Telepon itu datang Selasa subuh, saat Bayu masih setengah tidur, dan suara Sekar di seberang menghapus seluruh kantuknya dalam satu kalimat. "Bu Ratri dilarikan ke klinik. Dia minum jamu kemarin malam. Jamu yang—" suara Sekar tercekat sebentar, "—jamu yang selalu aman."
Bayu sudah berdiri dan mengenakan jaketnya sebelum panggilan berakhir.
Klinik kecil di pinggir Tamansari penuh dengan ketegangan yang khas: keluarga yang berkumpul di lorong, suara rendah yang panik, bau antiseptik yang menutupi bau kampung. Bu Ratri, perempuan lima puluhan, pelanggan tetap selama bertahun-tahun, terbaring pucat dengan infus di lengannya. Ia sudah stabil—dokter klinik mengatasinya tepat waktu—tapi semalam ia datang dengan jantung berdebar kencang, keringat dingin, gemetar, tekanan darah yang kacau. Sesuatu telah salah, dan tidak ada seorang pun, di awal, yang tahu apa.
Mbah Kunto sudah ada di sana, berdiri di pojok lorong, dan untuk pertama kali sejak Bayu mengenalnya, lelaki tua itu tampak kecil. Tangannya yang empat puluh tahun tak pernah gemetar saat meracik kini menggenggam erat satu sama lain. "Ramuan itu saya yang racik," katanya pelan saat Bayu mendekat. "Ramuan biasa. Untuk pegal dan tidur. Sudah ratusan kali Bu Ratri minum. Selalu aman."
Kampung sudah berkumpul, dan emosi mulai mengeras menjadi dua arah yang sama-sama berbahaya. Sebagian membela diri—jamu ini selalu aman, pasti bukan jamunya, pasti Bu Ratri makan yang lain, pasti ini fitnah orang yang mau menjatuhkan peracik. Sebagian lagi, lebih sunyi, mulai takut menatap rak botol mereka sendiri. Dan di tengah semua itu, Bayu merasakan ketakutan yang telah ia bawa sejak hari pertama menjelma jadi nyata: tanpa standar, tanpa catatan, tanpa jejak yang bisa ditelusuri, tidak ada satu orang pun di ruangan ini—termasuk dirinya—yang bisa mengatakan dengan pasti apa yang salah.
Apakah salah takar? Mbah Kunto meracik dengan tangan; tidak ada catatan berapa yang masuk ke ramuan Bu Ratri semalam. Apakah simplisia tercemar—bahan baku yang berjamur, atau tercampur tumbuhan lain yang mirip saat dijemur, atau terkontaminasi sesuatu? Tidak ada nomor batch, tidak ada sampel tersimpan, tidak ada cara memeriksa balik. Atau—dan ini yang membuat Bayu paling waspada—apakah ini interaksi dengan obat dokter yang Bu Ratri minum diam-diam, persis seperti Pak Darso, persis mimpi buruk yang ia bawa sejak rute pertama bersama Yu Tarmi?
Dokter klinik, perempuan muda yang lelah tapi cermat, menemukan Bayu di lorong. "Anda dari perusahaan farmasi itu?" tanyanya. "Saya butuh tahu persis apa yang dia minum. Bahannya apa saja. Berapa banyak. Kapan. Karena saya menstabilkannya secara umum, tapi kalau dia datang lagi, saya harus tahu apa yang saya lawan." Ia menatap Bayu dengan harapan yang justru menyakitkan. "Bapak punya datanya? Komposisinya?"
Dan Bayu harus mengatakan yang sebenarnya. "Tidak," jawabnya pelan. "Belum ada. Ramuan ini belum terstandar. Tidak ada dokumentasi komposisi yang pasti."
Dokter itu mengangguk lelah, tidak terkejut, dan kelelahan itu lebih menusuk daripada kemarahan. "Ya. Selalu begitu. Pasien minum sesuatu, saya tidak tahu apa, dan saya menebak dalam gelap."
Kalimat itu menghantam Bayu lebih keras dari tuduhan mana pun. Inilah yang ia takutkan sejak awal, persis seperti yang ia ucapkan di rapat pertama: tanpa keseragaman, tanpa jejak, kita tidak bisa menjamin apa-apa, kita tidak bisa tahu apa-apa. Skeptisismenya terbukti. Tepat di hadapannya, di ranjang klinik, dengan infus di lengan perempuan tua yang ramah, ia melihat bukti hidup dari segala yang ia khawatirkan.
Dan rasanya sama sekali tidak seperti kemenangan.
Karena ia tidak merasa benar. Ia merasa ngeri. Ia menatap Mbah Kunto yang berdiri kecil di pojok, lelaki yang seumur hidupnya berusaha tidak mencelakai siapa pun, yang justru paling hancur di ruangan ini—dan Bayu sadar bahwa membuktikan dirinya benar dengan tubuh Bu Ratri sebagai bukti bukanlah sesuatu yang akan pernah ia banggakan. Standardisasi yang ia bawa bukan untuk memenangkan argumen melawan Mbah Kunto. Standardisasi itu seharusnya untuk perempuan di ranjang ini, supaya saat sesuatu salah, ada peta untuk menemukan jalan pulang.
Sekar berdiri di sampingnya, menatap kakeknya yang terpukul, dan suaranya saat akhirnya bicara tidak menuduh, hanya patah. "Aku selalu takut hari ini datang," katanya. "Bukan karena aku tidak percaya Mbah. Justru karena aku percaya. Mbah sudah sehati-hati yang manusia bisa. Tapi sehati-hati manusia tidak cukup kalau yang dipertaruhkan badan orang dan tidak ada yang mencatat apa pun." Ia menoleh ke Bayu. "Kamu benar. Aku benci bahwa kamu benar. Tapi kamu benar."
"Saya tidak mau benar dengan cara ini," kata Bayu, dan ia berkata jujur.
Mereka mulai bekerja, malam itu juga, dengan cara yang baru. Bayu meminta semua—sisa ramuan kalau masih ada, bahan baku yang dipakai, apa pun yang bisa diuji. Mbah Kunto, dengan tangan yang masih gemetar, menyerahkan sisa rebusan di kuali dan stoples-stoples simplisia yang ia pakai. Dan saat Bayu hati-hati bertanya pada keluarga Bu Ratri—pelan, tanpa menuduh—apakah Bu Ratri minum obat lain, ada keraguan sejenak di wajah anak perempuannya sebelum ia mengangguk. Ya. Ibunya minum obat tekanan darah dari dokter. Sudah lama. Setiap hari. Dan tidak pernah cerita ke siapa pun di kampung, karena—suaranya mengecil—karena malu, karena takut dibilang tidak percaya jamu.
Bayu menutup matanya sebentar. Potongan-potongannya mulai membentuk gambar, dan gambar itu bukan gambar peracik yang ceroboh atau jamu yang jahat. Gambar itu jauh lebih sunyi dan jauh lebih membumi: dua jenis pengobatan yang bekerja di tubuh yang sama, tanpa pernah saling tahu, dipisahkan bukan oleh jarak melainkan oleh rasa malu dan dua bahasa yang tak pernah duduk di meja yang sama. Ia mengeluarkan buku catatannya—buku yang dulu kosong di hari pertama—dan kali ini, untuk pertama kali, ia menulis bukan untuk membakukan sesuatu, melainkan untuk menyelamatkan seseorang. Ia menulis sampai larut, dan ia tahu jawabannya belum lengkap. Tapi ia juga tahu, dengan kepastian yang dingin, ke mana arah jawaban itu menuju—dan bahwa apa yang akan ia temukan akan mengubah segalanya tentang siapa yang benar dan siapa yang harus mendengar.