Lab kampus itu paling sepi pukul tujuh pagi, dan Bayu menyukainya begitu. Tidak ada antrean mahasiswa di depan timbangan analitik, tidak ada dengung sentrifus yang dipakai bergantian, hanya cahaya pucat yang masuk lewat jendela kaca berlapis debu dan bau samar etanol yang sudah lama tidak ia hirup sebagai milik sendiri. Ia membentangkan selembar kertas kuarto di atas meja kerja yang ujungnya gompal, dan di atasnya ia menulis satu kata dengan huruf kapital: ANGGARAN. Lalu ia berhenti, karena di bawah kata itu tidak ada apa-apa yang bisa ia tulis.
"Kita punya berapa?" tanya Sekar, datang dengan dua gelas teh dari kantin yang belum buka—entah bagaimana ia selalu bisa.
"Tergantung," jawab Bayu. "Kalau kita pakai instrumen yang sudah ada di lab ini, dan pelarut sisa jatah tesismu, dan kita tidak membeli standar pembanding baru—nol. Nyaris nol. Kita cuma keluar untuk bahan baku jamunya dan reagen yang habis pakai."
Sekar meletakkan satu gelas di dekat tangannya. "Dulu, di Wreksa Hayati, berapa anggaran sekali validasi metode?"
Bayu menyebut angka, dan begitu angka itu keluar dari mulutnya ia langsung menyesal, karena angka itu di ruangan ini terdengar seperti penghinaan. Sekar tidak tertawa. Ia cuma menyeruput tehnya dan berkata, "Berarti kita harus pintar di tempat mereka pintar pakai uang."
Mereka memutuskan untuk tidak serakah. Bukan menstandarkan seluruh apotek racikan Mbah Kunto—itu mimpi yang akan memakan tahun dan dana yang tidak mereka punya—melainkan satu ramuan saja. Satu yang mereka tahu, dari hasil lab perusahaan dulu, benar-benar punya kandungan aktif yang terukur. Rebusan yang warga sebut sekadar 'ramuan angin dan pegal': perasan jahe, sereh, dengan temulawak dan sedikit kayu manis, diminum hangat oleh buruh pasar yang punggungnya remuk dan orang tua yang sendinya berbunyi tiap pagi. Ramuan yang sederhana, murah, dan—ini yang penting—bekerja, bukan karena sugesti melainkan karena ada senyawa di dalamnya yang memang bisa diukur.
"Kenapa yang ini?" tanya Sekar, meski ia sudah tahu jawabannya.
"Karena kalau kita mau membela kampung dengan data, kita harus mulai dari data yang membela kampung," kata Bayu. "Bukan kebohongan. Kebenaran yang kebetulan menguntungkan. Kalau yang pertama kita uji ternyata kosong, kita sudah kalah sebelum mulai."
Masalahnya bukan instrumen. Masalahnya bahan baku. Di pabrik, simplisia datang dengan sertifikat analisis, dikeringkan pada suhu terkontrol, dengan kadar air tercatat di tiap karung. Di Tamansari, temulawak datang dari kebun Pak Sukro yang dijemur di tampah di halaman, tergantung matahari dan kalau hujan ditunda. Jahe dibeli Yu Tarmi dari tengkulak yang berbeda tiap minggu. Tidak ada yang sama. Tiap batch bahan baku adalah lotere kecil, dan Bayu tahu, dari dasar tulangnya sebagai orang QC, bahwa kalau bahan bakunya berayun liar, hasil akhirnya tidak akan pernah bisa ia kunci.
Maka mereka pergi ke dapur. Bukan ke pabrik—ke dapur Mbah Kunto, dengan kuali tembaganya dan rak botol berlabel tulisan tangan, dan di sanalah meja yang aneh itu terbentuk: di satu sisi Bayu meletakkan timbangan portabel, alat ukur kadar air sederhana yang ia pinjam dari lab, dan buku catatan bersampul tebal. Di sisi lain, Mbah Kunto duduk di dingklik kayunya, memilih rimpang dengan tangan, mematahkan satu, mencium, dan berkata, "Ini muda. Airnya banyak. Kalau dipakai sama beratnya dengan yang tua, kurang gigit."
Bayu menahan napas. Karena yang baru saja diucapkan orang tua itu, dalam bahasa dapur, adalah persis hal yang ingin ia ukur. Kadar air. Rimpang muda mengandung lebih banyak air, jadi kalau ditimbang dengan berat yang sama, bahan keringnya—yang mengandung senyawa aktif—lebih sedikit. Mbah Kunto tidak punya alat untuk mengukur kadar air. Ia punya hidung dan jempol dan enam puluh tahun. Dan ia benar.
"Mbah," kata Bayu pelan, "boleh saya timbang yang muda dan yang tua, lalu saya keringkan keduanya, dan kita lihat angkanya?"
Mbah Kunto memandangnya dengan mata yang sulit dibaca. "Buat apa? Saya sudah tahu mana yang muda."
"Saya tahu Mbah tahu," kata Bayu. "Saya cuma mau tahu apakah angka saya setuju dengan jempol Mbah. Kalau setuju, berarti jempol Mbah bisa saya tulis jadi aturan. Supaya orang yang tidak punya jempol enam puluh tahun pun bisa meraciknya tanpa salah."
Sekar, yang berdiri di antara mereka, menahan senyum. Karena ini—ini—adalah hal yang ia tunggu sejak pertama kali membawa Bayu ke kampung ini: bukan timbangan melawan jempol, melainkan timbangan yang mau belajar dari jempol.
Mbah Kunto diam lama. Lalu ia mengangsurkan dua potong rimpang, satu muda satu tua, ke arah Bayu. "Ambil. Tapi kalau angkamu bilang yang muda lebih bagus, buku itu bohong dan kau buang."
"Setuju," kata Bayu.
Mereka bekerja sampai siang. Bayu menimbang, mengeringkan dalam oven kecil yang dibawa dari lab, mencatat susut bobot tiap sampel. Mbah Kunto, yang katanya tidak peduli, ternyata diam-diam mengintip angka di layar timbangan tiap kali Bayu membaca. Dan ketika hasilnya keluar—rimpang muda memang kehilangan bobot lebih banyak saat dikeringkan, persis seperti yang diramalkan jempol itu—orang tua itu tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk sekali, pelan, dan kembali memilah, kali ini menyisihkan yang muda ke satu tampah dan yang tua ke tampah lain tanpa diminta.
"Itu artinya iya," bisik Sekar pada Bayu. "Dari dia, anggukan itu artinya iya."
Di perjalanan pulang, Bayu memandangi buku catatannya yang dulu kosong—buku yang sama yang ia bawa di hari pertama, saat ia pulang dari kampung ini dengan amarah tertahan karena tidak ada satu angka pun yang bisa ia tulis. Sekarang halaman pertamanya penuh: kadar air rimpang muda versus tua, susut bobot pengeringan, dan di pinggirnya, dengan huruf kecil, kalimat Mbah Kunto yang ia kutip persis—'ini muda, airnya banyak, kurang gigit'. Lab dan dapur, untuk pertama kalinya, menulis di halaman yang sama. Tanpa modal, tanpa perusahaan, tanpa apa-apa selain dua kepala yang akhirnya berhenti saling meremehkan.