Penelusuran memakan tiga hari. Bayu menjalankan analisis pada sisa ramuan dan bahan baku Mbah Kunto dengan ketelitian seorang yang tahu nyawa orang menggantung di hasilnya, dan ia melakukannya bersama Lestari, yang memahami sisi medisnya, dan Sekar, yang memahami kedua dunia. Hasilnya, saat akhirnya jelas, justru membersihkan nama yang ia takutkan akan ia cemari.
Simplisia Mbah Kunto bersih—tidak tercemar, tidak berjamur, tidak tertukar. Takarannya, sejauh bisa direkonstruksi, masih dalam rentang yang ia pakai bertahun-tahun. Yang menyebabkan Bu Ratri jatuh bukan kesalahan peracik dan bukan jamu yang berbahaya. Penyebabnya, sejauh bukti menunjuk, adalah interaksi: salah satu kandungan dalam ramuan itu memperkuat efek obat tekanan darah yang Bu Ratri minum diam-diam, menjatuhkan tekanannya terlalu dalam, memicu reaksi tubuh yang membawanya ke klinik. Bukan racun. Bukan kelalaian. Sebuah pertemuan dua zat yang masing-masing aman sendirian, berbahaya bersama, di tubuh yang tak seorang pun pantau karena tak seorang pun tahu keduanya ada di sana.
Bayu memandang kesimpulan itu lama, dan ia menyadari ironinya yang pahit dan jujur: insiden ini, yang sekilas membuktikan jamu berbahaya, justru membuktikan persis kebalikannya. Bukan jamu yang harus dihapus. Yang dibutuhkan adalah standar dan pelacakan—dokumentasi komposisi, peringatan interaksi, jembatan antara peracik dan dokter—supaya saat dua pengobatan bertemu di satu tubuh, ada yang mengawasi pertemuan itu. Standardisasi bukan musuh tradisi. Standardisasi, kalau benar, adalah yang menyelamatkan tradisi dari satu-satunya hal yang bisa membunuhnya: ketidaktahuan tentang dirinya sendiri.
Ia menulis laporannya jujur, lengkap, dengan rekomendasi yang jelas. Ia merasa, untuk pertama kali dalam berminggu-minggu, bahwa ia tahu pekerjaannya untuk apa.
Lalu malam itu, sebelum ia sempat membawa kabar baik itu ke Tamansari, Pak Wibowo memanggilnya ke kantor.
Ruangan itu terang dan dingin seperti biasa, tapi ada sesuatu yang tegang di udara. Di meja sudah tergeletak setumpuk berkas registrasi—berkas untuk mendaftarkan produk pertama Wreksa Hayati ke BPOM, produk ekstrak terstandar dari ramuan Tamansari yang terbukti berkhasiat. Wibowo mendorongnya ke arah Bayu bersama sebuah pena.
"Kita rilis lebih cepat," katanya. "Insiden kemarin sudah jadi gosip, reputasi kita tergerus, dan kerugian riset sudah menumpuk. Satu-satunya cara menutupnya adalah produk yang cepat laku. Berkas ini sudah lengkap. Saya butuh tanda tangan kamu sebagai penanggung jawab teknis."
Bayu membuka berkas itu. Dan ia berhenti.
Klaim khasiat di label melampaui bukti yang ia punya. Jauh. Tertulis di sana janji-janji yang hasil labnya tidak pernah dukung—efek yang lebih besar, lebih cepat, lebih luas dari apa pun yang ditunjukkan datanya. Ramuan itu memang berkhasiat; itu benar. Tapi klaim di kertas ini bukan kebenaran itu. Klaim ini adalah kebenaran yang dilebih-lebihkan sampai menjadi kebohongan, dijahit ke label untuk menjual lebih cepat, dengan tanda tangan Bayu sebagai jaminan ilmiahnya.
"Pak," katanya pelan, "klaim ini tidak sesuai data. Hasil lab tidak mendukung sebagian besar yang tertulis di sini. Kalau saya tanda tangan, saya menjamin sesuatu yang saya tahu tidak benar."
"Kamu penanggung jawab teknis," kata Wibowo, dan suaranya melembut dengan cara yang justru lebih menekan. "Tugasmu memastikan produknya aman dan sesuai standar. Produknya aman, kamu sendiri yang buktikan. Soal kata-kata di label, itu urusan pemasaran. Kamu tanda tangani bagian teknismu, biar bagian lain urus klaimnya." Ia menatap Bayu lurus. "Karier kamu masih panjang. Kontrak kamu dengan kami, rekomendasi kamu ke perusahaan lain nanti, semua tergantung apakah kamu orang yang bisa diajak menyelesaikan masalah, atau orang yang membuat masalah baru di saat perusahaan sedang susah."
Di tangan kiri Bayu, tanpa ia sadari, ia masih menggenggam map berisi hasil lab yang jujur—yang membantah persis klaim di berkas ini. Di tangan kanannya, pena Wibowo. Ia merasakan beban tiga tahun lalu kembali, batch di garis batas, atasan yang menatap jam, keputusan yang membuatnya tidak tidur berbulan-bulan. Ia tahu, dengan kepastian dingin, bahwa ini momen yang sama. Tekanan jadwal yang membunuh. Orang yang dikejar waktu akan menandatangani hal yang ia sendiri tidak yakini—dan kali ini, ia tahu persis apa yang akan ia tandatangani.
Pena itu terasa berat di tangannya, lebih berat dari timbangan analitik mana pun yang pernah ia bawa.
Lalu pintu kantor terbuka.
Bukan kebetulan, dan Bayu tahu itu, karena ia sendiri yang minggu lalu bercerita pada Sekar bahwa ramuan "biasa" itu terbukti berkhasiat dan akan dipatenkan, dan Sekar yang menjawab dengan tenang bahwa kampung tidak akan diam menunggu. Sejak insiden Bu Ratri, Mbah Kunto, Sekar, dan beberapa peracik telah berkumpul tiap malam—Bayu tahu karena Sekar mengabarinya—menyusun sesuatu, mencari jalan, menghubungi teman Sekar di kampus yang paham hukum dan paham fitofarmaka. Mereka datang malam ini karena Sekar tahu, dari Bayu sendiri, bahwa berkas registrasi sedang diburu untuk ditandatangani. Mereka datang karena diundang oleh kabar, bukan oleh kebetulan.
Mbah Kunto masuk lebih dulu, tegak kembali, tidak lagi kecil seperti di lorong klinik. Sekar di belakangnya, memegang map sendiri—proposal yang ia susun berhari-hari. Sekar meletakkannya di meja, di sebelah berkas Wibowo, sebagai dua takaran yang berbeda dari hal yang sama.
"Kami punya tawaran," kata Sekar, suaranya tenang tapi tak bisa ditawar. "Biar kampung yang menguji dan memiliki ramuannya sendiri. Kami akan tempuh standardisasi, uji efikasi, izin edar—semuanya benar, semuanya jujur, dengan klaim yang persis sebatas bukti. Kami punya orang yang paham sains, kami punya pengetahuannya, kami cuma butuh satu hal." Ia menatap Bayu, dan untuk pertama kali bukan dengan tohokan, melainkan dengan permintaan. "Kami butuh kamu berhenti jadi tangan perusahaan, dan mulai jadi saksi yang jujur. Bukan tukang timbang yang mengeksekusi angka orang lain. Saksi. Yang bilang apa yang benar, dengan ukuran yang benar, kepada siapa pun yang harus dengar."
Wibowo masih menyodorkan pena. Mbah Kunto dan Sekar menawarkan map mereka. Dan di antara keduanya berdiri Bayu Antariksa, dua puluh delapan tahun, dengan hasil lab yang jujur di satu tangan dan masa depan kariernya di tangan lain, di sebuah ruangan yang dingin dan terang tanpa bayangan. Ia datang ke pekerjaan ini percaya bahwa yang tak bisa diukur tak bisa dipercaya. Sekarang ia tahu kebenarannya bukan di berkas, melainkan di tempat yang belum nyaman ia akui—dan ia harus memilih, malam ini, takaran mana yang akan ia pegang. Angka yang dilebihkan di atas kertas yang akan menyelamatkan kariernya. Atau kebenaran yang lebih kecil, lebih jujur, dan jauh lebih berat untuk ditandatangani. Pena itu menggantung di udara, tepat di atas garis tanda tangan, dan tidak turun.