Kamipun pulang bersama, seperti biasa kami setiap harinya pulang berjalan kaki bersama, jarak yang aku dan Rieska tempuh kurang lebih satu kilo meter sedangkan Wulan tidak begitu jauh, lain dengan Devi yang menggunakan angkutan umum. Rumahnya di Galang, lumayan jauh. Setelah berpisah dengan ketiga sahabatku aku pun masih melanjutkan perjalananku yang masih jauh sekitar 700 meter dari Pasar. Beginilah aku setiap hari jalan kaki pergi dan pulang Sekolah. Karena orangtua yang tidak mampu untuk membeli sepeda kami bersaudarapun pergi dan pulang sekolah dengan berjalan kaki. Aku tidak pernah menuntut pada orangtua, aku mengerti mencari uang itu sulit, Ayahku seorang buruh nelayan yang hasil tangkapan ikan dibuat ikan asin oleh ibuku. Dari itulah kami hidup. Ibu dan Ayahku adalah orangtua yang hebat dan bertanggungjawab, mereka selalu sabar menghadapi cobaan hidup dan alhamdulillah memiliki lima anak yang tidak pernah menuntut. Aku anak pertama, nomor dua adikku laki laki bernama Agun, yang ketiga Fitri, yang keempat Tia dan kelima Aisyah. Tidak hanya masalah ekonomi, Allah pun memberikan kami sebuah ujian yaitu adik bungsuku yang berkebutuhan khusus. Alhamdulillah kami selalu bersyukur Allah hadiahkan Aisyah kepada kami, dialah hadiah terindah yang Allah pernah berikan.
Tidak terasa akupun telah sampai di rumah. Ibu sudah menungguku di teras rumah, beliau pasti resah dan gelisah menanti nilai akhirku. Apakah aku lulus atau tidak?
"Assalamualaikum" salamku, aku langsung mencium tangan ibu.
"Waalaikumussalam" Jawab ibu "Gimana In, lulus? "tanya ibu yang tidak sabar.
"Lulus dong"Jawabku dan langsung membuka tas untuk memberikan amplop kelulusan.
"Alhamdulillah, nim ny 29,50 berarti bisa masuk k SMKN 5 di Pontianak yaa? " ucap ibu.
"Iya" Jawabku
"Ya sudah masuk ganti baju" suruh ibu.
"Ok bu" Jawabku yang langsung masuk kedalam. Aku langsung mengganti pakaianku dan memulai aktivitas merapikan rumah.
Tidak terasa sebentar lagi aku akan meninggalkan rumah ini, rumah yang aku tempati kurang lebih tiga tahun lamanya. Rumah kontrakan panjang dengan empat pintu, dua pintu yang ayah sewa untuk kami karena kami ramai. Di pintu ketiga ada tetanggaku dua bersaudara Andriani dan Yusuf bersama orangtuanya dan pintu ketiga ditempati tetanggaku Ida orangnya berkebutuhan khusus tunawicara bersama suaminya. Rumahku terletak tidak jauh dari Masjid dan tidak jauh dari sungai. Disini air pasang surut, jika air pasang naik begitu cepat begitu juga surut.
Di kampungku rata rata para ibu ibu membuat ikan asin, jika sudah kering ikan asin itu dijual di pasar terkadang ada agen yang langsung membeli rumah ke rumah. Sebelumnya aku tinggal di Pontianak, dikarenakan Ayah yang hanya bekerja sebagai nelayan dan harus bolak balik Sungai Pinyuh ke Pontianak maka aku pun pindah ke Sungai Pinyuh.
"In, sepertinya itu suara motor air Ayahmu, siapkan bumbu untuk masak ikan yaa" ucap ibu yang lagi di ruang tamu menemi adikku Aisyah bermain.
"Iya bu"jawabku yang lagi asyik mencuci piring,aku langsung cepat cepat menghabiskan cucian piringku.
Setelah selesai mencuci piring, disibukkan jari jemariku dengan menyiapkan bumbu bumbu untuk memasak ikan, aku membuat bumbu asam pedas dan masak kuning. Kupotong cabe kering dan langsung aku rendam dengan air panas supaya jika diulek nanti lebih mudah, setelah itu mengupas bawang putih, bawang merah, kunyit dan jahe ini untuk bumbu asam pedas selanjutnya aku siapkan bumbu masak kuning, kukupas bawang merah, bawang putih, jahe dan kunyit. Setelah itu aku haluskan bumbu masak kuning terlebih dahulu setelah selesai aku lanjutkan membuat bumbu asem pedas. Aku sengaja membuat dua jenis bumbu supaya nanti kalau ada ikan yang cocok langsung segera dimasak dan tidak sibuk untuk membuat bumbu lagi, di rumah kalau ikannya disayur harus ada ikan goreng juga. Karena Ayah tidak suka pakai bumbu jadinya khusus ikan goreng aku pakai garam saja karena ikannya masih segar. Tidak lama kemudian datang Ayah membawa satu keranjang ikan yang beratnya kurang lebih 70kg. Aku dan ibu langsung memisahkan ikan untuk dibuat lauk. Aku bagian masak dan ibu bagian membuat ikan asin. Sebelum membuat ikan asin terlebih dahulu ibu memotong ikan untuk dijadikan lauk supaya nanti aku tidak repot lagi dan langsung memasaknya. Kamipun sibuk dengan kerjaan masing masing, hari ini kebetulan ada ikan bawal putih yang cocok banget dimasak kuning, masak kuning adalah makanan kesukaanku. Aku langsung menggaram ikan yang untuk digoreng setelah itu memanaskan minyak. Sambil menunggu minyak panas aku menumis bumbu kuning setelah wangi dan berubah warna aku langsung memasukkan ikan sambil kususun rapi setelah itu masukkan air asam, garam, micin dan terakhir masukkan air secukupnya, tutup biarkan mendidih. Aku langsung beralih keminyak yang tadi, ku masukkan ikan dengan rapi dan ku tutup agar minyak tidak mengotori meja. Aku paling hobby memasak, sebenarnya aku ingin memilih jurusan Boga nantinya tapi keinginan ibuku berbeda aku harus memilih jurusan Perhotelan karena nanti akan lebih mudah mencari pekerjaan. Aku tidak keberatan dan menyetujui keinginan ibu.
"In, panggil adik adikmu suruh mandi sudah sore" pinta ibu yang masih asyik dengan ikannya.
"Ok bu" jawabku yang langsung keluar, sebelum keluar aku berpapasang dengan Aisyah yang lagi berbaring sambil main masak-masak "Lagi apa Aisyah" tanyaku.
"Lagi ain asyak asyak" jawabnya yang masih cedal, umurnya masih empat tahun lebih.
Aisyah memang tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasa seperti anak seumurannya, dia hanya bisa berbaring, terkadang rasa sedih selalu menghampiriku melihat kondisi adikku ini, air mataku pun tidak sengaja menetes aku segera hapus agar kesedihanku tidak tertular pada yang lain.
"Kakak mau panggil kak Fitri, kak Tia dan abang dulu ya" pamitku padanya.
"Iya" jawabnya yang tidak berhenti dengan aktivitasnya.
Akupun langsung keluar rumah memanggil adik adik ku yang asyik main kelereng bersama teman temannya. Aku memang anak yang sedikit berbeda tidak seperti adik adik ku Fitri dan Tia yang main apapun bisa. Apalagi main kelereng, aku jauh dari kata bisa. Terkadang aku heran dengan Fitri dan Tia, bisa bisanya mereka itu main dengan permainan laki laki.
"Tiaaaaaaaa, Fitriiiiiiii sudah sore ibu menyuruhmu pulang ajak Agun juga" teriakku dari depan rumah, mereka main sekitar 100 meter dari rumah jadi aku tidak perlu menghampiri mereka, aku juga tidak bisa berlama lama karena masakan menunggu di dapur. Aku langsung berlari ringan masuk ke dapur.
"Sudah dipanggil In? "tanya ibu.
"Sudah bu" jawabku.
Aku langsung membalik ikan goreng dan menutup kembali, dan beralih ke ikan masak kuning yang sudah mendidih menandakan masakanku sudah mateng, sebelum kompor kumatikan aku memastikan rasa masakanku terlebih dahulu 'enaknya'batinku. Kulanjutlan menggoreng ikan dan menyiapkan hidangan agar nanti Ayah pulang langsung makan.
"Hahha, hahhaha" suara canda adik adikku yang baru pulang. Mereka langsung mandi setelah itu kami makan bersama.