Siang itu setelah Satria menceritakan semuanya kepada pengawalnya. Satria berencana untuk memikirkan strategi apa yang bisa membuat dirinya dekat dengan Arimbi. Mengingat gara-gara kejadian di Jogja pasti Arimbi sangat membencinya. Itu semua di sebabkan mulut mautnya Satria yang mengatainya terlalu fulgar dan pedas.
***
siang itu di kediaman Arimbi tanpa ada satu pun hal yang istimewa. Semua terlihat seperti biasanya. Setelah perjalanan panjang Arimbi masuk ke ke kamar untuk membersihkan di dirinya di kamar mandi dan berganti kostum kebangsaan nya yaitu dress longgar.
Arimbi merebahkan badannya di tempat tidur dan seperti biasa membuka aplikasi sosial media. Sembari tiduran mengirim pesan ke pemilik akun Pria Tangan. "Hai, apa kabar? apakah pesanku tadi sudah di sampaikan oleh pengawalmu?" pesan dari Arimbi yang di kirim ke Pria Tamvan.
Tak lama pemilik akun Pria Tamvan itu membalas "Hay cantik, sudah kok. Kenapa tiba-tiba tanya seperti itu?" Jawab Satria dengan sangat percaya diri.
"Em tidak ada apa-apa sih, cuma mau menyampaikan saja kalau mungkin mulai lusa aku jarang online." Jawab Arimbi.
"Lho kenapa? apa kau marah kepadaku karena aku tidak menemui mu?" tanya Satria.
"Bukan itu, hal itu bagiku bukan alasan. Karena setiap orang pasti punya kepentingan, dan aku pun begitu." Jawab Arimbi dengan cepat.
"Terus?" Tanya Satria kembali.
"Mungkin enam atau bahkan lebih bisa jadi sampai satu tahun, aku akan sangat sibuk."
"Apa tidak punya waktu sedikitpun?" Tanya Satria lagi.
" Entahlah." Jawab Arimbi sambil menghunuskan nafasnya.
Setelah percakapan itu selang beberapa jam Arimbi tertidur. Karena di rasa sudah tidak ada balasan lagi dari pemilik akun Pria Tamvan.
Waktu menunjukan pukul 17.00, itu artinya Arimbi tertidur selama dua jam lebih. Arimbi sontak langsung melihat aplikasi sosial medianya. Dan ternyata benar pemilik akun Pria Tamvan membalas lagi.
"Bagaimana jika sebelum kau sibuk selama itu, kita menikah saja, menurutmu bagaimana?" Sembur Pemilik akun Pria Tamvan itu.
"Ini bercanda kan?" tanya Arimbi.
"Tidak, tapi aku sangat serius." Sembur Pria Tamvan itu lagi.
"Maaf, aku rasa belum bisa memikirkan hal itu. Aku masih terlalu muda untuk memikirkan hal itu." Jawab Arimbi.
***
Satria POV.
Keesokan harinya suasana di kantor milik Satria yang cukup ramai. Setiap orang yang sibuk dengan tugasnya masing-masing menambah riuhnya suasana disana. Satria yang sedari tadi adabdi tuannya terlihat seperti orang yang sedang memiliki beban yang sangat berat.
"Tok..tok tok, permisi Tuan ini ada berkas penting yang tuan harus segera tanda tangani sekarang." Seketika suara dari sekertaris nya tersebut membuyarka lamunan Satria.
"Masuk. Taruh saja di meja saya dan tolong saya panggilkan Saka untuk segera masuk ke ruanganku."
Jawab Satria dengan nadabyang sabgat tegas.
Tanpa menunggu lama Saka sudah masuk ke ruangan milik Satria. "Ada apa tuan memanggil saya?" Tanya Saja dengan tanggap.
"Semalam saya chat dengan gadis itu, dan semalam gadis itu berpamitan kepadaku kalau mulai lusa sampi enam bulan bahkan mungkin satu tahun, dia akan sangat sibuk. Kesibukannya apa juga aku tidak tahu." Ucap Satria dengan nada yang menunjukkan orang yang sedikit galau.
"Yang saya takutkan di sini, kalau dalam waktu enam bulan saya belum mendapatkan calon istri pasti papa akan menjodohkanku dengan gadis-gadis yang hanya suka dengan hartaku, malas saya." Sembur Satria kembali.
"Apa tuan percaya dengan perkataan gadis itu seperti itu?" Tanya Saka dengan sedikit pelan. "Ini orang kaya, mapan dan juga sudah tua, kenapa polos sekali." Gumam Saja dalam hati.
"Maksud kamu?" tanya Satria dengan menarik ekor matanya ke arah Saka.
"Maksud saya begini tuan, mungkin saja gadis itu hanya akan menguji dan keseriusan tuan." Jawab Saka dengan tegas.
"Aku juga semalam sudah mengajaknya untuk menikah denganku. Tapi dia tidak mau." Sahut Satria.
"Ya tentu saja tuan, mana mungkin gadis itu mau. Sedangkan tuan belum pernah menemui gadis itu secara langsung. Kalau menurut saya tuan gadis itu sedang memberikan tanda bahwa sebenarnya dia ingin bertemu laangsung dengan tuan, bukan dengan saya." Sembur Saka dengan penjelasan yang cukup panjang kali lebar.
***
Keesokan harinya di kediaman Arimbi, terlihat Arimbi dengan mamanya yang sedang sibuk menyiapkan beberapa perlengkapan yang akan Arimbi bawa ke London. Memang benar Arimbi akan segera berangkat ke London karena tugas akhir yang harus segera di selesaikan, terlebih rencana Arimbi dengan mamanya untuk membuka usaha studio foto di sana.
Tiba-tiba telepon rumah berbunyi, mbak Minah yang sedari tadi sedang masak di dapur berhamburan pergi untuk segera mengangkat telepon tersebut. "Halo selamat siang, kediaman Prawira. Ada yang bisa saya bantu." Mbak Minah bertanya.
"Maaf mengganggu, saya temannya nona Arimbi apa bisa saya berbicara sebentar?" Jawab seorang laki-laki dari balik sambungan kabel tersebut.
"Nona ada tuan, sebentar saya panggilkan." Sahut mbak Minah.
Tak lama mbak Minah memanggil Arimbi yang masih sibuk dengan mama nya.
"Iya halo dengan siapa ini, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Arimbi dengan hati-hati dan sopan.
"Iya nona, sebelumnya saya minta maaf sudah mengganggu waktu nona. Saya dari pihak advertising perusahaan Marcellino Group, yang berencana ingin bekerja sama dengan studio milik nona terkait dengan peluncuran produk baru dari perusahaan kami. Jika nona bersedia silahkan ke kantor kami untuk di bicarakan lebih lanjut lagi." Jawab tegas dari pihak perusahaan Marcellino Group
Tiba-tiba Arimbi terdiam sejenak sebelum menjawab semuanya. "Oh iya terima kasih sebelumnya, tapi saya minta sedikit waktu untuk memikirkan nya. Karena kebetulan besok saya akan ke London." Jawab Arimbi dengan sangat santun dan lembut.
"Iya Nona terima kasih sebelumnya dan mohon maaf jika sudah mengganggu nona. Semoga nona menerima tawaran dari kami." Ucap sekertaris Satria di kantor.
Tak lama setelah Arimbi menerima tawaran itu, sejenak Arimbi terdiam di tempat itu. Tiba-tiba mamanya muncul dari belakang. "Ada apa nak? kog melamun disini. Nanti kesambet setan lhoo." ucap mama Liliana dari arah belakang.
"Ini lhoo ma, barusan ada tawaran dari perusahaan Marcelio Group untuk kerja sama dengan studio milik Arimbi." Ucap Arimbi dengan wajah yang sedikit murung.
"Thats a good baby, itu tawaran bagus sayang buat kemajuan karir usahamu." Ucap mama Liliana dengan penuh semangat.
"Iya ma, tapi kan besok Arimbi sudah harus balik ke London ma." Rengek Arimbi manja dengan memeluk tubuh mamanya itu.
"Ya di tunda dulu kan bisa, kalau masalah tiket bisa pesan lagi di kemudian hari." Jawab mama sambil tersenyum lembut dan mengelus punggung Arimbi "Sebenarnya mama juga masih ingin lama-lama sama kamu dirumah, kenapa harus buru-buru balik ke London. Mama akan sangat merindukanmu." Rengek mama Liliana dengan tidak kalah manja seperti Arimbi.
"Ya sudahlah, besok saya coba ke kantor itu." Sahut Arimbi dengan pasrah.
"Sepertinya mama kok tidak asing dengan nama perusahaan itu ya." Sejenak mamanya diam dan beralih duduk menuju sofa dengan ekspresi sambil berfikir dan mengingat-ingat. "Sekarang mama sudah ingat, kalo tidak salah itu perusahaan milik om Marcelio nak. Yang dulu kita pernah nengokin istrinya ke rumah sakit yang kena penyalin kanker otak." Sahut mama dengan penuh semangat.
Arimbi duduk sambil memainkan ponselnya dan menghentikannya sejenak. "Oh saya ingat ma." jawab Arimbi dengan lesu.
"Gak papa sayang kerjasama dengan perusahaan itu, kalau tidak salah pemimpin perusahaan itu sekarang adalah putranya. Tapi mama kurang paham anaknya memimpin perusahaan yang mana. Masalahnya itu perusahaan memiliki anak perusahaan yang sangat banyak, jadi mama kurang tahu." Ceita mama yang tiba-tiba keluar sangat panjang dan lebar kali tinggi itu.
"Terus apa hubungannya dengan Arimbi ma." Bantah Arimbi dengan perasaan malas.
"Ya siapa tahu kalau putranya itu lihat kamu terus naksir. Kalau mama tidak salah dengar putranya itu juga belum menikah." Sembur mama dengan seribu impian para emak-emak.
Arimbi memicingkan ekor matanya dengan perasaan yang sangat gerah, "Kenapa mama tahu detail sekali?" tanya Arimbi sarkasme.
"Ya mama kan kadang sering denger ibu-ibu arisan itu lhoo. Dan papa juga pernah cerita sama mama tentang Putranya om Marcel. Harusnya kamu bersyukur lho, masalahnya tidak setiap orang bisa bekerjasama dengan perusahaan besar itu." Jelas mama dengan nada semangat empat lima nya.
"Yah, mama. Udah deh Arimbi mau mandi terus mau makan siang dan istirahat." Arimbi bangkit dari tempat duduknya dan naik masuk ke kamar untuk mandi.
"Ok deh, tapi mama mohon itu tawaran di pikirkan lagi lho nak. Biar kamu tidak berangkat dulu ke London." Jawab mama dengan ekspresi penuh harap.
"Arimbi, tidak janji ma." Jawab Arimbi sembari lari dan menutup pintu kamar.