Pena itu tidak turun.
Bayu menatap garis tanda tangan di berkas registrasi, garis tipis yang selama ini ia anggap sekadar formalitas teknis, dan untuk pertama kali ia melihatnya seperti apa adanya: sebuah jurang. Di seberang garis itu ada produk yang cepat laku, kontrak yang aman, rekomendasi ke perusahaan-perusahaan lain, karier yang terus naik tanpa benturan. Di sisi sini ada map di tangan kirinya, hasil lab yang jujur, dan dua orang dari Tamansari yang baru saja masuk ke ruangan ini bukan karena kebetulan, melainkan karena ia sendiri yang membuka pintunya minggu lalu dengan mulutnya sendiri.
Ia menutup berkas itu pelan. Lalu ia meletakkan pena di atasnya, dengan hati-hati, seolah benda itu panas.
"Saya tidak bisa, Pak," katanya. Suaranya tenang, terlatih untuk tidak meninggi, tapi ada sesuatu yang baru di dalamnya—sesuatu yang ia sendiri tidak kenal. "Bukan karena saya mau menyusahkan perusahaan. Saya hanya akan menjamin apa yang datanya dukung. Klaim di label ini melampaui data saya. Kalau saya tanda tangan, saya berbohong dengan nama saya sendiri, dan saya pernah berdiri terlalu dekat dengan itu. Saya tidak akan ke sana lagi."
Wibowo tidak langsung marah. Itu yang membuat Bayu lebih waspada daripada kalau ia berteriak. Lelaki itu menyandarkan punggung ke kursinya, menatap pena yang tergeletak, lalu menatap dua tamu yang berdiri di ambang pintu dengan map mereka sendiri. Wajahnya menyusun ulang situasi dengan cepat, seperti orang yang terbiasa menghitung kerugian.
"Mbah Kunto," sapanya akhirnya, sopan, dingin. "Dan—Sekar, kalau saya tidak salah. Cucu yang riset itu." Ia tersenyum tipis. "Saya hargai keberanian datang ke kantor saya. Tapi saya tidak ingat mengundang siapa pun ke rapat internal ini."
"Saya tidak butuh diundang untuk membicarakan ramuan yang saya racik," kata Mbah Kunto. Ia berdiri tegak, tidak gentar oleh dinginnya ruangan, oleh lampu yang berpendar tanpa bayangan, oleh meja besar yang mengilap. Di tempat ini ia tampak seperti pohon tua di ruang kaca, dan justru karena itu ia tampak benar. "Anak buah Bapak ini," ia menunjuk Bayu dengan dagu, "datang ke dapur saya dengan timbangan. Saya kira dia mau mencuri. Ternyata dia cuma belum tahu apa yang dia ukur. Sekarang dia mulai tahu. Jangan suruh dia berhenti tahu cuma karena Bapak terburu-buru."
Wibowo memijit pelipisnya. "Ini bukan soal terburu-buru. Ini soal perusahaan yang menggaji empat puluh karyawan, yang sudah keluar uang besar untuk riset ramuan kalian, dan yang sekarang dirugikan gosip soal pelanggan jamu masuk klinik. Saya butuh produk laku untuk menutup itu. Itu bukan kejahatan. Itu bertahan hidup."
"Saya juga bertahan hidup empat puluh tahun," balas Mbah Kunto. "Tanpa pernah menulis di botol saya sesuatu yang tidak ada di dalamnya."
Untuk sesaat ruangan itu sunyi. Bayu merasakan dua dunia yang selama ini ia pisahkan—dapur dan lab, indra dan instrumen—berdiri di ruangan yang sama, dan keduanya, anehnya, mengatakan hal yang sama kepada Wibowo: jangan tulis yang tidak ada di dalamnya.
Lestari, yang sejak tadi diam di sudut, akhirnya bicara. "Pak Wibowo, kalau boleh saya. Klaim di berkas itu memang melampaui data. Saya peneliti kliniknya, saya tahu. Kalau BPOM mengaudit dan menemukannya, sanksinya jauh lebih mahal dari kerugian sekarang. Penarikan produk, denda, nama perusahaan tercoreng permanen. Tanda tangan Bayu tidak menyelamatkan kita—dia cuma menamai siapa yang disalahkan nanti."
Wibowo menatapnya tajam, dan Bayu melihat sesuatu bergeser di wajah Lestari—garis yang baru saja ia seberangi, di depan atasannya, demi sebuah kebenaran. Itu akan ada harganya. Bayu tahu itu, dan ia tahu Lestari juga tahu, dan tetap ia mengatakannya.
Wibowo menarik berkas itu kembali ke sisinya, mengetuk-ngetukkan tepinya ke meja, menyusun ulang lagi. "Baik," katanya akhirnya, suaranya kembali rata, profesional, dan justru karena rata itu Bayu tahu ancamannya nyata. "Saya beri kamu waktu sampai akhir pekan, Bayu. Pikirkan ulang. Tidak ada yang menyuruhmu berbohong—pikirkan saja kembali apa arti 'penanggung jawab teknis' di kontrak yang kamu tanda tangani. Pikirkan juga apakah kamu mampu membiayai idealismemu sendiri." Ia mengalihkan pandangan ke Mbah Kunto dan Sekar. "Dan kalian. Proposal kalian itu—" ia melirik map di meja, tidak menyentuhnya, "—silakan disusun. Tapi tolong realistis. Menguji jamu sampai izin edar itu butuh laboratorium, butuh uang ratusan juta, butuh badan hukum, butuh tahunan. Kalian punya yang mana?"
Tidak ada yang menjawab, karena jawabannya tidak ada satu pun.
Wibowo tersenyum, dan senyum itu bukan kemenangan, hanya kepastian seorang yang tahu peta keuangan ruangan ini. "Saya tidak menutup pintu. Saya cuma menunjukkan lantainya. Rapat selesai."
Di luar gedung, di tempat parkir yang dijaga lampu sodium oranye, mereka bertiga berdiri sebentar tanpa bicara. Mbah Kunto menarik napas malam yang basah, melepaskan ketegangan yang ia sembunyikan di dalam tadi. Sekar menggenggam mapnya erat-erat, dan saat ia menatap Bayu, kemenangan kecil di matanya bercampur dengan sesuatu yang lebih dingin.
"Kamu tidak menandatanganinya," kata Sekar. "Terima kasih."
"Saya tidak menandatangani berkasnya," Bayu mengoreksi pelan, jujur sampai menyakitkan. "Itu tidak sama dengan berpihak pada kalian. Saya cuma menolak berbohong. Wibowo benar soal satu hal—proposal kalian punya lubang sebesar gentong. Tanpa lab, tanpa uang, tanpa badan hukum, ramuan kalian akan tetap jadi air rebusan tanpa data di mata BPOM, tidak peduli sejujur apa pun kalian."
Mbah Kunto memandangnya lama di bawah lampu oranye, dan untuk pertama kali ada sesuatu di matanya yang bukan kekeraskepalaan, melainkan pertanyaan. "Lalu," katanya, "kamu mau cuma pandai menunjukkan lubang, atau kamu mau bantu menutupnya?"
Bayu tidak menjawab. Ia tidak punya jawaban, dan untuk pertama kali ia menyadari bahwa menolak Wibowo, yang tadi terasa seperti keberanian terbesar dalam hidupnya, baru saja membawanya ke pertanyaan yang jauh lebih sulit. Ia mengantar mereka ke angkutan, lalu pulang ke kontrakannya, dan duduk lama dalam gelap dengan map hasil lab yang jujur di pangkuannya—map yang benar, yang ia banggakan, dan yang sekarang ia sadari tidak cukup. Karena kebenaran yang tidak punya kaki untuk berdiri sendiri, di dunia ini, sama saja dengan tidak ada.