Yu Tarmi yang lebih dulu merasakannya, sebab Yu Tarmi-lah yang berdiri paling depan di garis tempat kebenaran bertemu periuk nasi.
Ia datang ke dapur Mbah Kunto pada suatu sore dengan gendongan jamunya yang masih hampir penuh—dan itu pemandangan yang salah, karena pada sore hari gendongan Yu Tarmi seharusnya kosong, seharusnya botol-botolnya sudah berpindah ke tangan pelanggan dan uang receh sudah memberatkan kantong kebayanya. Tapi sore itu botol-botolnya masih berderet, isinya masih penuh, dan wajah Yu Tarmi membawa kelelahan yang lebih dalam dari lelah fisik biasa.
"Sepi, Yu?" tanya Mbah Kunto.
Yu Tarmi duduk di dingklik, melepas gendongannya pelan-pelan seperti melepas beban yang tak cuma di punggung. "Bukan sepi biasa, Mbah," katanya. "Saya hafal pelanggan saya. Bu Ngatmi yang biasa beli kunyit asam tiap pagi, tadi bilang ke saya, 'Yu, saya sudah beli yang di apotek itu. Yang kotak hijau. Anak saya yang beliin, katanya lebih bagus, sudah ada izinnya, sudah ada tulisannya banyak di kotak.'" Yu Tarmi menundukkan kepala. "Saya mau jawab apa, Mbah? Saya cuma punya botol dan tutup plastik. Mereka punya kotak bagus dan tulisan banyak. Mana percaya orang sama saya."
Bayu, yang sedang mencatat hasil pemantauan uji di sudut dapur, berhenti menulis. Ia merasakan sesuatu yang dingin dan jelas: inilah harga yang ia tahu akan datang, tapi yang tetap menohok saat tiba dalam bentuk perempuan tua dengan gendongan yang tak laku.
Produk Wreksa Hayati murah diproduksi—diproduksi massal di pabrik, dengan efisiensi yang tak bisa ditandingi peracik rumahan—tapi dijual mahal dengan margin besar. Namun bahkan dengan harga tinggi itu, ia menang, karena ia menjual sesuatu yang lebih dari sekadar ramuan: ia menjual kepercayaan diri membeli. Kotak bersegel, izin edar tercetak, klaim panjang, semuanya mengatakan kepada pembeli ini aman, ini modern, ini layak. Sementara jamu Yu Tarmi, sebanyak apa pun ia diracik dengan tangan dan hati Mbah Kunto, terlihat seperti masa lalu—seperti sesuatu yang dipilih orang yang tidak punya pilihan lain.
"Berapa turunnya, Yu?" tanya Bayu pelan.
Yu Tarmi menyebut angka, dan angka itu—untuk perusahaan adalah debu, untuk Yu Tarmi adalah selisih antara makan dan tidak. "Hampir separuh, Mas," katanya. "Dalam sebulan. Saya tiga puluh tahun jualan, naik turun saya hadapi, tapi belum pernah secepat ini." Ia mengusap matanya dengan punggung tangan yang kapalan. "Bukan saya tidak rela orang beli yang lain. Tapi saya takut, Mas. Saya tidak bisa kerja lain. Tangan saya cuma bisa ini."
Bayu menatap angka yang baru saja didengarnya, lalu menatap gendongan jamu yang penuh, lalu menatap Mbah Kunto yang duduk diam dengan wajah yang sulit dibaca. Dan ia merasakan beratnya pelajaran yang baru saja dijatuhkan padanya, mentah dan tanpa ampun: membela kebenaran tidak otomatis menyelamatkan periuk nasi orang.
Ia sudah melaporkan klaim palsu ke BPOM. Ia sudah menjalankan uji klinik jujur. Ia sudah melakukan semua hal yang menurutnya benar. Tapi tak satu pun dari hal-hal benar itu mengisi gendongan Yu Tarmi sore ini. Kebenaran bergerak lambat—lewat komisi etik, lewat birokrasi BPOM yang berbulan-bulan, lewat uji yang baru akan selesai entah kapan. Sementara lapar bergerak cepat. Sementara cucu Pak Sukro butuh biaya sekolah bulan depan, bukan tahun depan.
"Yu Tarmi," kata Bayu, dan ia memilih kata-katanya dengan hati-hati karena ia tidak mau menjanjikan yang tak bisa ia tepati—ia sudah bersumpah pada dirinya untuk tidak pernah lagi menjanjikan melebihi yang bisa dibuktikan. "Saya tidak bisa bilang ini akan segera membaik. Saya tidak bisa bohong ke Yu. Kebenaran yang kita perjuangkan ini lambat, dan lawan kita cepat. Itu kenyataannya."
Yu Tarmi mengangguk pahit. "Saya tahu, Mas. Saya tidak minta dibohongi. Saya cuma..."
"Tapi," potong Bayu, "ada satu hal yang produk kotak hijau itu tidak punya dan tidak akan pernah punya. Mereka menjual janji. Yu menjual orang. Bu Ngatmi mungkin beli kotak hijau bulan ini. Tapi kotak hijau tidak akan tahu Bu Ngatmi suka kunyit asamnya agak asam. Kotak hijau tidak akan menengok kalau Bu Ngatmi sakit. Kotak hijau tidak akan tahu namanya." Ia menatap perempuan tua itu. "Yang Yu jual itu bukan cairan. Itu kepercayaan tiga puluh tahun. Dan kalau uji kita selesai—kalau kita bisa bilang 'ramuan ini sudah dibuktikan'—Yu akan jadi satu-satunya orang yang menjual ramuan yang manjur dan kenal nama pembelinya."
Ia tahu itu belum cukup. Ia tahu kata-kata tidak mengisi gendongan. Tapi ia juga tahu, dari Pak Sukro, dari Yu Tarmi, dari Pak Sopian yang ikut uji karena bahunya sakit, bahwa kalau ia melupakan periuk nasi mereka demi kemurnian perjuangan, ia akan kalah dengan cara yang lebih buruk dari kalah di pengadilan—ia akan menang argumen sambil membiarkan orang-orang yang ia bela kelaparan.
Malam itu ia tak bisa tidur. Ia duduk di kamar kontrakannya yang sempit dengan daftar dua belas subjek di satu sisi meja dan, di sisi lain, catatan tentang Yu Tarmi, Pak Sukro, dan setiap peracik yang ekonominya mulai retak. Dua daftar. Yang satu tentang kebenaran. Yang lain tentang nasi. Dan ia tahu, dengan kejernihan yang menyakitkan, bahwa perjuangan ini tidak akan berarti apa-apa kalau ia memenangkan yang pertama dan kehilangan yang kedua.
"Kebenaran saja tidak cukup," tulisnya di pinggir catatan, untuk dirinya sendiri. "Kita harus membuat kebenaran bisa dimakan. Atau kita kalah sebelum menang."