Sekar yang menemukan jalannya, dan ia menemukannya bukan dengan kemenangan melainkan dengan kehati-hatian seorang yang tahu betapa rapuh harapan yang ia bawa. Ia datang ke dapur Mbah Kunto keesokan harinya, saat Bayu masih duduk memilah rimpang dengan kecanggungan yang lambat-lambat berkurang, dan ia meletakkan sesuatu di pikiran Bayu yang membuatnya berhenti memilah.
"Lab kampus," kata Sekar. "Tesisku. Aku riset standardisasi ekstrak temulawak—markernya xantorizol dan kurkuminoid, kamu ingat. Untuk itu aku punya akses ke laboratorium fitofarmaka di kampus. Bukan selama-lamanya, bukan tanpa batas. Tapi selama riset tesisku berjalan, aku boleh memakai instrumennya, di bawah pengawasan dosen pembimbingku." Ia menatap Bayu. "Dan riset tesisku, secara hukum dan etika, adalah riset akademik. Bukan komersial. Bukan atas nama perusahaan mana pun. Kalau kamu membantu sebagai relawan—bukan dibayar, bukan atas nama Wreksa Hayati, bukan atas nama siapa-siapa—maka secara legal, hasilnya bisa membantu kampung. Bukan produk perusahaan. Pengetahuan akademik tentang racikan keluargaku."
Bayu merasakan sesuatu bergerak di dadanya yang sudah lama membeku. "Itu... bisa berhasil?"
"Mungkin. Tapi ada syaratnya, dan syaratnya bukan main-main." Sekar duduk. "Pembimbingku, Prof. Hadi. Dia akan setuju cuma kalau kerjanya benar-benar ilmiah. Bukan advokasi berbalut riset. Bukan kita cari data untuk membela kampung lalu menyebutnya penelitian. Riset yang jujur, yang siap menerima hasil apa pun—termasuk kalau hasilnya mempermalukan kampung. Kalau temulawak yang kita uji ternyata kosong, kita laporkan kosong. Prof. Hadi tidak akan meminjamkan namanya untuk apa pun yang kurang dari itu."
Mereka bertemu Prof. Hadi dua hari kemudian, di ruangannya yang penuh buku dan bau kertas tua, lelaki berusia enam puluhan dengan rambut putih dan tatapan yang menilai cepat seperti orang yang sudah puluhan tahun membedakan riset jujur dari riset pesanan. Ia mendengarkan Bayu menjelaskan latar belakangnya—QC di pabrik obat, konsultan standardisasi, kontrak yang baru diputus Wreksa Hayati—dan ia mendengarkan tanpa ekspresi, sampai Bayu selesai.
"Jadi kamu dipecat perusahaan farmasi," kata Prof. Hadi akhirnya, "dan sekarang mau memakai laboratorium kampus saya untuk meneruskan perang dengan mereka. Begitu?"
Bayu membuka mulut untuk membela diri, tapi ia memilih kejujuran, karena ia tahu lelaki di depannya akan mencium pembelaan dari jarak jauh. "Sebagian benar, Prof," katanya. "Saya memang punya alasan pribadi. Saya menolak menandatangani klaim yang melampaui bukti, dan saya kehilangan kontrak karena itu. Saya tidak akan pura-pura saya netral sempurna." Ia menatap Prof. Hadi lurus. "Tapi saya minta satu hal, dan saya minta dengan jujur. Saya tidak datang ke sini untuk mencari data yang membela kampung. Saya datang untuk mencari data yang benar. Kalau yang benar membela kampung, bagus. Kalau yang benar mempermalukan kampung—dan sebagian dari ramuan mereka memang kosong, saya sudah temukan itu di lab perusahaan—maka saya akan melaporkan yang kosong sebagai kosong. Saya pernah menolak melebih-lebihkan kebenaran untuk perusahaan. Saya tidak akan melebih-lebihkannya untuk kampung. Itu akan menjadikan saya persis orang yang saya lawan."
Prof. Hadi menatapnya lama, dan Bayu tidak tahu apakah ia baru saja menyelamatkan atau menghancurkan kesempatannya. Lalu lelaki tua itu menoleh ke Sekar. "Apakah dia bisa mengoperasikan kromatografi cair tanpa merusak kolomku?"
Sekar nyaris tersenyum. "Lebih baik dari saya, Prof. Dia tiga tahun di QC pabrik. Tangannya lebih bersih dari tangan saya."
Prof. Hadi mengangguk pelan, lalu kembali ke Bayu. "Riset tesis Sekar. Kamu relawan, tidak dibayar, namamu tidak muncul atas nama perusahaan mana pun. Hasilnya milik akademik—dipublikasikan, terbuka, jujur, apa pun isinya. Kalau aku mencium satu kali saja kamu membelokkan data demi membela siapa pun, kalian berdua keluar dari labku dan riset ini berhenti. Mengerti?"
"Mengerti, Prof."
"Dan satu lagi." Prof. Hadi melepas kacamatanya, dan untuk sesaat ketegasannya melunak menjadi sesuatu yang lebih tua dan lebih lelah. "Aku sudah lama di bidang ini. Aku sudah melihat banyak peneliti datang membela jamu dengan semangat, lalu kecewa karena ternyata sebagian besar jamu tidak terbukti apa-apa. Dan aku sudah melihat banyak peneliti datang membenci jamu, lalu kaget karena ternyata sebagian benar bekerja dan tidak ada yang pernah menelitinya dengan benar. Yang langka—yang sangat langka—adalah peneliti yang datang tanpa ingin membuktikan apa-apa, cuma ingin tahu apa adanya." Ia memasang kacamatanya kembali. "Jadilah yang langka itu. Itu satu-satunya syaratku yang sebenarnya."
Bayu keluar dari ruangan itu dengan akses laboratorium yang baru—bukan lab yang dingin dan berpendar tanpa bayangan milik perusahaan, melainkan lab kampus yang lebih tua, lebih sederhana, dengan instrumen yang harus diantre dan dosen yang akan mengawasi tiap langkahnya. Tapi itu lab, dan itu cukup. Lubang ketiga yang ia kira menenggelamkan rencana kampung baru saja ditutup, bukan oleh uang, bukan oleh perusahaan, melainkan oleh tesis seorang cucu peracik dan kepercayaan seorang profesor tua.
Di parkiran kampus, Sekar menatapnya. "Ini bukan seperti dulu," katanya. "Kamu tidak lagi dibayar perusahaan untuk pekerjaan teknis. Sekarang kamu relawan, di lab pinjaman, untuk ramuan yang bukan punyamu, dengan risiko yang sepenuhnya pribadi. Kalau ini gagal, tidak ada perusahaan yang menanggung. Cuma kita."
"Saya tahu," kata Bayu, dan untuk pertama kali sejak surat pemutusan datang, ia tersenyum tipis—senyum seorang yang baru saja kehilangan segalanya yang dulu ia kira penting, dan menemukan, di reruntuhannya, sesuatu yang ternyata lebih ia pedulikan. Ia datang ke Tamansari sebagai tangan perusahaan, dibayar untuk mengubah jamu jadi angka. Sekarang ia berdiri di parkiran kampus sebagai relawan tanpa bayaran, dengan taruhan yang tak lagi profesional melainkan pribadi, dan ia menyadari—dengan rasa yang asing dan menenangkan—bahwa untuk pertama kali sejak ia menerima kontrak ini, ia tahu persis di pihak mana ia berdiri, dan kenapa.