Kampung itu tahu sebelum Bayu sempat mengumumkannya. Begitulah kampung; kabar berjalan lebih cepat dari kaki orang yang membawanya. Saat Bayu datang ke balai pertemuan sore itu—balai yang sama yang dulu ricuh, dengan lantai semen yang dingin dan papan pengumuman yang catnya mengelupas—orang sudah berkumpul, dan ia bisa membaca di wajah mereka bahwa mereka menunggunya berkata sesuatu yang sebenarnya sudah mereka duga.
Ia berdiri di depan, dan untuk sesaat ia merasakan kembali kecanggungan hari pertama: lelaki kota dengan kemeja terlalu rapi, yang datang membawa timbangan ke tempat orang meracik dengan tangan. Tapi sekarang kemejanya tidak terlalu rapi lagi—ada noda kunyit di lengannya yang tidak hilang dicuci—dan ia tidak membawa timbangan. Ia cuma membawa dirinya.
"Saya mau jujur soal di mana saya berdiri sekarang," kata Bayu. "Karena selama ini saya datang ke sini sebagai orang perusahaan. Dibayar untuk mengubah ramuan kalian jadi produk. Sebagian dari kalian curiga pada saya, dan kalian benar curiga. Karena dulu saya memang tangan mereka."
Ruangan diam. Pak Heru, yang dulu paling keras menuntut menjual resep cepat-cepat, bersandar di dinding dengan tangan terlipat, menunggu.
"Sekarang perusahaan itu sudah memutus saya," lanjut Bayu. "Bukan karena saya pahlawan. Karena saya menolak menandatangani sesuatu yang saya tahu bohong. Itu saja. Tapi karena saya menolak, saya kehilangan bayaran, kehilangan lab, kehilangan pekerjaan. Saya berdiri di sini sekarang tanpa apa-apa, sama seperti kalian. Dan saya minta izin untuk tetap di sini—bukan sebagai orang yang dibayar, bukan sebagai orang yang membawa perusahaan, tapi sebagai orang yang mau menguji ramuan kalian dengan jujur. Apa pun hasilnya."
Bu Saminah, yang duduk di barisan depan dengan kerudung cokelatnya, mengangkat suara. "Apa pun hasilnya itu maksudnya bagaimana? Kalau hasilnya jelek?"
"Kalau hasilnya jelek, saya bilang jelek," kata Bayu, dan ia melihat beberapa orang bergeser tidak nyaman. "Saya tidak akan bilang ramuan kalian semuanya manjur supaya kalian senang. Kalau ada yang manjur, saya buktikan manjur, dan bukti itu jadi milik kalian, bukan milik perusahaan. Tapi kalau ada yang ternyata cuma rasa enak tanpa khasiat, saya akan bilang itu juga. Karena kalau saya berbohong demi kalian, saya jadi persis orang yang saya lawan. Dan kebohongan yang membela kalian hari ini akan membunuh kalian saat ada yang mengeceknya nanti."
Suara-suara berdengung. Sebagian marah, sebagian ragu. Lalu Mbah Kunto, yang sejak tadi duduk di pojok tanpa bicara, berdiri perlahan. Tubuhnya yang kurus seperti membutuhkan waktu untuk meluruskan dirinya, tapi ketika ia berdiri, ruangan diam.
"Anak ini," kata Mbah Kunto, "datang ke dapur saya kemarin dan menimbang dua potong temu lawak. Yang muda dan yang tua. Saya sudah bilang mana yang muda sebelum dia timbang. Dan setelah dia timbang, angkanya setuju dengan saya." Ia berhenti, memandang berkeliling. "Selama ini saya pikir alat-alatnya itu mau menggantikan saya. Mau bilang jempol saya salah dan angka mereka benar. Tapi kemarin alatnya cuma membenarkan jempol saya. Bedanya, angka itu bisa saya wariskan. Jempol saya akan ikut saya ke kubur."
Kalimat terakhir itu menggantung di ruangan seperti bau rebusan yang lambat hilang.
"Saya terima dia," kata Mbah Kunto. "Tapi dengan satu syarat." Ia menoleh ke Bayu, dan untuk pertama kali ada sesuatu yang nyaris seperti tantangan di matanya. "Kalau kau mau menulis racikan saya, kau harus belajar meraciknya. Bukan cuma menimbangnya. Kau harus tahu rasanya kencur yang tua di lidah, kau harus tahu kapan rebusan sudah cukup pekat dari baunya, bukan dari termometer. Kalau kau cuma tahu angkanya tanpa tahu dapurnya, kau akan menulis buku yang benar tapi mati. Sama matinya dengan beras kencur yang kau bakukan dulu itu."
Bayu ingat beras kencur itu—racikan pertamanya yang 'benar' secara angka tapi ditolak seluruh lidah kampung karena rasanya hambar dan, kata mereka, khasiatnya hilang. Ia ingat rasa malunya. Dan ia mengerti, sekarang, bahwa syarat Mbah Kunto bukan hukuman. Itu undangan.
"Saya belajar, Mbah," kata Bayu. "Asal Mbah mau mengajari."
Mbah Kunto mengangguk, dan duduk kembali, seolah seluruh tenaganya habis untuk berdiri itu.
Pak Heru tidak puas. "Bagus, kalian berdua sudah mesra," katanya dengan nada yang tajam. "Tapi sementara kalian main timbang-menimbang di dapur, perusahaan itu jalan terus. Mereka tidak menunggu kita belajar saling sayang. Kalian pikir mereka diam?"
Bayu menatapnya. Pak Heru tidak salah, dan itulah yang membuat kalimatnya menyakitkan. "Tidak, Pak," jawab Bayu. "Mereka tidak diam. Mereka jauh lebih cepat dari kita, lebih kaya dari kita, dan secara hukum sekarang mereka mungkin di atas angin. Saya tidak janji kita menang. Saya cuma janji satu hal: kalau kita kalah, kita kalah dengan kebenaran di tangan, bukan kebohongan. Dan kebenaran itu, suatu hari, bisa dipakai. Kebohongan tidak."
Ia tidak tahu apakah jawaban itu cukup untuk Pak Heru. Mungkin tidak. Mungkin selamanya tidak. Tapi saat ia keluar dari balai sore itu, Sekar berjalan di sisinya, dan ia merasakan sesuatu yang asing—bukan kepastian, sebab kepastian sudah lama meninggalkannya, tapi pijakan. Untuk pertama kali sejak ia menerima kontrak Wreksa Hayati, ia tidak lagi terjepit di antara dua pihak sambil berpura-pura netral. Ia sudah memilih. Pilihannya membawa risiko yang sepenuhnya pribadi, tanpa perusahaan yang menanggung, tapi pilihan itu miliknya, dan ia tahu kenapa ia memilihnya.
Babak pertama hidupnya di Tamansari telah selesai. Ia datang sebagai tangan perusahaan yang melawan tradisi. Ia keluar dari balai itu sebagai bagian dari kampung yang akan melawan perusahaan—dan, ia tahu, melawan birokrasi, melawan pasar, melawan segala hal yang lebih besar dari mereka. Pertarungannya baru saja berganti bentuk.