Mereka tahu dari arah yang tak terduga: dari aroma.
Sekar yang pertama menyadarinya. Ia sedang lewat di gang belakang rumah Bu Warsih—peracik senior yang dapurnya selama puluhan tahun menguarkan bau kunyit dan asam jawa yang khas—dan ia mencium sesuatu yang asing. Bukan rempah. Bau pelarut, samar, dan dengung mesin kecil yang bukan suara kuali di atas tungku. Ia berhenti, ragu, lalu mengintip lewat celah pintu yang setengah terbuka.
Di dalam, di dapur Bu Warsih yang dulu penuh tampah penjemur dan rak botol tulisan tangan, kini ada kotak-kotak kardus berlogo Wreksa Hayati, timbangan digital baru yang masih mengilap, dan seorang lelaki muda berkemeja rapi—Sekar mengenalinya samar sebagai salah satu staf perusahaan—yang sedang mencatat sesuatu di papan jalan sambil Bu Warsih menunjukkan cara meracik di hadapannya.
Sekar mundur sebelum ketahuan, jantungnya berdebar, dan ia langsung mencari Bayu.
Berita itu meledak di kampung dalam dua hari, dan ledakannya jauh lebih merusak dari produk di rak apotek. Karena ini bukan perusahaan asing yang mengambil resep dari jauh. Ini salah satu dari mereka. Bu Warsih—yang ikut menggendong dagangan puluhan tahun, yang duduk di balai-balai yang sama, yang resepnya berakar dari pohon pengetahuan yang sama dengan Mbah Kunto—menjual keahliannya, dan diam-diam mengajari perusahaan cara meracik yang lebih dekat ke 'asli', supaya produk kotak hijau mereka makin meyakinkan.
Mbah Kunto, saat mendengarnya, tidak meledak. Justru itu yang membuat semua orang takut. Ia duduk di dapurnya, centong di tangan, dan diam begitu lama sampai Sekar khawatir orang tua itu akan jatuh sakit. Lalu ia berkata, dengan suara yang serak dan lebih tua dari biasanya, "Warsih itu saya kenal sejak dia masih digendong ibunya. Eyang gurunya dan eyang guru saya itu kakak beradik." Ia meletakkan centong. "Pengetahuan yang dia jual itu bukan punya dia sendiri. Itu titipan. Dari orang-orang yang sudah mati, untuk orang-orang yang belum lahir. Dan dia menjualnya seperti menjual sayur." Untuk pertama kali sejak Bayu mengenalnya, ada sesuatu yang patah dalam suara Mbah Kunto—bukan amarah, tapi luka yang lebih dalam dari amarah.
Sekar marah dengan cara yang lebih panas. "Dia tahu apa yang sedang kita perjuangkan!" katanya pada Bayu, mondar-mandir di dapur. "Kita lagi melawan paten mereka, lagi uji klinik, lagi membangun front—dan dia menusuk dari dalam demi uang! Tahu apa artinya ini? Perusahaan sekarang punya orang dalam kampung. Mereka bisa bilang produk mereka 'diracik oleh peracik asli Tamansari'. Bu Warsih baru saja memberi mereka kejujuran yang selama ini tidak mereka punya!"
Tapi Bayu, yang berdiri diam di sudut, merasakan sesuatu yang lebih rumit dari amarah Sekar, dan ia tahu apa itu, karena ia baru saja melihatnya semalam dalam wujud gendongan Yu Tarmi yang tak laku.
"Kalian tahu Bu Warsih kenapa, kan?" kata Bayu pelan. Sekar berhenti mondar-mandir. "Suaminya stroke tahun lalu. Berbaring di rumah, butuh obat tiap bulan, butuh popok, butuh perawat kadang-kadang. Dan penjualan jamunya turun, sama seperti Yu Tarmi, sejak kotak hijau itu datang." Bayu menatap Sekar lurus. "Lalu perusahaan datang ke pintunya, menawarkan bayaran tetap—bukan untung yang naik-turun ikut pasar, tapi angka pasti tiap bulan yang cukup untuk obat suaminya. Coba berdiri di pintu itu. Coba pilih antara prinsip dan obat suamimu yang sekarat."
Sekar terdiam. Amarahnya tidak hilang, tapi sesuatu masuk ke dalamnya—keraguan, atau mungkin malu.
"Saya tidak bilang dia benar," lanjut Bayu. "Apa yang dia lakukan melukai kita semua. Pengetahuan komunal yang dijual diam-diam, itu memang pengkhianatan—Mbah Kunto benar soal itu. Tapi saya tidak bisa membencinya seperti saya membenci perusahaan. Karena perusahaan memilih serakah dari atas kelimpahan. Bu Warsih memilih bertahan hidup dari dasar keputusasaan. Itu dosa yang berbeda beratnya."
Di balai, malam berikutnya, kampung terbelah persis seperti yang Bayu takutkan. Sebagian—dipimpin Sekar yang panas dan beberapa yang merasa paling dikhianati—menuntut Bu Warsih dikeluarkan, namanya dicoret, resepnya tak diakui lagi sebagai bagian kampung. Sebagian lain, yang ekonominya sendiri sedang sekarat, diam dengan mata yang menatap lantai, karena mereka tahu mereka bisa jadi Bu Warsih berikutnya, dan mereka tidak ingin menghukum seseorang atas pilihan yang mungkin terpaksa mereka ambil sendiri besok lusa.
Mbah Kunto, yang diharapkan memutuskan, justru diam di pojok, dan kediamannya membuat kampung makin terbelah. Bayu melihatnya, dan ia mengerti—orang tua itu sedang berperang dengan dirinya sendiri, antara luka pengkhianatan dan welas asih pada perempuan yang ia kenal sejak digendong ibunya.
Bayu tidak berbicara di balai itu. Bukan tempatnya memutuskan nasib kampung. Tapi saat ia pulang dengan Sekar, di gang yang gelap dan dingin, ia berkata, "Ini yang sebenarnya berbahaya. Bukan produk di rak. Bukan paten. Ini—" ia menunjuk ke arah balai, "—kampung yang terbelah dari dalam, antara yang masih punya prinsip karena masih bisa makan, dan yang harus melepas prinsip karena tidak bisa makan. Perusahaan tidak perlu mengalahkan kita. Mereka cuma perlu menunggu kita saling membenci karena lapar."
Sekar berjalan diam di sisinya. Lalu ia berkata, lebih lirih, "Aku marah ke Bu Warsih. Tapi aku juga... aku juga pernah meninggalkan kampung ini. Tujuh tahun. Demi diriku sendiri. Siapa aku menghakimi dia."
Bayu tidak menjawab. Karena tidak ada jawaban yang benar, hanya kebenaran yang tidak nyaman: bahwa front yang mereka bangun dengan susah payah mulai retak bukan dari serangan luar, melainkan dari himpitan ekonomi yang menggerogoti satu per satu peracik. Dan retakan itu—ia tahu, dengan firasat dingin seorang yang sudah melihat ke depan—baru permulaan. Babak ketiga konflik ini, perang atas siapa pemilik pengetahuan dan ke mana untungnya mengalir, sudah mulai tumbuh, lebih awal dari yang siapa pun siap hadapi.