Kekhawatiran Bayu terbukti lebih cepat dari yang ia takutkan, dan dari arah yang tidak ia duga. Bukan ia yang menyadarinya lebih dulu. Sekar yang menyadarinya.
Sekar datang ke kontrakan Bayu pada Sabtu sore tanpa diundang, membawa selembar cetakan dan wajah yang lebih keras dari biasanya. Ia meletakkan kertas itu di meja Bayu tanpa basa-basi. "Bagian registrasi kalian sudah mulai menyiapkan paten," katanya. "Atas formulasi terstandar dari ramuan Tamansari. Aku punya teman di kampus yang bantu mengurus paten, dia kenal nomenklaturnya, dia lihat draf pengajuannya lewat. Formulasi ekstrak terstandar untuk angin dan pegal." Ia menatap Bayu. "Itu ramuan Mbah. Yang ternyata berkhasiat. Yang baru kamu temukan minggu lalu."
Bayu menatap kertas itu. Ia memang menyerahkan hasil lab ke atas—ia harus, itu pekerjaannya—dan ia tahu, secara abstrak, bahwa perusahaan farmasi mematenkan formulasi. Itu hal biasa, itu cara industri melindungi investasi riset yang mahal. Tapi melihatnya tertulis, dengan nama ramuan Tamansari di sana, dengan kecepatan ini, membuat sesuatu di perutnya mengencang.
"Paten itu bukan atas resep Mbah," katanya, mencoba menjelaskan apa yang ia pahami dari sisi teknis. "Paten itu atas formulasi terstandar—proses ekstraksinya, spesifikasi kandungannya, metode pembuatannya yang kami kembangkan di lab. Itu hal baru yang Mbah tidak punya. Mbah punya rebusan, kami punya ekstrak terukur dengan kadar yang dijamin. Itu yang dipatenkan. Secara hukum, itu memang—"
"Berhenti," kata Sekar, dan suaranya tidak meninggi tapi tajam. "Dengarkan dirimu sendiri. 'Kami mengembangkan.' 'Kami punya.' Dengan apa kalian mengembangkannya, Bayu? Dengan bahan apa? Pengetahuan dari mana bahwa daun itu yang harus direbus, bukan daun yang lain? Bahwa kombinasinya itu yang manjur? Siapa yang sudah meracik kombinasi itu selama berapa generasi sampai kalian tinggal datang membawa mesin dan menamainya 'penemuan'?"
Bayu terdiam, karena ia tidak punya bantahan yang jujur. Pengetahuan dasarnya memang dari Tamansari. Lab hanya mengukur apa yang sudah ditemukan orang lain dengan lidah dan abad.
"Aku tanya satu hal," lanjut Sekar, lebih pelan sekarang, dan justru pelan itu yang menohok. "Kalau resep ini diracik turun-temurun oleh banyak orang—bukan satu orang, banyak, sampai tidak ada yang tahu siapa yang pertama—milik siapa dia saat dipatenkan satu perusahaan? Dan untungnya, kalau produk ini laku besar nanti, mengalir ke mana? Ke pemegang saham Wreksa Hayati? Atau ke Mbah, ke Yu Tarmi, ke kampung yang menjaga pengetahuan ini gratis selama berabad-abad sampai kalian datang dan menamainya milik kalian?"
"Saya cuma teknis, Sekar," kata Bayu, dan ia mendengar betapa kalimat itu lemah bahkan saat ia mengucapkannya. "Saya tidak urus paten, saya tidak urus untung. Saya menimbang dan mengukur."
"Tidak ada yang cuma teknis," balas Sekar. "Itu kalimat yang dipakai semua orang untuk mencuci tangan. Tukang timbang di pabrik yang tahu produknya cacat tapi 'cuma teknis'. Insinyur yang membangun sesuatu yang dia tahu akan runtuh tapi 'cuma ikut gambar'. Kamu yang menemukan ramuan ini berkhasiat lalu menyerahkan hasilnya ke perusahaan yang akan mematenkannya, dan sekarang bilang 'cuma teknis'." Ia berdiri. "Di mata kampung, kamu bukan tukang timbang, Bayu. Kamu wajah perusahaan. Kamu yang datang, kamu yang ambil sampel, kamu yang bawa ke lab. Mereka percaya kamu. Dan kepercayaan itu sekarang jadi bahan bakar untuk mengambil milik mereka."
Kalimat itu menempel di Bayu setelah Sekar pergi, dan ia tidak bisa melepaskannya. Ia menatap cetakan draf paten itu lama. Secara hukum, semua benar. Formulasi terstandar memang punya unsur kebaruan, proses ekstraksi memang dikembangkan di lab, paten memang melindungi sesuatu yang nyata. Tapi keadilannya—keadilannya menggantung di tempat yang tidak diatur oleh hukum paten mana pun. Pengetahuan tradisional komunal, yang tidak punya satu pemilik, yang tidak punya satu nama, sangat mudah diserap ke dalam kepemilikan tunggal karena ia tidak punya tangan untuk menggenggam dirinya sendiri.
Minggu berikutnya retak itu mulai terlihat. Kabar tentang paten menyebar di kampung lewat saluran yang sama yang dulu menertawakan Bayu karena buku kosongnya, hanya kali ini tidak ada yang tertawa. Beberapa peracik yang dulu hangat mulai dingin saat Bayu lewat. Seorang ibu yang biasa menawarinya teh sekarang hanya mengangguk pendek. Yu Tarmi, yang paling polos di antara semua, bertanya langsung dengan caranya yang tanpa tedeng aling-aling. "Nak, betul perusahaanmu mau mengambil resep kami? Lalu kami tidak boleh jual sendiri lagi?"
Bayu ingin menjelaskan bahwa paten formulasi tidak melarang Yu Tarmi menjual rebusan tradisionalnya—itu benar secara hukum—tapi ia melihat di mata perempuan tua itu sesuatu yang lebih dalam dari soal hukum. Ketakutan bahwa sesuatu yang selama ini milik bersama, yang menjadi nadi dan identitas, akan diberi label dan harga oleh orang yang datang dari luar. Dan ia sadar bahwa menjelaskan kebenaran teknis kepada ketakutan yang manusiawi adalah cara tercepat untuk dibenci.
Malam itu Bayu menelepon Lestari. "Dok, paten ramuan Tamansari. Bagaimana benefit-sharing-nya? Apa kampung dapat bagian?"
Hening sebentar di seberang. "Itu pertanyaan yang seharusnya kamu ajukan ke manajemen, bukan ke aku," kata Lestari akhirnya, dan dari nada hati-hatinya Bayu langsung tahu jawabannya, atau tahu bahwa jawabannya bukan jawaban yang ia ingin dengar. "Bayu. Aku sudah lama di perusahaan ini. Perusahaan tidak jahat. Tapi perusahaan juga tidak akan memberi yang tidak diminta, dan kampung itu tidak punya pengacara, tidak punya badan hukum, tidak punya siapa pun yang bisa menuntut bagian. Mereka punya pengetahuan, dan pengetahuan tanpa perlindungan hukum, di meja registrasi, sama saja dengan gratis." Ia berhenti. "Yang bisa mengubah itu cuma orang di dalam yang mau bersuara. Dan satu-satunya orang di dalam yang kampung masih percaya, sekarang, adalah kamu."
Bayu menutup telepon dan duduk dalam gelap. Ia datang ke pekerjaan ini sebagai tukang timbang. Ia menyadari, dengan beban yang dingin, bahwa ia tidak lagi bisa menjadi cuma itu—dan bahwa setiap hari ia menunda memilih, kepercayaan yang baru tumbuh di Tamansari semakin retak, dan ia berdiri tepat di garis retaknya.