Tanpa Wreksa Hayati, segalanya harus dibangun ulang dari bawah, dan Bayu menemukan—dengan campuran frustrasi dan rasa hormat yang tidak ia duga—bahwa membangun dari bawah itu lebih jujur daripada yang pernah ia kerjakan di perusahaan.
Di pabrik, protokol uji selalu datang setengah jadi. Ada template. Ada konsultan. Ada bagian hukum yang membersihkannya. Bayu tinggal mengisi angka. Tapi di ruang baca perpustakaan kampus, dengan Sekar di seberang meja dan tumpukan pedoman komisi etik yang dipinjam dari Prof. Hadi, ia harus menyusun semuanya dari halaman kosong. Tujuan penelitian. Kriteria subjek. Cara mengukur hasil. Cara melindungi orang yang ikut. Dan untuk pertama kali ia membaca pedoman etik itu bukan sebagai rintangan birokratis, melainkan sebagai sesuatu yang sebenarnya berpihak pada manusia.
"Lihat ini," katanya pada Sekar, menunjuk satu pasal. "Subjek berhak berhenti kapan saja tanpa kehilangan apa pun. Tidak boleh ada paksaan, tidak boleh ada iming-iming berlebihan. Dulu di perusahaan, ini kami baca sebagai 'jangan sampai dituntut'. Sekarang saya baca, dan... ini sebenarnya melindungi Pak Darso. Melindungi pelanggan Yu Tarmi. Aturan ini ditulis supaya orang seperti mereka tidak dijadikan kelinci percobaan."
Sekar mengangkat alis. "Kamu baru sadar?"
"Saya baru merasakannya," jawab Bayu. "Beda."
Mereka memutuskan bentuk uji yang sederhana dan jujur: studi kecil pada ramuan angin dan pegal, dengan dua belas subjek, mengukur perubahan keluhan nyeri sebelum dan sesudah dengan skala yang sudah baku dalam literatur. Bukan uji besar yang menjanjikan dunia. Uji kecil yang menjanjikan satu hal yang bisa dibuktikan: apakah ramuan ini, dalam dosis terstandar, benar-benar mengurangi pegal lebih dari sekadar minum air hangat.
Tapi di sinilah Bayu bertabrakan dengan dirinya sendiri yang dulu. Karena untuk uji yang benar, ia butuh pembanding—kelompok yang minum sesuatu yang mirip tapi kosong, supaya bisa dipisahkan mana efek ramuan dan mana sekadar perasaan enak karena merasa diperhatikan. Plasebo. Dan membuat plasebo dari ramuan jamu itu mimpi buruk: bagaimana membuat cairan yang baunya, warnanya, rasanya serupa rebusan jahe-temulawak tapi tanpa kandungan aktifnya, supaya subjek tidak tahu mana yang mereka minum?
"Mbah Kunto akan marah," kata Sekar. "Memberi orang ramuan kosong, pura-pura itu jamu. Buat dia itu seperti berdusta pada pasien."
Ia benar. Saat mereka menjelaskannya di dapur, Mbah Kunto meletakkan centongnya dan menatap mereka seolah mereka baru saja menyarankan sesuatu yang kotor. "Kalian mau saya kasih air berwarna ke orang sakit dan bilang itu obat?"
"Bukan begitu, Mbah," kata Bayu, dan ia menjelaskan dengan hati-hati: bahwa subjek akan diberi tahu sejak awal mereka mungkin mendapat ramuan asli atau pembanding, bahwa mereka setuju, bahwa setelah uji selesai siapa pun yang dapat pembanding akan diberi ramuan asli gratis. Bahwa justru karena pembanding inilah, kalau ramuan asli terbukti lebih baik, buktinya tidak bisa dibantah siapa pun. "Kalau kita tidak pakai pembanding, Mbah, perusahaan akan bilang hasil kita cuma sugesti. Mereka yang akan menuduh kita berdusta. Pembanding ini justru perisai kita."
Mbah Kunto lama termenung. Lalu ia berkata, pelan, "Eyang guru saya dulu bilang, obat yang paling berbahaya adalah obat yang kau yakini manjur padahal tidak. Karena kau berhenti mencari yang benar." Ia mengangguk satu kali. "Buat air berwarnamu itu. Tapi setelah selesai, yang dapat air kosong, saya sendiri yang racikkan ramuan asli untuk mereka. Dengan tangan saya."
Mereka membawa protokol itu ke Prof. Hadi, yang membacanya dengan kacamata melorot di hidung, mencoret beberapa bagian, menambah catatan di pinggir, dan akhirnya berkata, "Ini bisa diajukan ke komisi etik. Tapi kalian harus paham—" ia melepas kacamatanya, "—prosesnya berbulan-bulan. Komisi sidang sebulan sekali. Ada revisi, ada perbaikan. Lalu rekrutmen subjek, lalu uji berminggu-minggu, lalu analisis. Kalian baru bisa pegang hasil sahih mungkin enam, tujuh bulan dari sekarang. Kalau cepat."
Bayu merasakan beratnya. Enam, tujuh bulan. Sementara ia tahu, dari obrolan terakhirnya dengan Lestari sebelum kontraknya putus, bahwa Wreksa Hayati sudah hampir merilis produk ekstrak terstandarnya sendiri. Perusahaan tidak perlu menunggu komisi etik untuk produk yang memakai jalur registrasi obat tradisional yang lebih cepat. Mereka akan berada di rak apotek jauh sebelum kampung punya satu lembar hasil yang sah.
"Mereka akan menang duluan, Prof," kata Bayu.
"Mungkin," jawab Prof. Hadi. "Tapi mereka menang dengan klaim yang belum dibuktikan, dengan jalur yang menghindari pertanyaan sulit. Kalian kalah cepat tapi menang benar. Pertanyaannya—" ia memasang kacamatanya kembali, "—apakah 'benar' itu cukup berharga untuk ditunggu tujuh bulan, saat lawanmu sudah laku tiga bulan lagi."
Di luar ruangan, di koridor kampus yang sepi, Sekar menatap Bayu. "Kamu masih mau lanjut? Setelah tahu kita pasti kalah cepat?"
Bayu memandang protokol di tangannya—berlembar-lembar, disusun dari nol, jujur sampai ke pasal terkecil. "Dulu saya pikir yang penting cepat dan rapi," katanya. "Sekarang saya kerja di lab pinjaman, untuk ramuan yang bukan punya saya, dengan jadwal yang pasti kalah dari pesaing. Dan ini pekerjaan paling jujur yang pernah saya lakukan." Ia melipat protokol itu. "Lanjut. Kita kalah cepat. Tapi kita susun ini supaya saat kita menang nanti, tidak ada yang bisa membantah satu angka pun."