Cerita Pak Darso menyebar di Tamansari lewat saluran yang sama yang dulu menertawakan Bayu karena buku kosongnya dan kemudian mencurigainya karena soal paten—tapi kali ini ia menyebar dengan rasa yang berbeda. Bukan ejekan, bukan kecurigaan. Sesuatu yang lebih dekat ke pikiran yang sedang berubah pelan-pelan. Bayu tidak menungguinya menjadi besar. Ia memutuskan menggunakan momentum kecil itu untuk satu hal yang sudah lama ada di kepalanya, sesuatu yang sederhana sampai radikal.
Ia pergi ke puskesmas setempat, bangunan rendah berdinding hijau pucat yang melayani seluruh wilayah, tempat antrean panjang tiap pagi dan satu dua dokter yang kewalahan. Ia meminta bertemu dr. Andini, dokter yang menangani sebagian besar pasien dewasa di sana, dan ia menunggu hampir dua jam di kursi tunggu di antara ibu-ibu yang menggendong bayi dan lansia yang memegang kartu berobat, sebelum akhirnya dipanggil.
dr. Andini perempuan sekitar tiga puluhan dengan wajah lelah orang yang melayani terlalu banyak pasien dengan terlalu sedikit waktu. Saat Bayu memperkenalkan diri sebagai apoteker yang bekerja dengan komunitas peracik jamu, ia melihat sesuatu mengeras di wajah dokter itu. "Jamu," katanya, dan dalam satu kata itu ada seluruh kelelahan profesinya. "Saya tahu jamu. Pasien diabetes saya minum jamu diam-diam, lalu gulanya kacau, lalu menyalahkan obat saya. Pasien darah tinggi saya berhenti minum obat karena 'sudah pakai herbal', lalu kena stroke. Maaf, Pak, tapi saya tidak punya energi untuk membela jamu. Saya terlalu sering membersihkan akibatnya."
Bayu tidak membantah, karena membantah adalah cara tercepat untuk kalah. Ia justru mengangguk. "Dokter benar. Itu persis masalahnya. Dan saya tidak datang membela jamu. Saya datang membicarakan hal yang Dokter baru saja sebut."
Ia menceritakan Pak Darso. Pelan, tanpa membesar-besarkan, persis seperti yang ia minta Yu Tarmi lakukan. Bukan kisah jamu ajaib. Kisah seorang lelaki yang minum obat dokter dan jamu sekaligus, diam-diam, tanpa cerita ke siapa pun, dan nyaris drop karena tak seorang pun tahu keduanya ada di tubuhnya. "Pak Darso tidak cerita ke dokternya bahwa dia minum jamu," kata Bayu, "karena dia takut dimarahi. Dan dia tidak cerita ke peraciknya bahwa dia minum obat dokter, karena dia takut dibilang tidak percaya jamu. Dua rasa takut yang sama-sama masuk akal. Dan di antara dua rasa takut itu, tubuhnya nyaris jatuh."
dr. Andini diam, dan kelelahan di wajahnya bergeser sedikit, menjadi sesuatu yang lebih dekat ke perhatian.
"Saya tidak meminta Dokter percaya jamu," lanjut Bayu. "Saya meminta hal yang jauh lebih kecil dan jauh lebih masuk akal. Pasien Dokter minum jamu, suka atau tidak suka—Dokter tahu itu, separuh dari mereka melakukannya. Mereka tidak akan berhenti karena dimarahi. Mereka cuma akan berhenti cerita. Bagaimana kalau, alih-alih melarang, kita buat mereka tidak takut cerita? Supaya Dokter tahu apa yang masuk ke tubuh mereka. Supaya kalau ada interaksi seperti Pak Darso, Dokter punya peta, bukan tebakan."
Ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya—bukan timbangan, bukan dokumen mutu. Sebuah kartu sederhana, ukuran saku, yang ia rancang sendiri malam sebelumnya. Di kartu itu ada kolom-kolom kosong: nama, obat dari dokter, jamu yang diminum, kapan. Sebuah benda kecil yang murah, sepele, hampir naif. "Kartu catatan ramuan," kata Bayu. "Pasien membawanya. Mereka tulis obat dari dokter, dan jamu yang mereka minum. Bawa ke Dokter, bawa juga ke peracik. Supaya untuk pertama kali, dua pengobatan yang bekerja di satu tubuh, tahu satu sama lain. Bukan jamu menggantikan dokter. Bukan dokter melarang jamu. Cuma—" ia mencari kata yang tepat, "—cuma satu kertas yang membuat keduanya bisa duduk di meja yang sama."
dr. Andini mengambil kartu itu, membaliknya, membacanya. Lama. Bayu menahan diri untuk tidak bicara lebih banyak, karena ia tahu, dari pengalaman dengan Mbah Kunto dan Sekar, bahwa orang yang sedang berubah pikiran butuh ruang sunyi untuk melakukannya.
"Ini tidak akan menyembuhkan dunia," kata dr. Andini akhirnya, pelan. "Sebagian pasien tetap tidak akan mengisinya. Sebagian peracik tetap tidak akan kooperatif."
"Tidak," Bayu setuju. "Tapi sebagian akan. Dan untuk sebagian itu, kartu ini bisa jadi beda antara drop dan tidak drop. Antara Dokter menebak dan Dokter tahu."
dr. Andini menatap kartu itu lagi, lalu menatap Bayu, dan ada sesuatu yang melunak di wajah lelahnya. "Pak Darso," katanya. "Dia stabil sekarang?"
"Stabil. Karena dokter klinik tahu apa yang dia hadapi. Karena ada catatan."
Dokter itu mengangguk pelan, dan keputusannya datang bukan dengan deklarasi besar, melainkan dengan kalimat kecil yang justru karena kecilnya terasa nyata. "Cetak seratus kartu dulu," katanya. "Saya coba di pasien diabetes dan darah tinggi saya. Yang paling sering minum jamu. Kalau berhasil, kalau ada satu saja yang tertolong karena ini, kita perbesar." Ia meletakkan kartu itu di mejanya, di tempat yang mudah dijangkau. "Saya tidak janji percaya jamu, Pak Bayu. Tapi saya janji berhenti pura-pura pasien saya tidak minum jamu. Itu yang bisa saya beri."
Bayu keluar dari puskesmas sore itu dengan satu kartu contoh di sakunya dan perasaan yang asing—bukan kemenangan besar, bukan terobosan yang akan mengubah industri. Sesuatu yang jauh lebih kecil dan jauh lebih kokoh: sebuah kesepakatan pertama antara dua dunia yang selama ini tak pernah duduk di meja yang sama, lahir bukan dari argumen menang-kalah, melainkan dari satu lelaki bernama Pak Darso yang nyaris jatuh. Ia teringat Lestari pernah berkata bahwa regulasi adalah memori kolektif dari semua kesalahan yang pernah membunuh orang. Mungkin, pikirnya, jembatan juga begitu—dibangun bukan dari teori, melainkan dari satu orang nyata yang nyaris hilang, dan satu kartu kecil yang menahannya.