Satria POV
Waktu menunjukkan pukul 20.00, Satria yang baru pulang dari kantor segera masuk ke kamar pribadinya untuk membersihkan diri dan istirahat. Setelah cukup lama berendam di bathtub untuk membuat badannya lebih segar Satria keluar dan berganti pakaian. Tak lama setelah berganti pakaian ternyata ponselnya berdering, "Siapa malam-malam mengganggu?" gumam Satria dalam hati. Terlihat nomor itu tidak asing, ya itu adalah papa Marcell yang telepon.
"Halo pa, ada apa papa malam-malam telepon?" Tanya Satria dengan nada ketus.
"Papa dua Minggu lagi berencana untuk mengadakan privat dinner bersama rekan bisnis papa, Apa kamu bisa datang nak?" Tanya papa dengan nada santai tapi mengandung banyak arti.
"Saya tidak janji pa, sepertinya aku masih banyak pekerjaan." Jawab Satria dengan nada ketus.
"Papa tidak menerima penolakan apa lagi alasan dengan pekerjaan, semuanya bisa di serahkan pada Saka. Pokoknya papa tidak mau tahu, kamu harus datang titik." Sembur papa Marcelio dengan nada yang sangat mematikan. Dan langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Mendengar perkataan papa yang selalu tidak bisa di bantah dengan alasan apapun serasa ingin menegak racun detik itu juga. Seketika kepala Satria bersungut sangat keras. "Kenapa papa begitu menggebu-gebu seperti itu? pokoknya aku tidak mau di jodohkan dan jangan sampai di jodohkan." Gumam Satria dalam hati sambil mengepalkan tangannya.
***
Arimbi POV.
Keesokan harinya Arimbi baru bangun tidur dan segera meraih ponselnya. Tanpa di sadari banyak notifikasi di email bahkan di nomor ponselnya juga beberapa ada panggilan masuk. Ketika Arimbi membuka notifikasi di email tanpa di sangka bahwa penerbangan hari itu delay sampai batas waktu yang belum di ketahui mengingat di London masih ada cuaca ekstrem. Lidah Arimbi spontan berdecak kasar, "kenapa harus tertunda." Gumam Arimbi dalam hati.
"Tok.. tok.. tok, Nona sudah bangun belum, Nona sudah di tunggu Tuan dan Nyonya di ruang makan." Tiba-tiba suara mbak Minah dari luar kamar membuyarkan lamunannya.
"Iya mbak, sebentar lagi saya turun." Jawab Arimbi dengan nada yang cukup keras. Arimbi segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya untuk segera bergabung dengan mama papa nya di ruang makan.
"Selamat pagi ma pa, maaf sudah menunggu lama?" sapa Arimbi dengan mencium pipi kedua orang tuanya.
"Kok pakainya biasa gitu?" Tanya papa dengan menarik ekor matanya dengan penuh tanda tanya.
"Iya pa, Arimbi baru dapat kabar kalau penerbangan nya delay sampai batas waktu yang tidak di tentukan." Jawab Arimbi dengan kepala menunduk ke bawah karena rasa kecewanya itu.
"Syukur deh, bagus itu. Berarti kamu bisa menerima tawaran yang kemarin itu nak." Sahut mama dengan riang gembira seperti anak SD yang di kasih permen atau coklat.
"Lho maksud mama apa? anaknya gagal berangkat kok malah girang banget?" Tanya papa Budi dengan raut wajah yang penuh dengan rasa curiga.
"Ya, tentu saja mama senang pa, berarti mama masih bisa bareng-bareng pergi di temeni Arimbi." Ucap mama dengan memasukkan makanan ke dalam mulutnya. "Oiya pa, mama lupa belum cerita sama papa. Kalau ada perusahaan yang ingin bekerja sama dengan studio milik Arimbi dalam peluncuran produk terbarunya. Bukankah itu kabar baik buat karir awal usaha Arimbi kan pa?" sahut mama kembali dengan ekspresi wajah yang sangat semangat sekali.
"Oya, bagus itu nak. Mulai kapan kerjasamanya akan di mulai?" Tanya papa dengan nada datar tapi mengandung banyak arti.
"Oh itu pa, iya kemarin Arimbi baru dapat telepon kalau ingin kerja sama dengan studio milik Arimbi. Tapi Arimbi masih bingung mau di terima apa tidak. Takutnya nanti kontraknya lama. Sedangkan Arimbi mau menyelesaikan tugas akhir." Jawab Arimbi dengan wajah menunduk dan menunjukan kegalauan nya.
"Kalau menurut papa sih, apa salahnya kita coba dulu. Itung-itung bisa buat menambah pengalaman. Itu sih kalau menurut papa, papa juga tidak mau maksa apa yang menurutmu lebih baik papa ngikut aja." Jawab papa dengan memasukan makanan ke dalam mulut.
"Wah, betul itu pa, mama juga setuju sekali pa. Apalagi kalau Arimbi tidak usah balik lagi ke London. Biar mama tidak kesepian lagi." sahut Mama dengan nada kegirangan.
"Mama tuh ya, selalu seperti itu." Jawab papa dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Arimbi mendesah kasar "Iya deh, nanti Arimbi coba ke kantor itu untuk memastikan seperti apa kerjasamanya." Jawab Arimbi dengan sedikit terpaksa.
"Nah, gitu dong. Itu namanya anak mama." Senyum yang penuh rasa semangat.
***
Satria POV.
Suasana di kantor Satria, seperti biasa riuh suara karyawan dengan masing-masing tugasnya. Didalam ruang kerja milik Satria terlihat Satria dengan wajah yang sedikit murung dan seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat. Satria menarik lengannya untuk melihat jam tangan miliknya. waktu menunjukkan pukul 11.30 itu artinya sebentar lagi jam istirahat karyawan. Kemudian Satria beranjak dari tempat duduk putarnya berniat untuk keluar dan menanyakan langsung pada sekretarisnya Tristan. Baru melangkah tiga langkah, tiba-tiba telepon yang ada di meja Satria berdering, seketika Satria langsung mengangkat. "Halo ada apa?" Tanya Satria dengan nada ketus dan angkuhnya.
"Maaf tuan, nona yang kemarin kita mintai datang kesini datang ke kantor. Apa di suruh menunggu sampai nanti selesai jam istirahat apa bagaimana?" Tanya sekretarisnya dengan jelas.
Karena kaget dan mungkin bisa di katakan sangat terkejut, tiba-tiba Satria langsung melamun.
"Tuan.. tuan.. halo, apa tuan mendengar perkataan saya tadi?" ucap sekretarisnya itu lagi.
"Oh iya, iya. Suruh langsung antar saja masuk ke ruangan saya sekarang." jawab Satria dengan terbata namun tetap tegas.
Spontan Satria yang terlihat sangat gugup terlihat mondar-mandir sesekali menarik lengannya untuk melihat jam tangannya. Menunggu Arimbi sampai ke ruangan Satria dalam jangka waktu lima menit serasa menunggu selama satu tahun.
Ternyata waktu sudah melewati lebih dari lima menit, Satria yang tak sabar ingin bertemu dengan Arimbi segera melangkah kan kakinya untuk mengambil telepon yang ada di meja kerjanya. "Tristan, kenapa lama sekali gadis itu belum sampai-sampai ke ruangan saya!" sembur Satria yang dengan nada pedasnya karena sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Arimbi.
"Maaf tuan, nona itu tadi ijin untuk pergi ke kamar mandi sebentar. Karena tadi tidak sengaja ada yang menabraknya dan menumpahkan air minum ke bajunya. Jadi nona itu sekarang masih ada di kamar mandi tuan." Jelas Tristan dengan tanpa jeda, karena Tristan sudah paham betul dengan watak tuannya itu.
"Kenapa bisa hal itu sampai terjadi? Kalau gadis itu sampai kenapa-kenapa aku tidak segan-segan akan memecatmu!" sembur Satria dengan nada yang sangat pedas dan mengerikan itu.