Mereka mengundang seluruh peracik berkumpul di balai kampung pada Minggu malam—ruang serbaguna sederhana dengan lantai keramik dingin, deretan kursi plastik, dan lampu neon yang mendengung. Mbah Kunto yang mengundang, karena hanya namanya yang masih cukup dihormati untuk membuat orang datang. Hampir semua hadir: peracik tua dan muda, penjual jamu gendong termasuk Yu Tarmi, beberapa pemilik dapur kecil yang selama ini Bayu tidak kenal namanya. Udara ruangan itu sudah tegang sebelum satu kata pun terucap, seperti kuali yang dijaga di ambang mendidih.
Mbah Kunto membuka dengan tenang. Ia menjelaskan apa yang terjadi—paten Wreksa Hayati, ramuan yang terbukti berkhasiat, tawaran kampung untuk menguji dan memiliki resepnya sendiri lewat sebuah koperasi. Ia bicara seperti biasa, pelan, dengan jeda, dengan kepercayaan diri seorang yang selama puluhan tahun ucapannya diikuti. Tapi malam ini, untuk pertama kali yang Bayu saksikan, ucapan Mbah Kunto tidak menutup ruangan jadi sunyi. Ucapannya justru membuka sesuatu.
"Koperasi, koperasi," potong seorang lelaki paruh baya dari deretan tengah, Pak Heru, pemilik dapur jamu yang cukup besar. "Mbah, dengan hormat. Perusahaan itu menawar beli resep. Tunai. Saya dengar angkanya. Kenapa kita repot bikin koperasi yang bertahun-tahun, butuh lab miliaran, yang belum tentu berhasil, kalau ada uang di depan mata sekarang? Anak saya mau masuk kuliah. Saya butuh uang sekarang, bukan idealisme."
Beberapa kepala mengangguk. Bayu melihat retak itu melebar di depan matanya.
"Kalau kita jual resep ke perusahaan," sahut seorang peracik perempuan dari sudut, suaranya tajam, "kita tidak boleh jual sendiri lagi. Itu yang saya takutkan. Saya sudah meracik tiga puluh tahun. Saya tidak mau tiba-tiba dilarang meracik di dapur saya sendiri karena ada perusahaan yang punya kertas."
"Tidak ada yang melarang kamu meracik," Bayu mencoba menjelaskan, berdiri, mencari kata-kata teknis yang ia kuasai. "Paten itu atas formulasi terstandar, bukan atas rebusan tradisional. Secara hukum kalian tetap—"
"Lihat," potong Pak Heru, menunjuk Bayu. "Itu dia. Orang perusahaan ngomong. 'Secara hukum.' Kamu pikir kami percaya 'secara hukum' dari mulut orang yang dikirim perusahaan?"
"Saya bukan lagi—" Bayu memulai, tapi suaranya tenggelam.
"Kamu yang datang bawa timbangan," kata seorang yang lain. "Kamu yang ambil sampel jamu kami, bawa ke lab. Sekarang resep kami ada di paten perusahaan. Lalu kamu berdiri di sini bilang kami harus bikin koperasi dan percaya sama kamu?"
Ruangan mulai pecah jadi suara-suara yang saling menimpa. Sebagian membela Bayu, sebagian menyerangnya, sebagian sama sekali tidak peduli pada Bayu dan hanya berebut soal uang, soal siapa yang akan untung, soal kecurigaan lama yang ternyata cuma menunggu alasan untuk meledak. Bayu mendengar Bu Saminah dan Bu Wati—dua nama yang disebut Sekar di kafe, yang sepuluh tahun tidak akur gara-gara warisan kompor—mulai saling sindir tentang hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan paten. Luka-luka lama kampung, yang selama ini ditahan oleh wibawa Mbah Kunto dan kesibukan sehari-hari, tumpah keluar sekaligus karena ada panggung untuk menumpahkannya.
Mbah Kunto berdiri, mengangkat tangan, memanggil ketenangan dengan cara yang selama puluhan tahun selalu berhasil. Malam ini tidak. Suaranya, untuk pertama kali, tertelan oleh ruangan. Bayu menyaksikan sesuatu yang membuatnya hampir lebih sedih daripada seluruh konflik dengan Wibowo: seorang tua yang selama empat puluh tahun jadi jangkar sebuah komunitas, berdiri di tengah komunitas itu, dan untuk pertama kali tidak didengar. Tangannya yang tak pernah gemetar saat meracik kini menggantung di udara, memanggil ketertiban yang tidak datang.
"Cukup," kata Sekar akhirnya, dan ia tidak mengangkat tangan, ia mengangkat suara—keras, kasar, sama sekali tidak seperti dirinya. Ruangan agak reda, lebih karena terkejut daripada hormat. "Kalian dengar diri kalian sendiri? Perusahaan itu menawar resep murah karena tahu kita begini. Karena tahu kita akan ribut soal kompor dan utang dan uang sekolah sampai lupa bahwa mereka sedang mengambil sesuatu yang kita jaga ratusan tahun. Mereka tidak perlu mengalahkan kita. Mereka cuma perlu menunggu kita menghancurkan diri sendiri."
Untuk sesaat kalimat itu menggantung. Lalu Pak Heru tertawa pendek, getir. "Gampang ngomong buat kamu, Sekar. Kamu kuliah, kamu pergi tujuh tahun, baru pulang. Kami yang tinggal. Kami yang harus bayar tagihan tiap bulan. Idealisme itu makanan orang yang perutnya kenyang."
Kalimat itu mengenai Sekar telak. Bayu melihatnya—wajah Sekar yang sekejap kehilangan kekerasannya, sesuatu yang patah di dalamnya, luka lama yang Bayu belum tahu seluruh isinya tapi mulai bisa menebak bentuknya. Sekar tidak membalas. Ia menutup mulutnya, dan diam itu lebih menyakitkan daripada teriakan apa pun.
Rapat itu berakhir tanpa keputusan, hanya dengan kerusakan. Orang-orang pulang dengan wajah keras, beberapa tidak saling bertegur sapa, kecurigaan yang tadinya samar kini punya nama dan suara. Di balai yang mulai kosong, di bawah neon yang mendengung, tinggal Bayu, Sekar, dan Mbah Kunto yang masih duduk di kursi plastiknya, tampak lebih tua dari yang pernah Bayu lihat.
"Saya kira mereka akan mendengar," kata Mbah Kunto pelan, lebih ke dirinya sendiri. "Saya kira saya masih cukup didengar."
Bayu tidak tahu harus berkata apa. Ia datang ke malam ini membawa solusi teknis—koperasi, badan hukum, jalan keluar yang rapi di atas kertas. Ia pulang dengan kesadaran yang membuat perutnya dingin: bahwa di mata kampung yang sedang terluka, ia bukan pembawa solusi, melainkan pemecah belah, wajah perusahaan yang datang membawa istilah-istilah yang tidak mereka percayai. Dan bahwa sebelum satu angka pun bisa diukur, satu botol pun bisa distandarkan, ada sesuatu yang jauh lebih rumit yang harus disembuhkan dulu—sesuatu yang tak ada di kurikulum farmasi mana pun, dan yang ia sama sekali tidak tahu cara mengukurnya, apalagi memperbaikinya.