Setiap pertemuan pasti akan ada yang namanya perpisahan, bisa jadi perpisahan itu dengan jalan dijemput maut ataupun perpisahan karena jarak, siapapun yang ikhlas akan takdir yang terjadi dengan perlahan akan dapat dilalui semua dengan mudah, untuk itu aku harus sabar melalui ini semua walaupun hati ini meronta rasa tidak rela meninggalkan orangtua dan saudara. Tapi semuanya sudah menjadi takdir dan juga ini sebuah pilihan, ya ini takdir dengan pilihanku sendiri. Aku yakin, aku bisa melalui ini semua demi orang tua dan saudara. Aku harus bisa!.
"Nanti jika sudah di rumah tante Ida pandai pandailah hidup mandiri, jangan banyak merepotkan tante dan pamanmu" nasehat Ayah yang membunyarkan lamunanku. Kami sekeluarga makan bersama malam ini, karena beberapa hari lagi aku akan ke Pontianak meninggalkan kampung ini, orang tua dan saudaranku.
"Baik Ayah" jawabku.
"Tasmu sudah rusak ya In? Nanti di Siantan kita singgah dulu beli tas dan sepatu yaa, untuk bukumu ibu siapin satu pack dulu nanti kalau sudah mulai belajarnya ayahmu kirimin uang lewat atm kak Nia ya." jelas ibu.
Kak Nia adalah anak pertama dari tanteku Ida, tante Ida adalah kakak dari ibuku. Kak Nia lah yang menawarkan aku untuk melanjutkan sekolah disana di SMKN 5 Pontianak Jurusan Perhotelan, dengan ber sekolah di sekolah jurusan itu kita akan mudah mendapatkan skill dan mudah mencari pekerjaan nantinya. Aku begitu bersemangat, karena memang setelah lulus SMK nanti aku tidak ada niatan untuk melanjutkan kuliah dikarenakan kondisi ekonomi orang tua juga adik adiku yang masih kecil dan masih membutuhkan banyak uang untuk melanjutkan sekolah. Niatanku jika aku sudah lulus nanti aku akan langsung bekerja agar bisa mengurangi beban orang tua.
Makan malampun selesai, aku, Fitri dan Tia dengan sigap langsung membereskan lauk yang tersisa dan piring kotor. Setelah semuanya beres kami langsung kembali ke kamar. Karena di rumah hanya punya dua kamar, aku, Fitri dan Tia tidur satu kamar. Kedua adikku langsung merebahkan diri karena lelah seharian bermain, dikarenakan memang sekarang lagi libur panjang jadi anak anak seusianya di kampungku menghabiskan waktu bermain bersama. Aku langsung mengambil tas untuk menyiapkan barang yang akan aku bawa ke Pontianak nanti. Tidak perlu membawa banyak baju, aku hanya memilih baju baju tertentu dan tidak lupa membawa seragam sekolah yang nantinya akan aku pakai sebelum mendapatkan pakaian seragam SMK ku. Ada rasa senang juga sedih bercampur baur dihati, kulihat satu persatu adik adikku yang mulai terlelap. Tidak terasa air mataku jatuh tidak terlahan lagi, aku hanya bisa menangis dalam diam.
Waktu berlalu begitu cepat, masa demi masa bagai angin yang terbang menyapa wajah lalu pergi dengan begitu cepat. Disinilah aku di rumah tante Ida, besok aku harus mendaftar sekolah bersama Kak Nia. Aku sudah ada di rumah tante sejak siang tadi yang diantar ibu menggunakan angkutan umum, tidak lupa kami singgah ke Siantan untuk membeli tas dan sepatu baru.Disinilah aku sekarang sibuk menyiapkan berkas untuk pendaftaran sekolah.
"kak, apa apa lagi yang perlu disiapkan?" tanyaku lagi sambil menyusun berkas.
"Fotocopy surat kelulusan, Kartu Keluarga, Akta Kelahiran, Pas Foto untuk walinya biar pakai KTP kakak saja dan abangmu karena kamu sudah resmi masuk di Kartu Keluarga kakak." jelas kak Nia.
"Ok kak"jawabku.
Ibu memang sudah mengurus surat pindahku dari jauh hari, karena untuk luar daerah calon siswa baru hanya diterima 3% dan nantinya akan membayar SPP setiap bulannya. Alhamdulillah keluargaku cari aman saja dengan pindah dan masuk di Kartu Keluarga kak Nia yang memang kak Nia sudah menikah dan memiliki rumah sendiri yang tidak jauh dari sini.
Keesokan harinya aku ke sekolah bersama kak Nia dengan diboncengi dia menggunakan sepeda motor, karena kak Nia Alumni sekolah ini dia tau persis letak sekolah ini jadi kami tidak perlu bingung mencari cari alamatnya. Karena ibu juga tidak bisa berlama lama, ibu pun pamit pulang pagi ini dengan diantar sepupuku Udin ke Terminal Angkutan Umum. "Belajar yang rajin, ibu harap Indah bisa membanggakan orang tua" pesan ibu tadi sebelum aku pamit pergi ke sekolah masih terngiang ngiang ditelingaku, sebisa mungkin aku tahan air mata ini yang sebenarnya ingin menerobos bendung yang menghalangi agar ibu juga kuat melepasku disini. Aku yakin ibu juga sedih berpisah denganku, ibu menaruh harapan besar kepadaku, agar aku bisa menjadi anak yang pantas dibanggakan nantinya. aku akan berusaha semaksimal mungkin agar aku bisa membuat orang tua dan saudara bangga.
Sesampainya aku disini, mataku langsung terpaku dengan bagunan modern dengan perpaduan warna hijau tua dan hijau muda, SMKN 5 Pontianak memiliki ciri khas tersendiri yaitu ada bangunan Hotel Training disampingnya, memiliki dua lantai.
"In, kamu ngantri yaa ambil surat persyaratannya" pinta kak Nia membuyarkan lamunanku.
Aku pun langsung mengambil posisi antrian untuk mengambil surat persyaratan calon peserta untuk diisi, setelah diisi dan dilengkapi dengan persyaratannya hari Kamis kami diminta untung daftar ulang sekalian membayar daftar masuk berupa uang seragam. Tidak lupa aku memberitahukan informasi ini pada ibu agar ibu bisa menyiapkan uang pendaftaran.
Tiga hari kemudian seperti dihari Senin kemarin aku masih diantar kak Nia untuk daftar ulang, setelah daftar ulang dan administrasi diselesaikan aku melihat pengumuman di Lobby Sekolah bahwa siswa baru mulai masuk hari senin depan, dikarenakan dimana mana banyak kasus perihal MOS, di Sekolah ini untuk MOS dihapuskan. 'alhamdulillah' batinku.
Untuk siswa baru hari senin nanti untuk sementara menggunakan pakaian SMP dulu sampai nanti seragam dibagikan.
Alhamdulillah untuk seragam aku bisa meminjam celana sepupuku yang tidak dipakai, dan bajunya aku memakai baju SMP. Hari berlalu begitu cepat, sambil beradaptasi di rumah tante. Tante orangnya baik adil, beliau memperlakukan seperti memperlakukan anaknya sendiri. terkadang aku saja yang sungkan bila belum beresin rumah aku sungkan untuk makan. Setelah pekerjaan rumah selesai malam ini aku menyiapkan buku beserta alat tulis. Sebelum pulang ibu memberiku uang untuk jajan, membeli buku dan alat tulis. Ada rasa sedih ketika ibu tidak bisa berlama lama disini. Aku baru menyadari betapa sedih berpisah dengan orang tua dan saudara, demi menuntut ilmu akan aku tahan rasa ini agar tidak meronta ingin keluar. Demi orang tuaku aku harus melakukan yang terbaik, aku harus membuat mereka bangga kepadaku.
Perpisahan adalah hal yang tidak pernah diinginkan siapapun, tapi jika kita bisa menerima ketetapan-Nya semua takdir yang Allah berikan in syaa Allah akan mudah kita lalui. Doa doa untuk mereka selalu kulantunkan tanpa bosan agar yang Maha Melindungi selalu melindungi orang tua dan saudara saudaraku disana.