Mereka berkumpul keesokan sorenya di dapur Mbah Kunto, di antara tampah simplisia dan rak botol berlabel tulisan tangan, tempat yang di hari pertama membuat Bayu merasa cantik dan menakutkan. Kali ini ia datang bukan dengan timbangan. Ia datang dengan kebiasaan lamanya yang lain—kebiasaan membongkar sesuatu sampai ke tulangnya, mencari di mana ia akan patah.
Sekar membentangkan mapnya di atas meja kayu, di sebelah gelas-gelas beras kencur yang masih mengepul. Di dalam map itu ada coretan rencana yang ia susun berhari-hari: kampung menguji ramuannya sendiri, menempuh standardisasi, uji efikasi, izin edar—semua dengan klaim yang jujur, semua dimiliki bersama. Di kertas, rencana itu indah. Bayu membacanya dua kali, dan dengan tiap baris, hatinya makin berat, karena ia menyukai semangatnya dan membenci kerapuhannya.
"Boleh saya jujur?" tanyanya, dan tidak menunggu jawaban. "Bukan karena saya mau menjatuhkan. Justru karena saya mau ini berhasil. Kalau saya diam, saya membiarkan kalian jalan ke tembok."
Sekar menyilangkan tangan. "Tunjukkan temboknya."
Bayu menarik selembar kertas kosong, dan dengan refleks seorang yang terlatih membongkar kegagalan, ia mulai menulis. "Pertama, dana. Untuk membawa satu ramuan dari rebusan ke izin edar—uji kandungan, uji praklinik, uji klinik kecil, dokumen mutu lengkap—paling murah ratusan juta. Bukan jutaan. Ratusan. Itu kalau hemat dan beruntung. Kampung punya?" Ia menatap sekeliling: dapur sederhana, kuali tembaga, lantai semen. Tidak ada yang menjawab.
"Kedua, badan hukum. BPOM tidak mendaftarkan produk atas nama 'kampung'. Harus ada entitas—perusahaan, koperasi, yayasan—yang bertanggung jawab secara hukum, yang bisa digugat kalau ada apa-apa, yang punya nomor pajak, yang menandatangani komitmen mutu. Kalian punya? Belum. Dan membentuknya butuh kesepakatan semua peracik, dan—" ia ragu sebentar, lalu mengatakannya, "—maaf, dari yang saya lihat sejak kemarin, kampung ini tidak sedang kompak. Sebagian peracik menjauhi saya. Sebagian saling curiga sejak kabar paten. Badan hukum dibangun di atas kepercayaan. Kepercayaan kalian sedang retak."
Wajah Mbah Kunto mengeras sedikit, tapi ia tidak membantah.
"Ketiga, dan ini yang paling teknis tapi paling mematikan: laboratorium. Untuk mengukur kandungan, menguji efikasi, memvalidasi tiap batch—butuh instrumen yang harganya miliaran, butuh orang yang bisa mengoperasikannya, butuh ruang yang memenuhi syarat. Saya punya akses ke lab Wreksa Hayati. Begitu saya menolak menandatangani berkas Wibowo kemarin, akses itu hampir pasti akan dicabut. Tanpa lab, tidak ada satu angka pun yang bisa kalian buktikan ke BPOM." Ia meletakkan pulpennya. "Itu tiga lubang. Masing-masing cukup besar untuk menenggelamkan rencana ini. Bersama-sama, mereka tembok."
Kesunyian turun di dapur, hanya dipecah gemericik air dari kuali yang dijaga kecil apinya. Sekar menatap kertas penuh coretan Bayu, dan untuk sesaat semangatnya tampak goyah. Bayu setengah berharap ia akan marah, karena marah lebih mudah dihadapi daripada wajah orang yang baru saja melihat impiannya ditimbang dan kekurangan beratnya.
Mbah Kunto-lah yang akhirnya bicara. Ia tidak menatap kertas. Ia menatap Bayu.
"Kamu pintar menimbang," katanya pelan. "Sejak hari pertama, kamu pandai sekali menimbang apa yang kurang. Berapa gram kurang, berapa rupiah kurang, berapa lubang. Itu bakatmu, dan itu berguna." Ia mengangkat satu rimpang dari tampah, memutarnya di cahaya sore yang mulai jingga, kebiasaan yang Bayu kini kenali bukan sebagai keraguan melainkan cara lelaki itu berpikir. "Tapi saya mau tanya satu hal, dan saya mau kamu jawab jujur seperti kamu jujur pada Wibowo kemarin."
Bayu menunggu.
"Kamu menunjukkan tiga lubang," kata Mbah Kunto. "Bagus. Sekarang: kamu mau cuma menunjukkannya, lalu pulang dengan perasaan sudah jujur? Atau kamu mau bantu menutupnya? Karena menunjukkan lubang itu mudah, Nak. Saya bisa tunjukkan seratus lubang di racikanmu yang kemarin gagal. Yang susah itu duduk di sini, dengan tangan kotor, dan ikut menutupnya satu-satu. Yang pertama namanya pengamat. Yang kedua namanya teman."
Bayu membuka mulut, lalu menutupnya. Ia datang ke dapur ini hari itu dengan peran yang ia kira jelas: penolak Wibowo, penunjuk kebenaran, orang yang sudah membuktikan integritasnya dengan tidak menandatangani sesuatu. Ia tidak siap untuk pertanyaan yang baru saja Mbah Kunto letakkan di atas meja, di antara gelas beras kencur dan map penuh lubang—pertanyaan apakah menolak berbuat salah itu sama dengan berbuat benar.
Sekar tidak menambahkan apa pun. Ia hanya menatap Bayu, menunggu, dan dalam diamnya ada tantangan yang lebih tajam dari kata-katanya yang dulu.
"Saya... tidak tahu," kata Bayu akhirnya, dan kejujuran itu terasa lebih menakutkan daripada penolakan apa pun. "Saya tahu cara menemukan kebenaran di lab. Saya tidak pernah belajar cara membangun sesuatu dari nol tanpa lab, tanpa uang, tanpa siapa-siapa. Itu di luar yang pernah saya kerjakan."
"Bagus," kata Mbah Kunto, dan ia meletakkan rimpangnya kembali ke tampah. "Berarti kita sama-sama tidak tahu. Saya tidak tahu sains kamu. Kamu tidak tahu cara bertahan tanpa perusahaan. Yu Tarmi tidak tahu hukum. Sekar tahu setengah-setengah dari semuanya. Itu bukan kelemahan, Nak. Itu yang membuat kita butuh satu sama lain." Ia menuangkan beras kencur ke gelas Bayu, mengisi yang sudah dingin dengan yang baru. "Pulanglah. Pikirkan. Tapi jangan pulang sambil bilang sudah jujur. Jujur itu cuma pintu masuk. Yang menentukan kamu orang macam apa, itu yang kamu kerjakan setelah pintu terbuka."
Bayu mengangkat gelasnya. Rasanya hangat, manis, pedas dari kencur, dengan jejak asam yang dulu ia catat sebagai sugesti dan kini ia minum tanpa mencatat apa-apa. Ia minum sampai habis, mengucapkan terima kasih, dan pulang menembus senja Tamansari dengan map lubang-lubang di tasnya dan satu kalimat yang menempel lebih keras dari semua kalimat sebelumnya: yang pertama namanya pengamat, yang kedua namanya teman. Ia tidak menjawab pertanyaan Mbah Kunto malam itu. Tapi ia tahu, dengan rasa tidak enak yang dingin, bahwa menolak Wibowo saja bukan akhir dari apa pun. Itu baru permulaan dari sesuatu yang jauh lebih sulit, dan ia belum tahu apakah ia cukup berani untuk itu.