Hana tiba sepuluh menit lebih awal supaya tidak ada yang bisa bilang ia terlambat, dan mendapati Adam sudah tiba dua puluh menit lebih awal supaya tidak ada yang bisa bilang ia telat.
Sita duduk di anak tangga paling atas dengan setumpuk serbet yang ia lipat dengan kecepatan siput. “Mas Bos udah di dalam dari jam tiga empat puluh, Mbak,” bisiknya tanpa diminta. “Dia mindahin kursi tiga kali.”
“Ta.”
“Sita cuma lapor.”
Pintu geser kaca ruang serbaguna terbuka lebar, diganjal pot kecil berisi lidah mertua. Dua kursi diletakkan di ujung-ujung meja panjang yang berseberangan, jarak yang jelas dihitung. Adam berdiri di dekat jendela dengan kemeja polos dan tangan terlipat di depan, seperti murid yang menunggu nilai ujian dibacakan. Ruangan itu masih berbau cat hijau dan sedikit es krim.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.” Adam menunjuk kursi dengan telapak tangan terbuka. “Kursinya udah gue cek. Nggak goyang.”
Hana duduk. Dari saku gamisnya ia mengeluarkan kertas yang dilipat empat, lalu meletakkannya di meja tanpa membukanya. Dari tangga terdengar suara serbet jatuh. Tidak ada yang menoleh.
“Gue punya tiga pertanyaan,” katanya. “Gue tulis supaya nggak berubah di tengah jalan. Satu-satu, dan lo jawab sebelum gue lanjut.”
“Silakan.”
“Kenapa gue? Jawab tanpa gombal.”
Adam menarik napas. Ia tidak tersenyum, dan Hana mendapati dirinya diam-diam menghitung berapa kali lelaki itu mengetuk meja dengan ujung jari. Sekali. Lalu berhenti.
“Boleh gue mulai dari yang nggak enak didengar?”
“Itu yang gue minta.”
“Gue nggak tahu kapan tepatnya. Nggak ada pagi di mana gue bangun dan bilang, nah, ini dia. Kalau gue bilang ada, gue bohong.” Adam mengusap tengkuk. “Yang gue punya cuma daftar kecil. Lo satu-satunya orang yang marah ke gue gara-gara gue telat salat, dan gue nggak tersinggung. Waktu anak-anak panti makan es krim sampai belepotan, lo menyingkir ke sudut pantry buat ngusap mata. Lo kira gue nggak lihat. Gue malu, Han. Gue punya dua kedai dan baru tahu rasanya sedekah dari orang yang modalnya lebih kecil dari gue. Terus lo juga satu-satunya yang manggil gue playboy sambil nunjuk muka gue, bukan di belakang.” Ia menggeleng pelan. “Di dekat lo gue capek pura-pura. Itu aja. Nggak ada yang bisa dijadiin puisi.”
“Empat puluh hari itu juga alasan?”
“Bukan alasan. Bukti bahwa gue nggak cuma ngomong.” Adam menatap meja. “Dan gue nggak minta lo hitung itu sebagai mahar.”
Hana mengangguk sekali. Jawaban itu jelek, ia memutuskan, dalam arti yang baik. Tidak ada satu pun kata di dalamnya yang bisa ia kutip di undangan.
“Kedua.” Ia berdeham. “Kalau gue tolak?”
Kali ini Adam diam lebih lama. Di bawah, mesin penggiling kopi berderum, lalu mati.
“Gue bakal sakit,” katanya akhirnya. “Jangan minta gue pura-pura nggak. Tapi gue nggak akan nyalahin lo, nggak akan bikin kerja sama ini jadi canggung buat Sita dan yang lain, dan nggak akan nagih. Kalau lo bilang selesai, gue anggap selesai.” Ia mengangkat bahu, lalu menurunkannya lagi seperti orang yang sadar bahunya tidak sanggup sesantai itu. “Dan besok subuh gue tetap di masjid. Gue salat bukan buat lo lagi, Han. Itu yang bikin gue tahu ini bukan cuma ambisi.”
“Itu bagus.”
“Itu yang Papa bilang.”
“Ketiga,” kata Hana. Jarinya menyentuh lipatan kertas, dan baru sekarang tangannya ragu. “Kalau suatu hari lo goyah, entah karena capek, entah karena nyesel, entah karena ada yang lebih gampang, siapa yang pertama lo kasih tahu?”
Pertanyaan itu jatuh di tengah meja dan tidak ada yang berani mengambilnya. Hana tahu persis apa isinya. Bukan soal Adam. Soal sebuah ruang tamu, sebuah lorong rumah sakit, dua orang yang pergi tanpa sempat ia tahu sebabnya.
“Allah dulu,” jawab Adam. “Habis itu Papa.”
Bahu Hana turun sedikit. Ia menunduk.
“Tapi bukan itu jawabannya, ya?” Adam bergeser di kursinya. “Lo nanya soal lo. Jadi: sebelum gue ambil keputusan apa pun soal kita, lo yang gue datangin, dengan pintu terbuka, dan gue ngomong langsung. Lo nggak akan tahu belakangan dari ruang tamu. Lo nggak akan tahu dari Zafran. Gue nggak akan menghilang dan nyuruh orang lain yang menjelaskan.”
Hana tidak menjawab. Ia mengamati wajah itu, mencari bagian yang sedang berakting, dan tidak menemukannya. Yang ada hanya mata yang merah di sudut dan rahang yang menegang menahan sesuatu.
Ia mengambil kertasnya, membukanya, melihat tiga kalimat di sana, lalu melipatnya lagi. Semuanya sudah terjawab, dan justru itu yang membuatnya takut.
“Gue nggak akan jawab ya,” katanya.
“Gue nggak minta.”
“Dengerin dulu.” Hana menegakkan punggung. “Orang yang masih bawa urusan lama ke pernikahan, makan malamnya selalu ada kursi ketiga. Ustadzah pernah bilang, niat yang lurus itu bukan yang paling keras diucapkan, tapi yang masih berdiri waktu nggak ada yang melihat. Lo punya Diana. Lo punya Diva. Lo bilang ke Papa lo mau serius, tapi dua nama itu belum lo selesaikan, kan?”
Adam membuka mulut, lalu menutupnya.
“Selesaikan, tapi bukan buat gue. Kalau lo lakukan buat gue, itu tetap transaksi.” Hana berdiri. Kursinya bergeser pelan di atas lantai. “Lakukan karena lo nggak mau bawa mereka ke mana-mana lagi.”
Adam ikut berdiri. Ia tidak mendekat. Hanya satu sudut bibirnya yang naik, miring dan lelah.
“Papa juga bilang begitu,” katanya. “Persis. Tadi malam.”
“Jadi?”
“Besok sore gue mulai dari Diana.”
Hana mengangguk dan berjalan ke pintu. Di ambang, ia berhenti tanpa menoleh.
“Dam.”
“Hm?”
“Kursinya memang nggak goyang.”
Ia turun melewati Sita yang sedang menahan senyum di atas tumpukan serbet, dan baru di anak tangga keempat ia sadar bahwa ia lupa menanyakan satu hal yang tidak ada dalam daftar. Apakah lelaki itu sudah makan siang. Hana menggeleng pada dirinya sendiri dan terus turun.
===
Adam tetap berdiri sampai langkah terakhir Hana hilang di tangga. Baru sesudah itu lututnya mengaku lelah, dan ia duduk di kursi yang tadi ditempati Hana, kursi yang masih hangat dan yang ia periksa tiga kali itu. Tangannya yang tadi disembunyikan di bawah meja gemetar, dan ia memandangnya dengan heran, seperti memandang tangan orang lain.
Seseorang berdeham di ambang pintu.
“Mas Bos.” Sita membawa cangkir porselen berisi teh susu yang masih mengepul, diletakkannya di meja dengan dua tangan. “Minum dulu. Muka Mas Bos kayak habis disidang.”
“Lo dengar semuanya, Sit?”
“Sita nggak dengar apa-apa.”
“Lo ngelipat serbet lima puluh menit. Itu cuma tiga belas serbet.”
“Sita pelan-pelan, biar rapi.” Sita meringis, lalu nada suaranya menurun jadi sungguh-sungguh. “Mbak Hana nggak bilang ya, Mas. Tapi dia juga nggak bilang tidak. Sita perhatiin, orang yang mau bilang tidak itu nggak nanya soal kursi ketiga.”
“Kursi ketiga itu bukan soal gue, Sit. Itu soal Diana sama Diva.”
“Terus Mas Bos mau diam di sini?”
Adam menatap teh itu. Lalu ia mengeluarkan ponsel dari saku dan mengetik cepat, sebelum sempat mengubah kalimatnya jadi lebih pintar.
Pa, besok sore Adam ke rumah Diana. Sendiri. Nggak bawa pembelaan.
Balasan Papa masuk sebelum tehnya sempat dingin. Adam membacanya dua kali, sebab isinya hanya satu kalimat: Bawa maafmu, bukan dirimu yang paling benar. Dan jangan lupa makan.
“Papa Mas Bos bilang apa?” tanya Sita.
“Disuruh makan.”
“Nah.” Sita langsung berbalik. “Sita ambilin nasi goreng. Sekarang. Jangan ke mana-mana.”