Awal pagi yang cerah, secerah hatiku, aktivitas pagi hari sudah selesai ku kerjakan seperti menyapu, mengepel, cuci baju, cuci piring, masak, mandi dan sekarang waktunya merebahkan tubuh yang penat ini di kasurku yang empung. Ku otak-atik hp ini, seperti biasa aku buka game kesukaanku Mobile Legend tuk menghibur diri agar otak tidak terlalu penat sehabis melakukan pekerjaan rumah, terkadang aku juga mengajak adik dan teman-temanku lewat online untuk main bersama. Kadang berujung kemenangan kadang juga kalah itu sudah biasa, permainan yang sangat seru dan membuat candu. Sudah berkali-kali game itu aku mainkan dengan hasil terkadang menang dan juga kalah. Hingga jenuh datang menemani, aku beralih membuka pengaturan tuk membersihkan ruang penyimpanan yang hampir penuh, semenjak mendownload Aplikasi Mobile Legends ruang penyimpanan sering penuh, karena Mobile Legends besar ruangan penyimpanannya, tak hanya membersihkan ruang penyimpanan aku juga menghapus beberapa aplikasi yang tak penting seperti game Master Cooking, aku juga hobby game masak-masak. Tapi jika sudah bosan aku hapus hehehe...
Sambil menghilangkan kebosanan aku juga membuka file-file yang tak penting dan membersihkannya. Ketika membuka album aku menarik foto yang pernah dihapus. Terbelalak mataku meliat benda persegi panjang ditanganku. Aku terkaget melihat foto dihpku, dadaku terasa panas, jantungku terdetak kencang, air mata ini rasanya ingin segera tumpah. Aku terdiam melihat benda persegi panjang ini ditanganku, mataku mulai basah, tak kusangka orang yang begitu aku cintai tega menyakitiku.
"Kak?" panggil adikku Fitri yang tiba-tiba masuk kekamar.
Aku menoleh, tanpa berniat ingin menjawab panggilannya, diam seribu bahasa dengan raut wajah yang menyedihkan, aku hanya bisa menunjukan foto ini tanpa berkata apa-apa.
"Akhirnya kakak tau juga. Kak, sebenarnya Fitri sudah lama ketemu itu mau bilang ke kakak tapi gak berani. Jadi maaf ... " ucapnya penuh dengan penyesalan.
Fitri pernah meminjam hp ku kemaren tuk lihat- lihat pengaturannya, karena dia ingin beli hp baru. Ternyata dia gak sengaja mendapatkan foto ini, karena takut jujur dia hanya diam melihat foto itu.
Aku langsung minta bantuan Fitri tuk cek hp ini, hp ini Iwan pinjamkan karena hpku rusak total LCDnya. Sebelumnya aku menghubungi dia lewat hp Fitri karena aku gak punya hp cadangan. Sekitar sebulan yang lalu dia datang ke rumahku dengan membawah hp, dia memang memiliki dua hp, yang satu untuk kerja dan satunya lagi untuk ngegame, kami biasa main game bersama, dan sekitar sebulan lamanya aku gunakan hp ini baru sekarang ketahuan ada sesuatu yang emang sepantasnya aku tau dari dulu, perselingkuhannya dengan anak magang yang bernama Anggi.
Setelah dicek bukan hanya foto yang aku dapatkan tapi juga video yang buat hati aku makin hancur, video mereka berdua di Cafe sedang bercanda ria seperti sepasang kekasih. Hatiku hancur berkeping-keping, laki-laki yang aku cintai tega mengkhianati aku. Aku amati video dan foto itu, mereka begitu dekat dan baju yang Iwan pakai, jam, rambut yang pirang menjelaskan bahwa foto itu baru saja diabadikan dan aku amati lagi ada tanggal bertengger disana, foto dan video bulan kemaren. Dadaku terasa sesak, rasanya kamar yang luas ini seperti tidak ada oksigen sama sekali.
Aku mengingat semua kejadian kemaren waktu dia liburan di Pulau Lemukutan bersama teman-temannya, aku baru sadar ada wanita itu disana. Awalnya dia kemana-mana ngajakin aku dulu, setiap ajakannya jawabanku tetap sama yaitu "gak diizinkan orang tua". Aku sadar aku wanita gak sempurna, aku juga salah. Aku emang anak rumahan yang gak bisa diajak kemana-mana oleh siapapun kecuali orang tua mengizinkan. Dan untuk liburan ke Pulau orang tuaku gak mau melepaskan. Aku tau, aku tak seperti gadis-gadis lain yang pulang malampun orang tuanya gak marah, beda dengan orang tua ku. Orang tuaku ketat dalam menjaga anak, mereka takut anaknya melakukan hal-hal yang bukan seharusnya diusia dia lakukan. Aku mengerti. Aku tau semua orang tua juga memiliki kekhawatiran yang sama.
Aku terdiam, termenung memikirkan hubungan ini, akankah aku pertahankan ataukah cukup sampai disini. Begitu dalam cinta ini sampai hati ini sesakit ini. Pikiranku kacau, aku tak berminat melakukan apapun sekarang. Karena memang kebiasaan buruk setiap kali aku stres dan ada masalah aku diam seribu bahasa, menangis sendiri di kamar, keluar kamarpun enggan. Adikku hanya bisa memintaku agar tetap sabar, diapun tak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya aku yang bisa mengambil keputusan. Tak sengaja aku mendengar ibu menanyakan aku ke adikku Fitri.
"kakak kok gak ada keluar kamar Fit?" tanya ibu dengan nada khawatir.
"lagi ada masalah" jawab Fitri jujur.
Aku hanya diam mendengar obrolan mereka tanpa ingin nimbrung sedikitpun. Karena aku hanya ingin sendiri sekarang.
Tiba-tiba terdengar pintu diketuk
Tok tok tok
"Nak" panggil ibu dari luar
"Iya bu" jawabku dengan suara yang parau karena seharian menangis.
"Bolehkan ibu masuk?" tanya ibu lagi dengan hati-hati.
"Boleh kok bu, masuk aja gak dikunci kok" jawabku lagi.
Knop pintu pun berputar dan muncullah wajah teduh itu, ibu langsung duduk ditepian tempat tidur, beliau melihatku ibah.
"Kamu kenapa nak?" tanya beliau khawatir.
"Iwan bu" aku langsung memeluk ibu dan menangis sejadi-jadinya. Tangan ibu mengusap kepalaku dengan hangat.
"Tinggalkan saja dia yang mengkhianatimu, laki-laki seperti itu tidak pantas dipertahankan dan tidak layak menjadi seorang imam untukmu" nasehat ibu.
Kulepaskan pelukan ibu tuk mendengarkan nasehat beliau.
"aku mencintainya bu" ucapkuh lirih hampir tak terdengar.
Aku hanya bisa menangis, batinku tersiksa antara cinta dan hancur. Aku berniat meninggalkannya tapi aku ingin memberikan dia kesempatan, disisi lain hatiku hancur tak ingin menerimanya lagi.
"jadi sekarang apa keputusanmu?" tanya ibu.
Aku hanya menggeleng. Aku belum bisa memberikan keputusan sekarang, pikiranku masih kacau akibat foto dan video itu, aku tak menyangka ini bisa terjadi. Aku kenal dia. Hubungan kami sudah berjalan 2 tahun, suka duka sudah kami lewati. Kami sudah mengenal orang tua masing- masing. Begitu juga dengan orang tua kami sudah kami pertemukan, kami sudah berniat menikah tahun ini tapi rasanya hampir pupus. Aku tak percaya dia yang setia dimataku, dia yang perhatian, humoris, bisa berkhianat!!.
"Ibu hanya ingin kamu bahagia nak" sambung nasehat ibu lagi membuyarkan lamunanku dan ibu pun berlalu pergi meninggalkan aku sendiri meluangkan waktu buatku tuk berpikir akan nasehat beliau tadi.
Ku tarik nafas ini dan ku hembuskan agar pikiran sedikit tenang, tapi tak bisa.
Batin ini terlalu sakit. Kucoba buka lagi benda persegi panjang ini. Ku jelajahi semua album-album yang ada ingin mencari bukti-bukti lain. Aku hanya menemukan video, foto kue, foto kebersamaan mereka di Cafe, foto liburan mereka itu saja. Itu mungkin bisa jadi bukti kuat tuk mempertanyakan pengkhiatan ini.