Yu Tarmi yang pertama melihatnya, dan ia melihatnya dengan cara yang paling menyakitkan: sebagai pesaing di rak, di toko tempat ia justru sedang membeli plastik kemasan untuk jamunya sendiri.
Ia menelepon Bayu pagi-pagi sekali, suaranya bergetar antara marah dan tidak percaya. "Mas Bayu, ke apotek depan pasar. Sekarang. Yang sebelah toko kelontong Pak Gun."
Bayu datang dengan Sekar, dan mereka berdiri di depan etalase apotek itu, memandang ke dalam kaca pada deretan kotak berwarna hijau-keemasan yang ditata rapi setinggi mata. Di kotak itu ada nama yang asing—nama dagang yang terdengar modern, filtrat dari bahasa yang dibuat-buat supaya berkelas—dan di bawahnya, dengan huruf lebih kecil, tertulis: ekstrak terstandar rimpang temulawak dan jahe, untuk meredakan pegal linu dan masuk angin. Di sudut kotak ada logo Wreksa Hayati yang Bayu kenal sampai ke lekuk hurufnya.
Ia merasakan sesuatu yang dingin merayap di tengkuknya. Bukan kejutan—ia tahu ini akan datang. Tapi melihatnya, nyata, di rak, dengan harga yang tercetak di label sebesar tiga kali harga sebotol jamu Yu Tarmi, adalah hal yang berbeda dari mengetahuinya secara abstrak.
"Itu ramuan kami," kata Yu Tarmi, dan suaranya tercekik. "Angin dan pegal. Yang saya jual keliling tiga puluh tahun. Yang Mbah Kunto racik. Sekarang ada di kotak bagus dengan nama yang saya tidak bisa baca, dan harganya... harganya segitu." Ia menelan ludah. "Pelanggan saya tidak akan beli punya saya kalau yang di apotek dianggap lebih bagus."
Sekar membeli satu kotak. Tangannya gemetar menyerahkan uang. Di rumah Mbah Kunto, mereka membukanya bersama: di dalam ada sachet-sachet rapi berisi serbuk cokelat keemasan, dengan brosur lipat yang penuh klaim. Bayu membacanya, dan rahangnya mengeras. Brosur itu menjanjikan bukan cuma meredakan pegal—ia menjanjikan 'meningkatkan daya tahan tubuh', 'membantu fungsi hati', 'mengembalikan stamina', dan di bagian bawah, dengan huruf kecil yang nyaris tak terbaca, satu kalimat pengaman: belum dievaluasi untuk mengobati penyakit.
"Mereka pintar," kata Bayu pahit. "Klaim besar di atas, sangkalan kecil di bawah. Persis garis yang dulu saya tolak tanda tangani."
Mbah Kunto memegang satu sachet, memutarnya di jari, mencium baunya lewat kemasan. Lama ia diam. "Ini bukan racikan saya," katanya akhirnya. "Baunya benar, tapi ini bukan racikan saya. Racikan saya tidak pernah janji mengembalikan stamina. Racikan saya cuma bilang: minum ini, badanmu enakan, dan kalau besok masih sakit, ke dokter. Ini—" ia meletakkan sachet itu seolah benda itu kotor, "—ini menjual harapan yang tidak bisa ia tepati."
Kabar menyebar ke seluruh kampung dalam sehari, dan untuk pertama kali sejak rapat balai yang ricuh berbulan lalu, sesuatu yang tak terduga terjadi: kemarahan menyatukan mereka. Pak Heru, yang dulu paling ngotot ingin menjual resep ke perusahaan, kini berdiri di balai dengan wajah merah, meneriakkan bahwa mereka sudah ditipu. Bu Saminah dan Bu Wati, yang dulu saling curiga sampai koperasi macet, kini duduk berdampingan dengan kemarahan yang sama. Yu Tarmi memperlihatkan kotak hijau-keemasan itu ke siapa pun yang mau melihat.
Tapi Bayu, berdiri di pinggir keramaian itu, merasakan sesuatu yang tidak ia bagikan. Karena di balik kemarahan kolektif itu, ada putus asa yang lebih sunyi. Pak Sukro, petani temulawak tua, menariknya ke pojok. "Mas," katanya lirih, "saya tidak bisa ikut marah-marah. Cucu saya butuh biaya sekolah. Kalau perusahaan itu beli temulawak saya dengan harga tetap, saya... saya tidak tahu apakah saya kuat menolaknya cuma karena prinsip."
Kalimat itu menohok Bayu lebih dalam dari semua teriakan di balai. Karena Pak Sukro benar. Kemarahan menyatukan, tapi kemarahan tidak membayar sekolah cucu. Dan perusahaan tahu itu—mereka selalu tahu—bahwa front yang disatukan amarah akan retak begitu lapar datang.
"Saya mengerti, Pak," kata Bayu, dan ia sungguh mengerti, dan justru karena ia mengerti, ia merasa beratnya bertambah. "Saya tidak akan menyalahkan Bapak kalau Bapak menjual ke mereka. Tapi beri saya waktu. Beri kami sedikit waktu untuk membuat menjual ke koperasi sendiri jadi pilihan yang masuk akal. Jangan tutup pintunya dulu."
Malam itu, di dapur Mbah Kunto, Sekar memandang kotak hijau-keemasan yang masih tergeletak di meja. "Mereka lebih cepat dari yang kita kira," katanya. "Kita masih di komisi etik. Mereka sudah di rak."
Bayu mengambil kotak itu, membaca lagi klaim-klaimnya. Ada sesuatu yang menggelitik di kepalanya—bukan amarah kali ini, melainkan kebiasaan lama seorang QC. "Sekar," katanya pelan. "Mereka bilang ekstrak terstandar. Berarti mereka mengklaim kandungannya terukur dan seragam. Itu bisa saya cek." Ia menatapnya. "Dan klaim 'membantu fungsi hati', 'mengembalikan stamina'—itu butuh bukti uji yang mereka tidak punya. Saya tahu mereka tidak punya. Saya yang dulu kerja di sana."
Sekar menahan napas. "Kamu mau menguji produk mereka sendiri."
"Kalau isinya benar terstandar tapi klaimnya bohong," kata Bayu, "maka mereka melanggar aturan yang sama yang saya tolak langgar. Dan itu—" ia meletakkan kotak itu, "—itu bukan urusan amarah kampung. Itu urusan BPOM."