Komisi etik kampus menyetujui protokol itu pada sidang kedua, setelah satu putaran revisi yang membuat Bayu hampir putus asa dan satu surat dukungan dari Prof. Hadi yang, kata Sekar, lebih berbobot dari seratus halaman protokol. Bayu memegang surat persetujuan itu—selembar kertas dengan kop kampus dan tanda tangan ketua komisi—dan untuk sesaat ia merasakan sesuatu yang ia kira sudah hilang dari hidupnya: izin resmi untuk mencari kebenaran.
Lalu datang bagian yang ternyata jauh lebih sulit dari menyusun protokol: mencari dua belas orang yang bersedia diuji.
Di atas kertas, dua belas subjek terdengar sederhana. Di kampung, dua belas subjek berarti dua belas wajah, dua belas nama, dua belas cerita—dan tiap satu dari mereka adalah pelanggan nyata yang Bayu kenal. Ini bukan angka anonim dalam basis data perusahaan, seperti dulu. Ini Pak Darso, dengan gulanya yang harus dijaga. Ini Mbok Jainah, yang punggungnya bungkuk karena puluhan tahun menggendong dagangan. Ini Pak Sopian, buruh angkut pasar yang bahunya selalu sakit. Orang-orang yang kalau ada apa-apa, Bayu akan melihat akibatnya tiap hari, di los pasar yang sama.
"Ini yang membuat berbeda," kata Bayu pada Sekar saat mereka menyusun kriteria. "Dulu di perusahaan, subjek uji itu nomor. Kalau ada efek samping, kita catat di formulir. Di sini, kalau ada efek samping, saya yang akan menatap mata anaknya di pasar besok pagi."
Sekar mengangguk. "Itu bukan kelemahan. Itu kekuatan. Justru karena kamu kenal mereka, kamu tidak akan ceroboh."
Tapi mengajak mereka ikut bukan perkara mudah. Trauma rapat balai yang ricuh masih segar; sebagian warga masih curiga pada apa pun yang berbau 'uji' dan 'data', karena di kepala mereka, uji dan data adalah hal yang dulu dipakai perusahaan untuk mengambil ramuan mereka. Saat Bayu menjelaskan di balai bahwa ia mencari sukarelawan untuk menguji ramuan angin dan pegal, ada keheningan curiga yang akrab. Bu Saminah bertanya tajam, "Ini buat siapa hasilnya? Buat kamu? Buat kampus? Apa nanti kampus yang patenkan?"
Di sinilah Yu Tarmi menyelamatkan segalanya.
Ia berdiri—perempuan tua dengan kebaya lusuh dan tangan yang kapalan oleh tali gendongan—dan ia berbicara dengan bahasa yang tidak dimiliki Bayu, bahasa yang tumbuh dari tiga puluh tahun menjual jamu dari pintu ke pintu.
"Dengar saya dulu," katanya, dan ruangan diam karena Yu Tarmi jarang bicara di depan umum. "Saya sudah jualan ramuan ini sejak sebagian dari kalian masih bocah. Dan tahu apa yang paling sering ditanya pelanggan saya? 'Yu, ini beneran manjur, atau cuma rasa enak?' Selama ini saya jawab sekenanya. 'Manjur kok, sudah turun-temurun.' Tapi sebenarnya saya tidak tahu. Saya cuma percaya." Ia memandang berkeliling. "Sekarang ada orang yang mau membuktikan—bukan untuk menjatuhkan kita, tapi untuk membela kita. Kalau ramuan kita memang manjur, untuk pertama kalinya kita bisa bilang ke pelanggan 'ini sudah diuji'. Bukan 'percaya saja'. Itu bedanya kita sama produk kotak hijau itu—mereka diuji untuk dijual, kita diuji untuk jujur."
Ia berhenti, lalu menambahkan, lebih pelan, "Dulu mereka menguji kita untuk menjatuhkan. Sekarang kita menguji diri sendiri untuk membela diri. Bedakan itu."
Kalimat itu mengubah ruangan. Bukan seketika—keraguan tidak hilang dalam satu pidato—tapi sesuatu bergeser. Pak Sopian, buruh angkut itu, yang pertama mengangkat tangan. "Bahu saya sakit terus, Yu. Kalau ramuan ini bisa dibuktikan manjur buat bahu saya, saya ikut. Saya cuma minta satu: kalau saya sakit gara-gara ini, ada yang tanggung jawab?"
"Ada," kata Bayu cepat, dan ia menjelaskan—dengan bahasa sesederhana mungkin—bahwa ada pemantauan ketat, ada dokter yang siaga, ada hak berhenti kapan saja, ada jaminan kalau terjadi sesuatu. Bahwa inilah yang membedakan uji yang jujur dari coba-coba: justru karena diatur ketat, justru karena ada yang bertanggung jawab. "Dan kalau Bapak dapat ramuan pembanding yang kosong, setelah uji selesai Mbah Kunto sendiri yang akan racikkan ramuan asli buat Bapak. Gratis."
Satu per satu, dengan ragu, lalu makin pasti, dua belas nama terkumpul. Pak Sopian. Mbok Jainah. Pak Darso—yang ikut bukan untuk gulanya, tapi untuk pegal di lututnya, dan yang Bayu pastikan datanya dijaga ekstra ketat mengingat riwayatnya. Beberapa pelanggan setia Yu Tarmi. Seorang ibu muda dengan keluhan masuk angin yang berulang.
Malam sebelum uji dimulai, Bayu duduk di dapur Mbah Kunto dengan daftar dua belas nama di tangannya, dan ia merasakan beban yang belum pernah ia rasakan di perusahaan. Di sana, tanggung jawab itu menyebar—ada manajemen, ada tim, ada perusahaan yang menanggung. Di sini, dua belas nyawa, dua belas tubuh yang ia kenal, ada di pundaknya dan pundak Sekar dan pundak Mbah Kunto, dan tidak ada perusahaan yang menanggung kalau salah.
"Berat ya," kata Sekar, membaca wajahnya.
"Berat," jawab Bayu. "Dulu saya kira yang membuat uji klinik berat itu prosedurnya. Ternyata yang berat itu wajahnya. Saya kenal mereka semua." Ia memandang daftar itu. "Tapi mungkin justru begini seharusnya. Mungkin selama ini masalahnya, di perusahaan, subjek terlalu mudah jadi angka. Di sini saya tidak bisa lupa mereka manusia, walau sedetik pun."
Mbah Kunto, yang sedang menumbuk sesuatu di sudut, berkata tanpa menoleh, "Itu yang membuatmu peracik, Bayu. Bukan timbanganmu. Kemampuanmu untuk tidak lupa bahwa di ujung tiap takaran, ada orang."