Telepon itu datang Kamis siang, dan kali ini bukan Sekar. Yu Tarmi sendiri yang menelepon, napasnya tersengal seperti orang yang baru berlari. "Nak Bayu. Pak Darso. Dia drop. Tadi pagi dia minum jamu di rumahnya, terus tiba-tiba lemas, keringat dingin, gemetar. Anaknya bawa ke klinik. Saya di sini sekarang. Kamu datang, ya? Cepat."
Bayu sudah berlari ke mobilnya sebelum Yu Tarmi selesai bicara, dan sepanjang perjalanan satu kata berdentang di kepalanya seperti lonceng yang ia takutkan sejak rute pertama bersama Yu Tarmi berbulan-bulan lalu: hipoglikemia. Gula darah jatuh terlalu dalam. Pak Darso minum obat antidiabetes dari dokter dan jamu penurun gula dari Yu Tarmi, dua-duanya setiap hari, dua-duanya bekerja, dan tak seorang pun yang memantau pertemuan keduanya. Ini bukan lagi teori yang membuatnya tidak bisa tidur. Ini sedang terjadi.
Klinik kecil itu sama seperti waktu Bu Ratri—lorong yang sesak, bau antiseptik, ketegangan yang khas. Tapi kali ini ada satu perbedaan, dan perbedaan itu yang mengubah segalanya: kali ini Bayu ada di sana, dan Bayu tahu apa yang harus ditanyakan.
Pak Darso terbaring pucat, sudah diinfus dengan cairan gula, sudah mulai sadar. Dokter klinik—dokter muda yang sama yang dulu menebak dalam gelap untuk Bu Ratri—berdiri di sampingnya, dan saat ia melihat Bayu, ada pengenalan di matanya, juga kelelahan yang sama. "Anda lagi," katanya. "Pasien minum sesuatu, saya tidak tahu apa. Sama seperti dulu."
"Kali ini saya bisa bantu," kata Bayu, dan ia mengeluarkan buku catatannya—buku yang dulu kosong di hari pertama, kini penuh. "Saya pernah ikut Yu Tarmi ke rumah Pak Darso. Saya tahu jamunya yang mana. Rebusan daun, jamu untuk gula. Dan saya tahu—" ia menoleh ke Pak Darso yang lemah di ranjang, "—Pak Darso minum obat dari dokter juga, kan, Pak? Obat gula. Setiap hari."
Pak Darso, masih lemah, mengangguk pelan. "Iya, Nak. Dua-duanya. Tiap hari."
Dokter muda itu menegakkan badan, dan untuk pertama kali kelelahan di matanya digantikan sesuatu yang lain. "Obatnya apa? Dosis berapa? Kapan terakhir minum?"
Dan Bayu menjawab—bukan menebak, menjawab. Ia tahu jenis jamunya dari catatannya. Anak perempuan Pak Darso, yang dipanggil cepat, membawa obat dokter ayahnya dari rumah, dan Bayu bisa membaca labelnya, mencocokkannya, menjelaskan ke dokter bahwa rebusan daun itu hasil lab awal Wreksa Hayati menunjukkan kemungkinan efek hipoglikemik nyata—bahwa kemungkinan besar dua zat penurun gula bekerja bersamaan, menjatuhkan gula Pak Darso terlalu dalam pagi ini, mungkin karena Pak Darso pagi ini sarapannya kurang, atau dosis jamunya lebih pekat dari biasa, atau keduanya.
Dokter muda itu mengangguk cepat, sudah bergerak, sudah memutuskan. "Bagus. Saya tidak perlu menebak. Saya tahu apa yang saya hadapi, jadi saya tahu apa yang harus saya pantau. Kalau ini interaksi, dia akan stabil dengan koreksi gula dan kita atur ulang dosis dua-duanya, koordinasi dengan dokter penyakit dalamnya. Kalau saya tidak tahu jamunya, saya akan mengobati gejala saja, dan dia bisa drop lagi besok pagi karena akar masalahnya tidak tersentuh."
Bayu merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan di seluruh konfliknya dengan Wreksa Hayati, di seluruh perdebatan soal standar dan tradisi. Bukan kemenangan argumen. Bukan pembuktian bahwa ia benar. Sesuatu yang jauh lebih sunyi dan jauh lebih nyata: catatan di bukunya, angka-angka yang dulu ia kumpulkan dengan dingin, baru saja menyelamatkan seorang dokter dari menebak dalam gelap, dan mungkin menyelamatkan Pak Darso dari drop yang lebih buruk besok.
Ini, sadarnya, adalah seluruh argumennya yang selama ini gagal ia jelaskan ke kampung, tiba-tiba membuktikan dirinya sendiri tanpa perlu satu kata pun. Bukan standardisasi sebagai senjata perusahaan. Bukan pencatatan sebagai ancaman yang akan mempermalukan peracik. Pencatatan sebagai jaring pengaman. Sebagai peta yang membuat orang bisa menemukan jalan pulang saat dua pengobatan bertemu di satu tubuh.
Di lorong, setelah Pak Darso stabil dan tertidur, Yu Tarmi berdiri di samping Bayu, dan untuk pertama kali sejak ia mengenalnya, perempuan tua itu menatapnya bukan dengan keakraban yang menggoda, melainkan dengan sesuatu yang lebih dalam. "Tadi," katanya pelan, "kalau kamu tidak ada, dokter itu menebak. Kalau menebak salah—" Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. "Pak Darso pelanggan saya empat puluh tahun, Nak. Saya yang jual jamunya. Saya yang bangga gulanya turun. Saya tidak pernah berpikir bahwa hal yang saya banggakan itu juga yang bisa membahayakan dia."
"Bukan jamunya yang salah, Yu," kata Bayu. "Jamunya kemungkinan memang bekerja. Justru karena bekerja, dia harus dicatat seperti obat yang bekerja. Yang salah cuma satu: tidak ada yang mencatat. Tidak ada yang mempertemukan jamu dan obat dokter di satu meja."
Yu Tarmi diam lama. Lalu ia mengangguk pelan, sebuah anggukan yang Bayu tahu berarti lebih dari sekadar setuju. "Buku kamu itu," katanya, menunjuk catatan di tangan Bayu, "yang dulu kosong. Dulu saya pikir kamu cuma anak kantoran yang mau menghitung-hitung kami. Sekarang saya lihat buku itu yang menyelamatkan Pak Darso." Ia menarik napas. "Boleh saya cerita ini ke yang lain? Ke peracik yang lain? Yang kemarin ribut di balai?"
Bayu menatapnya. Rapat di balai yang berakhir ricuh masih perih di ingatannya—tuduhan, kecurigaan, ia yang disebut pemecah belah. Dan kini, tanpa ia rencanakan, peristiwa di ranjang Pak Darso baru saja melakukan apa yang seluruh argumennya gagal lakukan: menunjukkan, bukan mengatakan, bahwa pencatatan bukan ancaman melainkan perlindungan. "Boleh, Yu," jawabnya. "Tapi tolong ceritakan dengan jujur. Jangan dibesar-besarkan. Cukup ceritakan apa yang terjadi. Itu sudah cukup."
Yu Tarmi tersenyum, lelah tapi hangat, dan untuk pertama kali sejak rapat balai, Bayu merasakan sesuatu yang tipis dan rapuh mulai bergerak ke arah yang benar—bukan lewat istilah teknis, bukan lewat hukum, melainkan lewat satu cerita nyata tentang satu orang nyata yang nyaris jatuh, dan satu buku catatan yang menahannya.