Menyusun laporan ke BPOM ternyata bukan soal amarah, melainkan soal ketelitian, dan Bayu mensyukuri itu—karena ketelitian adalah satu-satunya bahasa yang tidak mengkhianatinya saat tangannya gemetar.
Ia mengerjakannya selama tiga malam di lab kampus, dengan Damar di sebelahnya. Mahasiswa hukum itu datang membawa undang-undang dan peraturan kepala badan yang tebal, dan mereka membangun laporan itu seperti membangun jembatan: tiap pijakan harus menahan beban sebelum yang berikut diletakkan. Bayu menyediakan data—hasil kromatografi yang membuktikan kandungan terstandar, perbandingan klaim brosur dengan bukti ilmiah yang ada di literatur, daftar persis klaim mana yang tak punya dasar. Damar menerjemahkannya ke bahasa regulasi: pasal yang dilanggar, kategori produk, kewenangan badan.
"Yang penting," kata Damar, mengetuk laporan itu dengan pena, "kita tidak menuduh produknya berbahaya. Karena tidak. Kita tidak menuduh kandungannya palsu. Karena tidak. Kita cuma melaporkan satu hal: klaim di label dan brosur melampaui bukti yang dimiliki. Itu pelanggaran yang konkret, bisa dicek, tidak bisa dibantah dengan emosi."
Bayu mengangguk. Itu persis ajaran Lestari: serang klaimnya, bukan kandungannya. Dan itu persis prinsipnya sendiri—jangan melebih-lebihkan kebenaran, bahkan untuk menjatuhkan musuh. Kalau ia menuduh produk itu berbahaya padahal tidak, ia jadi sama bohongnya dengan klaim yang ia laporkan.
Sekar membaca draf akhirnya dan meletakkannya pelan. "Kamu sadar apa yang kamu lakukan ini?" tanyanya. "Begitu surat ini masuk, kamu resmi jadi musuh Wreksa Hayati. Bukan mantan karyawan yang dipecat dan diam. Pelapor. Whistleblower."
"Saya tahu."
"Whistleblower jarang menang, Bayu," kata Sekar, dan suaranya tidak menakut-nakuti, hanya jujur. "Yang lebih sering terjadi: perusahaannya bertahan, dan pelapornya yang hancur. Reputasi rusak. Tidak ada yang mau mengontrak konsultan yang pernah melaporkan kliennya sendiri ke regulator. Industri ini kecil, Bayu. Mereka saling kenal. Kamu menutup pintumu sendiri ke seluruh industri farmasi."
Bayu memandangnya. Ia sudah memikirkan ini—berjam-jam, bermalam-malam. Ia tahu Sekar benar. Karier yang ia bangun selama tiga tahun di QC, gelar konsultan yang ia kejar, jaringan yang ia rajut—semua itu akan tertutup begitu namanya tercatat sebagai pelapor. Tidak akan ada perusahaan yang berani mempercayainya lagi. Ia akan jadi orang yang 'menggigit tangan yang memberi makan'.
"Dulu," kata Bayu pelan, "di pabrik lama saya, saya pernah diam saat seharusnya saya bicara. Bukan soal yang sama. Tapi saya diam. Dan saya sudah menyimpan diam itu di dada saya selama bertahun-tahun." Ia tidak menjelaskan lebih jauh, dan Sekar tidak mendesak; ia tahu ada luka di sana yang Bayu belum siap buka. "Saya tidak mau menambah satu lagi. Kalau saya diam sekarang, saya akan jadi orang yang tahu ada klaim bohong yang dijual ke orang sakit, dan memilih menyelamatkan karier saya daripada bicara. Saya tidak bisa hidup jadi orang itu dua kali."
Sekar menatapnya lama. Lalu ia mengambil pena, dan di samping tanda tangan Bayu di lembar terakhir, ia menulis namanya sendiri sebagai pendukung data ilmiah—Sekar Wungu, mahasiswa riset fitofarmaka.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Bayu.
"Kalau kamu mau hancur, kamu tidak hancur sendirian," kata Sekar. "Lagipula data kromatografi ini sebagian dari instrumen tesisku. Aku ikut bertanggung jawab atasnya. Itu bukan pengorbanan, itu kejujuran. Aku tidak mau namaku hilang dari kebenaran cuma supaya aman."
Bayu merasakan sesuatu menghangat di dadanya, dan ia tidak berkata apa-apa, karena ada hal-hal yang kalau diucapkan justru mengecil. Ini bukan romansa—ia tahu itu, dan ia tidak menginginkannya jadi itu. Ini sesuatu yang lebih jarang dan, mungkin, lebih kuat: dua orang yang memutuskan berdiri di tempat yang sama saat berdiri di sana mahal harganya.
Mereka mengirim laporan itu lewat pos tercatat dan juga mengantarkannya langsung ke kantor penerimaan, supaya ada dua jejak yang tak bisa hilang. Bayu memandangi resi pengiriman di tangannya dengan perasaan yang sulit dijelaskan—bukan kemenangan, bukan kelegaan, melainkan semacam ketenangan dingin orang yang baru saja menutup satu pintu di belakangnya dan tahu pintu itu tidak akan terbuka lagi.
Di luar kantor BPOM, di trotoar yang ramai dan bising, Damar berkata, "Sekarang kita tunggu. Bisa berminggu-minggu. Bisa berbulan. BPOM tidak bergerak cepat. Dan begitu mereka mulai bergerak, Wreksa Hayati akan tahu siapa yang melapor. Tidak sulit menebak. Tidak banyak orang yang punya data sedetail ini selain mantan konsultan standardisasi mereka sendiri."
"Saya tahu," kata Bayu.
Malam itu ia menelepon Mbah Kunto untuk memberi tahu apa yang sudah ia lakukan. Orang tua itu mendengarkan dalam diam, lalu berkata, dengan suara yang serak oleh usia tapi jernih oleh keyakinan, "Kau tahu, eyang guru saya pernah bilang, peracik yang baik bukan yang ramuannya selalu manjur. Tapi yang berani bilang 'ini tidak manjur' saat ramuannya memang tidak manjur. Yang kau lakukan ke perusahaan itu—" suaranya melembut, "—itu yang seharusnya mereka lakukan ke diri mereka sendiri. Kau menolong mereka jujur, walau mereka akan membencimu karenanya. Tidur yang nyenyak, Bayu. Malam ini kau tidur dengan dada yang ringan."
Dan, anehnya, ia memang tidur nyenyak. Untuk pertama kali sejak surat pemutusan kontrak datang.