringat saat pertemuan Jumat malam kemarin.
Setelah berbincang-bincang ternyata dia adalah CEO salah satu perusahaan yang bergerak di bidang fashion. Perusahaan itu adalah milik orang tuanya.
Tetapi kenapa dia disini?
Tidak mungkin dia CEO perusahaan ini, karena kata Pak Kasim, CEO nya bernama Malik.
"Baik, terima kasih. Mbak Maira apa yang bisa saya bantu?" Kata-kata itu membuyarkan lamunanku.
"Maaf Pak, saya ingin bertemu dengan Pak Malik pimpinan perusahaan." Disini aku merasa gugup dan bingung, bagaimana aku menyebut namanya, spontan aku memanggilnya pak sebagai formalitas.
"Itu saya sendiri," katanya sambil tertawa kecil.
"Apa?" Aku terkejut. Tak ku sangka CEO yang akan aku temui adalah orang yang sedang menjalani ta'aruf denganku.
Aku ingat nama lengkap di CV nya, Muhammad Ilham Malik. Kenapa sama sekali tidak terfikirkan.
Ini semua hanya kebetulan atau dia yang sengaja atau aahh yang jelas ini takdir Allah. Semua tidak akan terjadi begitu saja tanpa ijin Allah, sekalipun itu disengaja.
Pertama dia menolongku terus ternyata dia yang mengirim CV ta'aruf kemudian sekarang dia terlibat kerjasama dengan instansiku.
Apa ini Ya Allaaaah tolong pindahkan aku dari tempat ini. Aku ingin menenggelamkan diriku di dalam selimut kamar kost ku.
Saking terkejutnya aku dengan semua kebetulan ini. Segera ku mengutarakan hajatku untuk menyampaikan semua pesan dari Pak Kasim dengan perasaan gugup.
Setelah selesai aku langsung pamit dan segera keluar dari gedung perusahaan ini.
**************
Proses ta'aruf malam lalu memang belum selesai, tinggal pengambilan keputusan dari kedua belah pihak.
Jika cocok, aku dan dia perlu mengabari kedua orang tua masing-masing untuk lanjut membicarakan khitbah (lamaran).
Aku meminta waktu selama 2 minggu untuk meyakinkan diriku sendiri.
Saat ini aku memang sedang bingung. Aku belum ingin membicarakannnya dengan orang tuaku.
Aku merasa ini terlalu cepat. Aku takut kalau perasaanku ini hanya sesaat.
Beberapa orang yang ta'aruf bilang kalau merasakan jatuh cinta setelah menikah.
Tapi sepertinya aku sudah jatuh hati sebelum menikah.
Eh benarkah aku jatuh cinta padanya?
Akukan belum mengenalnya sepenuhnya?
Hemmm..
Bukankah menikah itu adalah hal baik?
Niat baik harus segera dilaksanakan, apalagi usiaku sudah lebih dari cukup untuk menikah.
Apa lagi yang aku tunggu?
Kemarin admin TO mengabarkan kalau Ilham menyetujui untuk melanjutkan ke proses khitbah.
Entah aku harus senang atau bagaimana karena saat ini aku merasa bingung.