Hasil uji laboratorium gelombang pertama keluar pada hari Kamis yang mendung, dan Bayu menghabiskan sepanjang pagi sendirian di lab membacanya berulang-ulang, karena hasilnya tidak mau masuk akal dengan cara yang ia harapkan.
Ia telah mengirim beberapa ramuan andalan Tamansari untuk dianalisis kandungan senyawa aktifnya dan diuji efek farmakologisnya pada model awal di laboratorium. Bukan uji pada manusia—itu masih jauh, masih menunggu komisi etik—melainkan uji tahap awal: apakah ada zat aktif, berapa kadarnya, dan apakah zat itu menunjukkan aktivitas biologis yang masuk akal di tingkat sel dan uji praklinik. Ia menyiapkan dirinya untuk dua kemungkinan: jamu yang terbukti, atau jamu yang kosong. Yang tidak ia siapkan adalah hasil yang membelah dirinya jadi dua.
Ramuan pertama yang ia buka: jamu kunyit asam "penyegar badan", produk paling laku, yang dibanggakan seisi kampung, yang Yu Tarmi jual paling banyak tiap pagi, yang katanya "bikin enteng, bikin segar, cocok untuk semua". Hasilnya nyaris kosong. Kadar zat aktif yang relevan ada, tapi sangat rendah, dan uji aktivitasnya tidak menunjukkan efek yang berarti pada model yang dipakai. Secara data, ramuan kebanggaan itu kemungkinan besar bekerja lewat rasa segar, kebiasaan, dan harapan—bukan farmakologi. Sugesti, persis yang Bayu duga di hari-hari pertamanya, dan ia merasakan sesuatu yang sama sekali bukan kepuasan, melainkan ngeri. Karena ini bukan lagi catatan di buku kecilnya. Ini bukti yang bisa mempermalukan empat puluh tahun pekerjaan Mbah Kunto, mata pencaharian Yu Tarmi, dan kepercayaan ribuan orang yang tiap pagi merasa lebih baik karena meminumnya.
Lalu ia membuka ramuan kedua, dan di sinilah dunianya benar-benar berputar. Sebuah rebusan yang dianggap "biasa" di kampung, jamu untuk "angin dan pegal" yang bahkan tidak laku-laku amat, yang Mbah Kunto sebut hampir dengan rendah hati—ramuan itu mengandung senyawa aktif yang kuat, terukur, konsisten, dan menunjukkan aktivitas farmakologis yang jelas di uji praklinik. Sesuatu yang nyata. Sesuatu yang, kalau diteruskan dengan benar, bisa menjadi obat herbal terstandar yang sungguh berkhasiat. Sesuatu yang justru tidak dibanggakan siapa pun karena efeknya halus, lambat, tidak dramatis—tubuh tidak "terasa enteng" seketika, tapi di tingkat sel, ia bekerja.
Bayu duduk lama di antara dua map itu. Yang dibanggakan ternyata kosong. Yang diremehkan ternyata berisi. Selama ini ia mengira dilemanya akan berbentuk sains melawan tradisi—ia membawa bukti, kampung menolak bukti, selesai. Tapi yang ia pegang sekarang jauh lebih rumit dan jauh lebih manusiawi. Sains tidak melawan tradisi. Sains membela sebagian tradisi dan mempermalukan sebagian yang lain, dan Bayu, yang memegang kedua kebenaran itu, harus memutuskan kebenaran mana yang ia ucapkan lebih dulu, dan kepada siapa.
Kalau ia mengabarkan yang buruk dulu—bahwa kunyit asam kebanggaan itu hampa—ia akan menghancurkan kepercayaan kampung pada seluruh proses ini sebelum mereka sempat mendengar kabar baiknya. Mereka akan menutup pintu. Mbah Kunto akan merasa empat puluh tahun hidupnya divonis di laboratorium dingin oleh anak muda berusia dua puluh delapan tahun. Dan Yu Tarmi—Bayu menutup mata sejenak—Yu Tarmi menjual kunyit asam itu paling banyak. Membuktikannya kosong sama dengan mengatakan bahwa nadi ekonominya selama ini berdiri di atas harapan, bukan khasiat.
Tapi menyembunyikannya juga bukan pilihan. Itu persis dosa yang membuatnya tidak bisa tidur tiga tahun lalu—mengetahui sesuatu tentang yang akan masuk ke tubuh orang, dan diam.
Lestari menemukannya masih di sana saat makan siang. Ia membaca kedua hasil itu, dan tidak seperti Bayu, ia tidak terkejut—ia tampak seperti orang yang sudah sering melihat momen ini dan tahu betapa berbahayanya. "Ini," katanya, mengetuk map yang kosong, "adalah hasil yang akan membuat orang membenci sains. Bukan karena salah. Justru karena benar."
"Saya tidak bisa diam, Dok."
"Tidak. Kamu tidak boleh diam. Tapi cara kamu bicara akan menentukan apakah mereka mendengar kebenaran, atau mendengar penghinaan." Ia duduk. "Pikirkan ini, Bayu. Kamu punya dua kebenaran. Yang satu menyakiti, yang satu menyembuhkan kepercayaan. Kebanyakan orang akan menjatuhkan yang menyakiti dulu, karena itu yang paling dramatis, paling membuktikan dia pintar. Jangan jadi orang itu."
Bayu memikirkan Sekar. Sekar yang berkata ia tidur dengan ketakutan ini tiap malam, ketakutan bahwa setengah warisan keluarganya mungkin tak ada gunanya. Sekar yang fasih jurnal dan justru paling rentan dihancurkan oleh hasil ini, karena ia satu-satunya di kampung yang akan benar-benar paham apa artinya angka-angka itu, dan tidak bisa menyangkalnya.
Ia memutuskan ia harus memberi tahu Sekar lebih dulu—bukan manajemen, bukan kampung, bukan Mbah Kunto—karena hanya Sekar yang berdiri di kedua dunia dan bisa membantunya menemukan kata-kata yang menyembuhkan alih-alih melukai. Tapi saat ia mengirim pesan, jari-jarinya berhenti. Karena ada satu hal yang baru ia sadari, satu hal yang membuat keputusan ini bukan sekadar soal kata-kata yang sopan.
Kalau ramuan yang "biasa" itu ternyata berisi senyawa aktif yang kuat dan terukur—senyawa yang bisa jadi obat sungguhan—maka ramuan itu juga punya nilai. Nilai yang bisa dipatenkan. Nilai yang bisa membuat seseorang di bagian registrasi Wreksa Hayati menatap angka-angka di map ini bukan sebagai khasiat untuk orang, melainkan sebagai aset untuk perusahaan. Bayu memegang dua map, dan untuk pertama kali ia bertanya pada dirinya sendiri, dengan rasa tidak enak yang dingin: begitu ia menyerahkan hasil ini ke atas, apakah ia masih menjadi orang yang mengabarkan kebenaran—atau menjadi orang yang baru saja menemukan harta karun milik orang lain, dan menyerahkan petanya ke tangan yang salah?