Bayu menguji produk Wreksa Hayati di lab kampus pada malam hari, saat tidak ada orang, dengan sisa jatah pelarut tesis Sekar dan rasa berdosa yang aneh—seperti membongkar rahasia rumah yang pernah ia tinggali.
Ia menyiapkan sampel dengan tangan yang otomatis tahu apa yang harus dilakukan: melarutkan serbuk dari tiga sachet berbeda dari batch berbeda, menyaring, menyuntikkan ke kromatografi cair yang sudah ia kalibrasi dengan teliti. Di layar, puncak-puncak grafik naik satu per satu, dan Bayu membacanya seperti membaca tulisan tangan orang yang ia kenal. Karena ia memang kenal—ini metode yang dulu ia bantu susun, sebelum ia menolak menandatangani berkasnya.
Dan inilah yang membuatnya berhenti: kandungannya benar terstandar. Kadar xantorizol—penanda temulawak yang dulu sering disebut Sekar—konsisten antar batch, dalam rentang yang sempit. Mereka melakukan pekerjaan teknis dengan baik. Bayu nyaris tertawa pahit. Pekerjaan teknis yang baik itu, sebagian, adalah pekerjaannya sendiri, sebelum ia pergi. Mereka memakai fondasi yang ia bangun, lalu menumpuk di atasnya hal yang ia tolak.
Karena masalahnya bukan di isi botol. Masalahnya di brosur.
Isi botolnya jujur—ekstrak terstandar, kadar terukur, seragam. Tapi klaim di brosur melompat jauh melampaui apa yang bisa dibuktikan kandungan itu. 'Membantu fungsi hati'—berdasarkan apa? Studi pada hewan dengan dosis jauh lebih tinggi dari yang ada di sachet, mungkin, kalau ada. Tidak pernah ada uji pada manusia yang membuktikan satu sachet ini melakukan apa pun pada hati seseorang. 'Mengembalikan stamina'—frasa yang artinya bisa apa saja dan karena itu tidak bisa dibuktikan apa pun. 'Meningkatkan daya tahan tubuh'—klaim yang sudah lama jadi tempat sampah untuk menjual apa saja yang tak punya bukti khusus.
Bayu menyusun temuannya di atas kertas, dingin dan teratur: kandungan terstandar (terbukti), klaim khasiat melampaui bukti (terdokumentasi). Lalu ia duduk lama memandanginya, karena ia tahu apa arti kertas ini.
Kertas ini bisa menjatuhkan Wreksa Hayati. Atau setidaknya melukainya.
Dan di situlah dilemanya bercabang dengan cara yang tidak ia duga akan terasa serumit ini. Karena melaporkan klaim palsu ini ke BPOM bukan cuma menyerang mantan perusahaannya—itu juga, dalam pikiran publik yang malas membedakan, menyerang 'jamu Tamansari'. Produk itu memakai nama yang mengasosiasikan dirinya dengan asal-usul kampung. Kalau produk itu kena sanksi karena klaim bohong, koran akan menulis 'jamu Tamansari ditegur BPOM', bukan 'perusahaan farmasi melebihkan klaim'. Nuansa akan hilang. Yang tinggal cuma cap buruk yang menempel pada nama yang justru ia perjuangkan.
Ia menelepon Sekar tengah malam. Sekar datang dengan rambut diikat asal, dan membaca kertas itu di bawah lampu lab, dan diam lama.
"Isinya benar, klaimnya bohong," rangkum Sekar. "Persis pola yang kamu tolak dulu."
"Persis," kata Bayu. "Tapi kalau aku laporkan, dan BPOM menindak, nama Tamansari ikut tercoreng. Orang tidak akan baca bedanya antara perusahaan dan kampung. Mereka cuma akan ingat: jamu itu ditegur."
Sekar duduk di kursi lab, menatap grafik di layar. "Jadi kamu diam saja? Membiarkan klaim bohong jalan terus supaya nama kampung aman?"
"Itu yang menyiksaku," jawab Bayu. "Kalau aku diam demi melindungi kampung, aku jadi persis seperti dulu—diam saat tahu ada yang salah, demi sesuatu yang lebih besar. Itu yang aku benci dari diriku yang lama."
Mereka tidak menemukan jawaban malam itu. Tapi keesokan harinya, jawaban datang dari arah yang tak mereka duga.
Lestari menemuinya di sebuah warung kopi jauh dari pasar, jauh dari kampung, tempat di mana ia tidak akan dikenali. Ia datang dengan kerah jaket dinaikkan, dan ia tidak banyak basa-basi.
"Aku tahu kamu sudah menguji produk kami," kata Lestari pelan. "Jangan tanya bagaimana aku tahu. Dan aku tahu kamu menemukan apa yang kamu temukan, karena aku ada di rapat saat keputusan klaim itu diambil. Aku menentang. Aku kalah suara."
Bayu menatapnya. "Kenapa kamu cerita ini ke saya?"
Lestari mengaduk kopinya yang tidak ia minum. "Karena aku lelah, Bayu. Aku masuk ke perusahaan ini supaya sains bisa menolong tradisi. Bukan supaya tradisi dipakai sebagai bumbu pemasaran untuk klaim yang tidak bisa kupertanggungjawabkan." Ia mengeluarkan secarik kertas terlipat dari sakunya, mendorongnya ke seberang meja, tapi tidak melepaskan tangannya dulu. "Aku tidak bisa jadi orang yang melaporkan. Kalau aku, aku kehilangan segalanya dan tidak ada gunanya. Tapi kamu... kamu sudah di luar. Kamu sudah tidak punya yang bisa hilang." Ia melepaskan kertas itu. "Ini bukan rahasia perusahaan. Ini cuma penunjuk arah—nomor registrasi produk, jalur yang mereka pakai, dan klaim mana yang paling lemah dasarnya. Supaya laporanmu tepat sasaran, bukan tembakan asal."
Bayu memandang kertas terlipat itu, tidak menyentuhnya. "Kamu sadar ini bisa menghancurkanmu kalau ketahuan."
"Aku sadar," kata Lestari, dan untuk sesaat ada kelelahan yang dalam di matanya, kelelahan orang baik yang terlalu lama mencoba memperbaiki sesuatu dari dalam tanpa hasil. "Tapi aku lebih tidak tahan lagi melihat sains yang kucintai dipakai berbohong. Pakai itu, atau buang. Terserah kamu. Tapi kalau kamu pakai—" ia berdiri, mengencangkan jaketnya, "—pastikan kamu menyerang klaimnya, bukan kandungannya. Karena kandungannya benar. Yang bohong cuma janjinya. Dan kalau kamu salah serang, kamu akan kehilangan kredibilitasmu dan mereka menang."
Ia pergi sebelum Bayu sempat menjawab. Bayu duduk sendirian lama, memandang kertas terlipat di meja, kopi yang mendingin, dan keputusan yang perlahan mengeras di dadanya. Lestari benar tentang segalanya—termasuk tentang dirinya sendiri. Bayu sudah tidak punya yang bisa hilang. Dan justru karena itu, ia satu-satunya yang bisa mengangkat suara.