Mereka memulai uji di sebuah ruangan kecil di belakang puskesmas, ruangan yang dipinjamkan dr. Andini setelah ia mendengar tentang penelitian ini dan, untuk Bayu yang masih ingat sinismenya beberapa bulan lalu, mengejutkan: ia menawarkan diri ikut memantau tanda vital subjek. "Bukan karena saya percaya jamu," kata dr. Andini ketus. "Tapi karena kalau ada yang menguji jamu dengan benar, untuk pertama kalinya, saya mau melihat hasilnya dengan mata kepala sendiri. Bukan dari katanya-katanya."
Pagi itu ruangan penuh: dua belas subjek datang bergiliran, sebagian gugup, sebagian malah riang seperti mau acara kondangan. Mbok Jainah membawa rantang berisi makanan untuk dibagi-bagi, dan Bayu harus menjelaskan dengan hati-hati bahwa selama uji mereka sebaiknya tidak terlalu banyak mengubah kebiasaan makan. Mbok Jainah mengangguk patuh, lalu diam-diam tetap membagi makanannya ke yang lain.
Ramuan untuk hari itu sudah disiapkan dengan cara yang belum pernah dilakukan di Tamansari: tiap dosis diukur, dicatat nomor batchnya, disimpan sampel arsipnya. Tapi yang membuat Bayu paling bangga bukan ketelitian itu. Yang membuatnya bangga adalah bagaimana batch itu dibuat. Mbah Kunto yang meracik—dengan tangannya, dengan jempolnya yang membaca rimpang—tapi tiap langkahnya kini ditimbang, dicatat, diverifikasi. Bukan timbangan menggantikan jempol. Jempol dan timbangan bekerja bersama, dan untuk pertama kali keduanya menghasilkan sesuatu yang sama: dosis yang bisa diulang, tapi tetap punya jiwa racikan.
Setidaknya begitu Bayu mengira, sampai Pak Sopian meminumnya.
Buruh angkut itu menyeruput cairan hangat di gelasnya, mengernyit, menyeruput lagi, lalu meletakkan gelasnya dan memandang Bayu dengan wajah yang membuat dada Bayu mengetat. "Mas," kata Pak Sopian, "ini... ini rasanya beda. Bukan ramuan Mbah Kunto yang biasa saya minum dari Yu Tarmi. Ini lebih... entahlah. Lebih datar. Yang biasa itu lebih gigit di tenggorokan."
Ruangan diam. Beberapa subjek lain mengangguk, ikut merasakannya. Dan Bayu merasakan tanah di bawah kakinya bergeser—karena ini, persis ini, adalah ketakutan lamanya yang kembali. Beras kencur yang ia bakukan dulu, yang 'benar' secara angka tapi mati di lidah. Apakah ia mengulangi kesalahan yang sama? Apakah standardisasi, sekali lagi, membunuh sesuatu yang tak bisa ia ukur?
Mbah Kunto, yang duduk di sudut ruangan, bangkit perlahan. Ia mengambil gelas Pak Sopian, mencium, mencicipi sedikit dengan ujung lidahnya, dan diam memejamkan mata sejenak seolah mendengarkan sesuatu.
"Tidak salah," kata Mbah Kunto akhirnya. "Tapi tidak juga benar." Ia menoleh ke Bayu. "Kau ukur jahenya berdasarkan berat kering, kan. Supaya seragam. Itu benar untuk takaran senyawa. Tapi 'gigit' yang dirasakan Pak Sopian itu bukan dari berat jahenya. Itu dari minyak atsirinya—yang menguap kalau kelamaan direbus. Batch ini kau rebus lebih lama supaya ekstraksinya maksimal, kan? Itu yang menghilangkan gigitnya."
Bayu terdiam. Orang tua itu benar, lagi—dan kali ini Bayu bahkan tidak punya alat untuk segera membantah atau membenarkannya, karena yang dibicarakan Mbah Kunto adalah hal yang sebenarnya tercatat di literatur: minyak atsiri jahe, senyawa volatil, hilang oleh pemanasan berkepanjangan. Ia merebus lebih lama untuk mengejar kadar senyawa yang ingin ia ukur, dan dalam mengejar yang terukur, ia mengorbankan yang dirasakan.
"Jadi," kata Bayu pelan, "saya harus pilih. Ekstraksi maksimal yang bisa saya ukur, atau gigit yang dirasakan pelanggan."
"Kenapa harus pilih?" tanya Mbah Kunto. "Rebus jahe utamanya dulu untuk senyawa berat. Lalu di akhir, masukkan jahe segar yang sedikit, cuma sebentar, untuk gigitnya. Eyang guru saya selalu begitu. Yang lama untuk khasiat, yang sebentar untuk rasa. Kau cuma melihat satu rebusan. Padahal racikan itu punya babak-babaknya."
Dan di situlah, di ruangan kecil belakang puskesmas, dengan dua belas subjek menonton dan dr. Andini mencatat tanda vital di pojok, terjadi kompromi pertama yang berhasil—bukan kompromi yang mengorbankan salah satu, melainkan yang menyatukan keduanya. Bayu mencatat dengan tangan yang sedikit gemetar: tahap satu, jahe utama, rebus sekian menit untuk ekstraksi senyawa terukur. Tahap dua, jahe segar tambahan, sekian gram, masuk di menit terakhir untuk profil rasa. Dua tahap, dua tujuan, satu ramuan. Terukur dan bergigit. Ilmiah dan hidup.
Mereka membuat ulang batch hari itu dengan metode dua tahap. Pak Sopian meminumnya lagi, mengernyit—kali ini karena gigitnya—dan tersenyum. "Nah," katanya. "Ini Mbah Kunto."
Sekar menangkap mata Bayu dari seberang ruangan, dan tidak ada yang perlu dikatakan. Karena mereka berdua tahu apa yang baru saja terjadi. Bukan sekadar batch yang diperbaiki. Sesuatu yang lebih besar: bukti, di hadapan mata, bahwa keseragaman ilmiah dan jiwa racikan tidak harus saling membunuh. Bahwa 'takaran yang hilang' yang selama ini Bayu cari—bukan satu angka mati, melainkan keseimbangan yang harus ditemukan tiap kali, antara apa yang bisa diukur dan apa yang harus dirasakan.
dr. Andini, dari pojok ruangan, berkata tanpa mengangkat kepalanya dari catatan, "Saya tidak tahu jamu kalian manjur atau tidak—itu yang sedang kita uji. Tapi saya akui satu hal. Cara kalian bekerja hari ini, lebih teliti dari sebagian kolega saya yang menulis resep obat." Ia menutup penanya. "Lanjutkan. Saya mau lihat hasilnya."