Mereka bertemu untuk mencetak kartu di rumah Sekar—rumah kecil di belakang dapur Mbah Kunto, dengan satu meja kerja, rak penuh buku teks fitofarmaka, dan laptop tua yang layarnya sudah meredup di satu sudut. Sekar menyiapkan tata letak kartu, Bayu memeriksa kolom-kolomnya, dan untuk beberapa jam mereka bekerja dalam ritme yang nyaman, dua orang yang sama-sama tahu cara mengerjakan sesuatu sampai benar. Tapi Bayu memperhatikan Sekar lebih diam dari biasanya, dan saat ia menyebut rapat balai yang ricuh—kalimat Pak Heru tentang idealisme makanan orang kenyang—sesuatu di wajah Sekar mengeras lalu retak.
"Kamu tidak harus cerita," kata Bayu, karena ia melihat retak itu, "tapi Pak Heru menyentuh sesuatu kemarin. Soal kamu pergi tujuh tahun."
Sekar berhenti mengetik. Untuk lama ia tidak menjawab, hanya menatap layar laptop yang meredup. Lalu, dengan suara yang lebih pelan dari yang pernah Bayu dengar darinya, ia mulai bercerita.
"Tujuh tahun lalu aku pergi kuliah ke kota," katanya. "Aku yang minta. Aku yang ngotot. Mbah—nenek, almarhumah, bukan Mbah Kunto, ini ibunya ibuku—saat itu sudah mulai sakit. Bukan sakit yang langsung parah. Sakit yang pelan. Tua. Tapi aku tahu dia butuh ditemani, dan aku pergi." Ia menelan sesuatu. "Aku bilang ke diri sendiri aku pergi untuk mereka. Aku akan belajar sains, pulang membawa cara menyelamatkan racikan keluarga, mengangkat kampung. Cerita yang bagus. Cerita yang aku percaya saat itu."
Bayu tidak bergerak, takut memecah sesuatu.
"Tapi yang sebenarnya," lanjut Sekar, dan suaranya turun lagi, "aku pergi karena aku ingin pergi. Karena aku malu pada kampung ini. Malu jadi cucu tukang jamu saat teman-teman sekolahku punya orang tua pegawai, dokter, guru. Malu dengan bau kunyit yang menempel di bajuku. Aku pergi setengah untuk menyelamatkan, setengah untuk kabur. Dan aku tidak pernah jujur soal yang setengah kedua itu, bahkan ke diriku sendiri."
Di luar, hujan sore mulai turun, rintik di atap, bau tanah basah bercampur rempah—suara yang sama yang menemani Bayu di hari pertamanya di dapur Mbah Kunto, saat lelaki tua itu berkata sesuatu sudah mati begitu kamu menulisnya.
"Nenek meninggal di tahun keenamku," kata Sekar. "Aku pulang untuk pemakaman. Aku ingat berdiri di dapur ini, dapur yang dulu aku malukan, dan menyadari aku tidak pernah ada di sini saat dia masih bisa mengajariku. Semua yang dia tahu—racikan, cara membaca bahan, cara membaca orang—sebagian besar ikut pergi dengannya, karena cucu yang dia banggakan sedang sibuk membaca jurnal di kota tentang hal yang neneknya sudah tahu lebih dulu tanpa jurnal." Ia tertawa, getir, basah. "Itu sebabnya aku pulang. Bukan karena aku punya rencana penyelamat. Karena aku terlambat untuk satu orang, dan aku tidak mau terlambat untuk Mbah Kunto juga."
Bayu memahami sekarang—memahami banyak hal yang dulu ia salah baca. Ketajaman Sekar yang menohok di hari pertama. Kalimatnya bahwa ia tidur dengan ketakutan pengetahuan ini mati tiap malam, jauh sebelum Bayu datang. Kemarahannya soal paten. Semuanya bukan sekadar idealisme intelektual. Semuanya berakar di satu dapur kosong dan satu kuburan, di rasa bersalah seseorang yang pulang setelah terlambat untuk satu orang dan bertekad tidak terlambat untuk yang berikut.
"Kamu kira aku membela warisan keluarga karena aku yakin warisan itu hebat," kata Sekar, menatapnya. "Tidak selalu. Sebagian dari aku justru ragu. Setengah dari yang Mbah Kunto yakini, aku bisa buktikan mungkin tidak ada gunanya—kunyit asam yang ternyata kosong, kamu sendiri yang menemukan. Aku bukan orang yang percaya buta pada tradisi keluargaku. Aku orang yang takut tradisi itu mati sebelum aku sempat menebus karena pernah memalukannya." Ia menyeka matanya cepat, hampir marah pada dirinya sendiri. "Itu beda. Itu jauh lebih berantakan daripada idealisme yang bersih."
Bayu duduk diam, dan untuk pertama kali dalam hidupnya—hidup yang ia bangun di atas data, di atas analisis, di atas kemampuan membongkar sesuatu sampai ke tulangnya—ia tidak menganalisis. Ia tidak mencari pola, tidak menimbang, tidak mencatat di kepalanya. Ia hanya mendengarkan, dan membiarkan cerita itu utuh tanpa ia bedah. Ia menyadari, dengan sesuatu yang menggetarkan, bahwa selama ini ia selalu berlindung di balik data justru untuk menghindari momen seperti ini—momen di mana yang dibutuhkan bukan kesimpulan, melainkan kehadiran.
"Aku juga punya satu," katanya akhirnya, pelan, dan ia kaget mendengar dirinya sendiri mulai mengatakannya. Lalu ia berhenti. Ia belum siap. Lukanya sendiri—batch di garis batas, tiga tahun yang membuatnya tidak tidur—masih terkubur terlalu dalam untuk ia gali malam ini. "Suatu hari," katanya, mengubahnya, jujur soal ketidaksiapannya, "aku akan cerita. Bukan sekarang. Tapi aku mengerti kenapa kamu tidak bisa diam soal ini. Aku mengerti lebih dari yang kamu kira."
Sekar menatapnya, dan ada pengertian yang lewat di antara mereka—bukan romansa, Bayu sadar dengan jernih, melainkan sesuatu yang lebih sulit dan lebih berharga: dua orang yang sama-sama membawa luka yang membentuk seluruh cara mereka melihat dunia, dan untuk pertama kali saling mengenalinya. Hujan mengeras di luar. Di meja, kartu-kartu catatan ramuan yang setengah jadi menunggu dicetak—benda kecil yang lahir dari satu lelaki yang nyaris jatuh. Dan di ruang kecil itu, di antara rak buku fitofarmaka dan bau rempah yang dibawa hujan, dua orang yang datang ke konflik ini dari arah berlawanan menyadari bahwa mereka tidak sedang berperang satu sama lain, dan tidak pernah benar-benar berperang. Mereka sedang melawan hal yang sama, dari sisi yang berbeda, dengan luka yang berbeda—dan itu, untuk pertama kali, membuat mereka merasa tidak sendirian.